Istriku, Dhia

Istriku, Dhia
Kesempatan Kedua


__ADS_3

"Jangan kamu fikir aku tidak tahu apa yang sudah kamu lakukan."sambung Dirga lagi.


"W-wiwik minta maaf, Mas Dirga."


Lirih Wiwik pelan.


Sementara Dhia memandang Wiwik tidak tega.


"Kalau Wiwik dipecat, nggak apa-apa, Mas ... Wiwik tau .... memang Wiwik, salah."


Kata Wiwik sambil menunduk. Tak berani memandang wajah Dirga yang saat ini sudah dipastikan sedang memandangnya berang.


"Permisi."


Kata Wiwik pelan, lalu berjalan menuju kamarnya, bergegas merapikan seluruh pakaiannya.


Suasana berubah hening.


"Mas ... kamu serius mau mecat Wiwik?"tanya Dhia memecah kesunyian. Kemudian mengimbangi langkah Dirga yang saat itu hendak keluar.


Dirga berhenti memandang Dhia."Kenapa?"


Dhia menelan ludah gugup."Tolong jangan pecat Wiwik, Mas ... kasihan dia."


"I-ini bukan semua kesalahan Wiwik, Mas."kata Dhia cepat ketika Dirga kembali akan melangkah.


"Maksud kamu?"


Dirga mengerutkan dahi.


"Semua yang sudah terjadi ... itu semua ide, Mama."


Dirga menatap Dhia tak percaya. Lalu kemudian melemparkan pandangan ke sembarang arah, seraya memijat pelipisnya.


"Wiwik cuma disuruh."kata Dhia lagi.


Dirga hanya bisa bergeming. Tidak tau lagi harus berkata apa. Marah dengan Mama Rossa? ah, rasanya tidak mungkin. Bisa-bisa dia yang akan rugi, jika Dhia ditarik paksa oleh Mama Rossa dari Penthouse ini.


"Jangan pecat Wiwik, ya, Mas."


Dhia memegang lengan Dirga dengan tatapan memohon.


"Terserah kamu, lah."


Hanya itu kata yang keluar dari bibir Dirga saat ini. Meski jujur, sebenarnya rasa kesal pada asistennya itu masih menggunung. Namun tatapan Dhia yang memohon, membuatnya tak bisa menolak.


"Makasih, Mas."kata Dhia pelan sambil tersenyum, mengulurkan tangannya pada Dirga.


Dirga yang mengerti langsung memberikan tangannya, dan langsung disambut oleh Dhia. Gadis itu mencium punggung tangannya dengan lembut.


"Hati-hati, Mas."


Kata Dhia sebelum Dirga menghilang dibalik pintu.


Didalam kamar, Wiwik melipat pakaiannya, lalu memasukkannya kedalam koper satu persatu. Sudah hampir selesai, ia melakukannya dengan wajah tertunduk lesu.


Suara pintu kamar terbuka. Wiwik melihat Dhia tersenyum, dan berjalan menghampirinya.


"Maaf, Mbak Dhia ... Wiwik lama nyusunin bajunya. Tapi ini udah mau siap, kok."


"T-tapi sebelum Wiwik pergi ... Wiwik mau minta maaf, sama Mbak Dhia."Wiwik kembali menunduk."Mbak Dhia pasti marah, sama seperti Mas Dirga."


"Soalnya Wiwik jahilnya udah kebangetan."


Dhia hanya mengulum senyum memperhatikan Wiwik.


"Sama ini, Mbak .... Wiwik juga minta tolong sampe'in salamnya Wiwik sama Mas Gio, ya .... soalnya Wiwik nggak punya waktu untuk ngucapin salam perpisahan sama Mas Gio. Wiwik harus buru-buru pulang ke kampung."

__ADS_1


"Memangnya kamu sanggup nggak bisa lihat wajah manisnya Gio lagi?"tanya Dhia kali ini dengan wajah serius.


"Ya mau gimana lagi, Mbak?"Wiwik memasang wajah penyesalan."Sebenarnya Wiwik nggak sanggup. Soalnya wajahnya Mas Gio itu ngangenin banget."


