Istriku, Dhia

Istriku, Dhia
Bunga Duka Cita


__ADS_3

"Mungkin Mbak Dhia udah balik ke Jakarta, Pak. Apa nggak sebaiknya bapak istirahat dulu? Soalnya besok pagi-pagi sekali kita harus balik ke Jakarta, Pak."


Kata Doddy tadi, ketika sepulang dari proyek, Dirga berniat melanjutkan untuk mencari Dhia. Setelah selama dua minggu ini terus mencari, namun tetap tak membuahkan hasil.


"Saya yakin Dhia masih berada di desa ini." suara Dirga terdengar berat.


"Kamu pulang saja dengan Yudi. Aku akan mencari Dhia sendiri."


Kata Dirga kala itu.


Saat ini, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Dirga terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, hingga tak terasa, ia sudah berada di sebuah ujung desa. Atau orang didesa itu, biasa menyebutnya desa pinggir.


Ia menghentikan mobilnya. Membuang nafasnya kasar, seraya menyandarkan kepalanya di kursi kemudi. Tiba-tiba saja ia merasa hampir putus asa. Menghabiskan waktu terus mencari, namun sampai detik ini tetap tak membuahkan hasil.


Netra Dirga hampir terpejam karena merasa lelah. Namun sekilas sorot matanya tertangkap pada wanita memakai dress biru muda. Detik itu, ia pun, langsung menajamkan mata. Memastikan bahwa netranya tak salah melihat.


Jarak mobilnya dengan wanita itu, saat ini, hanya berkisar lima meter saja. Hingga Dirga bisa melihat dengan jelas wajah wanita yang saat ini sedang tersenyum, sembari berjalan membawa buket bunga mawar, lalu berhenti, dan memberikan buket bunga itu, pada seorang wanita paruh baya dipinggir jalan.


Dhia ....


Ada yang menyita pandangannya, wanita itu terlihat lebih berisi, dengan perut yang besar seperti sedang mengandung.


Netranya tiba-tiba memerah karena haru yang membuncah. Ia bergegas ingin keluar dari dalam mobil. Berniat langsung ingin menemui dan memeluk wanita yang saat ini begitu ia rindukan. Namun tangannya yang hendak membuka handle pintu, tiba-tiba saja berhenti.


Dirga tahu, bahwa selama ini Dhia berniat menghindarinya. Kemunculannya yang datang dengan tiba-tiba, bisa saja membuat Dhia akan semakin menghindar.


Sabar, Dirga ... sabar!


Dirga membuang nafas panjang.


Selang kemudian, ia bisa melihat Dhia pergi. Dirga bergegas turun dari dalam mobil, mengekori wanita itu, sambil memakai kacamatanya, yang sempat ia sambar dari atas dashboard.


Pelan Dirga menguntiti. Sesekali ia bersembunyi, pada apapun yang bisa menutupi tubuh jangkung-nya, ketika Dhia menoleh kebelakang.


Sampai pada akhirnya wanita itu berhenti disebuah toko bunga, yang dibelakangnya terdapat rumah kayu sederhana bernuansa putih.


Dirga pun berhenti. Saat ini, ia bersembunyi dibalik pohon mangga berukuran besar, yang tubuh tidak jauh dari pekarangan rumah tersebut. Memperhatikan kearah Dhia yang saat ini sedang berdiri merangkai bunga mawar putih.


"Kamu kenapa, nak? kamu lapar?"


"Gerak-gerak mulu, dari tadi. Mama jadi geli."Dhia terkekeh pelan sambil mengusap perutnya.


Dirga bisa mendengar Dhia, sedang mengajak mengobrol calon anaknya yang masih didalam perut. Dirga tersenyum, tanpa sadar air mata haru menitik disudut matanya.

__ADS_1


"Dhia!"


Seorang wanita berpenampilan unik, memakai baju bermotif bunga-bunga penuh warna, rambut kucir dua, datang dengan suara sedikit berteriak hingga membuat bahu Dhia berjengit karena terkejut.


"Ya ampun, Mala! kamu ngagetin aja, deh ... kebiasaan banget. Kalau aku pingsan gimana?" Dhia menggerutu geram.


Mala cengengesan."Please ... jangan pingsan, Dhia. Soalnya aku bawa makanan."


Mala menyodorkan bungkusan plastik berwarna putih pada Dhia.


Dhia langsung mengambilnya."Tau aja aku lagi lapar."


"Apa, nih?" Dhia membuka plastik itu. Ia bisa melihat beberapa cemilan, dan juga buah didalam sana.


"Strawberry?" netra Dhia berbinar.


