Istriku, Dhia

Istriku, Dhia
Menginap dirumah Mama


__ADS_3

Dari dalam perjalanan, hingga sesampainya di Penthouse, jerit tuduhan dan wajah wanita paruh baya itu masih terekam jelas di benak Dhia. Dan yang ia tak habis pikir, mengapa Dirga membohonginya?


Mama Arini?


Kenapa Mas Dirga berbohong, mengatakan Mamanya sudah meninggal? Kenapa dia tega berkata seperti itu?


Kenapa dia membohongi aku, dan seluruh keluargaku?


Apa ini ada hubungannya dengan dendam itu?


Dan Papa?


Bathin Dhia terus dihantui pertanyaan. Ia menelan ludah yang terasa getir. Tangannya tanpa sadar meremas bantal kuat-kuat. Rasanya ia takut menerima kenyataan jika dirinya adalah darah daging seorang pembunuh.


"Tidak, Papa tidak mungkin pembunuh."Dhia bergeleng berulangkali."Wanita itu pasti salah. Jiwanya bermasalah, lagipula perawat jiwa itu mengatakan kalau wanita itu memang selalu berteriak seperti itu."


Gumam Dhia pelan, lalu menghela nafas panjang.


"Iya, wanita itu pasti hanya asal bicara."


"Mbak Dhia ... Mbak Dhia ...."


Suara pintu kamar diketuk. Dan sudah bisa dipastikan suara cempreng itu adalah milik Wiwik.


"Masuk, Wik."


"Ini, jus jeruknya."Wiwik memberikan jus segar itu pada Dhia.


"Makasih, Wik."Dhia meneguknya hingga habis separuh gelas.


"Iya, Mbak."Wiwik memperhatikan wajah Dhia."Mbak Dhia kenapa? sakit, ya? kok mukanya kayak loyo gitu."


"Enggak, Wik."


"Emmm ... ini pasti muka-muka menahan beban rindu, ini."sambung Wiwik sok tahu."Sabar, Mbak Dhia. Besok juga Mas Dirga udah pulang, kok."


Dhia tersenyum tipis.


"Mbak Dhia malam ini mau makan apa? Biar Wiwik masakin."


Dhia hening sesaat.


"Kayaknya kamu nggak usah masak Wik. Soalnya malam ini aku mau nginap dirumah rumah Mama. Kamu nggak apa-apa kan, kalau aku tinggal sendiri?"


"Atau kamu ikut aja. Mau nggak?"


"Enggak, lah, Mbak Dhia. Kalau Wiwik ikut yang jaga Penthouse siapa? Kalau Mas Dirga tahu, bisa di mutasi ke kutub utara, Wiwik, Mbak."


Dhia terkekeh pelan.


"Ya udah, kayaknya aku pergi sekarang aja deh, Wik. Takut keburu malam."


"Mbak Dhia mau naik apa? Tak telponkan Mas Doddy, ya? biar Mbak Dhia dianter sama dia aja."


"Enggak usah, Wik. Tadi aku udah pesan ojek online, kok. Barusan nge-chat, katanya udah nunggu dibawah."


"Oh gitu. Hati-hati, ya, Mbak."


"Dengan, Mbak Dhia Chantika Ayu?"tanya pria muda yang mengenakan jacket berwarna hijau itu.


"Iya, Mas."


Pria itu langsung memberikan helm, pada Dhia. Langsung saja Dhia menerima dan memakainya."Alamat yang dituju sesuai aplikasi, kan, Mbak?"


"Iya, Mas."Dhia naik keatas sepeda motor. Namun didalam perjalanan, tiba-tiba saja motor itu berhenti tepat di depan indomerot.


"Kenapa, Mas? Kok berhenti?"


"Nggak tahu, Mbak. Kayaknya mogok, deh. Saya cek dulu, ya, Mbak?"


"Ya udah."


Dhia menghela nafas berat.


Beberapa saat setelah meneliti biang kerusakan, namun motor itu tak kunjung hidup. Terdengar ditelinga Dhia pria itu berdecak.


"Nggak bisa, ya, Mas?"


"Maaf Mbak. Sepertinya Mbak harus cari ojek lain, deh, Mbak. Motor saya nggak bisa hidup. Maaf, ya, Mbak."ujar pria itu.


Dhia menghela nafas kecewa."Ya sudah kalau begitu."


"Sekali lagi maaf, ya, Mbak."


