Istriku, Dhia

Istriku, Dhia
Cium Pipi Langsung Loyo


__ADS_3

Waktu terus berjalan. Dhia sudah melewati hari-hari menghabiskan waktu dengan belajar. Menyusun skripsi, dan melewati sidang akhir. Ia bersyukur, karena akhirnya ia lulus dengan hasil yang cukup memuaskan. Bukan perjuangan mudah baginya, kerena belakangan ini, ia cukup terganggu dengan kehadiran Tamara yang sempat mengusik fikirannya. Meski begitu, ia cukup pandai membelai rasa agar tetap tenang. Beruntung Dirga tak terlalu merespon, saat Tamara berusaha mencari-cari perhatian untuk membuat Dhia kesal.


"How is it progressing?"(bagaimana perkembangannya?)tanya Dirga pada seseorang dari balik benda pipih yang berada disisi telinganya.


No progres, sir. Did you come?( Belum ada perkembangan, pak. Apa bapak jadi datang?)


"Yes, i came. Will be leaving soon."(Ya, saya jadi datang. Sebentar lagi akan berangkat.)"Dirga melihat jam yang melekat dipergelangan tangannya."Maybe, eleven o'clock in the afternoon i'll be there."(Mungkin pukul sebelas siang saya sudah sampai disana.")


"Mas, kamu mau kemana?"Dhia yang baru saja keluar dari ruang ganti, terlihat bingung pada koper berwarna gelap yang sudah berdiri dilantai.


Suara Dhia membuat Dirga langsung memutus panggilan."Singapura. Ada urusan bisnis."sahutnya datar.


"Oh, gitu."Suara Dhia terdengar kecewa."Berapa lama, Mas?"tanyanya lagi.


"Mungkin dua hari."Dirga berjalan ke depan cermin untuk memasang dasi dileher kemeja hitamnya.


"Aku pasangin, ya, Mas."Dhia berdiri depan Dirga. Tangannya perlahan terulur ketika pria itu hanya diam, namun juga tak menolak.


"Aku pasti rindu dua hari nggak ketemu kamu, Mas."ujar Dhia ditengah jemarinya yang sedang melipat dasi. Sementara Dirga berdesis mendengar itu.


"Bilang aja kamu senang. Dua malam libur dari tugas kamu menjadi tukang pijit. Tidak perlu basa-basi di depanku."


Dhia menghela nafas berat. Tak berniat menyahuti ucapan suaminya itu. Rasanya percuma, sedang dirinya saja tak dianggap, apalagi perasaan rindunya?


"Tidak terlalu buruk."Dirga memperhatikan simpulan dasi milik Dhia didepan cermin."Tapi sepertinya kamu masih perlu belajar lagi."


"Tidak masalah, aku akan melakukannya untukmu, Mas. Demi suamiku tercinta."Dhia tersenyum manis sambil memandang Dirga yang kala itu tiba-tiba terdiam sambil memandangnya tajam.


"Termasuk menunggu cintamu."Dhia masih tersenyum seperti tak peduli dengan tatapan mata elang Dirga. Dengan santai ia berbalik dan berjalan keluar.


"Dasar keras kepala."Dirga bergeleng pelan, sambil tersenyum.


"Buruan sarapan, Mas. Istrimu ini menunggu dibawah."ujar Dhia cukup keras sebelum menghilang dari balik pintu.


"Walah ... ini Mas Dirga pagi-pagi mau kemana, bawa-bawa koper? Kalau berantem sama Mbak Dhia, Yo mbok jangan main kabur-kaburan dong, Mas."


"Biasanya kan, Mbak Dhia yang minggat. Ini kok kebalik Mas Dirga yang mau minggat?"berondong Wiwik ketika Dirga turun sambil menjinjing koper.


"Minggat, lambemu."ujar Dirga kesal.


Wiwik spontan menyentuh bibirnya yang sedikit manyun.


"Ini rumah saya, kenapa juga saya harus kabur."sambung Dirga lagi.


"Maaf, Mas ... Wiwik kira mau minggat."Wiwik cengengesan.


Dhia terkekeh pelan."Mas Dirga mau ke singapur, Wik. Ada urusan pekerjaan."timpalnya memberi tahu.


"Ooo."Bibir Wiwik membulat maju.


"Aku pergi dulu."ujar Dirga pada Dhia ketika sudah selesai menyantap sarapan."Kamu jaga diri baik-baik."


"Perhatian banget. Tumben."Dhia tersenyum menggoda.


"Enggak usah, G'r. Kalau kamu kenapa-kenapa kan, aku juga yang kena imbasnya. Selain pekerjaanku terganggu, Mama Rossa juga pasti bakalan marah ke aku kalau sampai kamu kenapa-kenapa."


"Dan kalau itu terjadi, Mama akan jemput aku pulang. Dan kamu enggak akan mau kalau sampai itu terjadi. Iya, kan, Mas?"Dhia kembali menggoda suami ketusnya itu.


"Ngeyel banget kalau dibilangin."sahut Dirga dengan suara beratnya.


"Iya, iya ... aku akan jaga diri, Mas."Dhia kembali tersenyum."Ya udah, pergi. Nanti ketinggalan pesawat."