"Bisa-bisa Wiwik itu susah move-onnya Mbak."kata Wiwik lagi.


"Ya sudah, kalau begitu nggak usah pergi."Kata Dhia.


"Lah, Mbak Dhia ... wong Mas Dirga udah mecat Wiwik, kok. Gimana ceritanya Wiwik nggak pergi? Gimana pun, Wiwik harus tetap pergi, Mbak."


"Sebagai orang yang bertanggung jawab, Wiwik itu harus menerima kon-se-kuen-si, atas perbuatan yang sudah Wiwik lakukan, Mbak ... Wiwik harus bertanggung jawab."


Kata Wiwik sok bijak.


"Kamu benar, Wik. Kamu harus bertanggung jawab atas semua yang sudah kamu lakukan."sahut Dhia seraya duduk ditepi tempat tidur berukuran sedang itu."Tapi bukan berarti kamu harus pergi dari sini."


"Maksudnya Mbak Dhia ini apa, sih? Wiwik jadi bingung tau, Mbak."


Dhia terkekeh pelan."Kamu nggak jadi dipecat."


"Hah?"mata dan bibir Wiwik terbuka lebar."Yang bener, Mbak?"


Dhia mengangguk."Iya."


"Kok bisa? b-bukannya tadi Mas Dirga udah mecat Wiwik?."Wiwik masih tak percaya.


"Aku udah minta tolong sama Mas Dirga untuk nggak jadi mecat kamu. Dan dia setuju."


"Ya ampun, Mbak Dhia baik banget, sih? Wiwik jadi terharu ... berarti Wiwik nggak jadi dipecat dong, Mbak?"


Dhia kembali mengangguk.


"Tapi ingat, kamu harus janji jangan melakukan hal konyol lagi. Kalau Mama nyuruh kamu yang aneh-aneh, lebih baik jangan di turutin."


"Lain kali, kalau kamu sampai melakukan hal-hal konyol lagi, aku nggak janji, loh ... bisa mempertahankan kamu tetap bekerja disini lagi."


"Iya, Mbak. Wiwik janji ..."Wiwik tersenyum lega.


_________


Inka memarkirkan sepeda motor matic kesayangan dihalaman parkir gedung perusahaan MH Corporation. Kaos putih dilapisi kemeja kotak-kotak berwarna biru tua, serta celana jeans dengan style robek-robek dibagian lutut, membalut tubuh kurusnya. Rambut ekor kuda yang menjuntai, turut bergoyang mengikuti irama langkah kakinya yang berjalan menuju lantai lima perusahaan itu.


"Papa ...!"serunya ketika pintu yang ia dorong sudah terbuka. "Upss ... ada tamu." ucapnya pelan ketika melihat seseorang didalam ruangan Malik Mahendra Hartawiawan.


Tampak keduanya seperti membahas sesuatu yang penting.


"Inka ... ada apa kemari?"


Tanya Malik yang terkejut melihat kehadiran putri bungsunya itu.


"E-enggak apa-apa, Pa ... cuma pingin main."


Malik menghela nafas pelan. Ia tahu betul kebiasaan putrinya itu. Inka, gadis itu tidak akan datang jika tidak menginginkan sesuatu.


"Sepertinya sudah cukup. Lain kali, kita bisa atur waktu untuk bertemu kembali." kata Malik pada pria muda yang memakai setelan jas berwarna khaki tersebut.


"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi."pria itu berdiri, dan keluar. Sempat melemparkan senyum pada Inka yang sedang berdiri didepan pintu.


Inka membalas senyuman itu. Namun ia merasa tidak asing dengan pria muda itu. Seperti pernah melihatnya, namun ia lupa kapan, dan dimana. Ia masih mencoba mengingat-ingat. Tapi yang ada kepalanya justru dibuat pusing.


"Bodo, ah!"


Celetuknya langsung masuk kedalam kantor berukuran luas itu, dan menghempaskan punggung diatas sofa berwarna gelap yang berada di depan meja besar.


"Ada apa? mau minta duit?"tanya Malik.


"Bukan, Pa ... aku mau minta izin."

__ADS_1


"Mau touring lagi?"Malik melemparkan tatapan awas.


