
"Kamu tahu siapa orang tua angkat Dirga?"Malik memandang Dhia dengan tatapan menyelidik.
Saat ini, keluarga kecil itu tengah menyantap makan malam. Suasana disana terkesan dingin, tak ada kehangatan.
Dhia menggeleng."Tidak, Pa."
Malik tersenyum sinis, hampir tak terlihat.
Namun Dhia memperhatikan. Senyum itu membuatnya ngeri. Dalam hati ia berharap, Malik tak ada hubungannya dengan kematian suami Mama Arini.
Rossa sempat menoleh, melihat Malik beranjak, ketika ponsel suaminya itu berdering. Pria paruh baya itu berjalan menjauh. Bicara pelan, penuh rahasia. Dhia sempat menajamkan telinga, namun sayang ia tak bisa mendengar begitu jelas pembicaraan Malik dengan seseorang diseberang telepon.
Malam semakin larut, Dhia bahkan belum terpejam. Rasanya ia ingin bertanya pada Mama Rossa tentang semua pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal dibenaknya. Tapi kesempatan tak ada, karena tadi usai makan malam, Malik sudah lebih dulu memanggil Rossa.
Dhia menghela nafas panjang. Ia memperhatikan benda pipih disebelahnya, sepi tak berbunyi. Seharian ini Dirga tak memberi kabar padanya, hingga sampai malam ini.
Didalam kamar, Rossa duduk memandang sebuah bross kecil berbentuk bunga berhias berlian. Bersinar, namun sudah tak semengkilap dulu.
"Setelah sempat hilang, akhirnya aku bisa menemukan kembali bross ini."lirih Rossa dengan wajah sendu. Netranya mulai berkaca terbawa arus masalalu."Aku fikir aku tidak bisa menemukannya lagi."sambungnya seolah bross itu adalah benda yang berarti baginya.
"Besok aku akan memberikan ini pada, Dhia."gumamnya pelan, mengusap air mata yang sempat menitik. Rossa buru-buru menyimpannya kedalam laci ketika melihat Malik masuk kedalam kamar. Ia menelan ludah dengan gugup.
"Kamu kenapa?"
Rossa bergeleng cepat."Enggak apa-apa, Mas."
Malik berjalan menuju tempat tidur untuk berbaring.
"Lusa Dhia wisuda. Aku sangat berharap kamu mau datang, Mas."
Malik tak merespon.
Rossa kembali menelan ludah."Aku hanya tidak ingin Dhia semakin curiga padamu. Karena jika Dhia curiga, dia akan mencari tahu tentang semuanya. Aku tidak ingin anakku membenciku."
"Hemm."respon Malik malas sembari menarik selimut, melepas kacamatanya, lalu metakkannya diatas nakas.
Rossa pun, turut berbaring.
Pukul sembilan pagi usai menyantap sarapan, Dhia kembali kedalam kamar. Mengambil tas, dan memasukkan ponselnya. Kemudian berdiri didepan cermin, mengusap bibirnya dengan lipstik berwarna nude, lalu merapikan rambutnya yang dikucir kuda. Dhia langsung menoleh begitu pintu kamar dibuka oleh seseorang.
"Eh, Ma ..."Dhia tersenyum manis.
"Mau pulang sekarang?"
"Emm."Dhia mengangguk.
"Ya ampun, Mama rencana mau kasih sesuatu sama kamu, tapi Mama lupa bawanya. Sebentar, Mama ambil dulu."
"Ma ..."
Rossa ingin pergi namun Dhia memanggilnya.
"Iya, sayang ... ada apa? kamu perlu sesuatu?"
"Bisa duduk sebentar, Ma? ada yang ingin aku tanyakan."
Rossa duduk ditepi ranjang beralaskan seprai berwarna biru muda itu, dengan hati bertanya-tanya.
"Apa Mama kenal dengan wanita bernama Arini?"tanya Dhia tanpa basa-basi, dan seketika itu juga ia menyadari perubahan wajah Rossa yang menjadi pias.
"Arini?"
Tanya Rossa mengulangi, yang sebenarnya sedang berusaha mengatur kegugupan.
Dhia mengangguk pelan.
"Tidak ... Mama tidak kenal."Rossa berbohong.
"Memangnya dia siapa?."
"Dia, Mama, Mas Dirga."
Tubuh Rossa menegang.
"Ternyata Mas Dirga berbohong kalau Mamanya sudah meninggal, Ma. Dan Mama tahu ... Mama Arini ternyata gila, Ma."
Arini Gila?
__ADS_1
Ya Allah ...
Bathin Rossa tak percaya.
"Sekarang dia sedang dirawat di RSJ, BinaWangsa, Ma. Sebenarnya aku sudah beberapa kali melihat Mama Arini, tapi selalu gagal untuk menemuinya. Dan kemarin, aku iseng datang kesana."
"Mama tau apa yang terjadi?"
Rossa bergeming dengan segala keterkejutan dihatinya.
"Dia berteriak-teriak menyebutku anak seorang pembunuh. Dan dia menyebut Papa sebagai orang yang telah membunuh suaminya."
Wajah Rossa memucat. Tak menyangka Dhia sudah mengetahui sampai dititik ini.
"Apa benar Papa pembunuh suaminya, Ma? dan ..."Dhia menjeda kalimat seraya menelan ludahnya kelu. Bola matanya terpancar kecemasan.
"Apa ini ada kaitannya dengan dendam Mas Dirga, Ma?"
"S-sayang ..."Rossa mengulurkan kedua tangannya mengusap bahu Dhia."Kamu ini ngomong apa, sih?"
"Mana mungkin Papamu pembunuh. Kalau iya, Papa pasti dari dulu sudah mendekam dipenjara."
