Istriku, Dhia

Istriku, Dhia
Menguping


__ADS_3

Satu bulan berlalu,


Sendrapati Penthouse.


Dhia termenung seraya berdiri didepan balkon. Sampai detik ini, ia tak pernah percaya bahwa suaminya sudah tiada. Polisi sudah menghentikan kasus kecelakaan tersebut. Kerena sejak kecelakaan, jasad Dirga sampai saat ini belum ditemukan. Apakah suaminya itu masih hidup, atau sudah mati. Entahlah ... namun hati kecil Dhia tetap terus meminta pada Tuhan. Agar suaminya itu, saat ini masih dalam satu dunia yang sama dengannya.


Berharap boleh, namun seiring dengan berjalannya waktu, Dhia akhirnya sudah mulai bisa menerima kenyataan, seandainya memang benar, Dirga sudah tidak ada.


Bulir bening menitik dipipi Dhia. Selalu saja begitu, ketika wanita itu dalam kesendirian. Rasanya ia begitu rindu dengan pria tampan pemilik senyum manis itu. Pria yang membuatnya jatuh cinta begitu dalam. Hingga saat kehilangan, Dhia juga merasakan sakit yang mendalam.


"Mama ... i'm coming!."


Seru Mala, si wanita berpenampilan mentereng, sahabat Dhia ketika berada di Jawa. Saat ini, ia bekerja menjadi baby sitter, untuk merawat baby Chakra. Mbok Siah yang meminta. Dengan alasan, agar suasana rumah lebih berisik. Dengan begitu, Dhia tak begitu merasakan kesepian.


Mala membawa baby Chakra masuk kedalam kamar. Dibelakangnya ada Wiwik yang mengekor sambil membawa keranjang kosong. Di balkon, Mala dapat melihat Dhia sedang berdiri seorang diri. Ia pun langsung berhenti, menyikut lengan Wiwik. Menujukan dagunya kearah luar, dimana Dhia berada.


"Kasihan, Mbak Dhia." kata Wiwik pelan, sambil memandang kearah yang Mala tujukan.


"Iya, ya .... andai aja Mas Dirga masih hidup. Pasti Dhia nggak akan sedih."Mala menghela nafas dalam-dalam."Padahal baru aja aku lihat Dhia bahagia. Sekarang dia harus kembali sedih karena kehilangan suaminya."


"Takdir memang nggak ada yang tahu, ya, per. (Alias ceper)" panggilan Mala pada Wiwik. Karena tubuh Wiwik yang mungil, tak sampai sebahunya.


"Per, par, per .... sembarangan aja kamu, manggil aku. Gini-gini aku udah punya calon pacar, loh." protes Wiwik kesal."Walaupun badanku kecil."


"Ganteng, tau." imbuh Wiwik bangga.


"Halaaah ... calon pacar, belum tentu jadi pacar!." sahut Mala."Lagian, siapa toh, calon pacarmu?."


"Perasaan, aku udah sebulan disini ndak pernah lihat ada cowok ganteng yang nyariin kamu."


"Paling cuman, Doddy." pungkas Mala, sambil berjalan, meletakkan baby Chakra ke tempat tidur.


Wiwik bergeming. Tiba-tiba ia teringat Gio yang tak pernah lagi muncul di Penthouse ini. Bahkan sejak Dirga dikabarkan meninggal, pria itu juga tak datang meski hanya untuk mengucapkan belasungkawa. Kemana dia? bathin Wiwik bertanya.


"Anak genteng, yang baik budi, dan tidak cengeng ... kamu mandi dulu, ya." kata Mala dengan wajah jenaka menggoda baby Chakra.


Baby Chakra yang awalnya diam, justru malah menangis mendengar suara Mala.


"Loh, loh ... kok malah nangis?." tanya Mala dengan suara lembut.


Wiwik berdecak pelan seraya menyikut lengan Mala."Mukamu itu, loh ... kurang lucu. Harusnya begini."


"Chakra sayang .... baby gemes. Mandi dulu, yuk." kata Wiwik dengan suara manja anak kecil. Sambil membuat mimik wajah yang gemas."Nang, ning, nang, ning, nang, ning, nung ....."

__ADS_1


"Nang, ning, nang, ning, nang, ning, nung!."


"Hiii ... kamu, udah kayak topeng monyet aja begitu." Mala menepuk bahu Wiwik."Lihat itu, Chakra masih tetep nangis. Muka kamu ndak ada lucu-lucunya."


"Malah nyeremin!."


"Sek, sek ... coba aku dulu." kata Mala sambil menyingkirkan Wiwik dari hadapan bayi kecil itu.


Mendengar suara berisik dari dalam kamar, akhirnya menuntun Dhia masuk. Ia tersenyum melihat dua tingkah asistennya itu, yang terlihat sedang bergantian berusaha menghibur buah hatinya.


"Chakra pasti haus. Makanya rewel terus." kata Dhia sambil duduk ditepi ranjang, lalu mengangkat bayi kecil itu.


