
Dhia dan Wiwik tiba ditempat acara. Disana, pada deretan kursi yang tertata rapi, terlihat sebagian para orang sedang duduk, saling bercerita. Menanti acara wisuda anak-anak mereka, yang sebentar lagi akan berlangsung.
"Kalian sudah lama menunggu?"Dhia memandang Mama, Papa dan Inka bergantian.
"Belum, sayang. Kami baru saja sampai."Rossa tersenyum bangga pada Dhia, anak sulungnya itu saat ini terlihat begitu cantik dan anggun, dengan balutan kebaya serta rok batik bercurak kehitaman yang membalut tubuh Dhia.
Dhia melirik Malik sesaat. Pria itu terlihat diam saja sambil memainkan ponselnya. Sejujurnya, Dhia merasa senang, karena saat ini sang Papa yang biasanya terkesan acuh, dan hanya mementingkan pekerjaan itu, kini turut hadir diacara bahagianya.
"Wiwik, kamu cantik sekali."cicit Rossa ramah.
"Buk Rossa bisa aja ... Wiwik jadi malu."ujarnya terkekeh pelan.
"Oh, iya, Ma ... makasih loh, sepatunya. Aku suka. Mama yang kirim, kan?"Dhia tersenyum senang.
Sepatu? Rossa mengerutkan dahi keheranan, kemudian memandang kebawah melihat ke arah kaki putri sulungnya itu.
Sama halnya dengan Rossa keheranan, Wiwik pun begitu.
"Enggak, sayang ... Mama nggak kirim sepatu buat kamu."aku Rossa jujur sambil melihat sepatu cantik yang dikenakan Dhia. Sepatu hak tahu, berwarna lembut namun terkesan mewah dan elegan. Mirip dengan yang Wiwik kenakan. Bedanya, milik Wiwik lebih memiliki banyak tali.
Loh, jadi sepatu yang aku pakai ini dari siapa?
Dhia memandang Wiwik mencari jawaban. Namun Wiwik hanya diam seperti tidak tahu apa-apa.
"Dhia ...!"
Seorang wanita memanggil Dhia. Sontak saja Dhia langsung menoleh. Di deretan kursi lain, tampak Dini, Yuli, dan Amel sudah berkumpul. Ketiga temannya itu terlihat cantik-cantik memakai kebaya, yang hampir tertutup oleh toga, kain hitam berbahan beludru, yang menutupi bahu hingga sampai dibawah lutut.
"Ma, aku kesana dulu, ya ..." ujar Dhia menunjuk ke arah teman-temannya berada."Kalian duduk saja disini."
"Iya, nak."
"Wik, aku tinggal dulu, ya ..."
"Iya, Mbak."Wiwik tersenyum.
Beberapa saat berlalu, terdengar suara MC mengumumkan bahwa acara wisuda akan segera dimulai. Seorang pembawa acara tersebut, meminta para WISUDAWAN/WISUDAWATI dari setiap jurusan untuk memasuki ruangan, dan memilih tempat duduk sesuai dengan nomor urut masing-masing. Semuanya diminta untuk tetap berdiri, menyambut kehadiran senat memasuki ruangan.
Suasana berubah hening.
Hampir dua jam berlalu, proses rangkaian demi rangkaian acara selesai, dari mulai pembukaan sidang senat, pembacaan ayat suci Al-Qur'an, dan rangkaian acara lainnya. Semua berjalan lancar, hingga saat WISUDAWAN/WATI dilakukan pemindahan kucir, yang dilakukan oleh rektor universitas BinaBangsa Indonesia.
"Yeeey ..."teriak Dhia, Yuli, Dini dan Amel dengan wajah bahagia sambil memegang ijazahnya masing-masing.
"Akhirnya ... perjalanan bertahun-tahun dibangku kuliah membuahkan hasil."kali ini Dini yang berseru.
"Aah ... pasti aku bakalan rindu kalian semua."cicit Yuli dengan wajah mewek sembari memeluk ketiga sahabatnya.
"Pastinya bestie ..."kali ini Amel menimpali.
"Pokoknya, jangan lupa untuk sering-sering kasih kabar ya."ujar Dhia sambil keempatnya kembali berpelukan seakan tak ingin pernah terpisahkan.
"Dhia ..."Rossa menghampiri mereka.
"Iya, Ma ..."Dhia mendekati Rossa.
Wanita paruh baya itu membuka tasnya, mengambil benda kecil dari dalam sana. Sebuah bross kecil berbentuk bunga, lalu memasangkannya tepat dibagian dada kiri, diatas kain hitam yang menjuntai dibahu Dhia.
"Apa ini, Ma?"
"Tidak apa, hanya bross kecil. Mama ingin kamu memakainya selalu. Jangan sampai hilang."
Dhia hening sesaat, seolah tahu benda kecil itu adalah benda yang berharga bagi Mamanya.
"Jadi ini yang ingin Mama beri sama aku kemarin?"Dhia tersenyum.
