
Sendrapati Penthouse,
"Hallo, Dad. How are you?" (Halo, Ayah. Apa kabar?). Dirga berbicara melalui benda pipih yang menempel disisi telinganya.
I'm, fine. Bagaimana kabarmu?
"I'm also fine."(Aku juga baik). sahut Dirga lagi.
Hening,
Malik Mahendra Hartawiawan, sepertinya dia sudah tahu.
Dirga yang sedang bersandar pada dinding tempat tidur, langsung duduk begitu nama pria bejat itu disebut."What do you mean, Dad?"(Apa Maksud ayah?"
He found out about the D'ray Megatar Corporation. (Dia mencari tahu tentang D'Ray Megatar Corporation) Dan dia menduga pemiliknya adalah kamu.
Kamu harus berhati-hati. Malik Hartawiawan adalah pria yang licik. Dia bisa saja mencelakaimu sewaktu-waktu.
"Sial!"umpat Dirga geram.
Sepertinya dia masih tidak terima karena kalah dalam tander beberapa waktu lalu. Suara pria didalam ponsel Dirga terdengar tertawa.
Dia masih sama seperti dulu. Tidak ingin kalah, tetap berambisi meski sudah tua. Sambung pria itu lagi.
But, it's okey. Yang penting kamu harus tetap hati-hati.
Where's your wife? Daddy ingin bicara. Boleh, kan?
"Dhia minggat. Pergi dari Penthouse."ujar Dirga sekenanya.
What? K-kenapa? Kamu menyiksanya?
"No, Dad. Aku cuma tidak sengaja menyakitinya dengan kata-kataku."
Terdengar pria dari balik ponsel itu mendesah. It's the same! (itu sama saja.) Kan, Dady sudah pernah bilang jangan menyakitinya.
"But, why, Dad? Bukankah, Dhia anak dari pria pembunuh itu? Aku hanya tidak tahan untuk tidak menyakitinya."
"Setiap kali aku mengingat wajah pria itu, moodku selalu saja tidak enak ketika melihat Dhia."
Terdengar pria itu tergelak. Dirga, Dirga ... terserah kamu saja. Tapi Dady, minta. Kamu cari Dhia. Jangan sampai kamu menyesal jika suatu hari nanti Dhia tidak ingin kembali.
Tut, tut, tut ... panggilan dimatikan secara sepihak.
"Apa maksud Daddy? Kenapa kata-katanya selalu saja seolah mengatakan bahwa Dhia tidak pantas untuk disakiti?"gumam Dirga bertanya-tanya.
Langkah yang kamu ambil salah, nak. Jangan menyiksa Dhia. Dhia tidak ada hubungannya dengan kematian Papamu. Suara Rossa yang berbicara tadi siang turut mampir saat ini juga. Menambah teka-teki yang terus berseliweran dikepala Dirga.
Argh! Dirga mengusap wajahnya kasar. Membanting ponsel diatas ranjang lalu keluar dari kamar. Berniat mengambil air putih untuk membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba terasa kering.
"Wiwik kangen tahu, Mbak. Penthouse ini rasanya sepiiiii .... banget nggak ada, Mbak."
Dirga langsung berhenti dan bersembunyi ketika melihat Wiwik berbicara dengan seseorang dilantai bawah. Ia memegang dada, ketika debaran aneh tiba-tiba menerobos masuk memenuhinya.
Dhia, kembali? Kok bisa?
"Mbak Dhia mau makan atau mandi dulu? Tapi Wiwik nggak masak banyak, Mbak. Mbak kan tau sendiri. Mas Dirga itu lagi mogok makan. Dari kemarin Wiwik masak, masakanannya sayang, kebuang-buang."
"Nggak ada yang makan, Mbak. Cuma Wiwik doang."
"Mau bersih-bersih, dulu, Wik."ujar Dhia.
Ekhem!
Dhia dan Wiwik serempak mengangkat wajah ketika mendengar suara dehaman dari lantai atas. Disana, terlihat Dirga turun dengan wajah ketus.
"Pulang juga, kamu."
"Aku cuma nggak mau ada yang mati kelaparan disini karena menunggu kepulangan ku."kata Dhia mengingat kembali pesan WhatsApp yang dikirim oleh Wiwik tadi pagi.
Pagi itu, ketika Dhia hendak berangkat ke kampus, rentetan pesan masuk mengalihkannya. Disana tertera nama dari sang pengirim.
Wiwik
Mbak Dhia, Mbak Dhia pulang dong. Kasihan tau, Mas Dirga nggak ada makan dari tadi malem.