"Mala ... tolong kamu siapkan air hangatnya, ya ... biar dia segera mandi."


"Oke."Mala tersenyum, mengacungkan jempolnya didepan dada. Lalu masuk kedalam kamar mandi.


------------


Rossa sangat merindukan cucunya. Hari ini, ia berniat datang ke Sendrapati Penthouse. Ditangannya sudah ada beberapa buah tangan untuk cucu, dan anak tersayangnya. Ia datang seorang diri. Sambil menunggu pintu Penthouse dibuka, senyum tipis menghiasi wajah wanita paruh baya itu.


Tak berapa lama pintu Penthouse dibuka.


"Siapa, Wik?." Mbok Siah keluar dari dalam kamarnya. Saat diruang tamu, tatapan wanita renta itu tertumbuk dengan pemilik mata sendu. Seorang wanita yang pernah hadir pada masa lalunya. Ia langsung menghentikan laju kursi rodanya.


"Mama." Rossa berdiri tergugu.


Mbok Siah hening.


Perlahan Rossa melangkah ragu mendekati Mbok Siah, dengan mata berkaca-kaca."Mama, apa kabar?."


"Seperti yang kamu lihat."


Rossa tersenyum tipis.


"Mama ngapain kemari?." suara dari atas tangga, membuat Mbok Siah dan Rossa, mengangkat wajah.


"Dhia ....." Rossa berjalan, menaiki tangga."Mama pingin ketemu cucu Mama. Mama juga bawa ini untuk dia."


"Lebih baik Mama pulang, sekarang!." Dhia membuang wajahnya ke sembarang arah."Anakku sedang tidur."


Langkah Rossa terhenti. Tentang masa lalu itu, rupanya masih terpendam kebencian yang dalam dihati Dhia. Saat ini, Dhia mengusirnya. Hati Rossa menangis melihat perubahan sikap Dhia kepadanya.


"Dhia!." panggil Rossa, saat anaknya itu, naik kembali dan masuk kedalam kamar. Ia tertunduk lesu. Lalu memandang Mbok Siah. Wanita renta itu terlihat mengangguk lembut.

__ADS_1


"Temui Dhia di kamarnya. Kamu harus menjelaskan semuanya."


Rossa mengangguk. Kemudian naik keatas menemui Dhia.


"Dhia ... tolong buka pintunya, nak. Mama pingin jelaskan sesuatu sama kamu!." kata Rossa dari luar, karena pintu kamar itu sengaja dikunci oleh Dhia dari dalam.


"Mama, pergi! aku benci sama, Mama!."teriak Dhia dari dalam kamar.


"Sayang ... tolong jangan begitu!." Rossa menangis mendengar Dhia membencinya."Dengarkan penjelasan Mama dulu, nak!."


Dhia tak lagi menjawab. Jelas tak ada sahutan dari dalam kamar itu.


"Mama minta, maaf, nak ... Mama tahu, Mama yang salah." Rossa menahan isak tangisnya."Tapi kamu harus tahu ... dulu Mama juga terpaksa meninggalkan Papa kamu, dan menikah dengan Papa Malik."


"Semua demi kamu, nak."


"Demi masa depanmu." Rossa menyusut air matanya.


"Ya ampun .... ternyata selama ini, Pak Malik itu, bukan Papa kandungnya Mbak Dhia, toh?." kata Wiwik dengan mimik wajah lesu, setengah berbisik pada Mala. Saat ini, keduanya berdiri diatas tangga, karena penasaran.


"Kayaknya, masa lalu Buk Rossa itu, completed, ya, per."


"Ho'oh."


"Wiwik! Mala!."


Keduanya asisten yang sedang menguping itu, langsung menoleh, mencari sumber suara yang memanggil mereka. Ternyata itu adalah suara Mbok Siah."


"Kalian ngapain? turun, turun!!."


"Mama benar-benar terpaksa, sayang." Rossa terus berbicara, meski tak ada sahutan lagi dari dalam kamar itu. Tapi Rossa tahu, Dhia pasti mendengarkannya saat ini.


"Mama juga bener-bener hancur saat itu. Semuanya juga nggak mudah bagi Mama, nak."


"Dan harus kamu tahu ..." Rossa menelan ludah kelu."Sampai saat ini, Mama masih merasa berdosa."


"Maafkan Mama, nak." lirih Rossa sambil menyandarkan tubuhnya pada dinding pintu.


"Mama sayang sama kamu."


Didalam, Dhia meringkuk diatas tempat tidur, sambil menangis tersedu-sedu. Ia menyusut air mata, saat tersadar tak lagi terdengar suara Mamanya yang sedari tadi terus berbicara dari luar. Ia kemudian bangkit, membuka pintu.


Rossa sudah pergi. Yang ada hanya ada beberapa Paper bag dan satu kotak kecil bersampul kertas biru muda, teronggok didepan pintu. Dhia mengambilnya, bersamaan dengan air mata yang luruh kembali.

__ADS_1


__ADS_2