
Megantara Group
Dhia membolak-balik lembaran-lembaran kertas putih yang berada dikedua tangannya. Bukti transfer dari rekening Wira CitraWisata, kepada Megantara Group dengan nominal yang fantastis. Namun setelah diteliti, ada sebuah ke anehan dan kejanggalan yang menurut Dhia tak masuk akal.
"Kapan Megantara Group mengeluarkan biaya sebanyak ini? dan pengeluaran ini untuk apa? kekurangan bahan pembangunan kan, baru saja dipesan."
Gumam Dhia keheranan seraya memijat pelipisnya yang dari tadi terasa pusing.
Aku harus menemui Mas Dirga.
Bathin Dhia. Tak perduli jika nanti Dirga menyalahkannya. Karena menurutnya ini bukanlah masalah yang bisa di abaikan begitu saja. Dirga harus tahu. Pikirnya.
Dhia melihat kearah dinding kaca pembatas. Bisa ia lihat, saat ini Dirga sedang berdiri didepan seorang wanita yang membelakangi kaca. Dhia tak bisa melihat wajah wanita itu. Tapi dari penampilan wanita itu, Dhia merasa dejavu.
Ia bergegas berjalan keluar, dan mengetuk pintu yang didepannya bertuliskan Direktur utama.
Masuk
Dari dalam, Dhia bisa mendengar suara Dirga yang mempersilahkannya masuk. Langsung saja ia membuka pintu ruangan itu. Seketika pandangannya tertumbuk pada wanita cantik yang beberapa waktu lalu pernah mengusiknya.
"Dhia? kamu disini?" Tamara menatap Dhia terkejut.
"Jangan bilang dia kerja disini" kali ini Tamara memandang Dirga.
"Memangnya kenapa kalau Dhia kerja disini?"
Tanya Dirga datar.
"Kak?!" Tamara melempar tatapan kecewa.
"Ada apa, Dhia?" Dirga melihat ke arah Dhia yang masih berdiri didepan pintu, seolah tak peduli dengan tatapan Tamara.
Dhia menelan ludah gugup. Kemudian berjalan ke arah Dirga. Ia bisa melihat saat ini, Tamara sedang menatapnya sinis.
"Ada hal penting yang perlu saya beritahukan, Pak."
"Soal apa?"
Dhia menyodorkan lembaran-lembaran kertas dengan tangan sedikit gemetar.
Dirga sempat memperhatikan Dhia. Kemudian meraih lembaran-lembaran kertas itu, dan membacanya, dengan teliti.
Dirga hanya hening. Ekspresi yang tak disangka oleh Dhia. Tidak ada kemarahan. Namun keheningan yang tertangkap oleh netra Dhia, menyiratkan arti yang tak bisa ditebak olehnya.
"Perusahaan belum mentransfer kepada pihak pemasok bahan bangunan, Pak. Tapi saya tidak mengerti, tiba-tiba saja ada bukti pengeluaran dengan nilai yang fantastis."
"Saya tidak tahu itu bukti pengeluaran apa, Pak." kata Dhia masih dengan dada yang berdebar cemas.
Dhia bisa mendengar Tamara yang berdiri dibelakangnya, berdengus.
"Bohong, kamu. Ini pasti hanya akal-akalan kamu." Tamara menarik bahu Dhia kasar."Uang yang keluar itu pasti kamu transfer ke rekening kamu sendiri."
Dhia bergeleng.
"Enggak, Mas."katanya pada Dirga dengan mata yang memerah.
Namun Dirga tetap diam.
"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya."kata Tamara lagi sambil berjalan didepan Dhia."Ayahnya seorang koruptor. Bukan tidak mungkin anaknya juga bisa berbuat hal yang sama."
"Tamara!" bentak Dirga dengan wajah yang memerah.
"Kenapa, kak? yang aku katakan itu benar, kan? dia anak seorang koruptor."
