
Dhia menggeliat pelan. Netranya mengerjap-ngerjap menyesuaikan cahaya terang yang masuk dari celah-celah jendela. Ia terperanjat ketika melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 07:30, pagi.
"Astaga, aku kesiangan." ia berdecak, menyadari mungkin ini karena tadi malam ia tidur terlalu larut. Dhia menoleh kesamping. Disisinya, ia tak melihat keberadaan suaminya itu. Dan berfikir, mungkin saat ini Dirga sudah berangkat bekerja.
Dhia buru-buru ke kamar mandi. Membersihkan diri, setelah itu berniat ingin membuat sarapan. Mungkin saat ini Mbok Siah sudah menunggunya.
Usai membersihkan diri, Dhia keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk putih yang menutupi dada hingga sebatas paha. Perutnya yang besar, membuat handuk tersebut sedikit terangkat keatas pada bagian depan. Sementara rambutnya yang basah masih terbungkus dengan handuk berwarna senada. Ia berjalan menuju lemari kayu, tempat dimana seluruh pakaiannya berada, tanpa melihat-lihat keseluruh ruangan kamar.
Saat ini, Dhia tak menyadari, bahwa Dirga sedang duduk bersandar pada dinding tempat tidur, sambil memperhatikannya. Sampai ketika ia ingin melepas handuk, barulah ia terkejut, memandapati suaminya sedang tersenyum dari bayangan kaca lemari yang ada didepannya.
"Mas, kamu disini?." Dhia berbalik, setelah sempat mengikat handuknya kembali."B-bukannya harusnya kamu sudah pergi kerja?."
"Nope." Dirga berdiri dan berjalan mendekati Dhia."Pekerjaanku sudah ku serahkan pada temanku, Galang. Aku ingin istirahat hari ini, sebelum nanti sore kita berangkat ke Jakarta."
"Nanti sore?"
"Iya, sayang. Memangnya kenapa?."
"Apa tidak terlalu buru-buru, Mas? kita bahkan belum membicarakan ini dengan, Mbok."
Dirga tersenyum, sambil kedua tangannya meraih kedua bahu Dhia yang masih sedikit basah."Aku barusan cerita sama, Mbok dan menyampaikan ke inginan kamu."
"Terus, gimana? Mbok mau?." tatapan Dhia penuh harap.
Dirga hening sesaat, sambil menghela nafas berat. Netranya memandang manik hitam Dhia yang sepertinya tersirat kecemasan menunggu jawaban darinya.
"Enggak." ujar Dirga pelan.
Mendengar jawaban suaminya, Dhia akhirnya hanya bisa menghela nafas kecewa.
"Enggak, nolak maksudnya." kata Dirga akhirnya, diiringi tawa renyah.
Dhia yang sempat kecewa, mendengar ucapan Dirga kini akhirnya senang bukan kepalang."Kamu serius, Mas? Mbok mau?."
Dirga mengangguk.
"Sebenarnya tadi sempat nolak. Tapi setelah Mas bujuk, akhirnya Mbok setuju untuk ikut."
"Makasih, ya, Mas." Dhia menatap Dirga lembut.
__ADS_1
Pria itu tak langsung menjawab. Tangan kanannya malah menarik pinggang Dhia, hingga tubuh istrinya itu merapat padanya."Itu nggak gratis, sayang ... kamu harus membayarnya."
"Bayar?."
"Em." Dirga mengangguk pelan."Enggak gampang tau, tadi bujuk si Mbok. Aku harus akting dengan wajah melas, pura-pura sedih ... malahan tadi sampai bersimpuh memohon." akunya yang sebenarnya berbohong.
"Serius, Mas ... kamu sampai bersimpuh?." Dhia menatap suaminya tak percaya.
"Em." Dirga kembali mengangguk."Itu semua aku lakukan demi kamu."
"Memangnya Mbok tadi nggak mau ikut, alasannya apa?."
"Banyak ... aku yakin kalau kamu yang bujuk, kamu nggak akan berhasil." sahut Dirga sambil melepas handuk yang membungkus rambut Dhia dengan pelan-pelan. Membuat rambut hitam Dhia yang basah itu, jatuh menyentuh bahu.
"Mas ... k-kamu mau ngapain?." seperti tadi malam, Dhia kembali gugup. Karena saat ini jemari Dirga mulai jahil tak tentu arah.
"Mau apa lagi, sayang? seperti yang tadi aku katakan, kamu harus membayarnya." Dirga tersenyum smirk.
"T-tapi, Mas ... aku."
"Tapi apa, sayang?." Suara Dirga terdengar jengah." Jangan banyak alasan lagi. Aku nggak mau gagal lagi seperti tadi malam."
"Apa lagi, Dhia?!" Dirga menggeram kala itu. Kerena Dhia terus berbicara, berhasil membuyarkan konsentrasinya, ditengah gairahnya yang hampir memanas.
"A-aku, cuma ..."
Dert, dert, dert!
Getaran ponsel dari dalam celana Dirga, memutus kalimat Dhia.
Lagi, Dirga hanya bisa memejamkan mata karena harus kembali menahan geram. Bagaimana tidak, seseorang menghubunginya pada waktu tengah malam. Benar-benar tidak tahu waktu. Fikirnya.