Dhia menadahkan tangan kanannya.


Dirga yang mengerti langsung mengulurkan tangan. Membiarkan Dhia mencium punggung tangannya.


"Aku pergi dulu."


Detik itu juga Dhia langsung berjinjit melayangkan satu kecupan dipipi Dirga hingga membuat pria itu terlong-long.


Saat itu, tak ada yang menyadari kalau Wiwik sempat melihat adegan sesaat itu. Ia tersenyum gemas melihat keberanian Dhia. Ditambah lagi melihat wajah Dirga yang selalu ketus itu, kini berubah seperti orang linglung.


Yaaaah, baru dicium pipinya langsung loyo. Belum yang lain, pasti Mas Dirga langsung mimisan. Wiwik tertawa cekikan.


"Kamu hati-hati."cicit Dhia malu-malu.

__ADS_1


Dirga sepertinya tak ingin menjawab, ia langsung menarik koper dan berjalan keluar. Saat ini, jantungnya bak genderang bertalu. Bagaimana tidak? Sepagi ini Dhia memberikannya oleh-oleh kecupan manis, yang menurut dirinya adalah bekal semangat didalam perjalanan. Ah, entahlah, kecupan itu masih basah. Begitu membekas, mungkin ia pun, tak bisa melupakannya.


Dhia masuk kedalam kedalam kamar. Duduk bersandar dinding tempat tidur, lalu meraih ponsel dan mengusap layar pipih itu.


"Yuli tadi nelpon aku?"


Gumamnya pelan ketika melihat lima panggilan tak terjawab disana. Ia pun langsung menghubungi Yuli kembali.


"Ada apa, Yul? Kamu tadi nelpon aku?"


Iya ... ketemuan, yuk. Nanti kalau udah wisuda, punya kegiatan masing-masing, pasti susah untuk ngumpul bareng lagi.


"Emm ... ya uda, deh. Kapan?"


Nanti siang, tadi aku udah telpon Amel sama Dini. Mereka setuju.


"Oke. Tapi aku nggak janji, Yul. Soalnya aku harus minta izin sama Mas Dirga dulu."


Oke, nggak masalah. Kabarin aku kalau jadi.


Dhia mengirim pesan pada Dirga setelah panggilan dengan Yuli terputus.


Mas, nanti siang aku mau ketemuan dengan Yuli dan yang lain. Boleh, kan?


Begitu pesan yang ditulis oleh Dhia. Tak butuh waktu lama, pesan itu langsung terkirim dan terlihat centang dua berwarna biru. Mungkin saat ini pria itu masih dijalan menuju bandara. Terlihat dari ponsel Dirga yang masih aktif dan langsung terhubung.


Sedang mengetik ....


Begitu tulisan yang terlihat dibawah pesan yang baru saja Dhia kirim.


Sama siapa aja? itu adalah balasan dari Dirga.


Berempat. Yuli, Amel sama Dini. balas Dhia.


Satu lagi siapa? balas Dirga lagi.


Aku, lah, Mas ... Siapa lagi?


"Ribet amat, tinggal bila boleh, doang."Gerutu Dhia pelan.


Dhia langsung tersenyum, kemudian kembali membalas.


Terimakasih, suamiku yang manis ...


Dhia mengirim emo mencium sepuluh kali dipesan yang baru saja terkirim. Tapi sayang, pesan itu tertunda. Karena sepertinya Dirga telah mematikan ponselnya


"Yaaah ... sayang banget, Mas. Kamu belum beruntung untuk bisa mendapatkan kembali ciuman mautku."Dhia bergumam pelan.


_________


Gordhi Hq



Dhia dan ketiga sahabatnya memutuskan untuk nongkrong disebuah kafe di jl. Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Menikmati makan siang, minum, dan bercerita tertawa bersama. Satu hal sederhana yang sering mereka lakukan. Dan pastinya akan sangat dirindukan setelah wisuda nanti. Tinggal menghitung hari, dan setelah ini semuanya akan menjalani waktu dengan kesibukan masing-masing.


"Setelah wisuda kamu jadi nikah, Mel?"tanya Dini sambil menyeruput minumannya."Kemarin aku liat kamu lengket banget ama si Doni. Udah kayak motor ama knalpot, kagak bisa hidup kalau dipisahin."


Dhia dan Yuli tertawa serempak.


"Bisa, ae, lu."Amel menoyor kepala Dini."Kapan? Salah orang kali."


Dini bergeleng sambil mengunyah boba didalam mulutnya.


"Kalau liat, kenapa nggak negur. Diam-diam Bae, kayak paparazi aja, tiba-tiba nebar gosip"kata Amel lagi.


"Segan gue. Takut ganggu."sahut Dini.


"Jadilah, gue nikah. Tahun depan mungkin."jelas Amel."Doni masih ngumpulin cuan. Usahanya masih menurun karena masa pandemi gini."


"Dhi, malam pertama sakit nggak?"


Pertanyaan konyol Amel yang tiba-tiba tertuju padanya, membuat Dhia yang sedang minum akhirnya tersedak menyembur wajah Yuli yang kebetulan berada didepannya.