Kata Tamara lagi sambil menunjuk kearah Dhia yang kini berdiri dengan mata berkaca-kaca.
"Lebih baik kamu pulang sekarang, Tamara." Dirga melihat adik angkatnya itu dengan tatapan dingin.
"Kakak ngusir aku?"
"Saya bilang pulang sekarang. Tolong jangan membuat masalah semakin parah."
__ADS_1
Tamara menelan ludah sambil menatap Dhia dengan sinis, kemudian berjalan keluar seraya membanting pintu dengan sangat keras.
"Mas, apa yang Tamara katakan, itu tidak benar. Aku tidak melakukan hal seperti itu."
Dirga hening sesaat.
"Aku akan mencari tahu semuanya." kata Dirga pelan.
"Lebih baik kamu pulang sekarang."kata Dirga tanpa melihat Dhia.
Dhia masih berdiri tergugu.
Dan akhirnya beranjak ketika Dirga memandangnya.
______________
Sendrapati Penthouse
Dhia berdiri didepan cermin seraya mengeringkan rambutnya yang basah. Kata-kata Tamara yang terlontar saat dikantor masih berputar-putar, seperti menghantam, membuat kepalanya terasa pusing.
Anak seorang koruptor?
Kenapa Tamara berkata seperti itu?
Tamara bahkan tidak mengenal Papa.
"Apa Mas Dirga juga manganggap ku seorang koruptor?"gumam Dhia pelan seraya melihat bayang diri didalam cermin.
"Tadi dia juga langsung menyuruhku pulang. Apa itu artinya dia memecatku?"
Dhia terus bertanya pada dirinya sendiri. Sambil memijat pelipisnya yang semakin pusing. Seraya menghela nafas berat, ia mulai menyisiri rambutnya yang sudah kering.
Dhia turun kedapur. Ia bisa melihat Wiwik saat ini sedang bersenandung sembari membuat teh hangat.
"Selamat malam, Mbak Dhia." sapa Wiwik dengan senyum ceria sambil mengambil sendok makan.
"Malam, Wik." Dhia tersenyum tipis."Mas Dirga udah pulang, belum, Wik?"
"Udah, dari tadi, Mbak. Mas Dirga lagi diruang kerja."Wiwik mengaduk-aduk teh."Ini lagi minta dibuatin minuman."
"Belum, Mbak. Kayaknya Mas Dirga lagi sibuk banget, deh. Wiwik nanyak aja langsung ...." Wiwik menjeda kalimatnya, memasang ekspresi tatapan tajam. Memperagakan bagaimana Dirga saat menatapnya tadi.
"Gitu, Mbak."pungkas Wiwik dengan ekspresi serius.
Dhia menghela nafas pelan."Sini tehnya, biar aku aja yang antar."
"Mbak Dhia nggak mau makan dulu? ini tehnya biar Wiwik aja yang antar."
"Nanti aja, Wik. Bareng sama Mas Dirga."
"Oh gitu, yaudah, ini Mbak, tehnya."
Wiwik menyodorkan nampan yang berisi teh hangat itu kepada Dhia. Tapi tanpa sengaja jemarinya menyentuh tangan Dhia yang terasa dingin.
"Mbak Dhia tangannya dingin banget."Wiwik memperhatikan dahi Dhia yang bercucuran peluh."Tapi kok keringetan?"
"Mbak Dhia sakit?"
"Cuma sedikit kurang enak badan aja, Wik. Maklumlah, sekarang jarang istirahat. Kerja mulu." Dhia nyengir.
"Oh, gitu ... kasihan banget sih, Mbak Dhia."kata Wiwik dengan wajah trenyuh."Lebih baik Mbak Dhia nggak usah kerja ajalah ..."
"Ngapain coba? Mbak Dhia kan suaminya kaya. Kalau nggak kerja juga, semuanya bisa terpenuhi."
