Istriku, Dhia

Istriku, Dhia
Dia Anakku


__ADS_3

Rumah Sakit Jiwa, BinaWangsa


Hari ini, Dhia pulang satu jam lebih awal, karena berhubung pekerjaan dikantor tidak terlalu banyak. Ia pulang seorang diri dengan mengendarai taksi. Sementara Dirga, pria itu saat ini dalam perjalanan untuk bertemu klien.


"Pak, bisa putar balik?"


"Kenapa, neng? ada yang ketinggalan?"tanya supir tersebut.


"Enggak, Pak. Antar saya ke Rumah Sakit Jiwa, BinaWangsa, ya."


Kata Dhia yang berubah fikiran. Tiba-tiba saja ia teringat dengan Arini, mertuanya.


"Baik, neng."


Dhia turun dari dalam taksi seraya membawa totebag, berisi beberapa macam makanan yang beberapa saat lalu sempat ia beli ketika diperjalanan. Ia berjalan menyusuri lorong menuju tempat Arini biasa berada. Namun hari ini, ia tak melihat keberadaan wanita paruh baya itu.


"Permisi, suster."Dhia memanggil seorang perawat jiwa yang kebetulan melintas didepannya.


"Iya, Mbak? ada apa?"


"Saya mau tanya, pasien atas nama ibu Arini dimana, ya? saya ingin bertemu dengannya."


"Oh, buk Arini sudah dipindahkan ke ruangan melati, Mbak. Dan saat ini sedang menjalani perawatan khusus."


"Oh gitu." Dhia menghela nafas pelan."Bisa titip ini?"


Dhia memberikan totebag yang ia bawa pada perawat tersebut.


"Ini makanan ... tolong berikan pada buk Arini, ya."


"Baik, Mbak"


"Terima kasih." Dhia tersenyum, sebelum akhirnya perawat jiwa tersebut berjalan meninggalkannya.


Dhia melangkah berniat untuk segera pulang. Langkahnya terhenti ketika melihat seorang pria paruh baya, berkulit bersih, dengan jenggot tipis sedang membungkuk sambil memegang boks nasi, berusaha mengambil sendoknya yang terjatuh.


Dengan gerakan cepat Dhia mengambil sendok itu, dan memberikannya pada pria paruh baya tersebut.


"Ini, sendoknya."


Dhia tersenyum menatap pria paruh baya yang diduga merupakan salah satu pasien ODGJ disini. Namun kondisinya tak terlalu mengkhawatirkan, seperti pasien-pasien lainnya.


"Anakku ..." lirih pria paruh baya itu seraya memeluk tubuh Dhia, hingga boks nasi dan sendok yang ada dikedua tangannya jatuh berserakan ditanah.


Dhia sangat terkejut. Kedua tangannya berusaha mengurai pelukan itu.


"Maaf, Pak ... saya bukan anak Bapak."


"Kamu anakku, kamu anakku ..." pria paruh baya itu masih terus memeluk Dhia.


"Akhirnya Papa bisa bertemu kamu, nak."

__ADS_1


Dhia ketakutan. Beruntung saat itu ia melihat seorang perawat jiwa keluar dari sebuah ruangan. Detik itu juga Dhia berteriak memanggil, meminta pertolongan.


"Suster, tolong saya!"


Perawat jiwa tersebut setengah berlari, menghampiri Dhia dan pria paruh baya itu, dan langsung melerai pelukan pria tersebut.


"Bapak, ada apa ini?"


"Dia anak saya, suster." kata pria paruh baya itu, menunjuk ke arah Dhia sambil menangis.


Perawat jiwa itu menoleh pada Dhia.


"Bukan, suster ... saya bukan anaknya." kata Dhia sambil bergeleng.


"Pak, Mbak ini bukan anak Bapak."


Pria itu bergeleng berulang-ulang."Dia anak saya." ucap pria itu lagi. Tangannya bergerak ingin menyentuh bross kecil yang melekat di blus Dhia, namu perawat jiwa itu sudah menuntunnya untuk pergi.


"Ayo, Pak ... bapak harus masuk."


Tidak, saya mau sama anak saya, suster.


Bapak harus nurut. Kalau tidak, dipulangkan ke Malaysia lagi.


Bapak, mau?


Tidak ... saya tidak mau kembali ke Malaysia.


_____________


The Neighbourhood,


Suara tawa sesekali memenuhi ruangan kedap suara disebuah restoran mewah yang terletak di Jl, Cipaku, Senopati, Kebayoran baru. Jakarta Selatan.