Wiwik
Kayaknya lagi galau berat gara-gara Mbak Dhia pergi.
Wiwik
Pulang ya, Mbak Dhia. Wiwik nggak mau Mas Dirga sakit.
Nanti kalau Mas Dirga sakit, terus mati, gimana?
Wiwik pasti bingung enggak punya kerjaan lagi.
Wiwik
Pulang ya, Mbak Dhia. Ya, ya, ya ... pliis 🙏
Begitu rentetan pesan singkat yang dikirim oleh Wiwik pagi tadi.
Mendengar pernyataan Dhia membuat bibir Dirga terkatup rapat. Ia langsung beralih pada Wiwik. Asisten yang sering kali membuat darahnya mendidih.
__ADS_1
"Kamu kirim pesan apa sama, dia?"
"E-enggak ada, Mas. Cuma bilang kalau Mas Dirga mogok makan. Suer!"Wiwik menaikkan dua jarinya.
"Iya, kan, Mbak ... Dhi ...."Wiwik celingukan karena Dhia sudah berlalu.
"Loh, loh, loooh ... Mbak Dhia kok malah pergi, sih. Mbak Dhia, tolongin, Wiwik."Wiwik buru-buru berlari menyelamatkan diri dari tatapan tajam Dirga yang ingin menelannya.
Beberapa saat berlalu ketika Dirga menghabiskan waktu diruang kerja. Pria itu memutuskan untuk kembali ke kamar utama. Tapi ketika baru saja tangan kokohnya ingin membuka handel pintu, telinganya menangkap suara tangis dari pintu kamar yang terbuka. Kamar itu adalah milik Dhia. Kamar yang bersisian dengan pintu kamar utama, tempat Dirga berdiri saat ini.
Rasa penasaran membuat Dirga mampir. Ditempat tidur, ia melihat Dhia sedang meringkuk. Wajah gadis itu tak terlihat. Tapi suara dan bahunya yang berguncang membuat Dirga yakin bahwa gadis itu sedang terluka menahan tangis.
"Kamu kenapa nangis?"tanya Dirga dari depan pintu. Mendengar suara tebal itu, Dhia pun menoleh seraya menyusut air mata.
"Maaf, pintu kamu terbuka. Jadi aku tidak sengaja dengar."
Dhia duduk. Hidung putih dan mata gadis itu sudah memerah. Masih terlihat cantik meski sedang menangis. Dirga mengakuinya.
"Boleh aku masuk?"Dirga bertanya ragu.
"Masuk aja."sahut Dhia dengan suara sengau.
Dirga mendekat, ia mendudukkan diri didepan Dhia dengan perasaan canggung."Ada masalah apa? Apa tangismu ini ada hubungannya denganku?"
Dhia menggeleng.
"Terus?"
Bukannya menjawab, Dhia malah semakin menangis, mengingat Rossa semakin membuat hatinya sakit karena tidak tega.
Kenapa Papa tega? Kenapa Papa jahat?
Tanya yang selama ini terus menggaung dibenak Dhia sepertinya sampai saat ini belum juga menemui jawabnya.
Dirga kelimpungan. Pasalnya saat ini ia tidak melakukan apapun, apalagi menyakiti. Tapi Dhia justru semakin menangis. Jemarinya terangkat ingin mengusap pipi Dhia. Namun ragu.
Ssst, ssst ...
"Jangan nangis lagi."Dirga akhirnya mengusap pipi gadis itu. Dan itu ia lakukan dengan hati yang tak menentu. Beberapa saat netra keduanya beradu. Sebelum akhirnya keduanya tersentak karena pencahayaan didalam kamar itu berubah menjadi gelap gulita.
"Kok, mati lampu, sih?"Dirga kebingungan."Aneh, nggak pernah-pernahnya begini."
Braak!
Suara pintu kamar yang tertutup dengan tiba-tiba membuat Dhia menjerit karena terkejut.
"Siapa disana?"seru Dirga. Namun tak ada jawaban.
"Mas, kamu mau kemana?"Tanya Dhia ketika merasakan Dirga beranjak dari hadapannya.
"Mas, aku takut."
"Sebentar, Dhia. Kamu disini dulu."Dirga ingin membuka pintu. Tapi ada yang aneh. Pintu itu tidak bisa dibuka. Seperti ada yang sengaja menguncinya dari luar.
"Wiwik!!"teriak Dirga memenuhi ruang kamar. Tak salah lagi, ini pasti pasti ulah wanita itu. Dirga buru-buru meraih ponsel dari dalam saku piama tidurnya. Namun saat itu juga dia berdecak. Menyadari bahwa ponsel itu tertinggal didalam kamarnya.