Dhia tersenyum tipis."Bukan masalah itu, Wik. Aku kerja juga untuk mencari pengalaman. Untuk apa diam dirumah aja?"
"Yang ada malah gabut."
"Opo toh, iku Mbak? gabut?"
"Tanya Mbah Google."Dhia terkekeh pelan.
__ADS_1
"Udah, ah ... kebanyakan ngomong sama kamu teh-nya jadi dingin."
Dhia berjalan menuju ruang kerja. Ia membuka pintu dengan pelan-pelan. Didalam sana ia bisa melihat Dirga yang sedang duduk menghadap layar laptop.
Pria itu melihat ke arah Dhia, ketika wanita dengan wajah pucat itu meletakkan teh hangat diatas meja. Dhia dapat melihat, wajah Dirga yang terlihat lelah dan mengantuk.
"Terima kasih."
Kata Dirga, mengambil minuman itu, lalu meneguknya sedikit. Kemudian kembali melihat layar laptop.
Dhia berdeham pelan sebelum membuka suara."Mas, nggak makan dulu? sudah hampir pukul delapan."
"Sebentar lagi." kata Dirga dengan suara berat tanpa menoleh.
"Mas marah sama aku?"
Dirga mengangkat wajah kembali menatap Dhia, kemudian bergeleng.
"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu."
"Apa, Mas?"tanya Dhia ragu.
"Aku minta tolong sama kamu ... tolong tutup rapat tentang masalah tadi siang. Jangan sampai perusahaan Wira Citrawisata mengetahui hal ini."
Dhia mengangguk pelan."Iya, Mas.
"Satu lagi ..."
Dhia memasang wajah tanya, menanti Dirga kembali melanjutkan kalimat.
"Bantu aku mencari tahu siapa orang yang mencoba menjatuhkanku. Aku curiga orang dalam lah, yang melakukannya?"
"Maksud, Mas ... salah satu karyawan Megantara Group?"
Dirga mengangguk."Aku yakin."
"Kalau kamu minta tolong sama aku, apa itu artinya kamu nggak jadi mecat aku, Mas?"tanya Dhia ragu.
Mendengar tanya Dhia, sontak Dirga tergelak.
Sementara Dhia dibuat keheranan.
"Siapa yang mecat kamu? memangnya aku ada ngomong kata, pecat?"
"Enggak, sih, Mas ... tapi kamu tadi siang tiba-tiba nyuruh aku pulang. Jadi aku kira, aku dipecat." Dhia nyengir seraya memainkan ujung-ujung jarinya.
"Enggak, lah ... aku tahu, pasti bukan kamu pelakunya."
Dirga berdiri sembari bersandar pada meja.
"Sebenarnya masalah ini bukan baru pertama kali. Sebelum kamu bekerja, masalah serupa juga pernah terjadi."
"Aku fikir itu karena kesalahan dari staff accounting yang bekerja sebelum kamu. Tapi sekarang aku baru menyadari, kalau ternyata ada seseorang yang berusaha menjatuhkanku."sambung Dirga menjelaskan.
"Aku harap masalah ini bisa secepatnya selesai, Mas. Jangan sampai orang itu bertindak semakin jauh."
Dirga mengangguk.
"Kamu sudah makan?"
Dhia bergeleng."Nunggu kamu, Mas."
"Muka kamu pucat. Kamu sakit?"
Dirga mendekati Dhia dan ingin menyentuh dahi wanita itu. Tapi tiba-tiba Dhia membekap mulut, merasakan ada yang bergejolak didalam perutnya. Seperti ingin muntah ketika menghirup aroma parfum yang menguar dari tubuh suaminya itu.
"Kamu kenapa?"
Tangan Dirga kembali ingin menyentuh Dhia, namun Dhia langsung mendorongnya.
"Kamu bau, Mas."
__ADS_1
"What?!"
Dirga tercengang keheranan, memperhatikan Dhia yang kini sudah berlari keluar.