
Cuaca cerah menghias langit pagi ini, tak sedikit orang yang berlari, naik sepeda, berjalan santai demi mengisi pagi diakhir pekan. Begitupun Dhia, Dirga dan juga Wiwik.
"Aku mau joging sama Wiwik. Kamu harus ikut, Mas."Begitu kata Dhia ketika Dirga hendak keluar dari kamarnya.
"Tadi malam kamu bilang ke aku, kalau sampai aku yang melewati batas guling, kamu akan menghukum aku."Dhia tersenyum smirk. "Sekarang, berhubung kamu yang melewati batas, aku juga mau kasih hukuman buat kamu."
"Kamu harus ikut lari sejauh 10 km hari ini."
"Gila, kamu. Yang benar aja? Berani kamu sama aku?"tanya Dirga kesal.
"Why not?"
"Jadi Mas Dirga ikut juga nih, Mbak?"tanya Wiwik antusias.
"Iya,"
"No!"
Dhia dan Dirga menjawab bersamaan namun dengan jawaban yang berbeda.
"Ini gimana, sih? yang satu, iya. Yang satu, no. Wiwik pusing jadinya."
"Harus, Mas."Dhia melempar tatapan mengancam.
"No."
Dhia akhirnya berjalan mendekat, merapatkan wajahnya pada wajah Dirga hingga membuat pria itu tergeragap."Kenapa, Mas? Kamu takut?"suara Dhia lembut namun terdengar seperti mengejek."Takut pingsan? Enggak kuat, ya?"brondongnya lagi dengan pertanyaan yang membuat Dirga merasa semakin diremehkan.
"Sembarangan kamu kalau ngomong. Kamu pikir aku takut? Oke! aku terima hukuman kamu."
Dhia dan Wiwik berjalan bersisian. Sementara Dirga, pria itu sudah didepan dengan jarak sepuluh meter dari Dhia dan Wiwik.
"Mbak Dhia, itu tadi malam ceritanya gimana sih, kok bisa ke konci didalam kamar sama Mas Dirga?"tanya Wiwik disela-sela berjalan. Keduanya memutuskan berjalan santai karena dirasa sudah ngos-ngosan.
Dhia mengerutkan dahi."Kamu ngomong apa sih, Wik? Bukannya kamu pelakunya?"
"Mbak Dhia, ini. Sama aja kayak Mas Dirga nuduh-nuduh Wiwik. Ya enggak lah, Mbak."
"Lagian itu, ya. Wiwik tadi malam jam delapan udah tidur. Soalnya ngantuk banget. Ya, walaupun sebenarnya Wiwik pernah mikir, sih, buat merencanakan sesuatu untuk membuat Mbak Dhia dan Mas Dirga bersatu."
"Soalnya Wiwik gemes banget liat Mas Dirga sok jual mahal. Sok jaim."
"Tapi kalau yang tadi malam, suer, Mbak. Itu bukan Wiwik."aku Wiwik. Dhia sejenak berhenti, menatap lekat manik hitam Wiwik. Dhia yakin Wiwik tidak berbohong.
Aneh, jadi siapa yang melakukannya?
Apa jangan-jangan ... bibir Dhia membulat sempurna. Merasa ngeri membayangkan jika benar makhluk tak kasat mata yang melakukannya.
"Kalian lama banget, sih? Kenapa, nggak kuat?"teriak Dirga dari kejauhan dengan senyum mengejek.
"Iya, tunggu, Mas."sahut Dhia seraya kembali berlari. Begitu pun Wiwik.
"Ini yang dihukum siapa, sih, Mbak? Kok jadi kita yang ngos-ngosan."kata Wiwik dengan deru nafas yang terputus-putus.
"Tau, tuh."Dhia mencibir.
"Ayo, kejar aku kalau bisa.!"tantang Dirga seraya tertawa.
Dhia dan Wiwik kembali berlari. Tapi dari kejauhan, Dhia melihat sebuah motor yang dikendarai oleh seorang pria melaju dengan sangat kencang menuju ke arah Dirga. Pria itu mengenakan masker hitam, topi dan pakaian berwarna senada.
"Awas, Mas."teriak Dhia segera berlari cepat menyelamatkan Dirga. Beruntung Dhia tepat waktu. Ia berhasil menarik tubuh Dirga ketika motor berwarna merah yang melaju kencang itu hampir saja mencelakai Dirga.
Aakh!
Tubuh Dhia terantuk setang motor, sebelum akhirnya terjerembab menimpah tubuh Dirga dan langsung tak sadarkan diri."Dhia, astaga, Dhia ..."Dirga merubah posisi menjadi bersimpuh seraya memangku tubuh Dhia.
"Woi, berengsek! Berhenti, lu."teriak Dirga pada sipengemudi motor yang telah menjauh.
"Dhia."
"Mbak Dhia. Ya Allah ... kenapa bisa begini?."Wiwik cemas."Mbak Dhia, bangun, Mbak."