Rossa mengangguk pelan.
"Dirga mana? kenapa dari tadi belum datang?"tanya Rossa akhirnya, setelah dari tadi mencari-cari keberadaan menantunya itu.
"Mas Dirga, dia ... emm ...."
Ditengah kebingungan Dhia mencari jawaban dari pertanyaan Rossa, netranya tiba-tiba terkunci dengan sosok pria yang memakai setelan jas rompi berwana hitam, sembari membawa buket bunga, berjalan kearah mereka.
Pria itu tersenyum manis pada Dhia. Namun Dhia tak ingin membalasnya.
"Selamat siang, Ma." ujar pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah Dirga.
Rossa langsung berbalik."Dirga, kamu baru datang? kenapa terlambat?"
"Iya, Ma ... tadi ada urusan sedikit. Jadinya telat datang kemari."
__ADS_1
"Aku minta maaf karena terlambat."Dirga memandang Dhia, namun gadis itu membalasnya dingin.
"Ini untukmu." Dirga memberikan sebuket bunga mawar yang didominasi mawar putih itu pada Dhia. Dhia sempat hening. Namun kemudian menerimanya.
"Terima kasih."
Rossa tersenyum melihat itu.
"Sepatu kamu cantik."ujar Dirga setengah berbisik ditelinga Dhia, seraya tersenyum bangga.
Dhia terbelalak. Jadi ini sepatu dari dia?
Ah, rasanya ia ingin segera melepas sepatu itu saat ini juga, dan melemparkannya jauh-jauh. Namun tentu itu tidak Dhia lakukan, mengingat Mamanya, dan puluhan orang yang sedang berada disekitarnya berdiri saat ini.
"Apa yang lebih penting dibanding acara wisuda istrimu?" tiba-tiba Malik datang dari arah belakang.
Rahang Dirga sempat mengeras, tapi kemudian menoleh dan tersenyum pada pria itu.
"Apa bagimu Dhia tidak penting?"tanya Malik lagi.
"Dhia istriku, Pa ... tentu saja dia penting bagiku."
"Seorang suami akan tetap mengingat istrinya, meski dalam keadaan yang tidak memungkinkan sekalipun. Bukankah seharusnya begitu, Pa?"
Dirga memandang pria itu, sambil menyunggingkan sebuah senyum penuh arti.
Malik tertawa renyah, namun Dirga mengerti arti tawa itu."Tentu saja ... memang harusnya begitu."
Dirga kembali menebar senyum."Itu sebabnya aku tetap datang. Terlambat datang, itu jauh lebih baik dari pada tidak datang sama sekali."
Rossa hening. Tubuhnya saat itu menjadi kaku. Ia tahu arti ucapan Dirga, pria itu seolah sedang menyindir suaminya.
"Ma ... pulang, yuk. Ribet nih, bajunya." Inka datang entah dari mana sambil berjalan menendang, nendang roknya kedepan."Udah nggak betah."
"I-iya, sayang."sahut Rossa kemudian memandang suaminya.
"Baiklah, kami pulang dulu."ujar Malik pada Dhia dan Dirga."Kalau ada waktu main ke rumah Papa. Kita bisa bicara-bicara tentang pekerjaan."
Pungkas Malik pada Dirga.
Dirga hanya tersenyum tipis. Sama sekali tak berniat untuk menjawabnya.
"Hei, danau ... " tiba-tiba Inka berteriak sambil melambaikan tangan pada Dhanu yang sedang berdiri bersama beberapa orang wisudawan lainnya.
Dhanu tersenyum.
"Lu nggak mau foto sama gue? Mumpung gue jadi cewek, nih."
"Widiiih, cakep juga lu pakai kebaya."ujar Dhanu berjalan menghampiri Inka."Pantesan tiba-tiba mendung. Jadi elu biangnya."
"Sembarangan, lu! Lu kate gue pawang ujan?"Inka mencebikkan bibir.
Dhanu tergelak."Ayo, foto."
Dhanu mengusap layar ponselnya.
"Deketan dikit."cicit Dhanu pada Inka. Keduanya berdiri merapat, sambil tersenyum manis didepan layar pipih itu.
"Coba lihat?"Inka merebut ponsel Dhanu untuk melihat hasil jepretan camera."Wiiih, cakep juga gue."
"Pede banget, lu."Dhanu kembali tergelak.
"Selamat Dhanu, atas wisudanya."ujar Rossa sambil tersenyum ramah, ketika hendak pulang.
"Terima kasih, Tante."Dhanu balas tersenyum.
"Mama sama Papa kamu mana? sudah pulang?"
"Sudah, Tante ... baru aja."sahut Dhanu."Tante juga mau pulang?"
"Iya, nih. Inka ngajakin ... katanya nggak udah betah sama bajunya."
"Elah, bocah ... kebiasaan pakai celana sobek-sobek, sih. Gimana mau betah."celetuk Dhanu pada Inka.
