Istriku, Dhia

Istriku, Dhia
Tidurlah, Semoga Mimpimu Indah


__ADS_3

"Kak!"seru Tamara yang masuk dengan tiba-tiba.


"Apa?"respon Dirga datar.


"Antarin aku pulang."pinta Tamara setengah merengek.


"Nebeng maksudnya."sambung Tamara sambil cengengesan.


"Nebeng? bukannya kita beda arah?"


"Nope!"Tamara mendudukkan diri didepan meja Dirga."Sekarang sudah searah."


Dirga menatap bingung.


"Iya, kak. Sekarang aku tinggal di apartemen Sendrapati Penthouse. Lantai sembilan belas."Tamara tersenyum menunjukkan deretan giginya yang putih bersih.


"Sejak kapan? Kok aku nggak tahu?"


"Sejak hari ini."


Dirga menghela nafas pelan."Mobil kamu dimana?"


"Masih dipakai buat antar barang-barangku ke, Penthouse."


Dirga menutup laptopnya, memasukkannya kedalam tas kerja, lalu berdiri.


"Ayo."


Tamara tersenyum penuh kemenangan. Ia berjalan cepat mengimbangi langkah Dirga keluar dari ruangan itu.


 __________


Sendrapati Penthouse,


Private lift berhenti dilantai sembilan belas.


"Kakak nggak mampir dulu ke Penthouseku?"


"Buat apa?"tanya Dirga malas.


"Ya mampir bentar aja. Adiknya pindah, kan nggak ada salahnya disambut."


"Lain kali saja."


Tamara mengerucutkan bibirnya kesal seraya keluar dari dalam lift. Sementara pintu private lift perlahan tertutup membawa Dirga menuju lantai terakhir.


Pintu Penthouse terbuka. Dirga menyapukan pandangan ke setiap sudut ruangan yang terlihat sepi. Tak terlihat batang hidung Wiwik. Begitupun Dhia. Ia melangkah menuju kamar utama yang pintunya sedang terbuka. Didalam sana, netranya langsung tertumbuk pada gadis yang memakai midi dress berwarna biru muda, dengan rambut yang digulung keatas, terlihat berdiri diatas kursi hias, seperti memasang sebuah gambar berukuran besar di dinding kamar tersebut.


"Siap."Dhia tersenyum manis, tak menyadari kehadiran Dirga yang sedang berdiri memperhatikannya.


"Eh, tunggu ... kayaknya miring, deh."Dhia berbicara sendiri. Lalu memperhatikan kesisi kiri. Entah karena terlalu memperhatikan posisi gambar, Dhia tak sengaja menginjak ujung kursi yang membuat kakinya terpeleset.


"Hati-hati ...!"seru Dirga sambil berlari dan dengan sigap menangkap tubuh Dhia.


"Ya ampun, aaaa ..."Dhia berteriak. Detik itu, tubuhnya yang oleng langsung terjatuh kedalam pelukan Dirga. Bak dalam drama-drama romantis, keduanya sempat saling pandang karena tertegun.


"Kamu ngapain, sih? Gimana tadi kalau sampai jatuh beneran?"


Suara ketus Dirga membuat Dhia tersadar.


"Lagi masang foto nikah kita, Mas."


Dirga melirik gambar pernikahan dirinya dengan Dhia yang sudah terpasang didinding kamar tersebut. Sepasang pengantin yang saling berpegangan tangan dan tersenyum bahagia, memakai baju yang senada, berwarna biru muda. Terbingkai indah didalam sana.


Dirga berdesis."Kamunya jelek begitu, ngapain dipasang, sih?"


Dhia mencebikkan bibir."Enak aja. Aku cantik, tau. Kalau, nggak ... kamu mana mungkin mau nikah sama aku, Mas."


"Iya, kan?"Dhia mengedip-kedipkan matanya."Lihat aja, sekarang kamu betah banget gendong aku. Emang aku nggak berat, Mas?"


"Berat."cetus Dirga dan langsung menurun kan Dhia agar berdiri.