"Coba kamu telpon Wiwik. Suruh dia buka pintu sekarang juga.!"
"Baik, Mas."Dhia meraba tempat tidur, mencari posisi tas yang sebelumnya ia lempar dengan sembarang diatas ranjang. Ia akhirnya bisa bernafas lega saat jemarinya menyentuh tas berwarna biru tua itu. Tapi saat tas itu sudah dibuka, ia menemukan ponselnya dalam keadaan gelap tak bercahaya.
"Ponselku lowbat, Mas."Dhia nyengir. Sudah bisa dipastikan pria itu pasti sedang menahan geram saat ini.
"Ya ampun, Dhia, Dhia ... dari kemarin nggak ada habisnya kamu itu, dari drama ponsel lowbat. percuma dong, kamu punya handphone."
"Namanya juga lowbat, Mas. Aku kan, nggak tahu. Soalnya aku memang jarang periksa handphone. Kamu juga, ngapain, sih, handphone pakai ditinggal-tinggal segala."
"Jadi bingung, kan, sekarang."
"Kok, kamu jadi nyalahin aku, sih?"tanya Dirga tak terima.
"Jadi mau nyalahin siapa? Wiwik?"tanya Dhia kesal."Percuma, Mas. Paling dia udah enak-enakan tidur didalam kamarnya."
Wiwik?
Mendengar nama wanita itu Dirga hanya bisa membuang nafas dalam-dalam.
"Jadi gimana dong, ini, Mas?"
"Ya mau gimana lagi. Terpaksa aku harus tidur dikamar ini gelap-gelapan berdua sama kamu."
"Hah?"Dhia membulatkan mata. Tapi tentu Dirga tak bisa melihatnya saat ini. Karena kamar itu benar-benar gelap tanpa cahaya.
"Enggak usah, Hah, hah, hah! Kamu pikir aku mau ngapain?"
"Ya, kali aja, khilaf, Mas."ujar Dhia asal.
Dirga mengernyit.
"Tapi nggak apa-apa, deh, kalau khilaf. Kan suami istri."suara Dhia terdengar malu-malu.
"Jangan mulai, Dhia."Dirga berjalan pelan menuju ranjang."Dikamar kamu ini nggak ada sofa?"
"Enggak, Mas."
Dirga berdecak."Jadi aku gimana, ini? Diatas atau dibawah?"
__ADS_1
Netra Dhia kembali membulat."D-diatas, atau dibawah maksudnya?."
Dirga menghela nafas dalam-dalam."Ya ampun, Dhia ... kamu itu mikirin apa, sih?"
"Maksud aku itu, aku tidur dimana? dia atas atau dibawah.?"Suara Dirga menahan geram.
"Ooh."Dhia cengengesan. Rasanya malu sekali. Tapi beruntung saat itu Dirga tak bisa melihatnya."Terserah kamu, Mas. Aku yang dibawah juga boleh."
"M-maksudnya, aku yang tidur dibawah juga nggak apa-apa."ujar Dhia cepat menjelaskan.
"Jangan. Nanti kamu sakit, lagi. Aku yang repot jadinya, kalau sampai Mama tau."
"Kok gitu?"
"Udah, deh ... jangan banyak tanya. Aku mau tidur."
Dhia merasakan dibagian sisinya terasa bergerak. Sepertinya saat ini Dirga berpindah dan berbaring disebelahnya.
"Mas, kamu tidur disini?"
"Jadi dimana, lagi? Kamu mau nyuruh aku tidur dibawah?"
Dhia hening.
"Mana guling?"Dirga menadahkan tangan kanannya.
"Untuk apa, Mas?"
"Pembatas. Aku nggak mau kalau nanti kamu cari kesempatan meluk-meluk, aku."
Dhia menghela nafas pelan."Ini."ucapnya seraya melemparkan guling pada Dirga.
Dirga langsung mengambilnya. Meletakkan guling tersebut tepat ditengah-tengah. Diantara dirinya, dan Dhia.
"Satu lagi. Ini kurang."Ujar Dirga lagi.
Dhia kembali melempar guling yang tersisa. Saat ini, dua guling sudah tersusun sebagai pembatas diantara keduanya.
"Awas, ya, kalau sampai kamu melewati batas. Aku nggak akan segan-segan kasih kamu hukuman besok."Dirga membaringkan tubuhnya.
"Iya."sahut Dhia malas."Paling juga kamu yang meluk-meluk aku."ujarnya setengah bergumam.
