
Dhia terbangun, seraya netranya mengerjap-ngerjap saat pantulan sinar matahari pagi menembus kaca besar Penthouse.
"Ya ampun, udah pagi."Dhia meraih jam weker yang sudah menunjukkan pukul 06:30."Kok bisa lupa sih, pasang alarm. Jadi nggak sholat Subuh, deh"
Dhia menghela nafas panjang.
"Tapi, tunggu, ini kok aku bisa ditempat tidur, ya? Bukannya tadi malam ..."Engga mungkin Wiwik, kan, yang gendong? Apa aku ngigau jalan sendiri?"
"Tapi nggak mungkin. Apa jangan-jangan ..."Bibir Dhia membulat sempurna. Tak dipungkiri hatinya saat ini bak dipenuhi bunga-bunga bermekaran yang dicucuri embun pagi. Namun tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"Cake!"seru Dhia hampir melompat dari tempat tidur.
"Oh, tidak-tidak."Dhia mengerem kakinya mendadak."Hah, hah!"serunya seraya menghirup bau nafasnya sendiri.
"Week ...!"
Dhia mual sendiri lalu berlari kecil masuk kedalam kamar mandi"Harus cuci muka dan sikat gigi. Nggak mungkin ngomong happy birthday dengan mulut bau seperti ini."ucapnya seraya membuka pasta gigi.
" Bisa-bisa Mas Dirga ilfil, lagi?"ujar Dhia lalu menggosok giginya yang putih tersusun rapi. Setelah selesai ia pun langsung buru-buru keluar.
"Ngapain, Mbak?"tanya Wiwik ketika mendapati Dhia membuka pintu kulkas dengan terburu-buru.
"Cake-nya mana, Wik?"
"Tuh ..."
Wiwik memajukan bibirnya panjang-panjang menunjuk ke meja makan."Udah Wiwik keluarin dari tadi, Mbak. Kan nggak mungkin dingin-dingin dikasih sama Mas Dirga."
Dhia mencubit pipi Wiwik dengan gemas ."Kamu baik banget si ..."
"Udah, buruan, Mbak. Temui Mas Dirga ke kamar."ujar Wiwik antusias.
Dhia langsung meraih cake tersebut. Tapi baru saja hendak melangkah, terlihat Dirga turun dari kamar utama untuk memulai sarapan.
"Selamat ulang tahun!"seru Dhia dan Wiwik bersamaan. Alih-alih disambut dengan hangat. Dirga justru melayangkan tatapan tajam diiringi rahang yang mengeras.
Bugh!
Dhia terperanjat. Wiwik pun begitu. Melihat cake tak lagi berbentuk. Jatuh terhenyak dilantai.
"Lancang, kamu! Siapa yang menyuruh kamu melakukan semua ini? Hah?"Teriak Dirga dengan mata yang memerah melihat Dhia.
"M-mas Dirga ... i-itu, saya yang nyuruh Mbak Dhia, Mas."aku Wiwik dengan suara gugup ketakutan.
"Mas, kamu ini sebenarnya kenapa sih, Mas? Aku cuma mau kasih kamu kejutan tapi kenapa kamu malah melempar cake itu?!"tanya Dhia dengan suara yang tinggi. Dhia tak tahan lagi. Baginya Dirga kali ini benar-benar sudah keterlaluan.
"Aku benci ulang tahun!"
"Tapi kenapa, Mas?!"
"Aku bilang benci, ya, benci! Kamu ngerti nggak?!"teriak Dirga. Tak perduli meski netra bulat gadis itu sudah hampir menumpahkan bulirnya.
"Dan saya ingatkan sama kamu. Sampai kapan pun, saya tidak akan pernah bisa mencintai kamu!"tegas Dirga. Kemudian meninggalkan Dhia yang masih berdiri menahan rasa luka, sakit dan kecewa.
Bulir bening yang sedari tadi mengintip akhirnya tak terbendung lagi. Dirga seolah menganggapnya seperti wanita yang tak berharga. Entah bagaimana lagi caranya membuat pria itu bisa menerimanya. Dhia seakan putus asa. Benteng kekuatannya menjadi rapuh saat itu juga.