Rossa terkekeh pelan.
"Ya sudah, Tante sama Inka pulang dulu, ya ..."
"Iya, Tante ... hati-hati."
"Kirimin ntar, fotonya."kata Inka sempat-sempatnya ketika sudah melangkah hendak pulang.
__ADS_1
"Satu, dua ... tiga."Wiwik sedang mengambil gambar Dhia dan Dirga. Awalnya Dhia sempat menolak, namun Wiwik berhasil memaksanya.
Wiwik berdecak."Senyumnya mana, Mbak Dhia?"ujarnya gemas pada Dhia yang terus memasang wajah dingin.
"Ulang-ulang!"seru Wiwik bak seorang fotografer handal.
Dhia menghela nafas pelan. Dan langsung terkesiap ketika tangan Dirga tiba-tiba saja menarik pinggang langsingnya.
"Lepasin, Mas."ujar Dhia pelan, namun tegas. Seolah tak perduli, Dirga justru semakin mengeratkan tangannya dilingkar pinggang Dhia.
Pada akhirnya, Dhia terpaksa tetap tersenyum sambil menahan geram karena Wiwik terus saja memaksanya.
"Haduuuh, haduuuh ... ini baru pas."Wiwik tersenyum malu-malu."Lakik binik cakepnya nggak ada obat. Pasangan serasi tenan, iki."Ia berdecak-decak pelan.
"Foto barengan ama Pak Dirga udah, sama Mbak Dhia, udah ... neng Wiwik nggak ada niat gitu, foto sama kang Doddy?"tanya Doddy selow.
"Idiiih ... ogah.!"sahut Wiwik ketus."Nanti malah jadi viral, kalau Mas Gio lihat, pasti dia kecewa sama Wiwik."
"Etdaah ... Mas Gio lagi, Mas Gio lagi."Doddy menghela nafas berat."Yang ada didepan mata malah di anggurin."
"Neng Wiwik ... neng Wiwik."
"Doddy, kamu antar Wiwik pulang sekarang.!"perintah Dirga tiba-tiba.
"Hah?!"Wiwik tercengang.
"Siap, Pak. Perintah siap dilaksanakan."Doddy memasang sikap hormat.
"Sampai di apartemen, kamu langsung mampir ke Penthouse Tamara. Tolong kamu jaga dia untuk sementara."kata Dirga pada Wiwik.
"Memangnya Mbak Tamara kenapa, sih, Mas? cederanya parah, ya?"
"Nggak usah banyak tanya. Buruan kamu pulang sekarang!"
Wiwik menghela nafas malas.
"Ayo, neng Wiwik. Kang Doddy akan mengantarkanmu pulang dengan selamat."ajak Doddy.
"Hai, Dhi ..."Dhanu menghampiri Dhia dan Dirga, kala Wiwik dan Doddy melangkah meninggalkan tempat itu. Ia sepat melihat sepatu yang Wiwik kenakan. Persis sepatu yang pernah ia berikan pada Dhia beberapa hari lalu. Jujur, ia kecewa, merasa bahwa dirinya tak pernah berarti bagi Dhia.
"Hai, Nu."
Dirga memandang dengan tatapan awas.
"Selamat siang Pak Dirga. Apa kabar?"
"Baik."
Sahut Dirga datar.
"Bisa minta izin sebentar, aku ingin mengambil foto dengan Dhia."ujar Dhanu tanpa ragu.
"Maaf, tapi kam ..."
"Bisa, Nu."sahut Dhia cepat memutus kalimat Dirga.
Dhanu tersenyum tipis.
Sementara Dirga memandang Dhia tak percaya. Sejurus kemudian ia langsung menarik lengan Dhia hingga membuat gadis itu tersentak.
"Apa-apaan, sih, kamu, Mas?!"Dhia mencoba menepis, namun gagal karena genggaman tangan Dirga yang cukup kuat.
"Maaf, kami harus segera pulang!"Dirga memandang Dhanu dengan tatapan dingin, kemudian membawa Dhia pergi dari tempat itu.
"Maaf, Nu."
Dhia sempat mengatakan itu karena merasa tidak enak pada Dhanu.
"Kamu nggak perlu minta maaf sama dia."
"Kamu jahat banget sih, Mas?"Dhia melepaskan tangannya dari genggaman tangan kokoh itu.
"Aku jahat?"Dirga mengulangi."Harusnya aku yang bilang itu ke kamu. Kamu mau foto dengan laki-laki lain didepan suami kamu sendiri?"
"Memangnya itu pantas?"
Dhia tersenyum kecut."Tidur dirumah perempuan lain, sementara membiarkan istri tidur sendiri, kamu fikir itu juga pantas, Mas?"
Pertanyaan Dhia membuat Dirga bungkam.
"Kita pulang sekarang. Aku akan menjelaskan semuanya."kata Dirga akhirnya.
__ADS_1