Istriku, Dhia

Istriku, Dhia
No Problem, I Enjoyed It!


__ADS_3

"Saat ini Tamara sedang sakit. Aku bertanggung jawab atas kecelakaan kerja yang menimpahnya."


Begitu kata Dirga ketika keduanya sudah berada didalam mobil, hendak kembali ke Penthouse.


"Termasuk menemaninya semalaman, Mas?"


"Tapi Tamara adikku, Dhia ... jadi tolong, kamu jangan salah paham."


"Tapi Tamara cuma adik angkat kamu, Mas. Kamu harus ingat itu."suara Dhia sedikit keras.


"Aku tahu, Dhia ..." Namun tidak dengan Dirga yang hanya membalas dengan pelan.


"Tapi aku cuma menjaganya. Saat ini kakinya terluka ... dia tidak bisa berjalan."


Dhia membuang nafas berat.


"Terserah kamu, lah." Dhia membuang wajah ke luar, mengarah pada kendaraan yang berlalu-lalang. Rasanya ia lelah, tak tahu lagi harus berucap apa.


Suasana hening tercipta didalam mobil itu, hingga sampai di apartemen Sendrapati Penthouse, keduanya hanya diam.


Dhia langsung masuk kedalam kamar, disusul oleh Dirga, yang juga mengikutinya dibelakang.


Dhia membuka sepatu yang ia kenakan, dan meletakkannya dengan kasar. Melepas untaian rambutnya yang tergelung, kemudian melepas bross yang menempel pada kain toga. Cukup gerah, ditambah lagi Dirga yang sudah berhasil menambah rasa gerah itu semakin parah.


Dirga sempat memperhatikannya. Kemudian mendekati Dhia. Namun saat itu juga Dhia ingin pergi. Tapi Dirga mencegahnya, beberapa kali menghalangi jalan agar Dhia berhenti.


Dhia berdecak."Minggir kamu, Mas."


"No!"tolak Dirga cepat."Aku baru akan minggir kalau kamu tidak memasang wajah ketus lagi di depanku."


Dhia menghela nafas berat.


"Dhia ... aku minta maaf. Aku tadi malam nggak pulang karena nggak sengaja ketiduran waktu jagain Tamara."


Dhia tersenyum, sarat dengan keterpaksaan."Udah?"


Dirga hening.


"Minggir, Mas ... aku mau mandi."


Kata Dhia dengan intonasi yang kembali dingin.


Rupanya itu berhasil membangkitkan emosi Dirga. Hingga saat itu juga, pria itu dengan gerakan cepat menarik pinggang dan tengkuk Dhia saat berniat hendak pergi. Dirga melemparkan sebuah kecupan yang sedikit kasar dan memburu.


Dhia berusaha melepaskan diri dari kecupan itu, dengan memukul-mukul kedua tangannya di dada bidang Dirga, ditengah nafasnya yang terputus-putus. Hingga akhirnya pertautan itu pun, terlepas.


Plak!


Dhia melayangkan satu tamparan diwajah Dirga. Mata gadis itu sudah memerah diiringi dadanya yang bergerak naik turun.


Dirga diam, merasakan rasa panas dipipinya akibat tamparan Dhia.


"Aku benci sama kamu, Mas. Kamu pembohong, kamu jahat!"bibir Dhia bergetar, sedang air matanya sudah luruh membasahi pipi.


"Selama kita menikah kamu sudah terlalu sering menyakitiku, bahkan membohongiku."


"Bohong? bohong apa?"Dirga memandang Dhia tak mengerti.


Dhia tersenyum kecut. Melempar tatapan ke sembarang arah, lalu beralih menatap Dirga.


"Kebenaran tentang Mama Arini."


Dirga menelan ludah tak percaya.

__ADS_1


"Kamu sudah membohongi aku dan keluargaku. Kenapa, Mas?"


"Kenapa kamu juga tega mengatakan kalau Mama kamu sudah meninggal. Padahal jelas-jelas dia masih hidup."


"Darimana kamu tahu?"tanya Dirga pelan dengan suara beratnya.


"Itu nggak penting, Mas. Sekarang kamu jelasin ke aku, kenapa kamu bohong?"


Dirga kembali hening, namun kemudian berbicara.


"Aku terpaksa berbohong. Karena aku tidak ingin, kamu dan keluargamu menolakku saat itu, jika tahu tentang kondisi Mamaku yang sebenarnya."aku Dirga yang sebenarnya berbohong.


"Aku minta maaf."kata Dirga ketika disaat yang sama ponsel yang berada di balik saku jasnya berdering. Dirga melihatnya, namun sepertinya enggan untuk menjawab.


"Siapa? adik angkat kamu?"tanya Dhia dengan tatapan menuduh.


Dirga menghela nafas pelan.


"Maaf, Dhia ... aku harus kesana."


Dirga langsung berbalik dan keluar, sementara Dhia hanya bisa kembali menghela nafas dalam-dalam. Sambil mengusap pipinya yang basah, ia berjalan menuju kamar mandi.


___________


"OH MY GOD!"Tamara memasang wajah geram."Please, take it easy! You want to kill me?"


"Opo toh, iku Mbak? Wiwik nggak ngerti. Pakai bahas Indonesia aja, jangan pakai bahasa Inggris."


