
Mobil sedan hitam metalik meluncur dari Sendrapati Penthouse, menuju jalanan kota yang masih terlihat ramai disore hari. Netra pria itu terus menjaring jejak hampir disetiap penjuru kota. Namun sosok gadis yang ingin ia cari tak terlihat.
"Dhia, Dhia ... senang banget kamu kabur-kaburan. Mana cepat banget lagi ngilangnya."Dirga bergumam seraya menghela nafas kasar. Ia menyesali mulutnya yang terang-terangan bersuara menjawab pertanyaan Tamara. Kalau saja ungkapan itu tak tercetus, Dhia pasti tidak akan pergi. Pikirnya menyesali.
Dirga menepikan mobil. Tangannya bergerak meraih benda pipih dari dalam saku jasnya. Jemarinya bermain mencari nama gadis itu. Langsung saja ia menempelkan benda pipih itu disisi telinganya. Terhubung, tapi tak ada jawaban.
Dhia ... please, angkat! bathin Dirga memohon. Ini sudah panggilan ke tiga. Namun wanita itu sepertinya enggan untuk menjawab.
Tapi Dirga seperti tidak menyerah. Ia kembali mengulangi. Kesabaran akhirnya membuahkan hasil, tepat pada panggilan ke empat, suara sambutan terdengar dari balik ponselnya.
Hallo, assalamualaikum.
Suara yang cukup familiar ditelinga Dirga. Tapi dirinya yakin itu bukan suara Dhia.
"Wa'alaikumussalam, Ma."
Dhia tidak mau bicara.
Ujar suara wanita paruh baya yang tak lain dan tak bukan adalah suara Rossa. Suara wanita paruh baya itu terkesan dingin. Hal itu membuat Dirga menerka, bahwa wanita itu tahu, dan Dhia telah menceritakan segalanya.
Kalau mau susul Dhia, lain kali saja. Dhia sepertinya masih marah dan kecewa sama kamu. sambung Rossa lagi.
"Baik, Ma."sahut Dirga kecewa.
Hening sesaat.
Kalau tidak sibuk, besok Mama pingin ngobrol berdua sama kamu. Bisa?
"Bisa, Ma. Besok Mama atur aja tempatnya. Aku akan datang."
Baiklah. Kalau gitu, udah dulu, ya. Assalamualaikum.
"Wa'alaikumussalam, Ma."Dirga menghela nafas berat.
_______________
Kediaman, Malik Mahendra Hartawiawan.
"Pergi dari rumah meninggalkan suami itu, tidak baik, nak."kata Rossa seraya menaruh ponsel Dhia diatas nakas, tepat disamping tempat tidur Dhia.
"Suami yang seperti apa dulu, Ma?"Dhia memandang Mamanya."Mas Dirga sudah berkali-kali menyakitiku. Dia terang-terangan mengatakan kalau dia tidak akan pernah mencintaiku. Dan hari ini, dia bicara seperti itu didepan wanita, Ma."Netra Dhia kembali berlinang, ketika rasa cemburu, kecewa, yang begitu sakit mencabik hatinya kala itu kembali mampir.
"Mungkin aja itu pacarnya. Dia berbicara seperti itu dengan wanita lain. Menurutku, itu sama halnya dia seperti ingin memberi celah agar wanita lain masuk diantara pernikahan kami."
Rossa menghela nafas berat seraya mengusap punggung mungil Dhia."Sabar, sayang. Sabar ..."
"Dan satu lagi, Ma ... tentang dendam itu. Aku nggak ngerti dia menikahiku atas dendam apa?"
"Aku nggak ngerti sama sekali, Ma."Dhia kini kembali terisak seraya menyusut bulir bening yang terus menetes."Mas Dirga tega, Ma. Dia nggak pernah peka kalau aku cinta, dan sayang banget sama dia, Ma."
"Menangis lah, nak. Menangis sepuasmu. Nanti itu akan membuat dirimu lega."Rossa kembali mengusap punggung Dhia."Tetap disini kalau masih belum siap untuk kembali. Tidak apa-apa."
"Tenangkan hatimu dulu."Rossa tersenyum tipis."Mama keluar dulu, ya. Sebelum tidur, jangan lupa bersih-bersih."
__ADS_1
"Sebentar lagi, maghrib."
Dhia mengangguk pelan."Iya, Ma."
"Kenapa anak itu?"tanya Malik ketika Rossa sudah masuk kedalam kamar. Suara pria paruh baya itu cukup kuat sampai-sampai membuat bahu Rossa berjengit.
"Dhia, Dhia ..."Rossa menelan ludah.
"Biasa, Mas ... pertengkaran-pertengkaran kecil dalam rumah tangga."ujar Rossa akhirnya."Dhia kan, masih belum begitu dewasa. Ada masalah dikit, langsung kabur, deh."Rossa mengatur raut wajah agar tak terkesan gugup.
"Masalah, apa?"Malik mengerutkan dahi.
"Itu, anu ... e ...."Rossa kembali menelan ludah."Tadi Dhia nggak sengaja lihat Dirga cerita-cerita sama perempuan. Sepertinya Dhia cemburu buta. Makanya langsung kabur kemari."
"Padahal belum tentu Dirga selingkuh, mungkin itu cuma rekan kerjanya, aja. Dhia salah paham sepertinya, Mas."
"Buktinya tadi Dirga kekeuh mau jemput. Tapi Dhia nggak mau."
