Istriku, Dhia

Istriku, Dhia
Peresmian Hotel part II


__ADS_3

Dert ... dert ... dert ...!


Getar ponsel diatas meja membuat Dirga yang sedang berdiri didepan cermin seraya memasangi kancing kemeja, akhirnya menoleh kebelakang. Ia kemudian berjalan, mengambil ponselnya. Melihat nama seseorang yang meneleponnya.


Disaat yang sama, Dhia baru keluar dari kamar mandi usai membersihkan diri.


"Sayang, bersiaplah ... aku keluar sebentar." Dirga melihat pada Dhia. Ya, sebentar lagi, sesuai dengan waktu yang ditetapkan dalam undangan, mereka akan menghadiri acara peresmian hotel Wira CitraWisata.


Dhia hanya mengangguk.


Sementara Dirga sudah keluar, dan berjalan menuju ruang kerja pribadinya. Membuka layar ponsel, dan menelepon kembali panggilan yang tadi belum sempat terjawab.


Pembicaraan di ponsel tersebut hanya sesaat, namun serius. Dirga kini menghidupkan saklar lampu yang belum terpasang. Membuat ruangan yang sesaat remang, menjadi terang benderang. Ia memindai pandangan pada sebuah laci meja paling bawah meja kerjanya. Berniat mencari sesuatu yang ingin ia cari. Sebuah USB. Ya, mungkin itu berisi salah satu bukti kejahatan mertuanya, Malik Mahendra Hartawiawan.


Ia membolak-balik seluruh isi laci tersebut, namun yang dicari, ternyata telah hilang.


Rahang Dirga seketika mengeras, seiring dengan kedua tangan yang terkepal kuat, memberi jejak urat-urat pada kulitnya yang bersih. Dugaan-dugaan yang terus menyelimuti semakin kuat, tentang siapa orang terdekat yang telah berani menusuknya.


"****!" umpatnya sambil meninju meja dengan keras. Rasa marah yang berapi-api, membuatnya tak lagi merasakan rasa panas yang menjalar di punggung tangannya.


Cukup lama ia menyendiri diruang kerja. Duduk sambil menangkupkan kedua tangan dan menempelkannya didepan kening, sementara netranya terpejam berusaha menetralkan kembali emosi yang berseteru dalam dada.


Suara pintu yang diketuk dari luar, serta suara cempreng yang khas, membuatnya terkesiap.


"Masuk!." sahut Dirga singkat.


Sedetik kemudian, pintu terbuka dan menampilkan Wiwik sudah berdiri didepan pintu.


"Maaf, Mas ... di panggil Mbak Dhia." kata Wiwik.


Dirga mengangguk singkat.


"Wik!."


Wiwik ingin pergi. Tapi suara Dirga menahan langkahnya.


"Iya, Mas ... ada apa?."


"Apa kamu pernah lihat USB, tergeletak, atau terjatuh dilantai ini?."


Wiwik berkerut dahi."USB itu apa, ya, Mas? m-maksudnya bentuknya gimana?."


"Wiwik nggak tahu soalnya." Wiwik nyengir.


Dirga berdecak. Ia kemudian membuka ponselnya. Membuka internet, dan mencari gambar USB.


"Seperti ini. Warna putih.!" Dirga menghadapkan ponselnya didepan wajah Wiwik.


Sesaat hening. Tapi sejurus kemudian bibir Wiiwik membulat."Oo ... kayak gini."


"Pernah, Mas! waktu itu kalau nggak salah ... waktu Mas Dirga ke Singapura ... Mas Gio, kan, datang kemari ..."


"Dia masuk kesini. Terus Wiwik liat USB-nya dipegang Mas Gio."


"Memangnya kenapa, ya, Mas?." tanya Wiwik pingin tahu.


Dirga hening. Sama sekali tak berniat untuk menjawab. Entahlah, padahal dugaannya pada pria itu sudah begitu kuat. Namun seolah dalam hati terus berharap bahwa Gio, bukanlah pelakunya. Tak ada yang bisa dibantah. Jelas sudah, sahabatnya itu telah berkhianat, dan kini berpihak pada Malik Mahendra Hartawiawan. Musuh yang ingin ia jatuhkan!


Dirga pergi dari ruangan itu. Sementara Wiwik yang sedang menunggu jawaban dari pertanyaannya, masih berdiri ternganga.


"Ini Mas Dirga, ngapa, toh? tak kasih tahu kalau USB-nya sama Mas Gio, kok malah diem?." Wiwik berbicara sendiri.