"Dhia ... kok aku disembur?"Yuli mengerucutkan bibir seraya mengusap wajahnya yang sedikit basah.

__ADS_1


"Hahaha ..."Dini dan Amel tertawa serempak.


"Kasihan banget kamu, Yul. Udah kayak setan aja disembur ama Dhia."kata Amel yang masih berusaha meredakan tawanya.


"Sorry, Yul. Gue nggak sengaja."Dhia mengulum senyum.


"Dhi ... jawab dong, pertanyaan gue."paksa Amel lagi."


"Heh, pertanyaan kamu emang nggak ada yang lain? Jangan sampai sekali lagi Dhia nyembur gue, ya. Lagian, lu sama si Doni kan udah lengket banget, tuh. Emang lu yakin belum pernah anu-anu."


"Yakin lah, gue masih virgin."sahut Amel cepat."Pernah sih, dia ngajak anu-anu. Dia merayu gue, juga."


Dini yang masih makan seketika melebarkan mata mendengar Amel berbicara."Terus?"


"Ya gue enggak mau. Soalnya masih ngebayangin aja gue udah ngilu. Makanya, aku tanya Dhia, sakit beneran nggak sih, kalau baru pertama-tama, Dhi?"Amel memandang Dhia.


"Emm ... "


Dhia menelan ludah kebingungan. Tak tahu harus menjawab apa. Pasalnya, ia sendiri pun, sampai saat ini belum tahu rasanya malam pertama seperti apa.


Jangankan anu-anu, dicium aja aku belum pernah.


Bagi Amel, Dini, dan Yuli, begitupun, orang lain yang mengetahui tentang pernikahannya, semua sudah pasti mengira bahwa pernikahannya dengan Dirga adalah pernikahan yang sesungguhnya. Bahagia, saling mencintai, dan tentunya sempurna. Biar semua menjadi rahasia sampai saat ini. Karena rasanya, tak mungkin Dhia berkata jujur didepan semua sahabatnya tentang kebenaran yang selama ini tertutup rapat.


"Ya ... sakitlah."ucap Dhia akhirnya."Namanya juga baru pertama kali."


"Tepi sekarang udah nggak sakit lagi, kan?"tanya Amel lagi.


Dhia mengangguk sok tahu.


"Elaah, Dhia, pakai jujur segala. Bilang aja masih sakit. Entar yang ada dia malah praktekin lagi, kalau si Doni merayu lagi.


"Ya ampun ... kalian nggak siap-siap bahas anu-anu dari tadi. Berdosa, loh, ngomong-ngomong begitu didepan anak sepolos gue."Dini mencebikkan bibir.


"Sok polos, lu."Amel menoyor kembali kepala Dini."Udah lebat, juga."


Dhia mengulum senyum. Sementara Yuli tergelak keras.


"Eh, ngomong-ngomong si Dhanu udah nggak pernah menghubungi kamu lagi, ya, Dhi?"tanya Dini beralih topik pembicaraan.


Dhia bergeleng pelan."Kenapa?"


"Enggak, kemarin dia ada nge-chat aku. Katanya mau nitip sesuatu untuk kamu. Terus aku bilang, kenapa nggak kasih ke Dhia langsung?"


"Dia jawab, katanya segan."terang Dini.


"Mau ngasih apa?"timpal Yuli.


Dini mengedikkan bahunya."Enggak tahu."


"Kayaknya dia belum move on deh, Dhi, dari kamu."ujar Yuli lagi.


"Udah, ah. Nggak usah bahas dia."Dhia merasa risih dan tidak nyaman.


Cukup lama empat wanita itu menghabiskan waktu. Mereka akhirnya memutuskan untuk segera menyudahi pertemuan.


Yuli dan Amel memutuskan pulang bersama. sementara Dhia bersama Dini.


"Enggak mampir dulu, Din?"tanya Dhia ketika mobil Dini sudah berada di pelataran gedung Apartemen Sendrapati Penthouse berlantai dua puluh itu.


"Enggak, Dhi. Udah sore. Oh, iya ... bentar dulu."Dini hampir lupa dengan sesuatu yang ia letakkan di kursi belakang. Langsung saja ia memutar badan meraih kotak berukuran sedang yang ada dibelakangnya.


"Ini, buat kamu."


Dhia mengernyit."Apa ini?"


"Dari Dhanu, yang tadi gue bilang. Enggak tahu isinya apaan."


"Kamu lihat aja sendiri."Dini memungkasi.


"Buat kamu aja."Dhia menyodorkan kembali pada Dini.


"Enggak, ah. Entar yang ada si Dhanu marah sama gue karena dianggap nggak amanah."


"Udah, simpan aja kalau nggak mau. Aku pulang dulu, ya. By, by ..."Dini melayangkan ciuman di udara pada Dhia, sebelum akhirnya memacu mobilnya.

__ADS_1


Dhia menatap kotak berukuran sedang yang terbungkus sampul berwarna cokelat ditangannya. Tak ada niat untuk membukanya sama sekali. Ia langsung meletakkannya diatas meja, bersisian dengan buku-bukunya yang tersusun rapi.


__ADS_2