"Jadi anak kamu itu maunya apa?"tanya Malik ketus."Sudah bagus-bagus suami mau jemput. Masih kekeuh keras kepala. Gimana nanti kalau Dirga lepas tangan dan ninggalin dia?"
"Aku yang repot bakalan lunasin hutang puluhan milyar, sama mantu kamu itu."
"Kamu mau itu terjadi? Perusahaanku bangkrut gara-gara anak kesayangan kamu itu?"
Rossa bergeming. Lagi-lagi Dhia yang jadikan sebagai tameng untuk membayar hutang-hutangnya. Jujur, Rossa benar-benar tak terima. Tapi dirinya tak bisa berbuat apa-apa saat ini, selain mengikuti nafsu serakah suaminya itu.
"Mau sampai kapan dia disini?"tanya Malik dengan tatapan tak suka.
"Hanya sebentar, Mas. Sampai Dhia tenang kembali. Kamu tenang saja, nanti aku yang akan bujuk Dhia untuk kembali."
______________
Sendrapati Penthous
Dirga nyelonong masuk begitu saja. Ia tak melihat-lihat ke setiap sudut ruangan Penthouse, hingga tak menyadari bahwa Tamara belum pergi.
"Kak,"
Dirga berhenti dan langsung menoleh."Kamu belum kembali ke penginapan? Ngapain masih disini?"
"Kakak ngusir aku.?"Tamara memasang wajah kecewa.
Dirga berdecak."Bukan begitu, Tamara."
"Jadi apa namanya?"
Dirga menghela nafas berat."Aku nggak ngusir. Tapi harusnya kamu tahu, kamu nggak mungkin bisa tidur disini."
"Aku adik kamu, loh."
"Adik angkat, Tamara. Kamu harus ingat itu."tegas Dirga mengingatkan.
"Memangnya kenapa kalau adik angkat? Kita juga nggak ngapa-ngapain kan, disini?"
__ADS_1
"Lagi pula, ada Wiwik juga. Apa yang perlu dikhawatirkan?"
Dirga kembali menghela nafas. Kali ini diiringi dengan wajah kesal. Dhia kabur sudah membuatnya tak karuan. Di tambah Tamara yang semakin membuatnya harus lebih-lebih menahan kesabaran. Adik angkatnya itu memang susah sekali untuk diberikan pengertian.
"Lebih baik kamu kembali ke hotel. Aku mau istirahat."
"Kak."Tamara merengut.
"Tamara."Dirga menajamkan mata.
Tamara langsung berdengus, mengambil tas brandednya dari atas meja, kemudian melangkah dengan kesal.
Dirga bergeleng kemudian melanjutkan langkah menuju kamar.
"Mas, Mas Dirga ..."cegah Wiwik.
"Apa lagi?"Dirga menjawab dengan ketus dan penuh penekanan.
Wiwik cengengesan."Wiwik baru manggil sekali loh, Mas. Kok apa lagi, jawabnya."
"Santai, Mas, santai ... Jangan marah-marah dong, Mas. Nanti jadi cepat tua gimana? Enggak cocok lagi dong, sama Mbak Dhia. Soalnya Mbak Dhia itu kan mukanya baby face, gitu."
Dirga memutar bolamata malas."Kamu mau ngomong apa sebenarnya? Cepetan. Nggak usah bertele-tele. Buang-buang waktu aja, sih."
"Ya ampun, Mas, Dirga. Baru aja Wiwik bilang, jangan marah-marah. Ini udah langsung marah-marah aja."
"Kamu ini sebenarnya mau ngomong apa, sih, Wik? Nggak usah muter-muter. Buruan ngomong."
Wiwik berdeham."Anu, Mas ... Mbak Dhia, mana? Kok nggak pulang?"
"Dirumah Mamanya."Dirga menjawab malas."Ada lagi?"
Wiwik bergeleng.
"Jadi kamu ngomong bertele-tele, cuma mau nanyak ini?"
"I-iya, Mas. Memangnya kenapa?"
"Buang-buang waktu aja kamu."ujar Dirga melanjutkan langkah.
"Mas Dirga."panggil Wiwik lagi.
"Apa lagi?!"Dirga berbalik.
"Makan malamnya didapur atau Wiwik antar ke atas."ujar Wiwik ragu.
"Enggak perlu. Saya mau langsung tidur."ujar Dirga seraya langsung melangkah.
"Hemm ... ketahuan. Ini pasti lagi galau, ini. Ditinggal pergi langsung mogok makan. Alesan, mau tidur. Paling juga nangis didalam kamar."
"Kalau ada Mbak Dhia, aja, sok-sok'an cuek, sok ketus, sok jaim. Padahal kalau ditinggal langsung potek itu, hatinya."
"Mas Dirga, Mas Dirga."Wiwik cengengesan.
__ADS_1
Mogok makan rupanya masih berlanjut. Dan itu terjadi pagi hari, ketika Dirga akan berangkat ke kantor. Pria itu pergi dengan alasan buru-buru ketika Wiwik menawarkannya untuk mengisi perut terlebih dahulu.
Tuh, kan. Bener kata hati Wiwik. Mas Dirga lagi galau. Kasihan juga, sih. Nanti kalau sakit gimana. gumam Wiwik. Kemudian seperti menemukan ide ia langsung meraih ponsel dari dalam kantong celananya untuk mengirim pesan pada seseorang.