"Kamu baik, banget, ciiiiii ..." Dhia langsung mencubit gemas pipi Mala.


Mala memasang wajah malu-malu."Udah, buruan dimakan ... entar anak kamu keburu ngiler. Toko bunga ini biar aku aja yang jaga. Kamu istirahat aja didalam."


"Hmmm .... kamu baik banget, sih." Dhia memasang wajah haru." Ya udah, aku kedalam dulu, ya."


Mala tersenyum sambil bergeleng-geleng memperhatikan Dhia masuk kedalam rumah.


Bunga-bunga harum semerbak di pagi hari. Tetesan embun menambah kesegarannya. Seperti wanita yang saat ini sedang bernyanyi-nyanyi kecil, wajahnya terlihat berseri. Dhia membuka toko bunganya dengan semangat setiap hari.


Sebenarnya, toko bunga itu adalah milik Mbok, Siah. Wanita renta yang pernah ia cari. Dhia berhasil menemukan wanita itu, berkat bantuan Reyhan.


Ternyata, tanpa sepengetahuan Dhia, diam-diam Reyhan mencari wanita itu.


Sebelumnya, sejak hari Dhia menolak menikah dengan Reyhan, Dhia berniat ingin pergi dari kediaman Buk Laila, karena tak ingin kehadirannya justru membuat Buk Laila semakin sulit melepasnya. Buk Laila sempat tak setuju. Tapi setelahnya, wanita paruh baya itu bisa menerima. Dengan syarat, Dhia harus tinggal dirumah yang dipilihkan oleh anaknya, Reyhan.


Siapa sangka, ternyata rumah itu adalah rumah milik Mbok Siah. Wanita renta yang sempat Dhia cari, namun tak ketemu.


"Dhia ... sarapan dulu, nduk." seru Mbok Siah dari dalam rumah, dengan suara khas nenek-nenek.


"Iya, Mbok." sahut Dhia sedikit kuat. Ia ingin berbalik dan berniat hendak masuk, tapi kehadiran Mala yang sudah datang sepagi ini, membuatnya berhenti.


Gadis yang memakai atasan berwarna kuning, dipadu dengan rok tutu berwarna hijau botol itu, lengkap dengan make up menor menghiasi wajahnya, tersenyum pada Dhia.


Dhia mengernyit "Cepat banget datangnya ... tumben."


Mala menyodorkan tote bag dan sebuah kantong plastik berwarna putih pada Dhia.

__ADS_1


"Apa ini?"


"Buka aja." kata Mala dengan gayanya yang centil.


Dhia langsung membuka tote bag tersebut lebih dulu. Meraih sebuah Tupperware berukuran sedang dari dalam sana, lalu membukanya. Ternyata isinya adalah dua buah sandwich.


"Kamu yang buat sendiri?"


Mala mengangguk."Buruan dimakan. Dikantong plastik itu isinya buah."


"Harus dimakan juga ... biar bayi kamu sehat."


Dhia tersenyum haru."Makasih, ya, Mala ... kamu baik banget. Dari kemarin bawain aku makanan terus."


"Lama-lama aku bisa gendut." Dhia terkikik pelan.


"Ya memang harus gitu. Biar body kita sama." Mala sedikit menggoyang-goyangkan tubuhnya, untuk menunjukkan body-nya yang bohay.


Dhia tertawa melihat tingkah Mala.


"Permisi .... selamat pagi."


Seorang lelaki muda berdiri didepan toko bunga itu.


Bola mata Mala seketika berbinar seolah memancarkan emoticon hati. Sepagi ini, toko bunga itu sudah didatangi pembeli nan tampan rupawan. Bak suntikan vitamin untuk mengawali harinya.


"Selamat pagi ..." Mala langsung mendekat.


"Abang ... mau cari bunga apa, Abang?."


Tanya Mala dengan gaya centilnya.


"Kami jual bunga anggrek, bunga mawar, bunga lili ... bunga sedap Mala, juga ada."


"Saya mau cari bunga untuk duka cita, Mbak."


Kata pria itu.


Keesokan harinya masih sama. Mala datang pagi-pagi sambil tetap membawa bekal makanan. Kali ini, sekaligus membawa sepuluh tangkai bunga mawar putih untuk Dhia.


Tak pelak itu membuat Dhia heran dan bertanya-tanya.


"Dari tukang kebun bunga. Dikasih gratis, khusus untuk kamu." begitu kata Mala. Dhia pun, menerimanya.

__ADS_1


Hal serupa masih sama, hingga berlanjut di hari-hari berikutnya.


__ADS_2