
Megantara Group
"Bagaimana? sudah siap?"
Dirga sedang berjalan, sambil berbicara dengan seseorang dibalik ponsel. Pria yang memakai setelan jas berwarna coklat tua itu, baru saja kembali dari dari proyek Wira CitraWisata bersama Gio.
Dilla, seorang wanita yang bertugas sebagai resepsionis di perusahaan ini melihat Dirga masuk. Wanita itu ingin memanggil, seperti ingin memberitahukan sesuatu. Tapi akhirnya urung.
"Jam tujuh malam."Dirga menjawab, saat orang dibalik ponsel bertanya.
"Oke, terima kasih."
Dirga memutus panggilan, kemudian memasukkan ponsel ke dalam saku jas, terus berjalan masuk kedalam lift bersama Gio.
"Ada apa?" tanya Gio penasaran.
Dirga memandang Gio, dan hanya membalas dengan senyuman.
"Perusahaanmu dalam masalah, tapi kamu masih bisa tersenyum. Kamu nggak lagi error', kan?" tanya Gio asal.
"Aku masih waras. Kamu nggak perlu cemas." Dirga kembali tersenyum.
Pintu lift terbuka. Saat ini keduanya sudah berada dilantai sepuluh, dan langsung masuk kedalam ruangan masing-masing.
Waktu saat ini sudah menunjukkan pukul setengah lima sore. Dirga langsung memasukkan laptop kedalam tas kerjanya. Ada sesuatu yang membuatnya tidak sabaran untuk segera pulang.
Pintu Penthouse dibuka. Wiwik yang melintas diruang tamu keheranan melihat Dirga kembali seorang diri.
"Mas Dirga kok, pulang sendirian? Mbak Dhia mana?"
"Lembur, ya, Mas?" berondong Wiwik dengan pertanyaan."Ya ampun, Mas ... Mbak Dhia itu baru aja sakit, loh, Mas ... tega banget sih, Mas Dirga nyuruh-nyuruh Mbak Dhia lembur."
"Kalau makin sakit gimana?" Wiwik protes ala emak-emak cerewet.
"Hei ..." bentak Dirga kesal."Kamu ngomong apa, sih?"
"Dhia kan, nggak kerja hari ini." ujar Dirga mengingatkan Wiwik.
"Looh ..." Wiwik terlong-long.
"Bukannya tadi pagi Mbak Dhia ke kantor, Mas? Soalnya Wiwik lihat sendiri."
"Wiwik juga sempat nanya loh, Mas."jelas Wiwik keheranan."Memangnya tadi Mas Dirga nggak lihat Mbak Dhia dikantor?"
__ADS_1
Dirga bergeming. Entah mengapa, tiba-tiba saja perasaannya tidak tenang. Ia gegas mengambil ponsel dari dalam saku jas-nya. Untuk menghubungi Dhia. Panggilan pertama, panggilan kedua, sudah berlanjut. Namun tak ada jawaban.
Dirga memilih sebuah nama lain. Menghubungi Adit, petugas pengawas cctv di gedung Megantara Group.
"Adit, coba kamu lihat cctv hari ini. Kabari saya secepatnya, apakah istri saya datang ke kantor atau tidak pagi ini."
Baik, Pak.
Panggilan terputus.
Dirga menatap Wiwik."Tadi Dhia bilang apa aja sebelum pergi?"
"Cuma bilang, mau ke kantor aja, Mas. Mbak Dhia juga perginya buru-buru. Katanya karena udah terlambat."
"Sarapan juga nggak, Mas." sambung Wiwik lagi.
Dirga menghela nafas berat. Dibilang jangan ke kantor. Tetap, aja ke kantor. Keras kepala banget jadi orang.
Beberapa saat kemudian ponsel yang ada ditangan Dirga bergetar. Ia langsung menjawab ketika melihat nama Adit terpampang dilayar itu.
"Bagaimana?"
Barusan saya cek, Pak. Buk Dhia hari ini datang. Tapi cuma sebentar. Habis itu pergi, setelah bertemu dengan Mbak Tamara.
Mendengar itu, tiba-tiba saja rahang Dirga mengetat. Ia gegas keluar dengan langkah panjang, dan sempat melemparkan tas kerjanya diatas sofa.
"Apa yang sudah kamu katakan dengan Dhia?" tanya Dirga dingin pada Tamara ketika pintu Penthouse dilantai 19 itu, sudah terbuka.
Tamara yang semula tersenyum menyambut kehadiran Dirga, saat ini terlihat gugup."Maksud kakak, apa, sih?"
"Jangan berkelit, Tamara!" kata Dirga lagi kali ini dengan suara yang sedikit keras.
"Aku sudah menyuruh Adit memeriksa cctv kantor. Dan dia mengatakan Dhia pergi setelah bertemu denganmu. Katakan padaku, apa yang sudah kamu katakan padanya, Tamara?!" suara Dirga kembali dingin menuntut jawaban.
