Istriku, Dhia

Istriku, Dhia
Perintah Yang Tak Terbantahkan.


__ADS_3

Dirga keluar dari dalam kamar utama seraya menjinjing sebuah paper bag ditangannya. Dengan penampilan casual, ia berjalan menuruni tangga tanpa memperhatikan sekelilingnya.


Dhia melihat itu, sorot mata gadis itu tertuju pada sebuah paper bag yang sudah Dhia ketahui isinya. Ya, dua malam lalu, ketika Dhia keluar dari ruang kerja dan hendak masuk menuju kamarnya, netranya sempat melihat pintu kamar Dirga yang terbuka. Ia langsung berhenti hendak menutup, namun mata gadis itu tertumbuk pada sebuah paper bag yang berada diatas tempat tidur. Dengan perasaan ragu Dhia melangkah. Mencoba mengintip isinya, karena penasaran.


Sebuah sweater rajut berwarna abu muda. Netra Dhia membulat sempurna kala itu. Ia langsung mengambilnya, membukanya lebar agar terlihat lebih jelas. Inisial A terukir rapih dibagian dada.


"Ini sweater wanita. Inisial A? Siapa?"gumam Dhia pelan.


Tamara? Dhia bergeleng cepat. "Jelas bukan dia."


Ayu? itu kan, rangkaian namaku. Dhia kembali bergeleng."Enggak mungkin, ulang tahunku masih lama. Lagipula, Mas Dirga nggak akan seromantis itu sama aku."Dhia mengerucutkan bibirnya.


"Untuk siapa ini?" Dhia menghela nafas pelan seraya melipat kembali sweater tersebut. Dan buru-buru berlari keluar ketika mendengar suara pintu ruang kerja terbuka, dan kembali tertutup.


"Mbak!"Wiwik memanggil namun Dhia seperti tidak mendengar.


"Mbak Dhia!"panggil Wiwik lagi dengan wajah kebingungan melihat Dhia yang mengenakan masker wajah, serta kaos putih yang kebesaran dan celena pendek diatas lutut, berjalan terburu-buru mengekori Dirga yang baru keluar dari Penthouse.


"Huuu ... Wiwik manggil, kok malah dicuekin."cerocosnya seraya melibaskan pelan serbet yang ada ditangannya pada sandaran kursi.


"Siang, siang aku sendiri ... tanpa temanku lagi hooo, hooo." Wiwik langsung bernyanyi lagu Nike Ardila yang sudah diganti liriknya, dengan wajah sedih."Hanya satu keyakinan ku. Jodohku kan datang. Didalam hidupku. Bahagia kan datang."


"Pales banget suaraku. (Suara fals maksud Wiwik) Kok, nggak enak banget ya, didengar."Ia cekikikan pelan merasa geli sendiri."Eh, tapi, itu tadi Mas Dirga pergi. Terus ... Mbak Dhia ngikutin dari belakang."


"Ini kok, jadi kayak istri lagi mengintai suami yang lagi selingkuh, ya? Masak iya, Mas Dirga selingkuh?"Wiwik berbicara sendiri.


"Ah, nggak mungkin, lah. Ini mungkin cuma perasaan sontoloyoku, aja, ini."ucapnya seraya masuk kedalam kamar."Tidur dulu. Mumpung suasana lagi damai."katanya.


________________


Dhia mengikuti mobil Dirga yang terus melaju dengan menggunakan taksi. Mungkin karena akhir pekan, terlihat jalanan kota begitu ramai. Sesekali Dhia menoleh kearah jalanan seraya mengintai mobil Dirga yang terus melaju. Beberapa saat kemudian, mobil Dirga berhenti. Tepat dihalaman sebuah toko roti. Pria itu turun dan masuk kedalam. Dan kembali keluar dengan membawa beberapa kotak roti dikedua tangannya.


"Ikutin lagi, Pak."perintah Dhia pada sang supir taksi.


"Mau kemana sih, neng?"tanya pria paruh baya itu kerena merasa aneh dengan penampilan Dhia yang masih mengenakan masker wajah.


"Ngikutin suami saya, Pak."


"Emang kenapa suaminya, Mbak? Selingkuh, ya?"


Dhia melebarkan mata."Sembarangan aja, bapak."


"Enggak, lah. Suami saya enggak begitu orangnya."bantah Dhia. Padahal badan sudah panas dingin menduga-duga kebenaran yang sebenarnya.


"Oh, maaf, neng. Saya kira selingkuh. Soalnya kan, tahu sendiri. Jaman sekarang mah, orang-orang pada aneh. Punya istri cantik juga kadang masih ditinggalin. Apa lagi orang kaya, suka-sukanya aja buang-buang duit untuk perempuan lain."


