
"Mas, geli ... kamu jahil banget, sih."
Dhia masih terpejam dengan nafas yang memburu, ketika merasakan sentuhan-sentuhan halus diwajah dan tengkuknya. Dan saat ini mulai bermain ditelinganya.
"Mas ... aku mohon, hentikan. Ini geli."
Dhia mendesah pelan.
"Mas, cukup." sentuhan halus itu belum berhenti.
"Mas ..." Dhia tak tak tahan lagi. Refleks saja tangannya meraih benda yang terasa halus menggelitik kulitnya.
Meong !
Dhia tersentak mendengar suara itu. Ia langsung membuka mata seketika dan melepaskan tangannya. Alih-alih melihat suami ketusnya diatas ranjang, ia justru terkejut ketika melihat seekor kucing berbulu tebal yang sedang menjilati ekornya diatas ranjang.
"Kucing?! ternyata yang usil sepagi ini, itu kamu, Banny?"
Astaga Dhia ...
Dhia memejamkan mata merasa geli sendiri.
Ah, bahkan kucing itu lebih waras dari pada majikannya . bathin Dhia ketika mengingat Dirga yang justru mengabaikannya dan memberinya tugas tak terduga tadi malam.
"Dhia."panggilnya kala itu.
"Ada apa, Mas?"Dhia menoleh.
"Tolong jangan memunggungiku."pintanya pelan.
Dhia berkerut dahi.
"Geser kemari."Dirga meminta Dhia menggeser tubuh agar lebih dekat padanya.
Gadis itu tertegun sejenak. Hatinya tiba-tiba berdebar. Apa ini saatnya? Apa dia sudah menyadari perasaannya? Ya ampun Dhia ... mulai malam ini kamu sudah tidak akan perawan lagi.
Dhia memejamkan mata membayangkan yang akan terjadi berikutnya.
"Kemari kan, tanganmu."Dirga mengulurkan tangan kanannya pada Dhia.
Gadis itu menurut, dengan tangan bergetar ia mengulurkan tangannya pada Dirga. Dhia menelan ludah ketika Dirga sudah menyentuh tangannya. Rasa gugupnya saat ini membuat detak dadanya berlomba terpacu.
"Halus."
Gumam Dirga pelan sambil membolak-balik telapak tangan Dhia. Kemudian meletakkan telapak tangan putih itu dikeningnya.
"Tolong pijat kepalaku."
Dhia langsung melebarkan mata tak percaya.
"Buruan pijat."kata Dirga saat merasakan jemari tangan Dhia belum menari."Ini akan menjadi tugasmu setiap malam sebelum aku tidur."
Dhia membuang nafas kasar. Dasar laki-laki nyebelin, nyebeliiin .... Sambil menggerak-gerakan jemarinya ia mengumpat dalam hati.
"Pijatnya yang ikhlas, dong, Dhia ..."kata Dirga karena merasakan tangan Dhia menekan-nekan pelipisnya dengan sekuat tenaga."Kamu mau bunuh aku?"
__ADS_1
"Ini ikhlas, Mas. Mana mungkin aku bunuh kamu. Aku kan, sayang banget sama kamu."
"Mana ada ikhlas begitu. Ingat loh, memijat suami itu pahala. Emangnya kamu nggak mau dapat pahala?"
"Mau, Mas."sahut Dhia memijat dengan pelan.
"Itu kepelanan, Dhia ... Tambah dikit lagi tenaganya."protes Dirga lagi sambil memejamkan mata.
Dhia menghela nafas panjang."Segini cukup?" Ia menambah separuh kekuatan tangannya.
"Emm."Dirga mengangguk pelan.
Beberapa detik kemudian, tak terdengar lagi suara ketus pria itu. Berganti dengan suara dengkuran halus yang mulai teratur, pertanda jika Dirga sudah tertidur.
Tidak apa, Mas walau cuma disuruh mijit. Walaupun aku sempat kesal tadi.
Dhia tersenyum sambil memandang ukiran wajah tegas dan hidung mancung suaminya itu dari samping.
Setidaknya kamu tidak menghindari ku lagi. Sesuai pintamu, aku siap menjalankan permintaanmu, memijat kepalamu setiap malam.
"Aku mencintaimu, suamiku yang manis."lirih Dhia pelan.
Dan detik itu, Dirga membalikkan tubuh melemparkan tangan memeluk pinggang langsingnya dengan erat, bak memeluk bantal guling untuk menyalurkan kenyamanan ditubuh langsing Dhia.
Tubuh Dhia sempat menegang. Ia mengatur nafas agar tetap tenang.
Tidur beneran nggak, sih?
Pelan tangan Dhia terangkat menggerakannya didepan wajah Dirga. Apa benar suaminya itu sudah tertidur atau hanya pura-pura. Tapi dari yang terlihat, Dirga tak terusik. Dan sepertinya pria itu benar-benar tertidur.
"Banny, ckckck."Dhia mengangkat Banny, sikucing berbulu putih dan tebal, yang merupakan kucing peliharaan suaminya itu.
Kucing itu kembali bersuara me-ngeong.
"Banny, kenapa sih, Bos kamu itu sok jaim. Sok jual mahal banget sama aku?"Dhia mengusap-usap bulu halus Banny."Padahal aku itu kan sayang banget sama Bos kamu."
