
Sendrapati Penthouse
"Kenapa nggak dicari ke rumah Mamanya Mbak Dia aja, Mas? siapa tahu Mbak Dhia pulang kesana."
Kata Wiwik ketika pagi ini Dirga berniat melanjutkan untuk mencari Dhia. Dirga juga sudah mengutus beberapa orang untuk membantunya melakukan pencarian tadi malam, namun rupanya itu tetap tidak membuahkan hasil.
"Dhia tidak mungkin kembali kesana." sahut Dirga pelan.
"Memangnya kalau Wiwik boleh tahu, ada masalah apa, sih, Mas? kok Mbak Dhia sampai pergi, nggak pulang-pulang?."
"Wiwik jadi takut Mbak Dhia kenapa-kenapa. Soalnya kemarin waktu ke kantor Mbak Dhia mukanya masih pucat. Kayaknya Mbak Dhia masih sakit, Mas."
"Wiwik benar-benar khawatir, Mas."kata Wiwik lagi dengan wajah sedih.
Dirga hening. Ia hanya bisa menghela nafas berat. Sarapan yang ada dihadapannya, hanya dibolak-balik. Fikirannya kacau. Satu persatu masalah menghantamnya dalam waktu yang bersamaan.
"Kemarin sore Wiwik telpon, nomor Mbak Dhia masih aktif, Mas. Tapi tadi malam sampai sekarang udah nggak aktif lagi. Mungkin batrenya lowbet kali, ya, Mas?"
Dirga masih tetap hening.
"Aduh, Mbak Dhia .... Mbak Dhia kemana, sih?" Wiwik *******-***** ujung jemarinya karena cemas.
Ditempat lain, seorang wanita dengan wajah pucat, berbaring diatas ranjang mengerjap-ngerjapkan mata sambil memijit kepalanya yang terasa pusing. Cahaya matahari yang menyelusup masuk melalui sela-sela jendela, membuatnya netranya terasa silau. Wanita itu adalah Dhia.
"Aku dimana? kenapa aku bisa ada disini?"
Gumam Dhia pelan. Ia pun berusaha menjernihkan fikiran. Mencoba mengingat-ingat kembali kenapa langkah bisa membawanya ke tempat ini.
"Enggak, Mas Dirga enggak boleh mengambil anakku."Dhia bergeleng-geleng sambil menyusut air mata."Aku nggak mau." ujarnya lagi kala itu, dan langsung berjalan keluar dari dalam gedung Megantara Group sambil terus menangis.
Waktu terus berputar hingga sore datang. Dhia turun dari sebuah taksi yang mengantarkannya disebuah desa kecil. Sebuah desa yang dulu pernah ia pijak ketika masih berumur sepuluh tahun. Rossa pernah membawanya kesini. Menemui wanita paruh baya yang Dhia tidak tahu siapa wanita itu. Wanita tua yang menurut Dhia sangat menyayanginya. Itu dapat Dhia rasakan saat wanita paruh baya itu, memeluknya sambil menangis. Hanya sekali. Sejak saat itu, Dhia tak pernah datang dan melihatnya lagi.
Hari ini, ia ingin kembali menemui wanita paruh baya yang ia panggil Mbok Siah, itu. Meski ingatan tentang wanita itu tinggal abu-abu, namun Dhia tak memiliki pilihan dan tempat lain, selain pergi ke desa ini untuk mencari kembali wanita itu. Meski dengan sisa-sisa ingatan yang tertinggal.
Dhia terus mencari, dan bertanya pada setiap orang yang lewat. Namun setiap ditanya, tak seorangpun yang tahu siapa wanita itu. Wajah Dhia semakin pucat. Karena tadi sejak didalam perjalanan, dia sempat memuntahkan isi perutnya kembali. Meski begitu, ia terus memaksakan kaki untuk terus berjalan. Sampai pada akhirnya ia tak kuasa, dan akhirnya pingsan terjatuh di tanah.
Dhia mengitari pandangan pada ruangan yang ia rasa sangat asing. Sebuah kamar sederhana, namun rapi. Dari balik jendela dengan tirai yang sudah terbuka itu, Dhia bisa melihat kearah luar. Sebuah pemandangan yang tak pernah ia lihat selama dikota. Hamparan kebun hijau yang menyejukkan. Serta kicauan burung yang bernyanyi, dan suara ayam yang bersorak menyambut pagi.
"Kamu sudah bangun, nduk?"suara seorang wanita paruh baya yang masuk kedalam kamar itu membuat Dhia menoleh.
"Ini, saya bawain susu, sama sarapan. Dari tadi malam kamu belum makan apa-apa."kata wanita paruh baya yang bernama Laila itu, dengan senyum ramah, sambil meletakkan nampan berisi sarapan dan susu yang ia bawa, diatas meja yang tersedia didalam kamar itu.
__ADS_1
"Terima kasih, buk ... karena ibu sudah menolongku." kata Dhia pelan.
Buk Laila langsung tersenyum."Bukan ibu yang menolong kamu, nduk ...tapi anak ibu. Namanya Reyhan."