Dhia menghela nafas berat. Menurutnya supir tersebut terlalu banyak bicara. Dan malah membuat perasaannya menjadi tidak tenang.


"Kalau saya, mah, malah kebalik, neng. Istri saya yang ninggalin saya. Dia pergi nikah sama laki-laki lain. Ninggalin anak dua, neng sama saya."sambung pria paruh baya itu lagi.


"Saya waktu itu sedih banget, neng. Rasanya hati saya, hancur ..."


"Hancur, sehancur-hancurnya."


Dhia berdecak."Kok Bapak malah curhat, sih. Lihat itu ... suami saya udah hilang."ucapnya seraya menunjuk jalan, yang disana sudah tidak terlihat lagi mobil suaminya.


"Kita kehilangan jejak."imbuh Dhia kesal.


"Ya ampun, neng. Maaf ... saya tidak sadar."


Dhia mendesah kecewa. Ia menyapukan pandangan keluar jendela. Dan bisa bernafas lega ketika melihat mobil Dirga terparkir disebuah halaman yang sangat ia kenali.


"Stop, Pak! Berhenti disini."teriak Dhia tiba-tiba hingga membuat pria paruh baya itu terperanjat dan me-rem mendadak.


Rumah Sakit Jiwa, BinaWangsa.


Dua hari lalu, Dhia, Yuli, Dini dan Amel datang ketempat ini untuk berdonasi. Namun Dhia tak melihat kehadiran Dirga. Alhasil rencananya untuk mencari tahu informasi tentang wanita itu sama sekali tak membuahkan hasil.


Bagi Dhia, ini mungkin saatnya segala sesuatu yang bersarang di benaknya belakangan ini akan terjawab. Tentang siapa wanita paruh baya yang selalu ditemui Dirga ditempat ini, dan apa tujuannya memberikan sweater rajut tersebut. Begitu istimewanya, kah, wanita itu?


Dhia buru-buru merogoh saku celananya, berpindah pada saku yang lain, seraya memasukkan tangan dengan sangat dalam. Detik itu, ia baru tersadar, bahwa dirinya tidak membawa uang sepeserpun akibat pergi dengan terburu-buru.


"Maaf, Pak. Saya lupa bawa duit."Dhia meringis.


"Yah, gimana dong, neng. Saya, mah, buru-buru. Harus segera cari penumpang lain."


Dan akhirnya, proses pembayaran ongkos berkendala. Cukup lama, hingga menyita waktu Dhia yang terbatas.


"Gini, aja, Pak. Gimana kalau bapak menunggu. Saya mau masuk kedalam dulu. Kalau saya sudah selesai, bapak bisa antar saya pulang lagi."

__ADS_1


"Nanti dirumah, langsung saya bayar. Gimana, Pak?"


"Yah, gimana, ya, neng."pria paruh baya itu menimbang-nimbang."Lama tidak?"


"Belum tahu, sih, Pak!"jawab Dhia ragu.


"Kalau lama mah, saya tidak bisa. Sayang waktunya, neng."


"Tenang aja, Pak. Nanti sampai dirumah saya bayar dobel."ujar Dhia meyakinkan.


"Jangan percaya, Pak. Dia itu kurang waras."seru Dirga tiba-tiba dan berhenti memarkirkan mobilnya."Lihat aja penampilannya. Pakai bedak tepung tebal banget. Itu juga mau pulang kerumahnya."sambungnya lagi seraya memajukan bibir ke arah Rumah Sakit Jiwa. Kemudian berjalan menghampiri Dhia dan supir taksi tersebut.


Sontak mendengar itu Dhia langsung melebarkan mata."Sembarangan kamu, Mas."


"Jangan percaya, Pak. Sebenarnya dia itu yang gila."


"Kok, aku?"


"Ya iya, lah. Jelas-jelas kamu yang baru keluar dari sana."


"Aduh, sudah-sudah! Lihat kalian berdebat saya jadi pusing. Kalau begini, mah, lama-lama saya yang jadi gila."ujar supir taksi tersebut menengahi.


Dirga mengulum senyum."Berapa ongkosnya, Pak?"


"Empat puluh ribu, Pak."sahut supir tersebut.


Dirga langsung meraih dompetnya, dan mengeluarkan selembar uang berwarna biru dari dalam sana."Kembaliannya ambil aja, Pak."


"Terimakasih, ya."supir tersebut tersenyum.


