Istriku, Dhia

Istriku, Dhia
Berita


__ADS_3

"Mbok manggil aku? ada apa?." tanya Dhia pelan.


Mbok Siah tersenyum lembut pada Dhia."Ndak apa-apa .... Mbok pingin ngobrol sama kamu."


"Sini, nduk ... duduk dulu." Mbok Siah menepuk-nepuk pelan pinggiran ranjangnya. Dhia pun, langsung menurut untuk duduk tepat didekat kaki Mbok Siah yang tengah duduk berselonjor.


"Kamu sudah sarapan?."


Dhia bergeleng pelan. "Belum, Mbok."


Jawabnya, sambil memijat pelan kaki Mbok Siah. Menjadi kebiasaan Dhia saat ia masuk kedalam kamar Mbok Siah. Jemarinya pasti tak bisa diam, untuk tidak memijat, ketika wanita renta itu sedang beristirahat didalam kamar.


"Sarapan dulu. Nanti kamu sakit .... kasihan anakmu."


Dhia tersenyum tipis, seraya menjawab dengan mengangguk pelan.


Hening sesaat.


"Nduk?!." panggil Mbok Siah kembali membuka suara.


"Em?" Dhia yang tengah menunduk, kembali mengangkat wajah.


"Sudah 40 hari Dirga meninggalkan kita." sambung Mbok Siah dengan suara yang terdengar ragu. Apalagi, melihat jari-jari Dhia yang langsung berhenti, ketika mendengar kalimatnya.


Dhia hanya hening sambil menelan getir ludahnya.


"Ikhlaskan, ya, nduk?!"


Kata Mbok Siah sambil menyentuh Pipi cucunya itu.


Netra Dhia memerah. Selang kemudian bulir bening jatuh membasahi pipinya. Hatinya kembali nyeri, dan membuat tangis itu perlahan berubah menjadi isak yang menyesakkan. Rasanya ia masih tak percaya. Semua kebahagiaan lenyap begitu cepat, berganti dengan kenyataan buruk yang sampai saat ini masih seperti mimpi baginya.


"Kasihan dia."sambung Mbok Siah menyusut air mata Dhia.


"Mas Dirga pasti masih hidup, Mbok." kata Dhia dengan suara sengau karena menangis.


Mbok Siah hening menatap Dhia dengan iba. Tapi selang kemudian ia kembali bersuara.


"Rezeki ... jodoh .... dan maut itu Allah yang menentukan." kata Mbok Siah pelan, sambil memandang ke arah dinding kaca yang menghadap ke balkon.


"Itu namanya, takdir." imbuh Mbok Siah lagi.


"Takdir itu kalau ndak sedih, ya .... bahagia."


"Mungkin saat ini Allah sedang mengujimu, dengan mengambil suamimu. Karena dia tahu .... kamu kuat, nduk." Mbok Siah menggenggam tangan Dhia, dan memandang wajah cucunya itu lekat.


Dhia bergeleng."Aku lemah, Mbok." lagi, bulir bening kembali menitik dipipi Dhia."Aku nggak sekuat yang orang lihat."


"Aku lemah " kata Dhia lagi, dengan suara pelan, hampir tak terdengar. Begitu berat, seperti beban kesedihannya selama ini.

__ADS_1


"Ndak! kamu cucu Mbok yang kuat." Mbok Siah menangkup wajah Dhia sambil tersenyum yakin.


"Ikhlaskan, ya?!" ujar Mbok Siah sekali lagi.


Dhia masih menangis.


"Malam ini kita adakan pengajian untuk suamimu, ya, nduk." Mbok Siah berbicara dengan hati-hati. Khawatir Dhia akan marah. Karena sampai saat ini, cucunya itu tak pernah percaya bahwa Dirga sudah tiada."Kasihan suamimu .... biarkan dia tenang."


"Ya ...?!" Mbok Siah memandang Dhia lembut.


Sesaat menunduk, Dhia akhirnya mengangguk pelan. Tangisnya pecah kembali.


Saat itu, Mbok Siah langsung membawa Dhia kedalam pelukan. Mencoba mengikis sedikit beban kesedihan dihati cucunya itu.


____________________


Malik Mahendra Hartawiawan akhirnya berada di atas awan. Terbang tinggi, dan tak ada lagi yang bisa menjatuhkannya. Hidupnya belakangan ini terasa tenang. Tak lagi dikejar kecemasan yang selama ini memburunya, sejak dirinya tahu, bahwa Dirga adalah anak dari Handika Gumilang. Sahabat dekat, yang telah ia fitnah sekaligus ia lenyapkan pada, 21 tahun lalu.


Saat ini, ia sedang menyeruput kopi hitam, sambil membaca koran diruang keluarga. Sementara dengan jarak satu meter, didepannya ada Inka, yang sedang menonton televisi. Anak gadisnya itu terlihat serius dengan drama Korea yang ada dilayar kaca.


Dari dapur, terlihat Rossa sedang membawa nampan berisi cemilan, dan langsung ia letakkan diatas meja, didekat suaminya berada.


"Mas ... tadi Wiwik ngasih tahu, saya .... katanya malam ini mau diadakan acara pengajian 40 harinya kepergian Dirga."


"Mas ikut?."tanya Rossa ragu.


"Oh, ya? bukannya anak kesayanganmu itu sangat tidak percaya kalau suaminya itu sudah mati?." tanya Malik santai sambil melipat korannya, tapi dalam hatinya tertawa puas.


"Tapi itu bagus .... dengan demikian, arwah Dirga akan merasakan ketenangan." Malik menghela nafas panjang."Harusnya itu Dhia lakukan sudah sejak lama."