Tamara menggeram."Dasar kampung!"


"Yo memang saya dari kampung, to Mbak. Ya wajar kalau Wiwik nggak ngerti. Nanti kalau Wiwik lancar bahasa Inggris, la, ya orang-orang pada kaget, toh."


"Berisik banget kamu!"


Tamara langsung merengek."Kak ... i don't want to be guarded with her."


"Wik, kamu bisa pulang dulu."


"Oh, oke, Mas."Wiwik langsung berdiri.


"Apa tadi ada dokter yang datang?"


"Ada, Mas ... tapi cuma sebentar. Habis meriksa, ganti perban, terus ... langsung pulang. Katanya kaki Mbak Tamara udah mendingan."


"Oh, oke."


Wiwik langsung keluar.


Dirga mendudukkan diri ditepi ranjang."Kamu sudah makan?"


Tamara bergeleng."Aku nggak mau disuapin sama asisten kamu itu."


"Kenapa?"


"Enggak mau aja. Aku maunya kakak yang suapin."


Dirga menghela nafas panjang."Kamu itu sudah dewasa, Tamara ... jadi tolong jangan bersikap seperti anak kecil lagi."


"Kalau sudah waktunya makan, ya makan ... gimana kalau sakit kamu makin parah? Aku nggak bisa setiap waktu jagain kamu terus. Masih ada banyak hal yang harus aku urus."


"Emmm ..."Tamara mengerucutkan bibir."Galak banget, sih."


"Sekarang kamu makan."kata Dirga dengan wajah tegas tak ingin dibantah.

__ADS_1


"Suapin."pinta Tamara merengek manja.


Dengan gerakan malas Dirga mengambil nasi yang sudah terisi lengkap dengan lauk pauk, yang berada diatas meja, disamping tempat tidur Tamara.


Memberikan sesuap demi sesuap nasi dan lauk pada mulut Tamara. Hingga akhirnya berhenti ketika menyadari Tamara sedang tersenyum tipis sambil terus memandangnya. Sebuah tatapan yang membuat dirinya risih. Yang jelas itu bukanlah tatapan seorang adik dengan saudaranya, melainkan tatapan kekaguman yang menuntut lebih.


"Kamu habiskan sendiri. Karena yang sakit kaki kamu, bukan tangan kamu."


Tamara mendengus kesal.


Beberapa jam berlalu, Dirga yang sedang tertidur diatas ranjang bercover tosca itu, akhirnya membuka mata. Detik itu juga ia terperanjat begitu menyadari tempatnya berada saat ini. Serta melihat Tamara yang juga sedang terlelap disisinya.


Kenapa aku bisa tertidur disini?


Ia langsung melihat kebawah. Memeriksa tubuhnya yang ternyata masih lengkap dengan pakaian saat pertama kali ia datang.


"Kakak sudah bangun?"


Dirga kembali terkejut mendengar suara Tamara."Kenapa aku bisa tertidur disini?"


Dirga memijit pelipisnya yang terasa pening.


"Kakak dari tadi jagain aku. Tiba-tiba ketiduran disini."


Dirga melihat jam dipergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ia langsung turun dan hampir melompat dari tempat tidur saat itu juga.


"Kakak mau kemana?"


"Aku harus pulang."


"So, how about me? Kakak tega ninggalin aku sendirian?"


Dirga berdengus kasar.


"Come on, Tamara ... jangan terus bersikap manja seperti anak kecil. Lagipula kata dokter kondisi kamu sudah jauh lebih baik. Jadi aku rasa tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi."


"Tapi, kak ... aku takut."ujar Tamara setengah merengek.


"Takut?"


Tanya Dirga mengulangi.


Tamara mengangguk pelan.


"Baiklah, mulai besok kamu tidak perlu ada disini lagi. Aku akan menelepon Daddy, dan mengirimmu kembali pulang ke Singapura."


"No! I don't want to go home!"


Dirga tak ingin menggubris, ia langsung keluar dari dalam Penthouse milik Tamara. Masuk kedalam private lift, yang membawanya menuju lantai dua puluh.


Dirga membuka pintu kamar utama. Lagi, ia melihat Dhia sudah terlelap dibalik selimut tebal yang hampir menutupi seluruh tubuh gadis itu. Lalu melanjutkan langkah menuju kamar mandi.


Saat ini ia sudah terlihat lebih segar. Rasa kantuk yang tadi sempat menyambanginya pun, kini tak terasa lagi.


Dirga duduk, dan bersandar pada dinding tempat tidur. Ia menatap lekat wajah Dhia yang sudah terlelap. Jemarinya perlahan bergerak ingin mengusap rambut gadis itu, namun ragu.


Ia akhirnya memutuskan untuk berbaring. Tapi bukannya tidur, Dirga justru kembali mengamati wajah Dhia. Dari mulai mata, hidung, dan ...


Ah, bibir itu. Rasanya ia ingin sekali mencicipinya lagi.


Dirga tersenyum puas, mengingat dirinya yang tanpa pikir panjang sudah berhasil mencium bibir Dhia. Bibir yang selama ini selalu memporak-porandakan hasrat kelelakiannya. Meski berakhir dengan tamparan panas yang menyakitkan.


No problem, i enjoyed it!

__ADS_1


__ADS_2