"Tunggu, Mas."cegat Dhia saat Dirga hendak pergi.


"Apa?"


"Tolong bantu benerin fotonya dulu. Kayaknya masih miring."


Dirga melangkah malas. Tangannya terulur ke atas untuk segera memperbaiki posisi bingkai.


"Enggak manjat kursi, Mas?"


"Enggak perlu. Memangnya aku pendek, kayak kamu?"


Dhia meringis."Aku baru nyadar, ternyata kamu tinggi, Mas."


"Enggak usah banyak cerita, Dhia ... ini sudah pas belum?"


"Ke kiri dikit, Mas."


"Begini?"


"Oke, pas."Dhia tersenyum.


Dirga kembali memperhatikan gambar tersebut hingga beberapa detik.

__ADS_1


"Bagus, kan, Mas?"tanya Dhia setengah berbisik.


"Emm."Dirga mengangguk tanpa sadar.


"Ah, akhirnya kamu mengakui."Dhia tersenyum.


"Fotoku, yang bagus. Bukan kamu."Dirga meninggalkan Dhia berjalan menuju kamar mandi.


"Ya Allah, sekali-kali puji aku, dong, Mas. Jahat banget sama istri."


Suara Dhia saat itu masih didengar oleh Dirga. Pria itu berjalan seraya tersenyum tipis, sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu kamar mandi.


Dirga dan Dhia menyantap makan malam bersama. Bertepatan saat itu, muncul kehadiran Tamara. Gadis itu memakai pakaian kimono tidur berbahan satin berwarna hitam. Terlihat seksi, berjalan menghampiri Dirga dan Dhia.


"Loh, loh ... Mbak Tamara disini?"Wiwik terlihat bingung melihat Tamara datang dengan penampilan yang menurutnya tak biasa. Begitupun Dhia, gadis itu langsung hilang nafsu makannya.


"Iya, Wik. Maaf mengganggu makan malam kalian."


"Ada apa?"Dirga masih melanjutkan makannya, saat tadi sempat menoleh pada Tamara yang berdiri.


"Lampu kamar di penthouseku, mati, kak. Aku takut. Bisa tolong benerin, nggak?"Tamara berbicara dengan suara yang terdengar manja.


Penthouse? Jadi dia sekarang tinggal di Apartemen ini juga? bathin Dhia.


"Oh, jadi Mbak Tamara sudah tinggal diunit Apartemen ini juga? Sejak kapan, Mbak? Kok Wiwik nggak pernah lihat?"


"Iya, Wik. Baru hari ini."


"Kenapa nggak telpon petugas listrik?"tanya Dirga seraya mengusap mulutnya dengan tisu.


"Petugas listriknya kan, cowok, kak. Kalau mereka macam-macam gimana? Aku takut."


Dirga hening sesaat."Ya sudah, sebentar lagi aku turun."


"Aku tunggu, kak."Tamara tersenyum seraya berbalik dan keluar dari Penthouse milik Dirga.


"Mas, aku ikut, ya?"Dhia membuka suara.


"Buat apa? Mau benerin lampu?"Dirga melihat Dhia.


"Boleh. Aku bisa, kok, Mas."


Dirga berdesis."Bisa ngerepotin doang kamu. Masang foto aja jatuh. Sok-sok'an mau masang lampu."


Dhia meringis."Boleh, ya, Mas. Aku ikut, ya?"


"Siapin dulu makannya."


Tamara beranjak ketika mendengar pintu Penthouse memiliknya berbunyi. Ia bergegas membuka, seketika senyum yang sempat menghiasi bibirnya langsung memudar. Melihat kehadiran Dirga yang datang bersama Dhia.


"Lampu mana yang mati?"tanya Dirga sambil melangkah membawa sebuah kotak berukuran sedang ditangannya.


"Kamar, kak."


Dirga langsung masuk kedalam kamar.


Dhia ingin melangkah menyusul Dirga, namun saat itu ia tersentak saat tiba-tiba saja Tamara menarik lengannya.


"Sini kamu."


Dhia memandang Tamara.