"Apa?"
"Enggak, Mas."Dhia turut berbaring. Bibirnya terkatup, terbuka, begitu berkali-kali seperti ingin bertanya sesuatu. Tapi Dhia ragu.
Rasanya tidak mungkin bertanya langsung. Lebih baik aku cari tahu sendiri tentang dendam itu. Dhia mendesah pelan.
Waktu terus berputar. Malam gelap tanpa cahaya berganti dengan semburat sinar matahari yang menyelinap masuk dari sela-sela jendela kaca besar dinding Penthouse.
Wiwik sudah bangun lebih dulu sejak pukul lima pagi. Menyiapkan sarapan, membersihkan rumah, dan pekerjaan lainnya yang memang sudah menjadi tugasnya setiap hari.
"Ini kok Mbak Dhia belum bangun, sih? Katanya tadi malam, pagi ini mau joging. Uda jam enam, loh."Wiwik ngedumel seraya tangannya bergerak me-lap meja makan."Nanti kalau udah matahari menampakkan sinarnya dibumi ini, ya bukan joging lagi namanya."
"Tapi jagong-jagong, makan cemilan sambil nyeruput teh. Uenak, itu pasti."
Huaaaaa!!!
Wiwik terperanjat ketika suara teriakan tiba-tiba menggema dari sebelah kamar utama. Kamar itu tak lain dan tak bukan adalah kamar milik Dhia.
Kamu yang mulai,
Kamu, Mas.
Kamu!
Begitu suara yang terdengar dari dalam sana. Suara wanita dan pria yang sepertinya saling melempar tuduhan. Wiwik pun, langsung berlari untuk memeriksa.
Didalam kamar terlihat Dhia hampir menutup seluruh tubuhnya dengan selimut berwarna merah jambu.
"Terus, itu tadi kenapa tangan kamu meluk-meluk aku, Mas? Kaki kamu juga nimpahi aku. Lihat itu!"Dhia menunjuk kearah dua buah bantal guling bersampul merah jambu, yang menjadi pembatas diantara keduanya tadi malam, terlihat sudah teronggok dilantai."Bantalnya sampai jatuh kelantai."
"Ini pasti gara-gara kaki kamu yang lasak. Kalau enggak, mana mungkin kaki kamu yang panjang itu bisa nimpahi aku."
"Enak aja kamu nuduh, aku. Ini pasti kamu yang jatuhin gulingnya. Makanya kakiku jadi kemana-mana."ujar Dirga membela Diri.
"Kamu yang meluk-meluk aku, Mas. Itu artinya kamu yang melewati batas."ujar Dhia tak terima karena Dirga menyalahkannya.
Wiwik yang baru saja datang dan membuka pintu kamar seketika bibirnya membulat sempurna. Pemandangan didalam kamar itu membuatnya tak percaya. Tapi sejurus kemudian ia langsung cekikikan. Sempurna dengan wajah jenakanya yang menurut Dirga selalu menjengkelkan.
"Wiwik!"teriak Dirga yang kala itu melihat kehadiran Wiwik.
"I-iya, Mas Dirga. Ada yang perlu dibantu? Mau Wiwik buatin minuman apa. Jamu kuat, poding telur ayam kampung, atau apa?"
"Biar kuat lagi."Wiwik cengengesan."Biar makin tokcer, Mas."
"Diam kamu!"Dirga langsung turun dari tempat tidur."Ini pasti ulah kamu, kan? Kamu pasti yang sengaja matiin lampu tadi malam, terus ngunci aku sama Dhia didalam kamar ini. Iya, kan?"
Wiwik kebingungan."Mas Dirga ngomong apa, sih? Orang Wiwik juga bingung kenapa tadi pintunya ke konci dari luar."
"Mas Dirga jangan nuduh-nuduh Wiwik, deh. Dosa tau, Mas suudzan sama orang."
"Alah, ngeles aja kamu. Siapa lagi orang yang jahil disini kalau bukan kamu."Dirga tak percaya. Ia kenal betul tingkah Wiwik. Asistennya itu memang tak jarang membuatnya kesal dan bertindak jahil. Itu sebabnya Dirga habis-habisan melayangkan tuduhan pada Wiwik akibat kejadian gelap-gelapan tadi malam. Serta drama lingerie tipis yang dikenakan Dhia beberapa waktu lalu.
"Serius Mas Dirga, Wiwik nggak bohong. Rela, deh, Wiwik nggak nikah-nikah kalau sampai Wiwik bohong."
__ADS_1
Dirga hening.