__ADS_1
"Mbak, Dhia ... maafin, Wiwik, ya."Wiwik mengusap punggung gadis yang sedang terluka hatinya itu."Wiwik nggak tahu kalau bakalan jadi begini."
"Wiwik juga nggak pernah tahu kalau Mas Dirga nggak suka dirayain ulang tahun. Wiwik bener, bener .... minta maaf."Wiwik mengatupkan kedua telapak tangannya dengan penuh penyesalan.
Dhia menyusut air mata dan mengusap hidung bangirnya yang basah."Enggak apa-apa, Wik. Aku ke kamar dulu."
Wiwik mengangguk.
Pukul 10:00 pagi, terlihat mahasiswa dan mahasiswi jurusan manajement sudah berkumpul untuk melaksanakan ujian akhir semester. Disudut ruangan, terlihat Dhia tengah duduk.
"Setelah wisuda nanti, kalian mau kerja atau lanjut S2?"tanya Yuli membuka suara pada Dhia, Dini, dan Amel.
"Aku, sih, langsung kerja aja. Soalnya Papa ku sudah memberiku jabatan khusus dikantornya."ujar Dini dengan sombongnya.
"Wiiih, keren, dong? Kalau aku kayaknya mau langsung nikah aja, deh. Soalnya si Doni ngebet banget pengen ngajak-ngajak kawin. Eh, maksud aku, nikah."kata Amel.
"Idih, bilang aja kamu yang kebelet."Kata Yuli yang disambut tawa oleh Dini. Sementara Amel malu-malu seraya mencebikkan bibir pada Yuli dan Dini.
"Kalau kamu, Dhi?"tanya Amel.
"Aku ..."Dhia bingung."Belum tahu."ucapnya akhirnya.
"Dhi, kamu kenapa? dari tadi kamu bengong terus?"tanya Yuli yang memang dari tadi sudah memperhatikan Dhia.
"Kamu sakit?"
Dhia menggeleng.
"Mata kamu juga sembab."Kata Amel.
"Enggak. Mungkin ini cuma kurang tidur. Soalnya tadi malam kebanyakan belajar."Dhia berbohong.
"Oh, gitu."Ucap ketiganya serempak.
Selang kemudian, seorang dosen masuk kedalam kelas. Semuanya diam setelah dengingan suara yang sedari tadi terus menggema memenuhi ruangan.
Dhia, gadis itu berusaha tenang. Mencoba berkonsentrasi agar bisa menyelesaikan ujian dengan hasil yang baik. Dengan memisahkan rangkaian-rangkaian kajadian yang baru saja terjadi pagi tadi.
_________
Kelap-kelip bintang yang biasa terang malam ini seperti bersembunyi. Bulan pun begitu. Tertutup oleh mendung yang tiba-tiba mengusik. Dirga masih berdiri dilantai paling atas penthouse miliknya. Melihat lampu-lampu kendaraan yang hilir mudik ditengah keramaian kota. Seraya menyeruput teh hangat, ia membiarkan hembusan angin bermain manja menerpa wajahnya. Dan akhirnya memilih masuk ketika rintik hujan mulai membasahi bumi.
Dirga turun kebawah berniat menaruh sisa teh ke dapur. Netranya menyapu setiap sudut ruangan berdesain interior mewah tersebut. Dan ia baru menyadari ada yang berbeda. Sedari tadi dirinya tak melihat dan mendengar suara gadis yang sejak pagi sudah membuatnya meradang.
"Di mana Dhia?"tanya Dirga ketika Wiwik melintas didepannya.
"Wiwik nggak tau, Mas. Mbak Dhia belum pulang dari tadi. Wiwik juga uda nelepon, tapi nomornya nggak bisa dihubungi."Kata Wiwik dengan wajah gelisah.
Tanpa ba-bi-bu, Dirga bergegas naik menuju kamar utama. Lalu keluar kembali dengan tubuh yang sudah dibalut jaket kulit berwarna biru tua.
"Loh, loh, loh ... Mas Dirga mau kemana?"tanya Wiwik ketika pria berambut cepak itu berjalan dengan langkah panjang.
"Kamu jangan tidur dulu. Kalau Dhia kembali langsung telpon saya."titah Dirga seraya melanjutkan langkah.
"Dimana sih, Mbak Dhia. Kok Wiwik jadi gelisah, ya."
