
Seminggu berlalu. Kondisi Dirga sudah hampir pulih. Hanya bekas luka yang belum tersamarkan, dan sesekali masih menyisakan rasa nyeri.
Dhia masih tetap dingin pada Dirga. Sebenarnya ia bukan benci. Hanya sedang memberi jarak, mempersiapkan hati jika suatu hari nanti Dirga benar-benar akan meninggalkannya. Termasuk juga demi calon anak yang ada didalam kandungannya. Dhia tak ingin memberi kesempatan dan celah bagi Dirga, untuk mengambil calon anaknya.
Meski begitu, tugasnya untuk merawat Dirga selama ini tetap ia lakukan dengan penuh kesabaran. Tak dipungkiri, ternyata selama seminggu ini juga ia cukup kesulitan mengatur perasaan cinta yang sudah sejak lama menjebaknya.
Selalu hampir luluh ketika Dirga mengatakan bahwa pria itu tak ingin kehilangannya. Termasuk juga ketika Dirga memintanya untuk kembali. Bukan sekali atau dua kali Dirga berusaha menunjukkan ketulusannya.
Tapi tidak kali ini, Dhia tak percaya lagi. Bukan tidak mungkin dendam dihati pria itu masih ada. Sama hal-nya ketika Dirga menawarkan ketulusan saat hendak menikahinya, dulu. Bisa saja ini adalah taktik kembali. Berusaha mendekatinya lagi, hanya untuk bisa merebut calon bayi itu, nantinya.
Dhia tak ingin itu terjadi. Itulah sebabnya ia terus menghindar. Termasuk berusaha membuang perasaan cintanya jauh-jauh.
Pagi ini, Dhia sedang berada didapur. Baru saja selesai membuat susu untuk dirinya sendiri. Ia berjalan menuju kearah meja makan, tak sengaja ekor matanya melihat ke arah kamar Mbok Siah yang terbuka.
Dapat ia saksikan, saat ini Mbok Siah sedang memeluk Dirga. Wanita itu mengusap mata seperti sedang menangis. Entah apa yang sedang mereka bahas saat ini. Jarak yang cukup jauh membuat Dhia tak bisa mendengar dengan jelas. Tapi yang pasti pelukan itu terlihat haru. Seperti seseorang yang baru saja menemukan suatu yang berharga dan sempat hilang. Meski penasaran, Dhia urung untuk segera menghampiri.
Beberapa saat kemudian, usai meneguk segelas susu yang baru saja Dhia buat. Barulah Dhia berjalan kedalam kamar Mbok Siah. Ditangannya sudah ada segelas air hangat, yang rencananya akan ia berikan untuk Mbok Siah. Setiap pagi, sudah menjadi rutinitas Dhia meminumkan obat untuk wanita yang sudah rentah itu.
"Minum obat dulu, Mbok."
Dhia meletakkan nampan diatas meja, seraya meraih obat dari dalam laci kayu yang ada disamping tempat tidur Mbok Siah.
"Mbok minum sendiri aja. Kamu antar dulu suami kamu ke depan." kata Mbok Siah sambil mengambil air minum dengan tangan yang sedikit gemetar membuat air minum itu sedikit tumpah. Melihat itu Dhia langsung membantunya.
"Hati-hati, Mbok." Dhia memberikan obat pada Mbok Siah, kemudian melihat Dirga.
Saat ini suaminya itu sudah rapi dengan balutan jas berwarna abu tua. Sudah siap untuk pergi ke proyek, setelah seminggu ini libur karena kecelakaan yang baru saja dia alami.
"Kamu yakin mau kerja?"Suara Dhia masih dingin. Tapi Dirga dapat melihat kecemasan dari tatapan Dhia.
Dirga mengangguk pelan."Kenapa tanya begitu?."
"Enggak apa-apa."
Dirga tersenyum."Jangan khawatir, aku sudah sembuh."
Dhia tak ingin merespon. Ia memilih diam, menghela nafas jengah, sambil berjalan ke luar dari kamar Mbok Siah.
"Kalau sudah sembuh ... berarti besok kamu sudah bisa pergi dari rumah ini." kata Dhia saat sudah berada di teras rumah, sambil melihat Dirga dengan tatapan datar.
"Enggak perlu lagi ada disini."
Kata-kata Dhia cukup membuat hati Dirga tercubit. Namun ia memilih menanggapinya dengan ekspresi santai."Aku tidak akan pergi kalau tidak bersamamu."
__ADS_1
Jawaban Dirga kembali membuat Dhia harus menghela nafas jengah. Sungguh, suaminya ini benar-benar keras kepala menurutnya.
"Kan aku udah bilang, aku nggak mau pulang, Mas!"
Dirga sedikit mencebikkan bibir, seraya mengedikkan bahunya santai."Ya sudah ... aku juga nggak akan pulang."
"Kam ..."
Suara Dhia tertahan. Rasa geram membuatnya tak bisa lagi berkata-kata. Percuma ia menolak, kalau akhirnya suaminya itu hanya akan semakin membuatnya naik darah.
"Papa kerja dulu, nak. Baik-baik didalam, ya."Dirga mengusap lembut perut Dhia.
Dan itu membuat Dhia terkejut, ketika tangan Dirga yang tiba-tiba saja meraba perutnya. Masih lagi menetralkan rasa keterkejutannya, sedetik kemudian Dhia kembali dibuat tak percaya saat Dirga tanpa permisi melayangkan sebuah kecupan mesra dipipi kirinya. Netra Dhia seketika membulat sempurna.
"Ternyata hamil membuatmu semakin seksi."