__ADS_1
"Dhia, bangun, Dhia ... Dhia!"Dirga panik seraya tangannya menepuk-nepuk pipi Dhia agar gadis itu segera sadarkan diri. Namun Dhia tak bergerak sama sekali.
"Dhia, please, bangun, Dhia ... tolong jangan buat aku cemas, Dhia."
"Aku minta maaf, ini semua gara-gara aku. Kalau kamu nggak nyelamatin aku, kamu pasti nggak akan terluka kayak gini."
"Please, Dhia. Kamu harus bangun."cecar Dirga seraya memeluk tubuh Dhia dengan erat.
"Aku baik-baik aja, Mas."kata Dhia seraya melemparkan kedipan mata pada Wiwik yang sedang berdiri.
Wiwik sempat kaget. Tapi sedetik kemudian Ia mengerti dan langsung cekikikan.
Mendengar suara Dhia, Dirga langsung mengurai pelukan."Kamu bohongin aku?"
Dhia cengengesan.
"Astaga, Dhia. Aku udah sport jantung, loh, gara-gara kamu."
"Maaf, Mas. Aku cuma pingin lihat, kamu khawatir atau enggak, sama aku."Ujar Dhia ragu."Tapi ternyata kamu beneran khawatir. Itu artinya kamu sayang sama aku, kan, Mas?"
"Stop, Dhia! Kamu itu udah kelewatan."Dirga langsung berdiri dan membiarkan Dhia masih terduduk ditanah.
"Mas, kamu mau kemana? tolongin aku!"panggil Dhia karena Dirga meninggalkannya.
"Kakiku sakit, Mas. Aku nggak bisa berdiri. Tolongin aku."ujar Dhia seraya meringis.
"Bodoh, amat! Paling juga bohong."
"Mas, kayaknya kaki Mbak Dhia terkilir, deh."timpal Wiwik.
"Kamu juga, sama aja. Dibayar berapa kamu sama dia?"
Wiwik berdecak."Mas Dirga suudzan ... aja sama Wiwik. Mbok, ya, sekali-kali percaya sama Wiwik, Mas. Enggak boleh berprasangka buruk terus."
"Tolongin aku, Mas. Ini beneran sakit."
Dirga menoleh pada Dhia yang kesulitan berdiri.
"Tuh, kan. Mbak Dhia nggak bohong, Mas. Buruan ditolongin. Kalau kenapa-kenapa gimana?"ujar Wiwik seraya menaik-turunkan alisnya pada Dhia.
Dhia mengangguk pelan."Tadi sempat tersandung."
"Ya sudah, sini aku gendong."Dirga ingin meraih tubuh Dhia, namun Dhia menolaknya.
"Jangan, Mas. Nanti kamu capek. Bantu aku berdiri aja. Aku masih bisa jalan sendiri, kok."
"Ya sudah."Dirga membantu Dhia berdiri. Ia membiarkan Dhia berjalan sendiri karena memang Dhia yang memintanya. Tapi baru saja beberapa langkah Dhia memekik.
Dirga menghela nafas, lalu mendekati Dhia dan tanpa ba-bi-bu ia langsung menggendong tubuh mungil gadis itu."Jangan sok kuat, kalau nggak bisa."
Dhia sempat terkesiap. Berkali-kali menelan ludah karena gugup ketika Dirga menggendongnya dengan tiba-tiba.
"Romantis banget, sih. Kapan, ya, Wiwik bisa punya suami, terus digendong kayak Mbak Dhia."Wiwik menatap pohon-pohon kenari rindang yang menjulang."Pasti bahagia banget rasanya "
"Apalagi suaminya ganteng kayak Mas Dirga." Wiwik cekikikan sendiri. "Tak kurung tiap hari didalam rumah biar nggak bisa kemana-mana."
Tiiin!
Suara klakson motor membuat Wiwik terperanjat.
"Ti, tin, tin!"teriak Wiwik seraya mengikuti suara klakson motor, karena latahnya.
"Laaah, Mas Dirga, Mbak Dhia, Wiwik kok, ditinggal?!"seru Wiwik sambil berlari mengejar kedua majikannya.
"Gini, nih, akibatnya kalau berani menghukum suami. Langsung dibalas setimpal. Terkilir, kan jadinya."Dirga ngedumel seraya mengoleskan obat pada bagian mata kaki Dhia yang terkilir. Saat ini, keduanya sedang berada didalam kamar milik Dhia.
"Enggak apa-apa, Mas. Aku rela walaupun harus terkilir, yang penting kamu selalu ada buat aku."Dhia memandang wajah pria itu dalam-dalam. Mendengar itu Dirga langsung mengangkat wajah. Sorot mata keduanya pun beradu.
"Maaf, tadi aku udah bohongin kamu dengan berpura-pura pingsan."ujar Dhia lagi.
Dirga hening. Namun sorot matanya tak lepas dari wajah, dan netra Dhia yang terus memandangnya.