Inka mengangguk pelan."Boleh ya, Pa ..."


Pagi ini, Inka dan teman-temannya berniat melakukan touring kembali. Namun saat hendak pergi, Rossa tiba-tiba saja melarangnya.


"Janji deh, Ma ... nanti malam udah pulang. Enggak pakai nginap-nginap lagi kayak kemaren."kata Inka saat sudah selesai menyantap sarapan.


Rossa hening, namun sesaat kemudian bersuara."Izin sama Papa kamu dulu, kalau memang mau pergi. Mama tidak berani mengambil keputusan sendiri."


"Oke."Inka menyetujui dan berjalan menuju kamar utama.


"Inka, Papa sudah ke kantor."kata Rossa memberitahu.


"Hah? Papa udah pergi, Ma?"


Rossa mengangguk.


Inka membuang nafas kasar. Ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Papanya itu, namun tak ada jawaban. Ia akhirnya meraih kunci sepeda motor dan buru-buru keluar.


"Aku ke kantor, Papa, dulu, Ma."


Rossa hanya bisa bergeleng melihat putri bungsunya itu.


"Tidak boleh."kata Malik dingin. Wajahnya seperti tak ingin menerima bantahan.


"Yah, Papa ..."rengek Inka dengan wajah memelas."Boleh dong, Pa ... kali ini aja."


"Papa bilang tidak boleh, ya, tidak boleh, Inka!"Malik benar-benar tak ingin dibantah."Kamu ini anak perempuan ... Papa tidak mau kamu terlalu bebas diluaran sana."


Malik berdiri memandang keluar melalui dinding kaca kantor.


"Kamu tahu sendiri. Teman-teman kamu itu kebanyakan lelaki."


"Tapi aku bisa jaga diri, Pa."Inka berdiri."Teman-temanku juga semuanya baik-baik, kok."


Malik berbalik."Apapun alasannya, Papa tidak akan mengizinkan kamu pergi. Kebiasaan kamu ini harus segera dihilangkan. Lihat penampilan kamu."Malik memandang Inka dari dari atas sampai kemata-kaki.


"Mana ada anak wanita pakaiannya amburadul kayak begini."


"Hobynya naik motor, balap-balapan ... mau jadi apa kamu?"


Inka berdecak kesal. Alih-alih mendapatkan izin dari Papanya, justru malah mendapatkan ceramah yang membuat telinganya panas. Ia pun, akhirnya memutuskan keluar dengan perasaan kesal.


"Mau kemana kamu?"


Inka tak menjawab.


"Inka ... Papa belum selesai!"seru Malik pada Inka yang telah menghilang dibalik pintu."Anak ini ... dinasehati bagus-bagus kok, malah pergi."


Inka berhenti didepan sebuah kedai kecil. Cuaca panas, gedung yang belum rampung, ratusan para pekerja bangunan, serta denting suara dari alat-alat para pekerja, menjadi latar belakang tempatnya berada saat ini.


Sambil duduk diatas motor matic kesayangan ia menghilangkan dahaga dengan meminum sebotol minuman kaleng hingga tak tersisa. Rasa kesal karena gagal touring, serta kata-kata sang Papa yang masih bergentayangan didalam otak, membuat jemarinya tanpa sadar meremas kaleng kecil itu jadi tak berbentuk.


Dengan wajah tertekuk, Inka melemparkan kaleng peot itu ke sembarang arah.


Pletak!


"Waduh?!" Inka melihat seorang pria memakai kaca mata hitam meringis sambil mengusap kepala, seperti mencari-cari si pelaku pelempar kaleng peot itu.


Inka buru-buru menutup kaca helmnya, menghidupkan motor untuk segera kabur.


"Woi!"


Pria itu berlari dan menarik leher kemeja Inka yang sedang mencoba melarikan diri.


"Kayak kenal, gua sama ini motor."cicit pria itu seraya memperhatikan penampilan gadis yang ada didepannya, tanpa melepaskan genggaman tangan dari leher kemeja gadis itu.

__ADS_1


"Iiih, lepasin! koyak nih, kemeja gue."


Pria itu membuka kaca matanya.


__ADS_2