Istriku, Dhia

Istriku, Dhia
Liburan


__ADS_3

"Kamu serius, Mas?." ulang Dhia memastikan. Netranya yang sejak tadi terasa berat karena masih dilanda kantuk, seketika terbuka lebar, saat pagi ini, Dirga tiba-tiba membangunkannya, dan mengajaknya berlibur ke suatu tempat. Ia menyapukan pandangan pada suaminya yang sedang berdiri. Terlihat sudah rapih dengan penampilan casual.


Dirga mengangguk."Kita liburan."


"Tapi kenapa tiba-tiba, Mas?."


"Bukan tiba-tiba, sayang ... aku hanya ingin memberimu kejutan. Sebenarnya rencananya sudah aku atur sejak dua hari lalu."


Dirga tersenyum. Lalu mengusap puncak kepala Dhia, sedikit mengacak-acak rambut istrinya itu."Buruan siap-siap!."


Dhia mengangguk cepat, seperti antusias anak kecil yang akan diajak pergi bermain ke pusat permainan. Ia gegas bangkit ingin segera berdiri, sampai-sampai tak menyadari bahwa tubuhnya yang sedang tertutup selimut tebal, ternyata sedang polos tanpa pakaian, karena ulah suaminya tadi malam. Akhirnya, dua benda indah nan putih mulus miliknya, terekspos tanpa sensor.


Dirga yang melihat itu sempat tercengang dan menelan ludah. Karena sepagi ini istrinya itu sudah membuat kembali pening bagian kepalanya yang tersembunyi.


Dhia yang langsung tersadar, dengan gerakan cepat menarik selimut agar menutupi tubuhnya kembali, dan berjalan cepat menuju kamar mandi. Ah, Dhia masih bersikap malu-malu seperti anak perawan saja.


Dirga tersenyum melihat tingkah malu-malu istrinya itu. Namun bukan Dirga namanya jika tak bersikap usil. Dengan sengaja ia menginjak selimut yang menutupi tubuh Dhia, saat istrinya itu sedang berjalan. Alhasil, selimut itu pun, terlepas kembali. Kali ini, bukan hanya bagian dada yang berisi itu saja yang terlihat. Melainkan keseluruhan tubuh wanita itu.


"Mas!." Dhia berdecak kesal. Tak ada waktu untuk meraih selimut itu lagi menurutnya. Ia memilih untuk langsung masuk ke kamar mandi dengan langkah cepat.


"Hahahaha."gelak tawa Dirga memenuhi seisi ruangan kamar.


 


Pukul 10 pagi, Dirga dan Dhia sudah sampai disebuah villa di daerah Bogor. Sebuah villa dengan nuansa eksotis, beratap jineng khas Bali. Suasana villa itu begitu menenangkan. Dikelilingi dengan pohon-pohon hias yang menambah kesejukan.


Ketika masuk kedalam kamar, Dhia dibuat terpukau dengan taburan kelopak bunga mawar mewah memenuhi ranjang. Begitu kontras dengan seprai berwarna putih yang terpasang. Sementara ditengahnya, sebuah selimut putih sengaja dirangkai seperti dua ekor angsa, yang di desain menjadi bentuk hati. Bak kamar sepasang pengantin yang siap untuk memulai malam pertama.


"Ini ide, kamu, Mas?." tanya Dhia masih dengan ekspresi terpukaunya.


"Iya, sayang." Dirga meletakkan koper, lalu berjalan mendekati Dhia."Anggap liburan ini adalah bulan madu kita."


"Maaf, untuk saat ini aku hanya bisa membawamu kemari." Dirga meraih tangan Dhia dan menggenggamnya. "Lain kali kalau ada waktu lapang, aku akan membawamu ketempat yang lebih bagus." ucapnya lagi sambil mengaitkan rambut Dhia yang sedikit tak rapi kebelakang telinga.


"Terserah kamu mau kemana ... aku akan turutin."


"Ke Paris, New Zealand ... Jepang?." Dirga memberikan beberapa pilihan.


"Terimakasih, Mas."sahut Dhia, seraya menatap suaminya itu lembut.