Dhia mengangguk pelan. Tenggorokannya tiba-tiba kering. Sepertinya jus yang beberapa saat lalu ia minum sebelum pergi, menyisakan rasa yang membuatnya haus. Netranya tertuju pada toko indomerot di seberang jalan. Langsung saja ia melangkah, dan masuk kedalam. Mengambil satu botol air mineral, dan kembali keluar setelah membayarnya.


"Dhia."


Dhia hampir tersedak ketika ingin menelan minuman, saat suara bass seseorang memanggilnya. Ia melihat seorang pria berkaos hitam dan mengenakan topi berjalan menghampirinya.

__ADS_1


"Dhanu. Kamu disini?"


"Iya, kebetulan mau beli minuman juga. Kamu sendirian?"


Dhia mengangguk.


"Mau kemana?"


"Ke rumah Mama?"


"Oh."Dhanu tersenyum tipis."Naik apa?"


"Tadi naik ojek. Tapi ojeknya mogok. Rencana mau minta jemput Inka."Dhia menjawab sekenanya.


Rasa canggung menyambangi keduanya. Persahabatan yang cukup lama terjalin sekarang seperti memberi jarak. Berbeda dengan saat dulu, sebelum Dhanu mengutarakan perasaannya pada Dhia.


"Sama aku aja."


Dhia ingin berbicara tapi Dhanu langsung memotongnya.


"J-jangan salah paham. Aku kebetulan memang mau ke rumah Mama kamu."


Dahi Dhia berkerut."Ngapain?"


"Mau antar jacket Inka."


"Jacket Inka? Kok bisa dikamu?"


"Iya, dua hari lalu kami sempat touring. Bareng anak-anak jurusan teknik lainnya. Enggak sengaja jakcket Inka ketinggalan di box motorku."


"Oh, gitu. Ya udah."sahut Dhia.


"Sebentar. Aku kedalam dulu."


Dhia mengangguk pelan. Kemudian duduk pada sebuah kursi panjang didepan indomerot sembari menunggu Dhanu. Tak butuh waktu lama, Dhanu pun, keluar dengan sebotol air mineral ditangannya.


"Ayo, Dhi."


Dhia langsung berdiri, dan masuk kedalam mobil putih milik Dhanu.


"Tumben naik mobil?"Dhia tersenyum tipis.


"Iya, lagi malas naik motor."Dhanu terkekeh pelan seraya memutar kontak.


"Tumben kamu akur sama Inka. Biasanya berantem mulu kalau ketemu, kayak kucing sama tikus."Dhia tertawa renyah.


"Dia memang galak, ngeselin, mulutnya juga kalau ngomong nggak bisa nge-rem. Tapi sebenarnya orangnya seru. Kebetulan kemarin bingung mau ngapain, pas dia ngajak touring, ya ... aku mau aja."


"Bandung."sahut Dhanu sambil mengemudikan mobilnya.


"Seru banget pasti."


"Lumayanlah ... dari pada dirumah. Gabut."Dhanu terkekeh pelan."Oh, iya, Dhi ..."


Dhia menoleh.


"Kemarin aku titip sesuatu sama Dini. Dia udah kasih ke kamu belum?"


"Sudah."


"Kamu suka sepatunya?"


Sepatu? Jadi Dhanu ngasih aku sepatu?


"S-suka."ujar Dhia berbohong. Karena sejujurnya ia belum membuka isi kotak pemberian pria itu.


"Syukurlah."Dhanu tersenyum lega.


"Kenapa kamu kasih aku sepatu?"


"Kamu jangan salah paham. Aku kasih itu sebenarnya untuk kenangan saja. Karena kita sudah bersahabat selama ini. Ya ... terlepas perselisihan yang sempat terjadi diantara kita. Aku minta maaf."


"Dua hari lagi, kita wisuda. Aku harap kamu mau memakainya."


Dhia tersenyum tipis tak berniat menjawab.


"Kalau tidak suka, aku tidak memaksa. Mungkin suamimu sudah membelikanmu sepatu?"ujar Dhanu menebak. Lalu terkekeh pelan sambil menatap kedepan.


Beberapa saat didalam perjalanan, keduanya tiba didepan rumah besar berwarna putih. Rossa yang kebetulan berada diluar sembari memberi makan ikan, menatap penasaran pada mobil CR-V putih yang berhenti di pelataran rumah.


