Istriku, Dhia

Istriku, Dhia
Aku Sudah Tahu


__ADS_3

Suara mesin, denting, dan pukulan-pukulan dari alat pekerja bangunan, cukup nyaring hingga memenuhi ruangan kantin. Bangunan yang sudah berdiri, namun belum rampung itu, sepertinya akan dibangun sebuah rumah sakit besar.


Seorang wanita yang sedang menyiapkan sepiring makanan, seperti lupa dengan seorang pekerja yang baru saja memesan makanan kepadanya, karena gosip hangat yang menyebar dikampung, Arenan. Bibir wanita itu sesekali terlihat mencibir dengan wajah antusias bercerita ke pada Yuk Dawiyah, yang juga salah satu pekerja di kantin itu.


"Sudah hamil lima bulan." kata wanita yang kerap disapa Buk Surkiyah itu sambil mengangkat lima jarinya.


"Tapi aku nggak percaya, Buk ... setau saya, si Reyhan anaknya nggak begitu." kata Yuk Dawiyah."Lagian Buk Laila pernah cerita, kalau perempuan itu sudah punya suami. Cuma dia kabur dari rumah."


"Jadi waktu dijalan, kebetulan si Reyhan itu pulang dari Jakarta, nggak sengaja ketemu sama perempuan itu, yang katanya pingsan di jalan."


"Jadi sama si Reyhan dibawa kerumah."terang Yuk Dawiyah lagi.


"Moso' sih? aku kok ora percoyo, yo? bisa aja kan, itu alesannya Buk Laila. Mau nutupin aib anaknya."


"Huss ... kamu itu kalau ngomong sembarangan!"Buk Dawiyah mengibaskan tangannya didepan wajah Buk Surkiyah.


"Saya sih, percaya sama Buk Laila ... soalnya kalau itu memang anaknya Reyhan, pasti mereka udah nikah lama. Enggak perlu nunggu perut perempuan itu besar."


"Dengar-dengar perempuannya juga nggak mau nikah sama si Reyhan, kok. Siapa, sih? nama perempuannya? lali aku."


Tanya Yuk Dawiyah.


"Dhia, kalau nggak salah."


"Buk, mana nasi, saya?" tanya salah seorang pekerja yang tadi memesan nasi."Udah laper, nih."


"Oalah ... aku lali." Buk Surkiyah buru-buru menyiapkan pesanan orang itu.


"Kamu sih, kebanyakan gosip dari tadi. Jadi lupa kan, kalau ada orang yang pesan makanan."


Buk Surkiyah cengengesan.


Sementara, seseorang yang dari tadi duduk didekat mereka, bahkan sempat menajamkan telinga, terlihat berdiri menghampiri Buk Surkiyah dan Yuk Dawiyah.


"Maaf, Buk ... kalau boleh tahu, rumah Buk Laila itu dimana, ya? soalnya saya ada urusan." tanya pria itu.


______


"Pak! Pak Dirga."Doddy berjalan terburu-buru, menghampiri Dirga dilapangan.


"Ada apa?" Dirga sedikit nyengir, karena pancaran matahari yang menyilaukan pandangannya.


"Saya ada kabar tentang Mbak Dhia, Pak. Mbak Dhia berada dikampung ini." jelas Doddy dengan yakin."Barusan saya tahu dari ibu-ibu kantin."


"Mereka bilang, Mbak Dhia tinggal dirumah ibu-ibu ... namanya Buk Laila. Tadi saya juga sempat dengar, kal ..."


"Kamu tahu rumahnya?"


Dirga langsung memotong kalimat Doddy.


"Tahu, Pak."


"Antar saya kesana."


Dirga buru-buru berjalan meninggalkan lapangan.


"Pak, Pak, Pak!" cegah Doddy tiba-tiba.


"Apa lagi?"

__ADS_1


"Helm dilepas dulu. Masa iya, mau nemuin Mbak Dhia pakai helm kerja segala."


Dirga langsung melepas helm, memberikannya pada Doddy. Seraya mengusap keringat yang membasahi pelipisnya.


Mobil yang dikendarai Dirga dan Doddy, berhenti tepat dihalaman sebuah minimarket.


Dirga keluar dari dalam mobil. Ia bisa mengingat tempat ini. Tempat yang pernah ia singgahi ketika membeli sebotol minuman sekitar seminggu yang lalu.


Sesaat menyapukan pandangan, netranya tertuju pada wanita paruh baya, yang sedang memperhatikannya dari dalam toko. Dirga bergegas masuk, dan bertanya. Disusul oleh Doddy yang mengekorinya dari belakang.


"Apa benar ini dengan Buk Laila?" Dirga bertanya dengan sopan.


"Iya, benar."


Buk Laila tersenyum tipis. Ia bisa mengingat pria tinggi yang beberapa waktu lalu pernah membeli minuman di tokonya. Namun kali ini, Buk Laila menduga, bahwa pria ini kembali bukan untuk membeli. Melainkan untuk sesuatu yang penting.


"Ada yang bisa saya, bantu, nak?"


"Saya ingin, mencari wanita yang bernama, Dhia."


Kata Dirga. Ia dapat melihat wajah Buk Laila yang tiba-tiba terkejut.