"A-aku cuma mengatakan kenyataan yang sebenarnya." Tamara menjawab dengan mimik wajah tanpa rasa bersalah.
"Soal apa?" suara Dirga berat. Namun tatapannya sudah memerah menahan marah.
"Soal kebenaran bahwa dirinya adalah anak seorang pria pembunuh, Papa kamu. Dan anak seorang pria yang telah membuat mama kamu menjadi gila, kak."
Tamara benar-benar santai mengatakan itu. Ia tak perduli jika Dirga akan menamparnya sekalipun. Saat ini, membuat Dhia hancur adalah kelegaan yang utama dihatinya.
Netra Dirga seketika terbelalak tak percaya. Semburat kekecewaan tergambar jelas di goresan wajahnya yang tegas. Bisa ia duga, saat ini mungkin Dhia benar-benar telah meninggalkannya.
__ADS_1
"Dari kecil aku menyayangimu, Tamara ..." Dirga akhirnya kembali bersuara."Aku sudah menganggapmu seperti adik kandungku sendiri."suaranya berat. Ia memandang Tamara dengan lekat.
"Tapi sekarang aku kecewa denganmu."Sambung Dirga pelan."Mungkin aku tidak akan pernah bisa memaafkanmu, jika aku tak bisa menemukan Dhia kembali."
Tamara menelan ludah sambil berdiri tergugu. Entah mengapa kalimat terakhir Dirga membuatnya seperti tercubit. Kekecewaan Dirga menurutnya sudah begitu dalam.
"Kak, aku ...." kalimat Tamara terhenti.
"Aku permisi." Dirga langsung pergi. Ia sama sekali tak ingin mendengar pembelaan apapun dari bibir adik angkatnya itu.
Pintu Penthouse dilantai 19 itu sudah tertutup. Tamara bersandar dibaliknya. Tanpa permisi bulir bening jatuh menetes dipipinya. Kata-kata dan tatapan kekecewaan Dirga saat menatapnya tadi masih terekam jelas. Kini, jangankan untuk digenggam, disentuh pun mungkin akan sulit. Ia merasa sia-sia.
Alarm pintu kembali berbunyi ketika Tamara masih menangis. Ia buru-buru menyusut air mata. Kali ini ia tak akan melewatkan waktu bergulir begitu saja. Tamara langsung membuka pintu. Didepannya kini berdiri seorang lelaki, yang awalnya ia kira adalah Dirga.
Lelaki itu berperawakan tinggi, tak terlalu berisi. Memakai kacamata bening, namun tetap terlihat ketampanannya.
"Orang tuamu menyuruhku untuk menjemputmu kembali." kata pria itu datar.
Pukul sepuluh malam, Dirga masih berada diluar. Berhenti sejenak didepan sebuah kedai kecil, meneguk minuman dari botol kemasan, sembari bersandar pada body mobil, sambil sesekali memperhatikan orang-orang yang masih lewat dijalanan selarut ini. Penampilannya sudah tak lagi rapi. Kemeja putih itu sudah terbuka kancing dibagian atasnya. Wajahnya yang tampan sudah terlihat sangat lelah.
Sejak sore tadi ia berusaha mencari keberadaan Dhia. Sudah hampir disetiap sudut kota yang ada di Jakarta, namun sampai selarut ini masih tak membuahkan hasil.
Cuaca malam semakin mengibaskan angin sejuk. Dirga memutuskan untuk masuk kembali kedalam mobil. Ketika saat itu juga, ponselnya berbunyi.
Mohon maaf, Pak. Kami tidak bisa menunggu lagi. Karena saat ini restoran kami sudah harus tutup.
Bagaimana dengan rencana yang sudah ada, Pak? Apa bisa dilanjutkan besok malam?
Dirga hening.
"Enggak perlu." ujar Dirga akhirnya."Semuanya batal."
Kata Dirga sebelum panggilan terputus. Ia menoleh pada kursi kosong disamping kemudi. Tangan kirinya meraih sebuah kotak kecil berwarna merah, lalu membukanya. Tatapannya langsung sendu melihat kilauan cahaya yang bersinar dari dalam sana.
Kalung berlian, berbentuk hati. Benda indah yang rencananya ingin ia berikan pada Dhia malam ini. Dirga bahkan sudah membooking salah satu restoran mewah malam ini. Namun rupanya akhir tak sesuai rencana.
Bayangan makan malam romantis, harus berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada. Semuanya gagal.
"Kenapa kamu pergi saat aku sudah mengetahui semuanya?" lirih Dirga pelan.
"Tolong kembali, Dhia ... aku mohon." tanpa sadar air bening menitik disudut mata pria itu.
__ADS_1