"Harusnya kan, lega. Wong, USB-nya nggak hilang ... kan bisa diminta lagi sama Mas Gio."


Wiwik menghela nafas panjang.


Dirga masuk kedalam kamar. Tentu dengan wajah yang sudah dibuat agar tenang. Bagaimana pun, ia tak ingin Dhia menyadari. Apa lagi membuat istrinya yang sedang mengandung itu, dilanda kecemasan.


Didalam kamar, ia melihat Dhia sedang berdiri didepan cermin dengan balutan gaun berwarna biru tua, sambil merapikan rambut yang sudah digulung.


Dhia berbalik begitu menyadari kehadirannya."Kamu dari mana, sih, Mas?."


Tanya Dhia sambil berjalan menuju ranjang, mengambil dasi yang sedari tadi sudah ia siapkan."Aku tungguin dari tadi. Sudah hampir pukul delapan, loh."suara Dhia sedikit kesal, sambil memasangkan dasi dileher kemeja putih suaminya itu.


Bukannya menjawab, Dirga justru tersenyum, seolah terpanah dengan Dhia. Kulit putih wanita itu, begitu terpancar dengan gaun biru tua yang membalut ditubuhnya. Meski tidak langsing, karena saat ini Dhia sedang mengandung. Namun itu tak membuat wanita itu kehilangan kesan seksinya. Justru Dirga dibuat gemas dengan wanita yang berdiri didepannya saat ini.


"Kamu cantik sekali, sayang."ujar Dirga pelan pada Dhia yang sedang serius memasangkannya dasi.

__ADS_1


"Ini bukan saat menggombal, Mas."


"Aku tidak menggombal." Sudut bibir Dirga tertarik, menyimpulkan senyum tipis. Tangan kanannya terangkat, mengaitkan rambut Dhia yang sepertinya memang sengaja disisakan dibagian sisi kiri pelipis, lalu melayangkan kecupan dipipi kiri istrinya itu.


Kali ini, Dhia tak ingin kembali menjawab. Membiarkan saja saat suaminya itu juga melayangkan ciuman untuknya. Saat ini, wanita itu sedang fokus memasangkan dasi suaminya itu, agar terlihat rapih. Maklum, karena Dhia belum begitu lihai dalam merangkai dasi. Namun meski begitu, ia tetap bersikeras akan melakukannya sendiri, ketika Dirga ingin mengambil alih, karena tak ingin merepotkannya.


Cup!


Lagi, Dirga kembali melayangkan sebuah kecupan. Kali ini dipipi kanan istrinya itu. Seperti menjahili, ia terus mengulangi membubuhkan ciuman.


"Mas ....?" rengek Dhia ketika ia mulai terusik dengan ciuman suaminya, yang membuatnya sulit berkonsentrasi pada dasi.


Dirga terkekeh pelan. Tapi bukannya berhenti, ia justru mengulanginya lagi. Kali ini beralih mencium bibir Dhia yang lembab, dibalut lipstik berwarna lembut. Sekali, berhasil tanpa penolakan. Membuatnya masih belum puas dan ingin mencium bibir manis istrinya itu kembali.


Dhia kemudian berdecak sambil mendorong bibir Dirga, agar mundur."Ini apa tidak bisa berhenti?."ucapnya gemas.


Dirga bergeleng."Dia akan berhenti kalau kamu menyambutnya, sayang."


"Jangan ngaco, Mas! kalau aku menyambutnya ... bukannya jadi pergi, justru kita akan berakhir diranjang." kata Dhia sambil berjalan menuju tempat tidur, mengambil jas berwarna biru tua, senada dengan gaun yang ia pakai, lalu memberikannya pada Dirga.


"Cepat, pakai!."


Dirga meraih memakai jas tersebut, seraya tergelak mendengar kalimat polos istrinya.


_______________


Hotel Wira CitraWisata.


Pancaran lampu kristal begitu terang dari dalam gedung hotel tersebut. Diluar, deretan mobil-mobil mewah milik para pesohor, pengusaha-pengusaha terkenal, dikota Jakarta, terlihat sudah mengisi area parkir. Itu artinya, didalam sudah banyak orang-orang yang hadir untuk memeriahkan peresmian hotel tersebut.


Dirga dan Dhia masuk kedalam. Keduanya terlihat begitu serasi dengan balutan pakaian berwarna senada. Setibanya didalam, keduanya disambut oleh Pak Wibido, beserta istri, dan juga anak semata-wayangnya. Tak lain dan tak bukan, Prawira Dhanuarta.