"Istri sementara nggak perlu bersikap seperti istri yang sesungguhnya."


"Maksud kamu apa?"Dhia menatap sinis."Pernikahan kami sah, dimata hukum dan agama. Dan pernikahan kami juga tidak memiliki perjanjian apapun."


"Lantas apa alasan kamu mengatakan kalau aku ini istri sementara?"


Tamara tersenyum mengejek."Dhia, Dhia ... you are so stupid!"


"Kamu tahu sendiri, kan, kalau kak Dirga menikahimu hanya untuk balas dendam? Itu artinya, setelah dendamnya terbalaskan, dia akan meninggalkanmu."


"Mencampakkanmu jauh-jauh. Ckckck"Tamara berdecak pelan."Kasihan ..."


"Aku tidak peduli dia menikahiku atas dendam apa. Tapi yang pasti saat ini pria yang ada didalam sana,"Dhia menoleh kearah pintu kamar yang terbuka."Dia adalah suamiku."


"Dan aku akan membuatnya jatuh cinta kepadaku, hingga dia lupa atas segala dendamnya, dan tidak ingin pergi dariku."


"Kak Dirga tidak akan pernah mencintaimu."


"Kamu salah, dia sudah mencintaiku."Dhia menjawab santai.


"Will never!"(Tidak akan pernah!"sahut Tamara cepat. Sorot matanya mengisyaratkan ketakutan.


"Tapi dia sudah menciumku. Kami juga tidur bersama, dan ..."Dhia menggantung kalimatnya seraya memasang wajah malu-malu."Aku rasa, kamu sudah bisa membayangkan."


"Bagaimana jika seorang pria dan wanita berada didalam satu kamar yang sama. Apalagi, sekarang musim hujan."


"Ah, sudahlah ... aku tidak perlu menjelaskan semuanya sama kamu, kan? Aku malu."Dhia tersenyum puas berhasil membuat Tamara bungkam.


"Aku tidak semudah itu percaya kata-katamu."


"What ever."sahut Dhia cepat."Terserah kamu mau percaya atau enggak."


"Kalian ngapain? Tolong satu orang kemari!"seru Dirga dari dalam kamar.

__ADS_1


Kedua wanita itu langsung menoleh dan buru-buru masuk kedalam kamar.


"Mas perlu apa?"


"Kakak perlu apa?"


Tanya Dhia dan Tamara bersamaan.


Dirga yang mendengar itu jadi hening. Ia memandang Dhia dan Tamara bergantian.


"Ambilkan lampu itu."Dirga menunjuk kotak kecil yang ada diatas tempat tidur.


Sekali lagi, kedua gadis itu kembali kompak. Dengan gerakan cepat keduanya bersama-sama meraih kotak tersebut. Kala itu, Tamara langsung merebutnya, dari genggaman Dhia, dan memberi kotak itu pada Dirga.


'Ini, kak."


"Lampunya sudah hidup. Kalau mati lagi, kabari aku. Biar aku yang langsung telpon petugas listrik."


Tamara mengangguk pelan.


"Sayang, ayo pulang."Dhia memeluk lengan kanan Dirga hingga sempat membuat pria itu terkesiap. Apalagi mendengar kata sayang yang terlontar dengan suara manja gadis itu, seketika membuat Dirga tak kuasa menolak.


"Aku ngantuk."


"Iya, kita pulang sekarang."Dirga menjawab pelan.


Dhia tersenyum puas, seraya menjulurkan lidahnya kearah Tamara. Saat ini, gadis itu terlihat menyimpan kekesalan yang mendalam kepadanya. Sementara Dhia, ia semakin mengeratkan pelukannya dilengan kokoh Dirga. Berjalan keluar menuju private lift.


"Dasar, perempuan genit!"umpat Tamara ketika pintu Penthouse sudah tertutup. Ia membuka pintu kamar utama, lalu menutupnya dengan keras. Sarat akan hatinya yang penuh kesakitan.


"Ini, kenapa ini?"Dirga melirik tangan Dhia yang belum terlepas, dan masih bergelayutan manja di lengannya meski sudah berada didalam lift.