Dua orang penting, bersama dua orang asistennya masing-masing, sedang berkumpul membahas proyek pembangunan Rumah Sakit, yang rencananya akan dibangun disebuah kota kecil, di daerah Jawa.


"Awalnya aku heran, kenapa kamu mendirikannya di desa kecil. Aku fikir kamu akan rugi, karena pembangunan rumah sakit ini menggelontorkan uang yang bukan sedikit, Bram." kata salah seorang pria, yang tak lain dan tak bukan adalah, Malik Mahendra Hartawiawan.


"Ternyata alasan kamu adalah atas dasar kemanusiaan. Kamu benar-benar orang yang dermawan, Bram."sambung Malik lagi dengan kekehan renyah.


"Iya, itu adalah niat yang aku tanamkan sejak kepergian ibuku. Belajar dari pengalaman."Bram Prasetyo ikut tertawa renyah. Kemudian menghela nafas pelan.


"Waktu itu aku merasa miris." Bram menipiskan bibir, teringat duka masalalu."Aku sangat menyayangi ibuku. Aku berharap saat itu aku bisa menolong ibuku."


"Tapi kamu tahu sendiri keadaan desa itu. Saat itu akses menuju kota untuk sampai ke rumah sakit sangat sulit. Uangku pas-pasan .... aku dan seluruh keluargaku betul-betul bingung, harus membawa ibu kami kemana."


"Ibu kami saat itu benar-benar kritis, membutuhkan pertolongan."sambung Bram lagi dengan tatapan sendu.


"Waktu itu sempat ada orang yang berbaik hati menolong keluargaku, untuk membawa ibu kami ke kota, agar ibu kami segera dirawat di rumah sakit."


"Tapi sayang, diperjalan ibu menghembuskan nafas terakhirnya."

__ADS_1


Bram kembali menipiskan bibir memandang Malik.


"Itulah kenapa, aku tidak ingin orang-orang didesa itu mengalami hal yang sama denganku seperti dulu. Bingung harus berobat kemana ketika keluarganya sakit." pungkas Bram sambil menghela nafas pelan.


Malik manggut-manggut.


"Apa kamu sudah bisa memutuskan untuk bekerja sama dengan perusahaanku?"tanya Malik tanpa basa-basi.


Bram tersenyum tipis."Maaf, Malik ... aku masih harus mempertimbangkan. Karena saat ini ada dua perusahaan konstruksi lain yang sedang mengajukan rencana kerja sama dengan perusahaan saya."


"Oh." wajah Malik berubah datar.


"Rencananya mereka juga akan kemari, untuk menunjukkan rancangan desain milik mereka."


Kata Bram lagi.


"Perusahaan konstruksi mana?"tanya Malik menyelidik.


Detik itu juga tanyanya terjawab, ketika suara pintu ruangan tempat mereka berada, terbuka. Wajah Malik seketika mengetat melihat kehadiran Dirga yang datang bersama Gio.


"Oh ... ini mereka." Bram tertawa renyah.


"Maaf, Pak Bram ... kami terlambat." Dirga menyalami Bram, disusul oleh Gio.


"Tidak apa, kami juga baru sampai."


"Papa juga disini?" Dirga tersenyum penuh arti sambil menyalami Malik.


"Papa?" ulang Bram, menatap tak percaya.


Malik langsung tertawa."Iya ... Dirga adalah menantuku."


"Seriously? jadi ini ceritanya anak dan menantu sedang bersaing?"


Bram tertawa masih tak percaya.


Dirga dan Malik turut terkekeh renyah.


"Saya harap kalian bisa bersaing secara sehat."kali ini Bram terkekeh pelan.


"Tentu, itu pasti."sahut Malik dengan wajah santai.


Salah seorang asisten berdiri dan berjalan menghampiri Bram, seraya membisikkan sesuatu ditelinga bos-nya itu.


Bram mengangguk-angguk. Lalu beralih melihat Dirga dan Malik.


"Sepertinya ini adalah kabar baik untuk kalian."Bram tersenyum. Sementara Dirga dan Malik diam, menunggu pria paruh baya itu melanjutkan kalimatnya.


"Perusahaan PT. Abdi Jaya mundur dari kerjasama ini."


Malik bisa bernafas lega. Karena saat ini hanya ada satu lawan yang harus ia kalahkan.

__ADS_1


Gio membuka tas yang ada didepannya. Kemudian mengarahkan laptop ke arah Bram menunjukkan rancangan desain gedung rumah sakit milik Megantara Group. Pemuda ini sempat melirik ke arah Malik yang sedang menatapnya tajam.


__ADS_2