
Pukul sepuluh malam Dirga kembali, ia masuk kedalam kamar. Netranya tertuju pada gadis yang tertidur memakai piama satin berwarna putih tulang. Dirga mendekat merapikan selimut yang melorot dari tubuh Dhia. Sempat sesaat memperhatikan lekat, lalu akhirnya masuk kedalam kamar mandi.
Hampir lima belas menit ditemani guyuran air, Dirga sudah selesai dengan pakaian santai keluar dari ruang ganti.
Sebuah notifikasi pesan menyalakan cahaya dilayar ponselnya. Setelah membacanya, ia pun bergegas keluar kembali dari kamar itu.
Dhia membuka mata. Sepertinya gadis itu hanya pura-pura tertidur. Dirga hanya pulang untuk mandi, lalu pergi lagi. Dhia hanya bisa menghela nafas kecewa.
Ia kembali memejamkan mata, namun terasa sulit. Sampai waktu terus berputar. Dhia tak menyadari pukul berapa ia tertidur. Hingga akhirnya ia membuka mata, kala pagi tiba. Lagi, ia harus menelan getir kekecewaan, saat melihat bantal kosong disebelahnya.
Pria itu tak kembali.
Dhia sudah rapi dalam balutan kebaya berwarna grey yang membalut indah ditubuhnya. Rambutnya saat ini sudah tergelung rapi dibentuk oleh seorang hair stylist yang sempat ia minta untuk datang ke penthous beberapa saat lalu.
Dhia ingin memakai sepatu. Namun berhenti kala mengingat sesuatu yang beberapa hari lalu diberi oleh Dhanu. Sebuah kotak yang katanya berisi sepatu. Ia menuju pada meja yang disana terdapat buku-buku yang tersusun rapi. Bersisian pada kotak yang ia letakkan beberapa hari lalu. Ada satu hal yang menyita perhatiannya. Sebuah kotak berukuran sama, dengan sampul kertas yang sama.
"Kok, ada dua?"
Gumam Dhia seraya mengambil salah satu kotak yang terlampir tulisan diatasnya. Salah satu perbedaan pada kotak yang diberi oleh Dhanu.
"Happy graduation, atas apa yang kamu raih saat ini. Semoga ilmumu bermanfaat, dan berkah dunia akhirat."
"Mama kemarin ingin memberiku sesuatu. Apa ini kiriman dari Mama?"gumam Dhia menebak.
Dhia langsung membukanya. Netranya berbinar ketika melihat isi didalam kotak itu. Sepatu?
"Bagus sekali."Dhia mengambil, lalu mencobanya. Sepatu mewah dan terkesan elegan itu sangat pas di kaki putihnya.
"Mbak Dhia ..."seru Wiwik dari luar.
"Iya, Wik ... masuk."
Wiwik langsung membuka pintu. Wanita itu juga dibalut kebaya yang terlihat elegan.
"Mbak, Dhia ... gimana penampilan Wiwik. Cakep nggak?"Wiwik berputar-putar didepan Dhia hampir keseleo karena sepatu hak tinggi yang ia kenakan.
"Cakep Wik. Tapi emang kamu nggak takut keseleo lagi pakai sepatu setinggi itu?"
"Ya mau gimana lagi, Mbak. Wiwik nggak punya sepatu yang bagus-bagus lagi. Sepatu Wiwik yang paling spektakuler ya cuma ini dong, Mbak."
Dhia meraih kotak yang diberikan oleh Dhanu.
"Coba kamu buka. Ini isinya sepatu. Mungkin cocok untuk kamu."Dhia menyodorkannya pada Wiwik.
Wiwik langsung mengambilnya. Membuka kotak itu dengan antusias.
"Ya ampun, Mbak. Ini cakep, Mbak."
"Cobain, siapa tau pas untuk kamu."ujar Dhia lagi.
__ADS_1
"Dari nomernya sesuai ukuran kaki Wiwik sih, Mbak. Tapi sek, tak coba dulu."
Wiwik langsung membuka sepatu spektakuler yang saat ini ia kenakan. Lalu menggantinya dengan memakai sepatu hak tahu berwarna silver itu.
"Cantik, Wik ... enggak kekecilan, kan?"kata Dhia saat melihat sepatu itu sudah terpasang dikaki Wiwik.
"Enggak, Mbak. Pas banget malah ... tapi Mbak Dhia beneran nyuruh Wiwik pakai ini?"
"Iya, Wik ... kenapa? kamu nggak suka?"
"Ya suka banget, Mbak ... tapi Wiwik jadi nggak enak sama Mbak Dhia. Udah dibeliin baju, dikasih sepatu juga ... Mbak Dhia baik banget sih, sama Wiwik."
"Wiwik jadi terharu, loh, Mbak."
Dhia terkekeh pelan."Udah, ah ... biasa aja, Wik ... aku begini karena sudah tidak menganggap kamu seperti orang lain lagi."
"Makasih, ya, Mbak."Wiwik senyum-senyum."Mbak Dhia cantik banget, sih."
"Kamu juga cantik."Dhia juga tersenyum.
"Oh, iya, Mbak ... Mas Dirga kok nggak kelihatan? belum balik juga?"
Dhia menelan ludah. Mengingat Dirga hanya membuat hatinya kecewa. Saat ini, dirinya sedang bahagia untuk menyambut kelulusannya. Sementara ia ingin mengesampingkan dulu keluh kesah yang bertandang dihatinya. Tetap tersenyum, meski harus berpura-pura bahwa hati sedang baik-baik saja.