"Tadi kamu bilang sendiri kalau Mama Arini itu gila. Ya wajar kalau dia ngomong sembarangan. Masa iya, kamu percaya sama omongan orang yang sedang dalam gangguan jiwa?"
"Ma ..."
"Mama!"seru Inka memanggil dari luar.
"Kunci motorku dimana? Udah telat, nih, mau ke kampus."
Rossa berdecak."Mama keluar dulu, ya. Sudah ... jangan mikir yang macam-macam. Itu semua nggak benar."
Rossa berdiri sembari tersenyum tipis mengusap pipi Dhia.
Dhia mengangguk.
"Kemarin siang, kan kamu yang nyimpan. Kok tanya, Mama?"
Inka berdecak."Iya, sih, Ma ... tapi aku lupa nyimpannya dimana. Siapa tahu Mama ada lihat?"
"Ma ... aku pulang dulu, ya."
Dhia keluar dari dalam kamar, untuk berpamitan.
"Itu mobil kamu dulu, nganggur digarasi. Dipakai aja dulu. Mama juga jarang pakai."
"Enggak usah, Ma. Aku udah pesan taksi online."Dhia mencium punggung tangan Rossa.
"Kamu hati-hati, ya, nak."
"Iya, Ma."Dhia berjalan keluar.
"Inka ... sudah ketemu belum kuncinya?"tanya Rossa setengah berteriak,namun tak ada sahutan. Tapi tiba-tiba pandangannya tertuju pada benda kecil yang terjepit di sudut sofa.
"Ya ampun ... anak ini."Rossa mengumpat seraya mengambil benda kecil dengan aksesoris bergambar lidah melet yang terjepit disudut sofa.
"Ceroboh banget jadi anak."Gerutu Rossa."Tuh, kan ... lupa lagi aku mau ngasih bross itu sama Dhia."
Rossa berdecak.
"Inka ... ini kuncinya!"seru Rossa.
-------
Sendrapati Penthouse,
Wiwik dikejutkan dengan kehadiran Gio yang datang ke Penthouse.
"Loh, loh ... Mas Gio. Ada apa kemari? tumben banget? mau cari Wiwik, ya?"Wiwik memasang senyum malu-malu.
Gio juga tersenyum, dan itu membuat Wiwik semakin meleleh.
"Ini, Wik. Aku mau antar berkas perkembangan proyek. Dirga yang minta."
"Tadi dia sempat datang ke kantor, tapi buru-buru pergi karena Tamara mengalami insiden di proyek. Jadi belum sempat periksa berkas perkembangan proyek dua hari ini."
"Ooo ... jadi Mas Dirga udah balik dari Singapura, toh, Mas Gio?"
__ADS_1
Gio sempat terkejut.
"Oh ... s-sudah."sahut Gio.
"Sekarang mereka dimana?"
Suara dari belakang membuat Wiwik dan Gio menoleh.
"Eh, Mbak Dhia udah pulang? Wiwik kaget tahu ... Mbak Dhia tiba-tiba udah ngejedul aja didepan pintu."
Dhia diam tak memperdulikan ocehan Wiwik. Ia justru sedang menunggu jawaban dari Gio.
"Dirga sekarang mengantar Tamara ke rumah sakit."
"Apa luka Tamara parah?"
"Aku nggak tahu, Dhia."
Dhia sepertinya malas untuk kembali bertanya. Ia langsung naik kelantai atas.
"Waduuuh ... Mbak Dhia pasti ngambek karena cemburu ini."
"Emmm ... Mas Gio, mau minum apa? biar Wiwik buatin, spesial khusus untuk Mas Gio. Disini tersedia es sirup, jus buah, kopi, teh ..."
"Teh."sahut Gio cepat.
"Teh?"ulang Wiwik lagi.
"Iya."
"Ya udah, Wiwik ambilin dulu, ya Mas."Wiwik berjalan cepat ke dapur. Dan kembali dengan nampan berisi segelas teh, diatasnya.
"Loh, Mas Gio, mana? apa masih didalam ruang kerja?"gumam Wiwik, sambil berjalan menuju ruang kerja.
"Mas, Gio ... minumnya udah Dateng."seru Wiwik dengan suaranya yang nyaring hingga membuat Gio yang sedang memunggunginya terperanjat. Sebuah USB yang berada ditangan Gio langsung meluncur jatuh ke lantai.
Wiwik buru-buru meletakkan minuman keatas meja, kemudian bergegas ingin mengambil USB tersebut, namun disaat yang sama Gio juga berusaha sedang mengambilnya. Tanpa disengaja tangan keduanya pun, langsung bersentuhan.
Tak bisa dipungkiri, hati Wiwik menjadi berbunga, ia langsung tersenyum salah tingkah.
"Maaf, Wik. Saya nggak sengaja."
"Ndak apa-apa, Mas."Wiwik masih tersenyum menutup mulutnya dengan malu-malu."Minumnya diminum dulu, Mas ... takut keburu dingin."
"Iya, makasih, Wik."
"Ini, Mas."Wiwik mengambil segelas teh yang sempat ia letakkan diatas meja kerja.
Gio langsung meraih, dan segera meminumnya.
"Kalau kurang manis, Mas Gio bisa lihat Wiwik. Siapa tahu jadi makin manis."
Perrssst ....!!
Gio tiba-tiba tersedak mendengar kalimat Wiwik. Air yang hampir sampai ditenggorankan itu, tanpa sengaja menciprat keluar.
"Loh, Mas Gio, kenapa? Enggak usah gerogi, Mas. Orang cuman di depan Wiwik doang, kok, gerogi."Wiwik buru-buru membersihkan kemeja Gio.
"Enggak usah, Wik. Saya bisa, kok."
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like, Vote, dan berikan komentarmu☺️
__ADS_1