Ia lalu meraih ponselnya dengan gerakan kasar, dan melihat nama si pemanggil di layar pipih itu.
Tertera disana, ternyata si penelepon adalah, Gio.
Dirga hening sejenak. Tapi pada akhirnya ia memilih untuk mengangkat panggilan itu.
"Hallo, ada apa?." sahut Dirga malas. Tapi sesaat kemudian raut wajahnya terlihat serius. Mungkin saat ini Gio sedang mengatakan sesuatu yang penting.
__ADS_1
"Sebentar, sayang." kata Dirga pada Dhia. Ia sempat melihat Dhia mengangguk. Kemudian ia beranjak turun dari tempat tidur, dan keluar dari dalam kamar.
Hampir lima belas menit Dirga berada diruang tamu. Dan setelah telepon berakhir, ia kembali masuk kedalam kamar. Rencananya Dirga ingin melanjutkan kembali hal yang sempat tertunda. Namun ternyata harus benar-benar di tunda, karena saat ini ia melihat Dhia sudah tertidur sangat pulas, dengan bibir sedikit ternganga.
Melihat gaya tidur istrinya itu, Dirga hanya bisa mengulum senyum. Sambil merapikan piama tidur Dhia yang sedikit terangkat karena ulahnya tadi, ia menutupi tubuh Dhia dengan selimut, agar istrinya itu tak merasakan angin malam yang menyusup masuk melalui celah-celah jendela.
"Tapi aku belum buat sarapan, Mas." kata Dhia saat ini, masih menahan handuknya yang sudah hampir terlepas."Kasihan, Mbok ... dia sudah harus sarapan."
Dirga bergeleng."Mbok sudah sarapan. Dia sudah kenyang."
"Kok bisa?."
Dirga tak berniat untuk menjawab kembali pertanyaan Dhia. Tanpa banyak basa-basi, ia langsung menggendong tubuh Dhia, dan membaringkan istrinya itu di atas ranjang.
"Aku merindukanmu." ujar Dirga setengah berbisik. Saat ini ia sudah berada diatas ranjang dengan posisi tangan mengungkung tubuh Dhia."Apa kamu tidak merindukanku?." tanyanya sambil memandangi Dhia lekat-lekat.
Dhia mengangguk pelan."Aku juga merindukanmu, Mas."
Dirga tersenyum tipis. Dengan perlahan, ia merapatkan wajahnya pada wajah Dhia. Memberi kecupan lembut pada kening istrinya itu.
Dhia memejamkan mata. Meresapi kecupan lembut suaminya itu. Ia bisa merasakan kedamaian, dan seakan dimanja. Sebuah rasa yang sebelumnya tak pernah ia rasakan.
Kali ini, Dhia masih terpejam. Ada yang menggelitik terasa pada leher jenjangnya. Bisa ia rasakan, itu adalah hidung mancung, dan bibir Dirga yang bermain dikulit putihnya. Darah Dhia tiba-tiba berdesir hangat, debaran yang sempat membuatnya gugup, saat ini berubah menjadi debaran yang sedikit memburu karena hasrat yang mulai turut tersulut.
Ah, lagi, Dhia semakin terhanyut. Ketika Dirga berpindah pada bagian bibirnya. Menyalurkan kemanisan, yang membuatnya tak kuasa untuk tak menyambut pagutan itu. Dirga seolah mengerti kegugupannya sejak tadi. Seolah menuntun agar tenang, Dirga akhirnya berhasil membuat istrinya itu terbawa arus gairah.
Sementara bibirnya masih berkelana pada bibir Dhia, pelan-pelan Dirga menurunkan handuk yang sedari tadi digenggam oleh sang empunya, agar tak melorot. Dhia yang sejak tadi terpejam menikmati sentuhan demi sentuhan, tiba-tiba terbelalak ketika handuk putih yang menutupi tubuhnya terlepas hanya dalam satu kali tarikan. Wajahnya tiba-tiba bersemu merah, menyadari saat ini tubuhnya sudah terpampang polos menampilkan perutnya yang buncit.
"Perutmu terlihat menggemaskan, sayang ..." bisik Dirga ditelinga Dhia."Aku suka."
Dhia hanya membalas ucapan Dirga dengan senyum malu-malu dan pipi yang memerah. Sesaat kemudian, Dhia harus menahan rasa geli, ketika Dirga turun berpindah pada bagian perut, dan menciumi lembut perutnya.
"Aku rasa aku sudah tidak sabar untuk menyapa anakku, sayang." ucap Dirga dengan suara berat dan tatapan sayu pada Dhia.
Dhia sempat tak mengerti dengan ucapan suaminya. Tapi seketika otaknya loading ketika melihat Dirga melepas satu persatu pakaian dan melemparkannya ke sembarang arah.
Dhia tercengang seketika.
Saat ini, ia bisa melihat setiap lekuk tubuh suaminya yang atletis. Dhia tak berkedip. Apalagi pada bagian ... ah, Dhia baru menyadari. Sesuatu yang membuat bagian pribadinya terkoyak kala itu. Ternyata begitu menggiurkan.
__ADS_1
Dirga sedikit membungkuk, satu tangannya teulur menutup bibir Dhia yang ternganga."Tutup bibirmu ini, atau milikku ini salah masuk nantinya."