Istriku, Dhia

Istriku, Dhia
Rapat Mendadak


__ADS_3

"Kayak kenal, gua sama ini motor."cicit pria itu seraya memperhatikan penampilan gadis yang ada didepannya, tanpa melepaskan genggaman tangan dari leher kemeja gadis itu.


"Iiih, lepasin! koyak nih, kemeja gue."


Pria itu membuka kaca matanya."Danau?!"kata Inka tak percaya."Jadi cowok yang gua timpuk, elu?"


Inka akhirnya tergelak"Hahahaha ... syukurlah, kalau orang lain bisa panjang urusannya."


"Syukur, syukur ... turun kamu!"kata Dhanu kesal."Sudah kuduga ... pasti kamu orangnya. Dasar bocah!" ia ingin menoyor kepala Inka.


"Selow, bro ..."Inka mengelak, sambil turun dari atas motor."Widiiih .... ganteng, lu. Udah kayak pengusaha muda." gadis tomboi itu memperhatikan penampilan Dhanu dari atas hingga kebawah.


"Pakai jas, pakai kaca mata, sepatu juga ... kilat amat. Bisa ngaca gua disitu."


Inka melihat wajahnya ke arah sepatu pantofel Dhanu yang mengkilat.


"Keren, keren, keren."


Dhanu berdecak."Enggak usah banyak omong, kamu!" ia kembali menarik leher kemeja Inka."Obatin kepala gue, bonyok, nih, gara-gara kamu."


"Aku mau dibawa kemana?."


"Enggak usah banyak nanya. Kamu harus tanggung jawab."


Dhanu membawa Inka kedalam sebuah ruangan kesehatan disekitar gedung proyek. Gadis itu sempat menyapukan pandangan pada ruangan berbentuk tenda berukuran yang tidak terlalu luas itu. Ada brankar, kotak kecil berwarna putih, berisi berbagai macam obat-obatan. Ada juga sebuah kursi panjang yang tersedia disudut ruangan, serta dispenser disisinya.


"Kamu kerja disini?"


"Bukan ... cuma memantau."


"Oh." Inka memperhatikan gedung yang belum jadi dari balik tenda yang terbuka.


"Mau bangun apa?"


"Hotel."


"Punya perusahaan kamu?"


"Perusahaan Papaku."sahut Dhanu datar, sambil meraih boks berwarna putih dan meletakkannya ke atas meja.


Inka berdecak."Sama aja."


Inka kembali memperhatikan gedung yang belum rampung itu."Besar banget ... kalau sudah jadi pasti bagus. Ahli banget nih, pasti, perancang desainnya."


Dhanu menghela nafas malas.


"Ngomong mulu, kamu ... Obatin."kata Dhanu kesal.


"Iya, iya ..." Inka mengerucutkan bibir sambil berjalan menghampiri Dhanu."Lakik kok lemah. Baru juga ketimpuk kaleng."gerutunya pelan.


"Kamu ngomong, apa?"


"Enggak ada. Mana obatnya?"


"Ambilkan air hangat dulu. Benjol nih, kepala gua ... mesti di kompres."


Inka membuang nafas kasar."Dimana?"


"Di tenda yang sebelah kiri."


"Ribet amat."


"Buruan!"


Inka langsung keluar dengan rasa kesal."Aduuuh ... kenapa sih, aku hari ini. Perasaan sial banget. Gagal touring, datang ke kantor Papa malah dimarahin. Eh, pulangnya malah ketemu sama si Danau."


"Disuruh inilah, itulah ... apes banget. Malah panas lagi." gerutunya geram sambil terus berjalan masuk ke dalam tenda berwarna coklat.


Braaak!


Inka terperanjat ketika tanpa sengaja menabrak seseorang yang sepertinya berjalan hendak keluar.

__ADS_1


"M-maaf ... maaf, saya nggak sengaja."Inka mengangkat wajah melihat seorang laki-laki yang berdiri didepannya. Ia sempat tertegun pada pria yang mengenakan setelan jas berwarna khaki tersebut.


"Kamu bukannya ..."


"Hai, ketemu lagi."


Inka tersenyum kikuk.