"Ah, akhirnya ... tamu yang paling ditunggu-tunggu, ternyata datang juga."Pak Wibido tertawa renyah, begitu pun istrinya yang turut tersenyum.


"Acara sudah akan dimulai, tidak afdol rasanya jika peresmian hotel ini dilaksanakan, tanpa memperkenal orang yang telah berperan penting dalam pembangunan hotel ini."


"Lihat lah, hotel ini begitu mewah ... didesain oleh tangan handal seperti kamu, nak Dirga. Saya yakin, akan banyak orang yang semakin tertarik dengan perusahaanmu, jika sudah melihat ini."


Dirga terkekeh pelan."Saya rasa pujian itu terlalu berlebihan, Pak. Diluar sana, masih banyak pengusaha-pengusaha yang lebih hebat dari, saya."


Pak Wibido bergeleng sambil menggerak-gerakkan telunjuknya di depan dada."Desain kamu unik. Berbeda dari yang lain."


"Dhia, kamu apa kabar?." Buk Anggun menyentuh bahu Dhia dengan senyum ramah.


'Baik, tante."


"Sudah lama sekali kita tidak ketemu, ya .... terakhir kamu kerumah Tante ... kalau nggak salah, waktu kamu sama Dhanu masih kuliah semester 7."


"Iya, kan?."tanya Buk Anggun memastikan, seraya melihat pada Dhanu dan Dhia bergantian.


"Iya, Tante."Dhia tersenyum tipis. Sementara Dirga menyimak kalimat wanita paruh baya itu sambil berkerut dahi.


"Makin cantik aja, kamu." puji Buk Anggun."Mungkin aura ibu mengandung."


Dhia tertawa renyah.


"Sudah berapa bulan?."


"Mau memasuki 7 bulan, Tante."


"Ya ampun ... selamat, ya. Sebentar lagi mau jadi ibu." Buk Anggun turut bahagia mendengarnya.


Dhia hanya membalas dengan senyuman. Selintas ekor matanya mendapati Dhanu sedang berdiri memperhatikannya.


Beberapa saat berlalu, tiba saatnya acara peresmian hotel. Dimulai dari kata sambutan yang disampaikan oleh anak sang pewaris hotel, Prawira Dhanuarta.


Ditengah-tengah kata sambutan yang sedang berlangsung, Dhia tiba-tiba meringis, dan langsung menyenggol lengan Dirga.


"Mas ... aku ke toilet, sebentar, ya?."


"Ngapain, sayang?"


"Kebelet pipis."ucap Dhia setengah berbisik ditelinga Dirga. Karena tak ingin didengar oleh tamu-tamu lain yang duduk disekitarnya.


"Apa perlu aku temani?."


Dhia menggelang."Aku sendiri aja, Mas."

__ADS_1


"Ya sudah ... jangan lama-lama, sayang."


Dhia mengangguk, sambil sedikit mengangkat gaunnya, kemudian beranjak dari tempat itu.


"Aku fikir kamu tidak datang, karena pening memikirkan proyekmu yang akhirnya gagal."


Tiba-tiba suara tidak asing terdengar dari arah samping, membuat Dirga menoleh. Seketika mata elangnya tertumbuk pada sosok berkumis dengan kacamata bening yang duduk disisinya. Pria itu tersenyum mengejek, penuh kepuasan.


Ah ... Pak Bram benar-benar tidak salah mengambil keputusan." Malik tertawa.


"Apa kau puas dengan semua rencanamu?." Dirga memandang pria itu dengan dingin. Meski sebenarnya ia ingin sekali menghajar pria tua yang ada didepannya itu saat ini juga. Namun itu tentu tak ia lakukan. Ia justru tetap bersikap tenang, Mengingat posisi keduanya sedang berada diperkumpulan orang-orang penting.


Malik bergeleng."Aku belum puas." ucapnya dengan senyum licik, lalu mendekatkan wajahnya pada Dirga."Sebelum kau benar-benar mengurungkan niatmu, untuk tidak membuka kasus kematian Papamu kembali."


"Kalau kau masih nekat ... maka jangan salahkan aku jika aku terus menghancurkanmu."


"Bahkan, jika aku mau .... aku juga bisa menyakiti istri dan calon anakmu!." pungkas Malik pelan dengan tatapan penuh ancaman.