__ADS_1
"Mungkin aku udah kelewatan, Mas. Tapi itu aku lakukan karena ingin melihat perasaan kamu yang sebenarnya kepadaku. Dan hari ini, aku tahu."Dhia menelan ludah. Meski gugup, ia masih terus memberanikan diri menatap wajah tegas dan mata elang suaminya itu.
"Aku tahu kalau kamu peduli sama aku. Kamu khawatir dan mencemaskan aku, Mas."
"Dhia, cukup. Kamu jangan salah sangka."cegat Dirga.
"Salah sangka apanya, Mas? Kamu masih menyangkal?"
"Aku akan melakukan hal yang sama jika itu orang lain."
"Termasuk berteriak, dan memeluk?"pertanyaan Dhia membuat Dirga bungkam.
"Kamu cinta sama aku, kan, Mas?"Dhia kembali menatap lekat netra Dirga."Iya, kan?"
Dirga masih bergeming. Ia menelan ludah ketika debaran aneh yang belakangan ini sering mampir kembali mengusiknya. Netra Dhia seperti magnet yang mampu menariknya ke dasar jiwa yang terdalam. Tenggelam disana, tak bisa pergi. Hati dan raga seperti terpisah, bibirnya pun terasa kelu untuk berucap.
"Dhia."Lirih Dirga akhirnya.
"Bilang Mas. Aku mohon."Lirih Dhia pelan."Yakin kan aku agar apapun yang terjadi aku tetap bertahan disamping kamu."
"Kamu cinta sama aku, kan?"ulang Dhia lagi.
Kedua tangan Dirga perlahan terangkat, menangkup kedua sisi wajah Dhia. Tatapan Dhia membuatnya tak berdaya. Pembatas dendam itu seakan roboh, perlahan membawa wajah diri semakin rapat pada Dhia. Ia terpejam ketika saat itu juga Dhia memejamkan mata. Semakin dekat dan rapat memutus jarak. Dirinya terhanyut dibuai nafas hangat yang berhembus diwajah tegasnya.
Papa, jangan pergi!
Mama, bangun!
Papa, jangan tinggalin Rayyan... Huaaaa
Mama, Papa .... huaaaa
Suara jeritan dan tangis seorang anak pada saat dua puluh tahun lalu kembali menggema didalam ingatannya. Tangis pilu dan kehilangan, seolah datang membawa kesadaran yang sempat tertarik. Detik itu juga Dirga membuka mata dan mendorong tubuh Dhia.
Dhia tersentak. Netranya meraba mata elang yang sempat menatapnya tajam. Sebelum akhirnya pergi menjauh.
"Mas, kamu kenapa? Kenapa kamu pergi, Mas?"
"Mas?"panggilnya.
Aku tau kamu mencintaiku, Mas.
Tapi dendam itu seolah sudah membuatmu kalah.
bathin Dhia seraya menelan ludah.
"Aku harus bertahan. Aku akan membuat kamu mengakui perasaanmu, Mas. Tak perduli dendam apa yang ingin kamu tuju. Tapi aku yakin dendam itu akan terkikis habis seiring waktu yang berjalan."lirih Dhia.
Dirga berjalan cepat menuju dapur. Menyambar teko kristal berisi air bening, menuangkannya kedalam gelas dan langsung meneguknya sampai habis tak tersisa.
Bisa gila aku kalau begini.
Dirga menghentakkan gelas ke atas meja.
Ini semua gara-gara, Daddy. Niat aku, tuh, untuk balas dendam ke Papanya. Bukan nikahin anaknya. Gini kan, jadinya."
Bisa kacau semua kalau begini.
Aargh!
Dirga menendang kaki meja yang tak bersalah, dan pada akhirnya malah membuat dirinya meringis.
"Waduh, Mas Dirga kenapa, toh? Lagi latihan silat?"Wiwik tiba-tiba datang dari arah belakang sambil membawa tempat sampah yang sudah kosong.
Dirga hening, sama sekali tak ingin menggubris pertanyaan Wiwik.
"Kalau mau latihan silat, sama Wiwik, aja, Mas."Dulu Wiwik itu juaranya. Kayak gini, nih, caranya."Wiwik menarik kaos lengan panjangnya sampai sebatas siku seraya memasang posisi kaki kuda-kuda.
"Bisa diam nggak kamu?! Berisik tau, nggak."Dirga memasang wajah ketus dan langsung pergi masuk kedalam ruang kerja.
"Yaaah, Mas Dirga. Dikasih tau kok malah pergi."
__ADS_1
Dirga menghempaskan punggungnya pada sofa besar yang tersedia didalam ruang kerja. Insiden kecelakaan yang hampir mencelakai Dhia tiba-tiba menyita fikirannya. Kecepatan tinggi, wajah tertutup, dan tak adanya inisiatif melakukan pengereman menjadi tanda tanya besar pada benak Dirga.
Ini seperti ada unsur kesengajaan. Dan sasaran utama bukanlah Dhia. Tapi aku. gumam Dirga dalam hati.