"Belum, Wik. Mungkin Tamara saat ini lebih membutuhkannya. Biarkan saja."
Wiwik tak menjawab. Namun ia tahu perasaan Dhia saat ini.
Dhia dan Wiwik sudah berada di lobby. Menunggu taksi online yang sengaja dipesan oleh Dhia sebelumnya. Namun keduanya memandang heran pada Doddy yang sudah menunggu di pelataran gedung berlantai dua puluh itu.
"Neng Wiwik, cakep amat hari ini. Kayak mau ijab qobul aja."kata Doddy sambil senyum-senyum.
"Calon lakinya udah ada belum, neng? kalau belum ... saya siap, menjadi pria beruntung itu."sambung Doddy lagi.
"Sembarangan ... siapa yang mau sama kamu?"kata Wiwik sebal."Lagian siapa yang mau ijab kabul? wong Wiwik mau datang ke acara wisudanya Mbak Dhia, kok."
"Eh, tapi ... memangnya Wiwik beneran cantik, ya, Dod?"Wiwik senyum-senyum sok manis.
"Cakep, neng. Cakep banget malah."Doddy mengacungkan dua jempolnya.
Wiwik tersipu.
"Eh, tapi kamu nggak usah liatin aku terus, kayak gitu. Kalau kamu jatuh cinta, aku nggak bisa tanggung jawab, loh ya ...."celetuk Wiwik.
"Bisa aja neng Wiwik."Doddy masih senyum-senyum."Kalau saya jatuh cinta, kamu harus tanggung jawab, dong, neng ... kan gara-gara kamu. Sapa suruh cakep."
"Sembarangan ..."Wiwik melebarkan mata."Ogah Wiwik sama kamu. Hati Wiwik udah terikat untuk satu orang. Cuma untuk Mas Gio seorang."
Dhia mengulum senyum mendengar Wiwik.
"Memangnya Mas Gio mau sama kamu?"tanya Doddy."Secara kan, Mas Gio ganteng."
__ADS_1
"Terus aku jelek, begitu maksud kamu?"serobot Wiwik kesal.
"Enggak tahu kalau menurut Mas Gio. Kalau menurut saya, kamu sih .... cantik Wik."
"Nah ... itu kamu tahu aku cantik, Mas Gio ganteng. Cocok dong, berarti?"kata Wiwik yakin.
"Tapi kamu cantik itu, kan, kata saya, Wik ... Mas Gio kan, belum tentu."
"Halaaah ... ribet amat sih, kamu. Bilang aja kamu itu cemburu, karena aku lebih milih Mas Gio."ujar Wiwik lagi."Ayo Mbak Dhia ..."
Dhia dan Wiwik ingin melangkah, namun Doddy buru-buru mencegah.
"Et ...et, et ...."Doddy membentangkan kedua tangannya.
"Apa lagi, sih, Doddy ...?!"tanya Wiwik gemas, setengah menggeram."Kan saya udah bilang. Hati Wiwik cuma untuk Mas Gio seorang. Masi aja dihalangin."
"Percuma, kamu ngalangin saya. Hati Wiwik nggak akan berubah untuk Mas Gio. Wiwik itu, setia orangnya ..."
"Maaf, neng, Wiwik ... tapi saya mau ngomong sama Mbak Dhia."kata Doddy.
"Oh, gitu."Wiwik berpura-pura santai menutupi wajah malunya karena terlalu pede.
"Kenapa, Dod?"tanya Dhia.
"Mbak Dhia ... saya dapat amanah dari Pak Dirga untuk mengantar kalian. Silahkan masuk, Mbak Dhia ...."Doddy membuka pintu mobil dan mempersilahkan Dhia masuk.
"Bilang sama Bos kamu, tidak perlu. Soalnya saya sudah pesan taksi online."ujar Dhia datar.
"Maaf, Mbak ... tapi ini perintah Pak Dirga. Katanya nggak boleh di bantah."
Dhia membuang nafas kasar.
"Udah, Mbak ... nggak apa-apa ... masuk aja. Soalnya taksinya juga belum datang. Takutnya nanti malah ketinggalan."kata Wiwik.
Dhia akhirnya masuk kedalam mobil hitam metalik itu. Disusul oleh Wiwik yang juga ingin masuk ke kursi belakang.
"Et ... et, et ...."Doddy menghalangi Wiwik."Ini kursi khusus istri Pak Dirga, neng Wiwik .... jadi cuma boleh diisi oleh Mbak Dhia."
"Calon ibu dari anak-anak saya, duduknya didepan."Doddy menarik turunkan alisnya seraya menunjuk ke kursi depan.
"Waduuuh ... ini orang kayaknya pingin tak jejelin minyak panas deh kayaknya."Wiwik kembali dibuat kesal oleh Doddy.
"Waduh ... nyonyot dong, bibir saya neng Wiwik."
"Biarin. Kalau perlu gigi kamu rontok sekalian. Biar nggak bisa ngomong macem-macem lagi, sama Wiwik."
"Kejam amat, neng."
"Bodo"Wiwik memanyunkan bibirnya seraya mendudukkan diri disamping kemudi.
Doddy cekikikan."Yang begini, nih ... yang saya demen. Jutek-jutek, tapi ngangenin."
__ADS_1
"Buruan!"suara cempreng Wiwik membuat tubuh Doddy berjengit.