"Tapi tempat ini bagiku sudah sangat bagus ... enggak perlu jauh-jauh, keluar negeri. Indonesia juga indah." Dhia tersenyum.


"Yang penting selalu ada kamu di sampingku." Dhia membalas genggaman tangan Dirga."Itu udah cukup buat aku happy."


Dirga hening. Ia tersenyum membalas tatapan lembut istrinya itu. Tapi entah apa yang ia fikirkan, tiba-tiba kedua bola matanya berkaca-kaca. Dhia yang melihat itu, langsung terkekeh.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Mas? kok, kayak sedih gitu?."


"Aku salah ngomong?." Dhia menatap heran.


Dirga bergeleng pelan.


"Terus?." Dhia lalu melihat kebawah."Perasaan aku juga nggak nginjak kaki kamu." ucapnya lagi.


Dirga langsung memeluk erat tubuh Dhia. Lalu menitipkan satu kecupan dikening istrinya yang sedang kebingungan itu.


"Maafin, aku, sayang ... dari awal kita menikah, aku sudah membuatmu kecewa."


"Tapi aku janji! mulai sekarang, aku akan selalu ada bersama kamu. Aku tidak akan pernah membuat kamu menangis lagi, sayang." sambung Dirga, mengungkapkan segala penyesalan atas kesalahannya dulu.


Dhia yang sempat mematung karena bingung, akhirnya tersenyum, membalas pelukan Dirga."Aku sudah maafin kamu, Mas." ucapnya sambil mengusap punggung suaminya itu penuh sayang. Lalu mengurai pelukan, dan memandang mata elang suaminya itu lekat-lekat.


"Kamu suami, aku ... dan aku sayang banget sama kamu."


Sambung Dhia, lalu memajukan sedikit bibirnya dengan tingkah manja."Ya .... walau pun, kamu dulu sering ketus sama aku .... sering usil sama aku, sering marah-marahin aku ... tapi tetap aja aku nggak bisa benci sama kamu."


"Malah makin cinta."aku Dhia dengan wajah polos penuh kejujuran.


"Cinta banget?" tanya Dirga, yang sebenarnya ingin memastikan lebih dalam perasaan istrinya itu selama ini.


Dhia mengangguk cepat."Banget!."


"Jawabannya gitu, aja??." Dhia memasang wajah kecewa.


"Iya ... terimakasih, karena kamu sudah mencintai aku." Dirga menjawab ragu.


Dhia berdecak. Langsung memutar badan seraya melipat kedua tangan didepan dada dengan wajah tertekuk."Kenapa sih, Mas itu susah banget bilang cinta ke aku."


"Dari dulu ... sampai sekarang, sampai perut aku mblendung begini, nggak pernah bilang cinta sama aku!."


Dirga tersenyum, menyadari sumber kekesalan istrinya itu. Ternyata adalah perkara ungkapan cinta. Ia menyentuh kedua bahu Dhia. Memutar tubuh istrinya itu, agar kembali menghadapnya.


"Sayang." panggil Dirga lembut.


Dhia menepis tangan Dirga, kesal.


"Dengerin aku." kata Dirga tetap dengan suara lembut sambil meraih tangan Dhia."Aku mungkin memang nggak pernah bilang cinta didepan kamu."


"Tapi kamu harus tau ...." ucapnya, menjeda kalimat seraya mengangkat dagu Dhia, mentap manik hitam istrinya itu lekat-lekat, untuk menyalurkan kejujuran yang ingin ia ucapkan."Segala bentuk usaha aku untuk menemukanmu kembali saat kamu pergi, dan janjiku untuk membuat kamu terus bahagia, adalah bukti bahwa aku sangat .... sangat, mencintai kamu." akunya.


"Tapi aku juga pingin dengar, Mas." kata Dhia pelan.

__ADS_1


Dirga tersenyum.


"I love you." ucapnya setengah berbisik.


"Gitu, dong!." Dhia balas tersenyum malu-malu."Makasih." suaranya terdengar manja.


"Makasih, doang?." kali ini Dirga yang tak terima.


"Kenapa emang? tadi kamu juga gitu."