 


Di ruangan lain, Dhia yang hendak keluar dari kamar mandi, tak sengaja menabrak seorang wanita paruh baya yang kebetulan hendak masuk kedalam kamar mandi tersebut. Dompet wanita itu terjatuh, Dhia langsung membungkuk, berusaha mengambil dompet itu. Sedikit kesusahan karena terganjal perutnya yang semakin membesar.


"Maaf ... saya, tidak sengaja." kata Dhia tanpa melihat dulu wajah wanita itu.


"Dhia!."


Suara orang yang memanggil namanya itu, membuat Dhia berhenti. Ia sangat kenal, seketika dadanya bergerak sesak. Kekecewaan dan rasa benci kembali mencuat kepermukaan.


"Ya ampun, nak ... kamu sudah kembali?." Rossa menyentuh kedua bahu Dhia, ingin segera memeluk anaknya itu, namun Dhia langsung menepis tangannya. Seketika rasa haru yang sempat terpancar diwajah wanita paruh baya itu, berubah menjadi kesedihan. Tatapan Dhia yang dingin, menyakitinya.


"Dhia ... apa yang terjadi, nak?." kedua tangan Rossa kembali terangkat ingin menyentuh putrinya itu. Netranya mulai berkabut, karena bulir bening yang mulai menggenang."Kenapa kamu kembali nggak ngabarin, Mama?."


"Mama kangen sama kamu, nak."


"Dan, kamu tahu ...." Rossa menjeda kalimat, sambil mengusap air mata yang akhirnya tumpah. Air matanya kian tak terbendung melihat calon cucunya yang mulai membesar didalam kandungan.


"Mama sangat senang sekali waktu Dirga kasih kabar kalau kamu hamil. Mama nggak nyangka ... sebentar lagi Mama akan punya cucu."


"Cukup, Ma! berhenti bersandiwara menjadi ibu yang baik."


Rossa tertegun mendengar kalimat yang meluncur dari bibir Dhia.


"Seperti Mama yang dulu memisahkan aku dari nenek kandungku, maka aku juga akan melakukan hal yang sama, Ma." mata Dhia sudah merah menahan tangis.


"Aku tidak ingin membiarkan calon anakku, menganggap Mama sebagai neneknya!."


"Dhia ...." lirih Rossa dengan air mata kembali berlinang.


"Aku sudah tahu semuanya, Ma!" Dhia berteriak tertahan.


"Aku sudah tahu semuanya ... tentang kejahatan Mama! dan tentang Papa kandungku!."


"Dhia, tolong dengar penjelasan Mama dulu, nak."


Rossa ingin meraih tangan Dhia, tapi Dhia kembali menepisnya.


"Aku benci sama Mama!."


Ucap Dhia, dan melangkah pergi. Namun langsung tertahan karena Rossa berlari menahannya.


"Lepasin, Ma!." Dhia menarik tangannya dengan kuat. Tak sengaja membuat tubuh Rossa terhuyung kebelakang. Rupanya hal itu dilihat oleh Malik yang kebetulan sedang mencari keberadaan istrinya.


"Dasar, anak kurang ajar!." pria itu menggeram dengan mata memerah sambil mengangkat tangannya ingin menampar Dhia.


Dhia seketika memejamkan mata. Seolah siap menerima tamparan keras pria itu.


"Jangan, Mas!." teriak Rossa sambil menangis.


Tangan Malik seketika tertahan. Namun bukan teriakan Rossa yang berhasil menahannya. Melainkan tangan kokoh Dirga yang tiba-tiba datang menghentikan.


"Tanganmu ini, tidak akan pernah kembali aku biarkan menyakiti orang-orang yang aku sayangi!." ucap Dirga pelan, penuh penekanan disetiap katanya. Sementara tangan kanannya turut meremas, memberikan penekanan pada jemari pria tua itu, sambil melemparkan tatapan dengan nyala dendam yang berapi-api.


"Kau fikir aku takut dengan setiap ancamanmu?" Dirga berdengus kasar dengan sudut kanan bibir tertarik jelas.


Dirga bergeleng pelan."Aku tidak pernah takut!."


"Sebaiknya nikmati masa tenangmu yang tinggal sebentar lagi, ini. Sebelum akhirnya kau akan membusuk sampai mati didalam penjara!."pungkasnya sambil melepaskan tangan pria itu dengan kasar.

__ADS_1


"Ayo, sayang." Dirga meraih tangan Dhia, dan membawa istrinya pergi dari tempat itu.


__ADS_2