Bisik Dirga dengan suara berat, tepat ditelinga Dhia, sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan Dhia yang masih tercengang.
Dia serius atau sedang mengejekku? bathin Dhia kesal dan langsung masuk, menuju kamar. Bukan untuk berbaring atau sedang ingin merias wajah. Melainkan langsung berdiri didepan kaca, sambil memperhatikan body-nya keseluruhan.
Perutnya sudah semakin besar diusia kandungan yang sudah hampir memasuki usia kandungan enam bulan. Kali ini ia yakin, bahwa Dirga tadi sedang mengejeknya. Karena dirinya sendiri merasa tubuhnya sudah seperti balon diisi air yang semakin membulat. Bukan hanya perut, melainkan pipi dan juga bokongnya.
"MAS!!" teriak Dhia tertahan.
Suara berjalan dari arah belakang membuat Dhia semakin memperpanjang langkah. Debaran jantung tak lagi terbilang kecepatannya. Dhia betul-betul terkejut ketika suara seseorang memanggil namanya.
"Dhia ...!" panggil Mala yang datang dari arah depan. Rupanya wanita berpenampilan mencolok ini sengaja datang untuk untuk menjemput Dhia.
"Kamu kenapa? pucet banget ... kamu sakit." Mala menempelkan punggung tangannya dikening Dhia"Tapi ndak panas, kok." sambungnya dengan gumaman pelan.
"Perut kamu yang sakit? atau kamu mau lahiran?"berondong Mala lagi, dengan raut cemas tapi terkesan heboh.
Dhia berdecak sambil menoyor pelan kepala Mala."Lahiran gimana? masih enam bulan." ia mengatur nafas yang sedikit berkejaran.
"Terus kamu kenapa, sampai ambekkan (nafas terputus-putus) ... mukanya pucat begitu?"
"Kamu dari mana sih."
"Soalnya dari tadi juga tak tungguin, lama banget baliknya?."
"Ya nganter bunga ... cuma tadi aku pingin ke kebun bunga Pak Joko." jelas Dhia sambil mengusap keringat dingin di dahinya."Tapi nggak tahu, tadi .... tiba-tiba aku merasa kayak ada yang ngikutin."
"Jadi aku balik."
__ADS_1
"Kok, bisa? perasaan kamu, kali."Mala celingukan memperhatikan sekeliling mereka, namun ia tak melihat ada seseorang disana.
Dhia bergeleng."Aku yakin ada yang ngikutin aku, Mala ... soalnya ini bukan pertama kali."
Mala hening sesaat.
"Mungkin itu orang yang kebetulan mau lewat juga. Udah, yok ... pulang." Mala menarik pelan tangan Dhia."Barusan ada yang pesan bunga, banyak banget."
"Minta diantar sore ini ... aku keteteran."
Kata Mala sambil berjalan dengan Dhia.
Malam hari, tepat pukul delapan, Dirga baru kembali. Ia membuka pintu rumah sederhana itu yang ternyata tidak dikunci. Didalam, terlihat Mbok Siah tengah duduk diatas kursi roda sambil menonton didepan televisi.
Wanita rentah itu tersenyum menyambut kepulangannya."Baru pulang, nak? kok lama?."
Dirga mencium punggung tangan Mbok Siah takzim."Iya, Mbok ... tadi nggak sengaja ketiduran di proyek."
Ucapnya lalu duduk diatas kursi.
Mbok Siah menghela nafas pelan."Kamu pasti capek ... kondisi kamu, kan, belum betul-betul pulih."
Dirga menjawab dengan senyum tipis sambil membuka sepatunya. Lalu meletakkannya diatas rak khusus sepatu yang tersedia didekat pintu. Kondisi yang serba sederhana dirumah itu, membuatnya mulai terbiasa dengan keadaan.
"Kamu sudah makan?."
"Belum, Mbok."
"Oh, iya ... Dhia, mana? udah tidur?."
"Iya ... tadi sore bantuin Mala ngerangkai bunga." jelas Mbok Siah."Banyak banget ... mungkin karena kelelahan, jadi cepat tidurnya."
"Udah, sana makan dulu. Tadi sebelum tidur, makanannya udah disiapin sama istrimu." kata Mbok Siah menyuruh.
Usai menyantap makan malam, dan membersihkan diri, Dirga kini membaringkan tubuhnya disisi Dhia. Sementara memandangi wajah teduh istrinya yang sedang terlelap, ia menghembuskan nafas perlahan tepat didepan wajah Dhia, membuat wanita itu semakin merapatkan matanya.
"Dasar jutek ... kamu mau balas dendam sama, aku?." gumam Dirga pelan pada istrinya yang tidur.
Tapi tiba-tiba ia teringat satu benda yang tadi sempat ia beli, saat pulang dari proyek. Pelan-pelan ia kembali berdiri agar tak membuat Dhia terjaga, berjalan meraih tas kerjanya yang sebelumnya ia letakkan diatas meja. Sebuah headphone ia keluarkan dari dalam sana.
Musik klasik dengan ritme lembut sengaja ia putar, sambil menempelkan headphone tersebut diatas perut Dhia. Ia meletakkannya dengan pelan-pelan. Tentu agar istrinya itu tak terbangun. Sesaat kemudian, ia dapat melihat perut Dhia bergerak, seperti ada yang menyundul dari dalam sana. Bayi itu merespon, begitu aktif, hingga senyum haru tak berhenti menghiasi sudut bibir Dirga.
"Tumbuh sehat, nak ... Mama sama Papa, menunggumu."
__ADS_1
Ucap Dirga pelan.