"Kenapa bisa ada disini?"


"Tadi nggak sengaja ketemu teman. Jadi dibawa kesini."


"Siapa? Dhanu?"


Inka mengangguk sambil tersenyum."Iya."


"Perlu sesuatu?"tanya pria itu.


"Mau ambil mangkuk."


"Oh, kalau begitu silahkan. Saya mau keruangan sebelah."pria itu tersenyum.


Inka kembali mengangguk. Masih berdiri sambil memperhatikan pria itu masuk kedalam sebuah ruangan berukuran lebih besar disamping tempatnya berada.


"Manis juga." Inka senyum-senyum sambil berjalan mengambil mangkuk kecil pada pantry yang tertata rapi didalam tenda itu. Dan kembali keluar. Gadis itu juga sempat melirik kearah ruangan tempat pria itu masuk sebelumnya. Namun ia tak melihat seorang pun didalam sana.


Kemana dia?


Inka meletakkan kain tipis dikening Dhanu yang terlihat merah dan sedikit bengkak.


"Kamu mau ngompres atau mau mandiin aku, sih? basah banget itu kainnya."protes Dhanu sebal.


"Elah, baru juga ngucur dikit. Ribet amat."


"Ngucur dikit, apaan? jasku sampai basah begini."


"Heh, Danau ... masi syukur aku bantuin ngobatin. Protes mulu dari tadi."


"Syukur apaan? yang ada aku apes ketemu kamu hari ini."kata Dhanu kesal.


"Heh, Ikan ... yang benjol itu kepalaku, bukan kepala kamu. Dan ini juga terjadi gara-gara kamu."


"Gua kan, nggak sengaja. Lagian udah tau ada kaleng melayang, bukannya menghindar malah tetap berdiri. Ya, benjol dong."


Dhanu berubah geram. Bicara dengan Inka menurutnya tak akan menemui ujung. Gadis itu tak akan bisa diam, dan akan terus menjawab. Kepalanya yang sudah pening, akan semakin pening jika tak berlapang dada untuk mengalah.


"Sini, biar aku yang mengompres sendiri."


Dhanu ingin meraih kain kecil yang ada ditangan Inka, namun tak diduga, ia justru tak sengaja memegang tangan kurus wanita itu.


Keduanya sempat terkesiap. Tapi Inka lebih dulu sadar dan membuka suara.


"Oh ... gue tau, kamu bawa aku kemari supaya kamu bisa dekat-dekat sama aku, kan? Ini apa, nih?"Inka melirik tangan Dhanu yang belum lepas dari tangannya. Detik itu juga Dhanu langsung menarik kain dan juga tangannya.


"Modus, lu, kan?."Inka menyipitkan mata."Jangan bilang lu, naksir sama gue."


"Diih, G'r banget kamu. Aku nggak pernah tertarik sama bocah. Apalagi kayak kamu."


"Masa?!" Inka memasang wajah jahil. Dan langsung tertawa cekikikan melihat wajah kesal Dhanu saat ini.


 --------


Megantara Group


Dilantai tujuh, tepat didalam sebuah ruangan yang cukup luas. Tampak beberapa karyawan yang memiliki jabatan penting di perusahaan konstruksi ini, sudah berkumpul dan duduk mengelilingi sebuah meja berukuran panjang didalamnya. Hari ini, tiba-tiba saja Dirga meminta mereka untuk melaksanakan rapat mendadak. Kasak-kusuk terdengar dari beberapa karyawan yang berbisik, dan seketika hening ketika Dirga memasuki ruangan itu.


Pria yang memakai setelan jas berwarna hijau army itu melemparkan map berwarna hitam keatas meja, dengan wajah ketat. Membuat beberapa karyawan menjadi cemas dan takut.


"Dimana Gio?"


Tanya Dirga dengan suara baritonnya, memandang ke arah beberapa karyawan bergantian.

__ADS_1


"Masih di proyek, Pak."kata Sarah yang menjabat sebagai administrasi diperusahaan ini.


Tak berapa lama, suara pintu terbuka. Gio masuk dengan langkah cepat."Maaf, saya terlambat."ucapnya dan langsung mendudukkan diri pada kursi kosong didekat Dirga.