Ia langsung tersenyum ketika melihat Dhia keluar dari mobil itu, berubah heran saat melihat seorang pria yang datang bersama Dhia. Bukannya Dirga, menantunya. Melainkan Dhanu.


"Dhia ... kok, kamu ...."


Dhia mengambil tangan kanan Rossa dan menciumnya takzim.


"Mas Dirga ke Singapura, Ma. Ada urusan pekerjaan. Aku pingin nginap disini satu malam. Boleh, kan, Ma?"


"Boleh, dong, sayang. Tapi kenapa kamu bisa sama Dhanu?"

__ADS_1


Dhanu langsung tersenyum seraya menyalami Rossa."Selamat sore, Tante."


"Sore."sahut Rossa ramah.


"Iya, tante. Tadi kami nggak sengaja ketemu waktu beli minuman. Kebetulan aku mau antar jacket Inka yang ketinggalan waktu touring kemarin, tante."


"Jadi sekalian aku ajak Dhia."terang Dhanu.


"Oh, gitu."


"Ini jakcketnya, Tante."Dhanu memberinya pada Rossa."Tolong berikan sama Inka. Saya pulang dulu."


"Loh, nggak mampir dulu, Nu? Buru-buru banget."tanya Rossa.


"Nggak Tante. Soalnya udah sore."


"Ya sudah, kamu hati-hati, ya."


"Iya, Tante. Saya permisi."


"Makasih, Nu."ujar Dhia.


Dhanu tersenyum tipis lalu melangkah menuju mobil.


"Hei, Danau. Udah mau pulang aja, lu. Nggak nunggu gua usir?"celetuk Inka yang tiba-tiba keluar didepan pintu.


Dhanu mencebikkan bibir pada Inka, sebelum akhirnya masuk kedalam mobil.


"Ahahaha."Inka tertawa melihatnya.


"Inka, nggak boleh begitu.!"Rossa menajamkan mata.


"Cuma becanda, Ma."


"Iya, tetap aja nggak sopan. Ini jacket kamu."Rossa menyodorkan jacket kulit berwarna hitam tersebut pada Inka."Kok bisa sampai ketinggalan, sih? ceroboh banget jadi anak gadis."


"Ini kepala kamu kalau nggak nempel, juga pasti lupa dibawa pulang."Rossa ngedumel pada anak bungsunya itu.


Inka memanyunkan bibirnya sembari meraih jacket kulit itu.


"Mbak mau nginap disini? Pasti lagi berantem, ya?"Inka melempar tatapan menyelidik.


"Sok tahu kamu."Dhia menoyor kepala Inka.


"Sakit, Mbak."Dhia mengusap jidatnya."Terus Mas Dirga mana?"


"Keluar negeri. Ada urusan pekerjaan."sahut Dhia malas.


"Papa mana, Ma? Masih kerja?"tanya Dhia saat semuanya sudah masuk kedalam.


"Iya. Bentar lagi mungkin pulang."


"Mbak, ponakan gue udah otw, belum?"tanya Inka dengan celetukannya.


"Dek, mendingan kamu masuk, gih, ke kamar. Ada-ada aja pertanyaannya."gerutu Dhia kesal.


"Kok ada-ada aja, sih, Mbak?"Inka menyipitkan mata."Jangan bilang kalian tidur terpisah lagi?"


"Apa benar itu, Dhia?"tanya Rossa menimpali.


"Enggak, lah, Ma. Mas Dirga udah nepati janjinya, kok. Kami tidur sekamar. Kalau nggak percaya, Mama tanya Wiwik aja."


"Jadi, udah ada tanda-tanda belum?"tanya Rossa.


"Tanda, tanda ... apa, Ma?"


"Tanda-tanda hamil, dong, Dhia."


Dhia bergeleng. Ah, kenapa jadi di interogasi begini? Rasanya Dhia menyesal sudah datang kemari.


"Tuh, kan, Ma. Didalam kamar mereka perlu kita pasangin cctv, deh, kayaknya ... biar mereka nggak bisa bohong-bohong lagi. Buktinya, Mbak Dhia belum hamil juga."


Dhia terbelalak memandang Inka. Anak ini?


"Inka ... anak kecil tahu apa tentang hamil-hamil. Sana, masuk ke kamar!"Rossa melempar tatapan tajam kembali.


"Baiklah."Inka berbalik dengan langkah lesu.


Dhia mengulum senyum. Merasa puas ketika kompor meletup berhasil dipadamkan.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa berikan like, dan komentarmu☺️


__ADS_2