"Sebenarnya dia itu normal nggak, sih? Masak aku cantik begini dianggurin?"Dhia mengerucutkan bibirnya.
Meong
Dhia turun kebawah. Didapur, ia langsung disambut Wiwik dengan senyum jenakanya.
"Lama banget, Mbak bangunnya. Pasti tadi malam ..."Wiwik cekikikan tak bisa melanjutkan kata-katanya karena geli.
"Iya, Wik. Dapat tugas baru. Jadi tadi malam aku lembur."sahut Dhia seraya menyendokkan mie goreng keatas piring.
Wiwik langsung melebarkan mata.
"Berarti, sukses dong, Mbak?"
"Mas Dirga pasti gagah banget tadi malam. Secara kan, otot-ototnya aja ... hadeeeeh .... Wiwik udah nggak bisa ngebayangin, Mbak."
"Pantesan, Mas Dirga itu tadi mukanya seger banget. Nggak kayak biasanya. Cerah, gitu, Mbak. Plong ... gitu, Wiwik lihatnya."
Dhia berdecak."Kamu mikirin apa, sih, Wik? Kejauhan kamu mikirnya. Kami belum ngapa-ngapain."
__ADS_1
"Oalah. Jadi tadi malam Mbak Dhia lembur ngapain?"
"Disuruh mijitin."
"Apa??"Wiwik melebarkan mata.
"Huss ... biasa aja ekspresinya. Yang disuruh mijitin itu aku. Bukan kamu."
"Ya ampun. Mbak Dhia ... ini ekspresi terkejutnya Wiwik Mbak. Soalnya apa yang Wiwik bayangin benar-benar jauh dari ekspektasi."
"Memang, ya, Mas Dirga ini bener-bener ngeselin banget, Mbak? istri cantik kayak Mbak Dhia begini kok di anggurin. Malah disuruh jadi tukang pijat."cerocos Wiwik tanpa henti."Perlu dilaporin juga ini sama Buk Rossa. Biar Mas Dirga K'O."
"J-jangan, Wik."cegah Dhia cepat.
"Loh, kenapa Mbak? Harusnya Mbak Dhia seneng, dong? Karena setelah ini dipastikan Mas Dirga tidak akan berani berbuat macam-macam lagi."
Dhia bergeleng pelan."Aku minta tolong sama kamu. Apapun yang terjadi diantara aku dengan Mas Dirga, aku mohon, kamu jangan cerita apa-apa ke Mama."
"Aku nggak mau Mama marah sama Mas Dirga dan membawa aku pulang. Jujur ... aku nggak mau kalau sampai dipisahkan dari Mas Dirga, Wik."
Wiwik hening.
"Aku siap menunggu sampai Mas Dirga bisa mencintai aku. Aku yakin, kok. Suatu hari nanti apa yang aku tunggu akan benar-benar terjadi."
"Ya udah, deh, kalau Mbak Dhia maunya gitu. Demi Mbak Dhia Wiwik akan tutup mulut. Sebenernya sih, Wiwik tahu kalau Mas Dirga itu kayaknya udah mulai ada percikan-percikan api asmara sama Mbak Dhia."
"Soalnya, ya ... kemarin waktu Buk Rossa mau ngajak Mbak Dhia pulang .... Wiwik sempat liat Mas Dirga kayak nggak rela gitu, Mbak."
"Kayak sediiiih ... gitu mukanya Mbak."Wiwik membayangkan wajah majikan juteknya itu, kala itu.
"Yaaaah, mudah-mudahan dari berawal Mas Dirga yang minta dipijitin, suatu hari nanti bisa saling pijit-pijitan, ya, Mbak."Wiwik cekikikan dan langsung dibalas senyuman oleh Dhia.
_______________
Megantara Group.
"Ini sudah terjadi beberapa kali. Dan aku baru menyadarinya tadi malam. Mimpi itu tidak datang ketika aku tidur sambil memeluknya."
Dirga kembali mengingat pertemuannya dengan Antonio beberapa saat lalu. Seorang dokter psikiater yang khusus diminta Dirga untuk mengatasi traumatis yang diidapnya selama ini.
"Are you, sure?"
"Of course."
"Wou!"seru Antonio."Aku tidak percaya Dirga. Traumamu itu cukup berat menurutku. Sampai-sampai mengikutimu didalam mimpi selama bertahun-tahun. Aku bahkan hampir menyerah mengobatimu."Antonio terkekeh diakhir kalimatnya.
"Lakukan itu terus setiap malam. Peluk gadis itu. Aku yakin, mimpi itu akan hilang dan tak akan pernah kembali lagi."
Dirga melebarkan mata."Apa cuma itu cara penyembuhannya?"
"Ya."Antonio mengangguk cepat."Dhia telah memberimu rasa nyaman. Jika cara mudah itu bisa mengobatimu, kenapa harus cari cara lain?"
Dirga berdesis. Cara mudah? kamu tidak tahu saja aku harus uring-uringan saat menyentuh kulit gadis itu. Pening! nggak cuma yang atas, yang bawah juga ikut pening. umpatnya dalam hati.
"Kak!"seru Tamara yang masuk dengan tiba-tiba.
__ADS_1
"Apa?"respon Dirga datar.
"Antarin aku pulang."pinta Tamara setengah merengek.