Malik berdecak pelan."Tapi sayang .... anak kesayanganmu itu keras kepala sekali. Kamu lihat sendiri kan, waktu itu?." Malik melihat pada Rossa."Dia bahkan berani membentak dan berteriak di depanku."


Rossa tetap diam.


"Oke .... lihat nanti! kalau aku ada waktu, aku akan pergi."


Rossa menghela nafas pelan, beralih melihat ke arah putri bungsunya itu."Inka ... mandi dulu, nak! ini sudah siang."


"Iya, Ma .... sebentar lagi, ini dramanya udah mau habis." sahut Inka tanpa melihat.


Beberapa saat hening.


"Pa!." seru Inka pada Papanya, sambil menoleh kesamping ketika drama kesukaannya itu sudah berakhir. Dan saat ini sudah berganti dengan siaran berita siang.


"Hemm!" sahut Malik tanpa menoleh. karena sibuk kembali dengan koran yang berada ditangannya.


"Teman kerja Papa itu, kemana?." Inka bertanya ragu.


Malik mengerutkan dahi."Teman yang mana?."

__ADS_1


Inka berdecak, seraya membuang nafas malas. Menurutnya, Papanya ini sudah pikun, atau benar-benar tidak tahu?


"Gio, Pah!." kata Inka tanpa ragu-ragu lagi.


Bukannya langsung menjawab, Malik justru melempar pertanyaan kembali."Kenapa nyariin, Gio?."


"Enggak apa-apa, sih... " Inka menggigit sedikit bibirnya."Heran aja, kok nggak pernah kemari lagi. Udah sebulan lebih."


Malik menghentikan netranya yang sedang menjelajahi kalimat-kalimat didalam koran. Langsung memindai pandangan ke arah putrinya itu dengan tatapan menyelidik.


"Kamu suka, sama dia?!." tanya Malik, sambil memperhatikan penampilan Inka saat ini, yang terlihat lebih feminim. Ah, betapa konyol, ia baru menyadari perubahan anak tomboinya itu sekarang. Apakah perubahan Inka belakangan ini karena Gio? duga Malik dalam hati.


"Kalau, iya?." tanya Inka dengan berani."Papa ngizinin, kan?."


Rossa yang sedari tadi lebih banyak diam, kini dibuat tersenyum dengan pengakuan anak bungsunya itu. Tak percaya, ternyata putri kecilnya itu sudah berubah menjadi wanita yang sesungguhnya. Mulai membuka hati, dan melupakan sedikit demi sedikit tentang kebiasaannya membelai motor.


Tapi, tatapan Malik tiba-tiba menyala tajam, membuat Inka, yang dengan Pd-nya mengakui hati, dibuat pias. Begitu pun, Rossa yang saat ini tengah melihat ke arah suaminya.


Menurut Malik, ini bukan kesalahan Inka. Ia menyadari kebodohannya selama ini. Kedekatan Inka dan Gio terbilang sangat akrab. Tak terfikir jika cinta ternyata bisa saja mengetuk pintu hati keduanya. Ini tidak boleh dibiarkan!


"Lupakan Gio!." ucap Malik tegas.


Inka menelan ludah."Tapi kenapa, Pa?."


"Bukannya Papa dengan Gio sangat dekat? a-aku fikir ...."


"Papa bilang, lupakan .... lupakan!." bentak Malik memutus kalimat anaknya itu, hingga membuat bahu Inka berjengit, terkejut.


Pemirsa, terkait kecelakaan satu bulan lalu yang menimpah pengusaha muda, Dirga Rayyan Megantara, polisi akhirnya berhasil membekuk pelaku penyebab terjadinya kecelakaan tersebut.


Suara dari dalam televisi berhasil membuat Malik, Inka, dan juga Rossa tersita perhatiannya kearah layar datar berukuran 40 inc itu. Suasana yang hampir panas didalam ruangan itu pun, mendadak hening.


Tapi Malik sangat berbeda. Tubuh pria itu mematung dengan wajah yang berubah pucat, melihat Pria mudah yang tertunduk lesu didalam televisi.


"****!." umpat Malik pelan, dengan tangan terkepal kuat.


Pelaku berinisial G I (Gio Irawan) yang sempat melarikan diri keluar negeri, saat ini berhasil ditahan dan telah mengakui perbuatannya.


Terkait dengan kasus kecelakaan tersebut, polisi akhirnya berhasil mengantongi nama pelaku lain, yang diduga merupakan seorang pengusaha ternama Malik Mahendra Hartawiawan. Hal ini, rupanya berkaitan dengan kasus Gedung Putih yang terjadi 21 tahun lalu.


Inka yang saat ini sudah berdiri, tubuhnya seketika mematung. Mendengar satu persatu nama orang yang disebutkan dalam televisi itu. Sebulan lamanya sudah, Gio menghilang. Berhasil terjawab keberadaannya, beserta alasannya.


"Jadi .... Papa sama Gio?." suara Inka tercekat. Sungguh, ia tak percaya. Jemari lentiknya langsung mengusap air mata yang baru saja menitik dipipinya.


Tapi Rossa tak terkejut. Selama ini, ia memang sudah menanamkan kecurigaan pada suaminya itu. Namun ia tak punya bukti kuat untuk menyeret suaminya itu ke penjara. Entah mengapa, ada satu kelegaan dihatinya, ketika pada akhirnya, kejahatan suaminya itu berhasil terungkap.


Semua ini tiba-tiba.


Apa ada orang lain selain Dirga?

__ADS_1


Atau jangan-jangan ......


Sial! umpat Malik dalam hati dengan rahang mengeras menahan amarah. Ia buru-buru masuk kedalam kamar dan berniat untuk segera melarikan diri. Tapi deru mobil yang berhenti dipelataran rumah, membuat pria ini akhirnya terjebak tak bisa pergi.


__ADS_2