__ADS_1
"Ya Allah, pertemukan lah Mbak Dhia dengan Mas Dirga. Dan semoga Mbak Dhia nggak kenapa-kenapa, ya Allah."Wiwik menadahkan kedua tangannya."Aamiin."
"Dimana sih, kamu, Dhi ... Ngambek, ngambek aja. Nggak usah nyusahin orang kayak gini, dong."gerutu Dirga saat sudah berada didalam mobil. Mobil sedan hitam tersebut meluncur pelan dari Senopati Penthouse, menuju jl. Sriwijaya raya.
Dirga menajamkan netra mencari Dhia ditengah hujan deras yang terus membasahi bumi. Disepanjang jalan, tak terlihat orang-orang berlalu lalang. Hanya beberapa mobil yang melintasi.
"Apa mungkin dia pulang kerumah orang tuanya?"Dirga menerka-nerka.
Bisa gawat ini, kalau orang tuanya tahu aku yang sudah membuat Dhia kabur, bisa-bisa mereka curiga. bathinnya cemas.
Aaargh ... Dhia!
Sepanjang mengisi penjuru jalan, sorot mata Dirga menangkap seorang gadis yang tidak asing baginya. Gadis yang memakai midi dress berwarna biru muda itu duduk sendirian disebuah kursi panjang yang terdapat di emperan sebuah toko buku.
Dia, benar, Dhia. Gadis itu terlihat biasa saja ketika melihat sebuah mobil berhenti dengan jarak dua meter didepannya. Namun akhirnya ia tertegun ketika melihat seorang laki-laki yang turun dari mobil hitam tersebut, seraya membawa sebuah payung tanpa motif ditangan kanannya.
"Ayo, pulang!"ajak Dirga dengan suara yang masih terkesan dingin.
Dhia tidak menjawab. Sepertinya gadis itu masih menyimpan kekecewaan.
"Mau sampai kapan disini?"tanya Dirga
"Kamu itu kalau marah sama saya, marah aja. Tapi jangan sampai nggak pulang begini, dong. Duduk diteras sendirian sepi-sepi begini."
"Memangnya kamu nggak takut kalau sampai ada preman-preman lagi yang mengganggu kamu?!"
Dhia mengangkat wajah memandang Dirga sinis"Peduli apa kamu, Mas? Untuk apa aku pulang kalau kamu sendiri aja nggak bisa menerima aku."
"Terus kamu mau kemana? Pulang ke rumah orang tua kamu, biar aku disalahin, begitu?"
Dhia kembali tidak menjawab.
"Udah dong, ngambeknya jangan kayak anak kecil."
Dhia menghela nafas dalam-dalam. Ia beranjak lalu melangkah pergi meninggalkan Dirga. Tak memperdulikan meski hujan masih terus mengguyur dan langsung membasahi tubuhnya.
"Kamu mau kemana?"tanya Dirga seraya mengimbangi langkah gadis itu. Mencoba melingkupi Dhia dengan payung. Namun gagal karena Dhia masih terus berjalan.
"Dhia!"Dirga menarik lengan Dhia.
"Lepas, Mas!"seru Dhia dengan tubuh yang sudah basah kuyup.
"Cukup, Dhia!"
"Harusnya aku yang bilang begitu, Mas!"Dhia berbalik sembari memandang Dirga dengan sorot kekecewaan."Cukup dengan sikap dingin kamu yang selama ini membuat aku tidak mengerti."
"Didepan orang, didepan Mama dan Papa kamu bersikap baik sama aku. Tapi sebenarnya kamu benci sama aku. Cukup, Mas. Cukup sama semua sandiwara kamu."Dhia berteriak meski air hujan terus membasahi wajah dan seluruh tubuhnya.
Dirga bungkam seketika. Saat itu, Dhia memilih untuk pergi. Meski dirinya tidak tahu kemana langkah akan menuntun kakinya.
"Dhia!"
Dhia tak ingin menjawab.
Saat itu, tanpa ba-bi-bu Dirga langsung menjatuhkan payungnya. Mengejar, lalu menggendong tubuh dingin gadis itu menuju mobil. Tak perduli meski Dhia terus memberontak dan berteriak meminta dilepaskan.
__ADS_1