"Tadi saya memeriksa data pengeluaran. Bulan ini bukannya perusahaan tidak memerlukan terlalu banyak pasokan pembangunan? tapi kenapa pengeluaran tiba-tiba saja melonjak naik?"


"Bahkan pasokan bulan kemarin lebih banyak, tapi pengeluaran tidak sebanyak ini. Ada yang bisa menjelaskan?"


Dirga melihat ke arah Sarah dan Wenda. Karyawan yang menjabat sebagai administrasi, dan staf akuntansi di perusahaan ini.


Wenda terlihat gugup. Ia melirik ke arah Gio, lalu melihat Dirga sejenak, dan kemudian menunduk. Sementara Sarah, wanita itu juga diam.


Suasana kembali hening, dan terasa dingin.


Gio berdeham."Boleh saya lihat, Pak?"


Tanya Gio, kemudian meraih map hitam itu.


 


Sendrapati Penthouse.


Wiwik keluar dari dalam kamar sambil bersenandung menuju dapur. Ia sempat melirik jam yang menempel didinding, terlihat sudah menunjukkan pukul delapan malam.


"Ini Mas Dirga kok belum balik juga, ya? makanannya sampe dingin begini."gumam Wiwik sambil menuangkan air bening kedalam gelas lalu meminumnya. Dan langsung berbalik, hendak kembali kedalam kamar. Namun terperanjat karena melihat Dirga sedang berdiri didepannya.


"Ya Allah, Mas Dirga.!" Wiwik mengusap-usap dadanya yang berdetak tak beraturan karena terkejut."Untung ganteng. Kalau jelek, Wiwik pasti bisa pingsan."


Dirga memasang wajah datar.


"Mbok, ya, kalau pulang itu ngucap salam, toh, Mas Dirga ... biar Wiwik tau."sungut Wiwik.


"Saya udah salam, kamu aja yang budek."


"Masa, sih? kok Wiwik bisa nggak dengar, ya?"Wiwik bertanya pada dirinya sendiri.


"Mas Dirga mau minum?"tanya Wiwik sambil cengengesan."Wiwik akan buatin minuman spesial sebagai permintaan maaf Wiwik, ke Mas Dirga."


"Nggak perlu. Entar yang ada kamu campurin ramuan aneh-aneh lagi, kayak tadi malam."


"Lah, Mas Dirga ... nggak percayaan banget sama Wiwik. Kali ini Wiwik janji, deh ... nggak akan berani macam-macam lagi." Wiwik menaikkan kedua jarinya, membentuk huruf v.


"Tapi ngomong-ngomong, Wiwik mau terimakasih loh, sama Mas Dirga karena nggak jadi mecat Wiwik. Wiwik seneng ... banget, tau Mas."


Wiwik mengekori Dirga yang sedang membuat teh hangat.


"Kalau Wiwik jadi dipecat, pasti Wiwik sekarang udah ada di kampung. Ngangon bebek ... kayak dulu lagi."


"Makanya, lain kali nggak usah macam-macam."kata Dirga tanpa menoleh pada Wiwik.


"Iya, deh, Mas ... Wiwik janji."


"Lagian kamu itu aneh, tau nggak? apa coba maksudnya nyampurin minuman pakai obat perangsang segala?"


"Kamu fikir aku nggak normal? kamu fikir aku nggak bisa terangsang, kalau nggak minum begituan?"tanya Dirga dengan suara yang kembali kesal.


Tapi yang ada Wiwik kembali cengengesan, sambil menutup mulutnya.


"Kenapa kamu cengengesan?"


"Enggak, Mas ..."


"Dhia mana?"


"Dikamar, Mas."


Dirga langsung berjalan menuju kamar sambil membawa teh hangat ditangannya.


"Loh, loh ... Mas Dirga nggak makan malam dulu, Mas?"


Dirga tak menggubris pertanyaan Wiwik, dan terus berjalan menapaki tangga.

__ADS_1


Wiwik cekikikan.


"Pasti kangen tuh, sama Mbak Dhia ... ya gitu, kalau udah kenak sekali bawaannya pingin mulu."


__ADS_2