Dirga langsung menarik lengan Dhia dan memasukkan gadis itu kedalam mobil."Kamu ngapain ngikutin aku? Kamu pikir aku nggak tahu?"


"Pakai masker segala lagi."Dirga menyentil pipi Dhia hingga wanita itu meringis.


"Sakit, Mas. Lihat ini, masker aku jadi retak-retak. Ini semua gara-gara, kamu."Dhia mengerucutkan bibir.


"Oo ... berani kamu sekarang, ya, marah-marahin aku."


"Kamu, sih? buat aku curiga. Kamu keluar sambil bawa sweater perempuan. Aku kira kamu punya selingkuhan."aku Dhia dengan polos.


"Astaga, Dhia ... Dhia."Dirga menggaruk keningnya yang tak gatal.


Dirga menghela nafas pelan."Kamu nggak perlu tau. Yang pasti dia bukan selingkuhanku."


Dhia hening. Dari awal dirinya sudah menduga itulah jawabannya. Dirga seperti ingin menyimpan rapat rahasia tentang wanita itu.


Dert, dert,dert ...


Dirga langsung merogoh saku jeans-nya, ketika merasakan ponselnya bergetar. Dilayar pipih itu terpampang tulisan, Mama Rossa memanggil.


"Hallo, Ma."


Assalamualaikum. terdengar suara Rossa begitu dingin ditelinganya.


"Wa'alaikumussalam, Ma."sahut Dirga lagi.


Kalian dimana?


"Lagi diluar, Ma."


Pulang sekarang. Mama sekarang ada di Penthouse kalian.


Rossa langsung memutus panggilan. Dari suara wanita itu, Dirga bisa menduga bahwa mertuanya itu tengah marah.


"Mama yang nelpon, Mas?"tanya Dhia.


Dirga mengangguk."Ini gawat."


"Kok, gawat? Kan Mama yang nelpon."


Dirga berdecak. Ia segera menjalankan mobilnya tanpa menjawab pertanyaan Dhia lebih dulu. Hampir dua puluh menit didalam perjalan, akhirnya keduanya tiba di Penthouse.


"Assalamualaikum."Ucap Dirga dan Dhia bersamaan.


"Wa'alaikumussalam."Suara Rossa dingin. Bahkan lebih dingin dari yang terdengar diponsel tadi.


Dhia dan Dirga langsung menyalami Rossa. Tak ada Malik disana. Entah memang pria tua itu sengaja menghindar bertemu Dirga, atau sedang sibuk menambah pundi-pundi kekayaannya.


"Dhia. Bungkus pakaian kamu sekarang.!"perintah Rossa pada anak sulungnya itu."Kamu pulang, ikut Mama dan Inka."

__ADS_1


"T-tapi kenapa, Ma?"Dhia bingung.


"Jangan banyak tanya, Dhia. Lekas ke kamar sekarang, dan susun baju-baju kamu!"


"Ma ... Ma. Please, jangan bawa Dhia."Dirga berusaha mencegah.


Entahlah, sampai saat ini Dirga memang belum bisa memperlakukan Dhia sebagai seorang istri seutuhnya. Namun dirinya terasa sulit meraba hati, untuk menyadari ketidakrelaannya, ketika Rossa benar-benar akan membawa Dhia pergi dari Penthouse ini.


"Untuk apa Dirga?"tanya Rossa kecewa."Untuk apa Dhia tetap disini kalau kamu masih memperlakukannya bukan sebagai seorang istri.?"


"Mama tau kalau kalian masih tidur terpisah. Mama tidak suka anak Mama di perlakukan seperti ini, Dirga!"ujar Rossa melampiaskan kekecewaannya.


"Tau, nih, kalian. Kalau tidurnya terpisah terus, ponakan nggak bakalan nongol-nongol, dong."celetuk Inka tiba-tiba.


"Inka, diam!"seru Rossa pelan.


Inka langsung mengerucutkan bibir.


"Ma, aku minta maaf."ujar Dirga pelan.


"Minta maaf?"tanya Rossa mengulangi."Minta maaf saja percuma kalau kamu belum bisa memperlakukan Dhia dengan baik."


"Aku hanya belum siap, Ma"


"Karena dendam itu?"tanya Rossa pelan pada Dirga."Mama sudah bilang sama kamu. Dhia tidak ada kaitannya dengan semua itu, Dirga."ujarnya masih dengan suara pelan. Namun terkesan dingin dan penuh penekanan. Terpancar kekecewaan yang teramat sangat dari sorot mata wanita paruh baya itu. Dirga bisa melihatnya.