"Balas dendam ini, ceritanya? hm? " Dirga mencubit gemas pinggang Dhia.


"Geli, Mas." Dhia cekikikan pelan, sambil berlari ingin menghindar ketika Dirga terus mengejar dan menggelitikinya.


"Ampun, Mas!." Dhia masih cekikikan, mendekati ranjang, meraih beberapa tangkai mawar merah yang masih utuh, dan memukul-mukulkannya pada tubuh Dirga, hingga kelopak mawar merah itu jatuh berguguran dilantai. Tapi tubuh Dhia akhirnya jatuh terlentang diatas tempat tidur, ketika kedua kakinya terjebak ditepi tempat tidur, tak bisa lagi mundur. Dengan posisi dress yang tersingkap keatas, membuat siapapun yang melihat, akan menelan air liur. Bagaimana tidak, kedua paha mulus itu sudah terpampang mengejek.


"Ah, posisi jatuh yang sangat menggoda."


Kata Dirga. Ia pun, tak menyia-nyiakan kesempatan, dan langsung mengungkung tubuh Dhia dengan kedua tangannya."Sebenarnya aku ingin melakukannya nanti. Tapi karena posisimu sudah menantang ..." Dirga membelai halus paha mulus Dhia."Aku tidak bisa begitu saja untuk melewatkannya." sambungnya lagi, seraya mengedipkan sebelah matanya genit.


Wajah Dhia bersemu merah. Debaran dadanya perlahan berlomba, ketika wajah Dirga semakin rapat didepan wajahnya. Perlahan matanya terpejam, ketika hidung mancung Dirga menyentuh ujung hidungnya. Dan sedetik kemudian, ia merasakan bibirnya sudah tenggelam didalam kehangatan bibir Dirga. Ia langsung menyambutnya. Semenit, dua menit, ciuman lembut itu semakin panas. Sesekali keduanya melepas pagutan, untuk meraup nafas yang hampir tersengal.


Tapi disela-sela ciuman, suara tak asing, tertangkap di indera pendengaran Dirga. Suara itu berasal dari perut Dhia. Ia pun, berhenti dari ciuman panas yang sudah membuat bagian miliknya hampir mengeras.


"Perut kamu bunyi."


"Kamu lapar, sayang?." tanya Dirga.


Dhia mengangguk manja, sambil menggigit bibir bawahnya yang sedikit bengkak, karena ciuman Dirga beberapa detik lalu.


"Kenapa nggak bilang dari tadi?."


"Laparnya barusan, Mas." sahut Dhia.


"Tapi aku masih tahan kok, Mas ... kalau mau lanjut dulu enak-enaknya nggak apa-apa, kok." kata Dhia lagi dengan wajah polos.


Dirga langsung bergeleng."Enggak-enggak!." bantahnya sambil berdiri."Itu nanti saja."


"Kamu tahan ... tapi anak kita belum tentu tahan. Kamu harus segera makan." sambungnya lagi, sambil berjalan menuju pesawat telepon, untuk menyuruh petugas villa mengantar makanan.


"Sayang, kamu mau makan apa?."


"Apa aja, Mas." Dhia tersenyum tipis. Ia kemudian melihat keluar. Seketika ia dibuat terpukau, dengan keindahan pemandangan dari balik dinding kaca kamar villa itu.


Sebuah kolam renang, dengan air mengalir. Dikelilingi pepohonan-pepohonan hijau disekelilingnya. Pemandangan indah menyejukkan, yang belum ia sadari sejak tadi. Dhia langsung keluar. Dengan kaki telanjang ia melangkah menapaki batu-batu kecil berwarna putih, yang tersebar rapi disepanjang menuju kolam renang. Cuitan burung-burung yang begitu nyaring, menjadi nyanyian dari balik pohon-pohon disekitar villa itu.

__ADS_1


"Indah sekali." Dhia menengadahkan wajah, menghirup hawa sejuk yang ditawarkan oleh alam sambil memejamkan mata.


"Sama seperti kamu." suara yang berbisik ditelinganya membuat Dhia tersenyum dan membuka mata.


__ADS_2