"Saya dengar dari ibu-ibu dikampung ini, Dhia tinggal disini. Apa itu benar, buk?"


"Kalau benar, saya ingin bertemu dengannya."


Buk Laila menelan ludah gugup.


"Kita bisa ngorol didalam, nak." ajak Buk Laila dengan ramah.


Dirga dan Doddy masuk. Keduanya dipersilahkan duduk pada sofa sederhana.


Dirga juga bisa melihat, rumah yang tidak terlalu mewah itu, terlihat rapi, dan sepi. Sepertinya wanita paruh baya itu hanya sendiri. Terbukti Dirga tak melihat keberadaan orang lain disana. Termasuk Dhia, istrinya.


"Dhia, istri saya, buk. Saya ingin membawanya kembali pulang."


Aku Dirga. Ia bisa melihat wajah Buk Laila yang saat ini berubah pias.


"Maaf, ibu buatin minuman dulu, ya." Buk Laila berdiri. Namun Dirga mencegahnya.


"Tidak perlu, Buk. Kami baru saja minum."


Buk Laila kembali duduk.


"Dhia, sudah pergi sejak dua hari lalu."kata Buk Laila memberitahu.


"Dhia pergi kemana, buk? apa ibu tahu?"


Buk Laila hening sesaat. Tapi kemudian bersuara."Ibu tidak tahu."


Dirga menghela nafas berat. Baru saja ia hampir menemukan Dhia kembali. Tapi saat ini ia harus menelan pil kekecewaan. Karena Dhia kembali pergi.


Malam hari, sepulangnya Reyhan dari bekerja. Buk Laila duduk di kursi sofa, usai keduanya menyantap makan malam.


"Tadi siang ada yang mencari Dhia."


Kata Buk Laila pada Reyhan. Tapi anaknya itu hanya diam. Duduk didepan laptop, dengan mengenakan kaca matanya.


"Ngaku-ngaku jadi suaminya Dhia. Katanya mau ngajakin Dhia pulang ke Jakarta."

__ADS_1


Ujar Buk Laila lagi, tapi anaknya itu masih tetap diam.


"Orang itu juga ngaku jadi pengusaha kontruksi yang bangun rumah sakit Paklek Bram mu, le."


"Aku sudah tahu, buk." kata Reyhan yang sejenak melihat ke arah ibunya.


"Laah ... kamu tahu, toh? kok ndak cerita sama ibu?"


Buk Laila terkejut mendengar penuturan anaknya.


Reyhan tersenyum tipis, seraya menghela nafas pelan."Ibu sangat menyayangi Dhia. Kalau ibu tahu suaminya Dhia ada disini ... ibu pasti kecewa. Karena seperti dugaanku, suaminya Dhia pasti akan membawa Dhia kembali pulang, buk."


"Apa ini juga alasan kamu waktu itu tiba-tiba pingin nikahin Dhia?"


Reyhan mengangguk pelan."Aku nggak mau ibu sedih kalau Dhia pergi, buk."


"Ya ampun, le ..." Buk Laila menatap anaknya sendu."Ibu nggak apa-apa, nak ... buktinya, kamu liat, sekarang."


"Ibu nggak apa-apa, kan, walaupun nggak ada Dhia?!"


Reyhan tersenyum tipis memandang ibunya. Ia tahu ibunya itu sedang berbohong. Sejak kepergian Dhia, wanita paruh baya itu terlihat murung. Seperti ada yang hilang. Reyhan tahu, ibunya itu begitu sangat menyayangi Dhia, menganggap Dhia sudah seperti anak kandungnya sendiri.


"Jadi alasan kamu pingin nikahin Dhia karena ibu?"


Reyhan hening.


"Apa itu artinya sebenarnya kamu nggak cinta sama Dhia?"


Reyhan masih hening. Tapi kemudian kembali bersuara.


"Alasan pertama mungkin itu, buk."


"Alasan kedua?" Buk Laila bertanya. Karena Reyhan tak berniat melanjutkan kalimat.


"Kamu cinta sama Dhia?" buk Laila terus bertanya. Mencoba mengulik perasaan anaknya.


Reyhan menelan ludah."Awalnya aku fikir, aku cinta, buk ... tapi setelah aku selami, ternyata itu bukan cinta."


"Melainkan rasa kasihan."


Buk Laila menghela nafas pelan.


"Ibu tadi cerita sama pria itu, tentang keberadaan Dhia?"


Buk Laila menggeleng."Enggak, nak ... ibu tadi bilang nggak tahu."


Suasana sesaat hening.


"Kenapa nggak dikasih tahu aja, le?"


Reyhan menggeleng.


"Kenapa? ibu lihat laki-laki itu baik."


"Biar dia cari sendiri, buk. Pria itu harus sedikit diberi pelajaran karena pernah menyia-nyiakan Dhia."


"Jadi itu artinya kamu setuju kalau Dhia bakalan di ajak lagi, pulang ke Jakarta bareng suaminya?"


Reyhan mengangguk pelan.

__ADS_1


"Mbok Asih sudah cerita sesuatu sama aku, buk. Tapi ke, Dhia, belum." kata Reyhan tiba-tiba.


"Soal apa, nak?."


__ADS_2