"Kemarin sore dia pulang dari, Jakarta ... kebetulan untuk beberapa bulan kedepan, dia ada tugas untuk bekerja di Puskesmas terdekat didesa ini."
"Katanya kemarin, pas mau pulang nggak sengaja lihat kamu pingsan dijalan."
"Oh." bibir pucat Dhia tertarik tipis.
"Ayo nduk, dimakan dulu sarapannya ... kasihan loh, dedek bayinya didalam pasti lapar juga." kata buk Laila lagi.
Kali ini wajah Dhia kembali sendu. Ia menunduk sambil mengusap pelan perutnya yang masih rata. Maafkan Mama, nak. Kamu pasti ikut sedih saat ini.
"Dari mana ibu tahu saya hamil?" Dhia mengangkat wajah memandang wanita paruh baya itu.
"Kebetulan anak saya, Dokter. Dia yang sudah memeriksa kamu." jelas Buk Laila.
Sebenarnya kemarin sore, Buk Laila sempat terkejut melihat anaknya yang kembali dari Jakarta, turun dari mobil sambil menggendong seorang wanita cantik yang sedang pingsan.
Dan ia semakin terkejut, ketika mengetahui wanita yang terbujur lemah ini, ternyata sedang hamil, usai anaknya Reyhan Aditya memeriksa wanita itu.
"Kamu yakin nggak kenal sama wanita itu, nak?" tanya Buk Laila pada anaknya dengan tatapan menyelidik kala itu. Saat ini, mereka sedang berkumpul diruang tamu, duduk diatas sofa sederhana, bersama buklek Ajeng, dan suaminya.
"Ya ampun, ibu ... buklek, paklek .... aku jujur. Aku nggak kenal sama wanita yang ada didalam kamar itu."aku Reyhan sungguh-sungguh."Lagian, ya .... kalau aku mau nikah, pasti aku bilang."
"Ngapain harus ngumpet-ngumpet?!"
"Aku nggak bohong. Tadi aku memang nggak sengaja ketemu perempuan itu lagi pingsan dijalan. Kan nggak mungkin, kan ... aku tinggalin?"
"Kasihan." sambung Reyhan lagi. Pria manis berkacamata, yang memiliki postur tubuh tidak terlalu tinggi itu.
Buk Laila dan semuanya yang mendengar penjelasan Reyhan sore itu, akhirnya percaya dan bisa bernafas lega.
"Ibu boleh tanya sesuatu?" Buk Laila memandang Dhia dan bertanya dengan hati-hati.
Dhia mengangguk pelan.
"Sepertinya ibu belum pernah lihat kamu dikampung ini. Kamu datang ke kampung ini sendirian ngapain?"
"Suami kamu mana?" Buk Laila memandang Dhia lembut.
Dhia menelan ludah gugup. Ia teringat kembali pada Dirga, seketika bulir bening menitik disudut matanya.
__ADS_1
____________
Di Kediaman Malik Mahendra Hartawiawan
Rossa menangis tersedu-sedu. Tak menyangka rahasia besar bertahun-tahun yang ia tutupi, akhirnya perlahan terkuak kepermukaan. Dhia sudah pergi meninggalkannya. Dan Dirga kini sudah mengetahui kenyataan besar bahwa Dhia bukanlah anak kandung Malik Mahendra Hartawiawan.
"Apa Dhia juga tahu tentang kebenaran Papa kandungnya?"suara Rossa terputus-putus karena menangis.
"Belum, Ma." Dirga bergeleng.
"Mama minta tolong, kalau Dhia kembali, jangan sampai Dhia tahu soal siapa Papa kandungnya. Mama tidak ingin dia semakin membenci Mama."
"Mama minta tolong, Dirga."air mata terus mengalir dipipi wanita paruh baya itu.
Saat ini, Rossa merasa seperti dihadapkan oleh bola panas yang bergulir mengikutinya. Entah sampai kapan dia bisa berlari menghindar. Sementara waktu terus berputar, ia terus dilingkupi bayangan masalalu yang membuatnya, bahkan membenci dirinya sendiri.
Dirga bergeming memperhatikan wajah Rossa yang menyiratkan ketakutan. Dalam hati ia merasa iba.
"Iya, Ma."
"Kalau Mama boleh tahu, dimana dia?"tanya Rossa pelan.
"Pria itu ... Papa kandung Dhia. Dimana dia?"ulang Rossa lagi.
Dirga kembali hening.
"Maaf, Ma ... aku tidak bisa mengatakannya sekarang."
"Mama mengerti."Rossa tersenyum tipis.
"Apapun rencana kamu, Mama doakan semoga semuanya bisa berjalan sempurna."
"Terima kasih, Ma."
"Kalau begitu, aku permisi, dulu."
Dirga berdiri.
"Dirga." panggil Rossa lagi.
"Tolong cari Dhia sampai ketemu. Mama takut dia kenapa-kenapa."kata Rossa dengan pipi yang kembali basah.
"Pasti, Ma .... aku akan terus mencarinya."
__ADS_1