Dhia meringis."Nggak apa-apa, dong, Mas. Kamu tahu nggak, rasanya nyamaaaan ... banget kalau meluk lengan kamu kayak gini."


"Apa lagi kalau meluk kamu."pungkas Dhia.


"Enggak usah mimpi kamu."


Dhia mengerucutkan bibirnya seraya melepaskan tangannya dari lengan Dirga.


"Pelit banget, sih. Cuma meluk doang nggak boleh."Dhia melipat kedua tangannya didepan dada. Wajahnya tertekuk.


Keduanya sampai dilantai dua puluh. Dhia langsung masuk kedalam kamar meninggalkan Dirga yang beberapa langkah tertinggal dibelakangnya. Ia langsung membaringkan diri, menyambar selimut berwarna biru dongker itu, lalu menutupi hampir seluruh tubuhnya. Saat ini ia begitu kesal. Entah karena mengingat perkataan Tamara, atau karena Dirga yang selalu menjawabnya dengan ketus. Rasa itu beradu, membuatnya lebih memilih untuk tidur, berusaha meredakan hati yang berkecamuk.


"Siapa yang suruh kamu tidur?"Dirga menarik selimut yang membungkus tubuh Dhia."Kamu nggak boleh tidur sebelum aku tidur."


Dhia tak bergerak dan memilih untuk tetap menutup mata.


"Kamu lupa aku sama tugas yang aku suruh? Kamu itu harus mijitin kepalaku setiap aku mau tidur."


"Enggak usah mimpi, kamu, Mas"sahut Dhia cepat.


Dirga terbelalak."Itu kan, kata-kataku."


Dhia hening, sama sekali tak ingin menjawab.


"Kamu kenapa? Kamu marah sama aku?"Dirga mendudukkan diri diatas tempat tidur.


Dhia masih hening.


"Oke, aku minta maaf."ujar Dirga pelan.


Dhia berbalik dan memandang Dirga."Sini kalau mau dipijatin. Sebelum aku berubah fikiran."


Dirga tersenyum tipis."Gitu, dong." ia berbaring disebelah Dhia dan memejamkan mata.


"Mas."Panggil Dhia pelan.


"Hemm"


"Tamara ... apa dia manja kepadamu?"


Dirga membuka mata dan menoleh pada Dhia."Kenapa tanya begitu?"


"Tidak apa, tidurlah ..."Dhia mengurungkan niat untuk kembali bertanya.


"Dia memang manja kepadaku. Mungkin karena dia tidak pernah memiliki seorang kakak laki-laki."jelas Dirga akhirnya.


"Sejak kapan dia jadi adik angkat kamu?"


"Sejak kecil."Dirga nyalang memandang langit-langit kamar."Orang tuanya mengangkat ku sebagai anak, sejak itu juga aku menganggap Tamara seperti adik kandungku sendiri. Dia juga menjadi teman yang bisa menghiburku, sejak aku kehilangan segalanya."


"Dia cuma adik angkat kamu, Mas. Bukan adik kandung. Jangan terlalu dekat, ya ..."ujar Dhia setengah bergumam sambil memejamkan mata.


"Aku nggak mau dia dekat-dekat. Aku nggak mau kehilangan kamu. Aku sayang sama kamu ..."Suara Dhia terdengar semakin pelan dan tidak jelas, jemarinya yang sedang memijit pun, berhenti dan terkulai lemas.


Saat itu Dirga langsung menoleh. Ia tersenyum tipis memandang Dhia yang sudah tertidur.


Dert, dert,


Suara notifikasi pada ponselnya membuat Dirga beralih, lalu membukanya. Sejenak ia hening, kemudian jemarinya bergerak membalas pesan tersebut. Ia menghela nafas berat, lalu kemudian berbalik memandang Dhia yang sedang tertidur.


"Tidurlah, semoga mimpimu indah."bisik Dirga pelan.


kemudian tangannya terulur memeluk erat pinggang ramping gadis itu. Turut memejamkan mata agar segera terlelap.

__ADS_1


__ADS_2