Dhia kembali dengan wajah yang sudah bersih. Ditangan kanannya sudah ada koper berukuran besar berisi pakaian yang baru saja dia ambil dari dalam kamar. Ia berdiri tergugu.


"Inka, Dhia, ayo, kita pulang."Rossa menarik, lengan Dhia yang kebetulan berada lebih dekat dengannya. Saat itu, Dirga langsung menarik tangan wanita paruh baya, itu, memohon.


"Ma, please, jangan bawa Dhia. Aku minta maaf."Dirga bersimpuh dengan wajah memelas."Aku janji ... mulai saat ini, kami tidak akan tidur terpisah lagi. Aku akan memperlakukan Dhia seperti yang Mama harapkan."


Rossa hening. Kemudian menghela nafas pelan. Ia memandang Wiwik yang saat ini berada dalam jarak satu meter darinya. Tatapannya sarat akan perintah yang tak terbantahkan.


"Oke, kalau begitu. Mama pegang omongan kamu. Kalau sampai kamu berbohong lagi, maka jangan salahkan Mama jika Mama benar-benar mengambil Dhia darimu."


Dirga bergeming. Rossa sempat melirik menantunya itu, yang membuang nafas kelegaan.


"Kami pulang, dulu."ujarnya pada Dhia dan Dirga bergantian.


"Rok kebaya yang kemarin kebesaran sudah selesai di kecilin. Tadi Mama sudah ambil dari butiknya. Sekarang ada sama Wiwik."ujar Rossa pada Dhia.


"Iya, Ma."


"By, by, Mbak. Selamat berbulan madu. Aku pesan ponakan dua."celetuk Inka ketika Rossa menarik tangannya keluar dari penthouse itu.


Dirga memandang Dhia sesaat."Sini kopernya."ucapnya seraya menarik koper tersebut dari tangan Dhia, lalu naik kelantai atas. Disusul oleh Dhia yang mengikutinya dari belakang.


Sesampainya dilantai atas, tepatnya didepan pintu kamar utama, Dirga dan Dhia tercengang melihat karpet berbulu lembut yang biasanya menghiasi lantai kamar itu, kini sudah teronggok didepan pintu. Sementara didalam, terlihat Wiwik sedang kesusahan menarik sebuah sofa yang sepertinya juga akan ikut terusir.


"Apa-apaan, kamu, Wik?"ujar Dirga tiba-tiba hingga membuat Wiwik terlonjak.


"Walah ... Mas Dirga, ini. Seneng banget buat Wiwik jantungan."cerocos Wiwik.


"Kamu ngapain? Kenapa semuanya mau dikeluarin?"


Wiwik membuang nafas pelan."Ini, loh ... Mas Dirga. Tadi Wiwik dapat perintah dari Buk Rossa. Katanya, nggak boleh ada sofa, atau karpet diatas lantai kamar ini."


"Kalau ada, harus dikeluarin. Ini semua untuk mencegah terjadinya kembali, drama tidur terpisah antara Mas Dirga dan Mbak Dhia."terang Wiwik dengan logat Jawanya yang khas.


"Astaga, Mama. Sampai segitunya."gumam Dhia.


"Kamu itu sebener ..."


"Oh, no, no, no ... "Wiwik memotong cepat kalimat Dirga seraya memainkan telunjuknya."Kali ini tidak boleh ada bantahan. Wiwik dapat perintah langsung dari Buk Rossa. Kalau Mas Dirga membantah. Maka saya disuruh membuat laporan."


"Dan, kalau ..."Wiwik memberi penekanan di kata 'Kalau' laporan sudah disampaikan. Maka Mas Dirga akan .... "


"Habis."imbuh Wiwik seraya membentangkan dan menarik lima jarinya didepan leher dengan ekspresi sangar. Namun itu justru terkesan menggelikan bagi Dhia.


Sementara Dirga, pria itu menahan geram. Rasanya ia ingin sekali mencoret wajah Wiwik dengan abu gosong saat ini juga, agar menghitam menutupi keseluruhan wajah, yang menurut Dirga sangat menyebalkan.


"Jadi, kebetulan Mas Dirga ada disini, tolong bantuin Wiwik. Karena sofa ini cukup berat dan menguras tenaga."


Dirga bergeming seraya memandang Wiwik tajam.


"Buruan, Mas Dirga."perintah Wiwik lagi tanpa rasa takut."Tak kasih tahu, Buk Rossa, gimana?"


"Mau?"

__ADS_1


Dirga akhirnya hanya bisa membuang nafas kasar, dan menuruti perintah Wiwik untuk mengangkat sofa santai itu dengan malas.


__ADS_2