Istriku, Dhia

Istriku, Dhia
Karyawan Baru


__ADS_3

Dirga membuka pintu kamar. Ia melihat Dhia sedang khusyuk melaksanakan shalat isya. Kemudian ia berjalan menuju kamar mandi. Setelah tadi sempat meletakkan teh hangat diatas nakas.


Beberapa saat didalam kamar mandi, Dirga keluar dari ruang ganti. Terlihat lebih segar dengan piama tidur yang membalut tubuhnya. Ia melihat Dhia sedang duduk bersandar diatas tempat tidur, sembari memainkan ponsel.


Pelan ia melangkah. Entahlah, tiba-tiba ia merasa canggung. Begitupun, Dhia. Gadis itu langsung meletakkan ponselnya begitu menyadari kehadirannya. Sepertinya kejadian tadi malam menciptakan sebuah rasa yang tak pernah disangka, didalam hati masing-masing. Meski keduanya adalah sepasang suami-istri, namun nyatanya semua yang berjalan selama ini, bukanlah seperti pernikahan yang sesungguhnya.


Ada jarak yang sengaja dibentang oleh Dirga. Sebuah alasan yang ia simpan sendiri. Namun jarak itu akhirnya terputus, hanya karena segelas minuman. Berhasil membawa mereka dalam gairah cinta semalam.


Dirga ikut duduk ditepi tempat tidur. Keduanya duduk berdampingan. Saling melirik melalui ekor mata masing-masing. Bibir keduanya terbuka, dan kembali tertutup seperti sama-sama ingin mengatakan sesuatu.


"Mas, sudah makan?"


"Kamu sudah makan?"


Terlempar tanya dari bibir keduanya dalam waktu yang bersamaan.


Keduanya tersenyum kikuk.


"Sudah."


Sahut keduanya lagi dengan serempak.


Dhia kembali mengulum senyum malu-malu.


Sementara Dirga, pria itu langsung melemparkan wajah ke sembarang arah. Mungkin saat ini juga sedang tersenyum. Tangannya terulur meraih sisa teh miliknya tadi, yang mungkin saat ini sudah menjadi dingin. Tiba-tiba saja pria ketus ini menjadi salah tingkah.


"Minumannya aman?"Dhia memandang Dirga dengan tatapan jahil.


"Aman."Dirga tersenyum."Aku sendiri yang buat."


Dhia manggut-manggut.


Suasana hening.


"Dhia ..."


"Iya, Mas?"


___________


Pagi ini, Dhia bangun dengan cepat. Lepas subuh, ia tak lagi kembali tidur. Rasanya hari ini ia begitu bersemangat. Sampai-sampai Wiwik yang melihatnya keheranan.


"Mbak Dhia pagi-pagi begini mau kemana? rapi banget. Kan, udah nggak kuliah." Wiwik memperhatikan penampilan Dhia. Gadis itu sangat rapi, dengan style ala-ala kantoran. Blus berwarna biru muda, dipadu dengan rok hitam selutut. Senada dengan sepatu yang Dhia kenakan.


"Coba tebak?"


"Mau ngelamar kerja, ya, Mbak?"


Dhia bergeleng."Mau kerja."


"Kerja?"Wiwik mengulangi tak percaya.


Dhia mengangguk cepat, rambut ekor kudanya turut bergoyang. Senyum mengembang terukir dikedua sudut bibirnya ketika mengingat Dirga menawarkannya untuk bekerja di, Megantara Group, tadi malam.


"Dhia ..."


"Iya, Mas?"


"Dikantor ada posisi kosong. Kalau kamu tidak keberatan, kamu bisa bekerja di perusahaanku."kata Dirga. Sontak Dhia yang mendengar, langsung ternganga tak percaya.


"Yang benar, Mas? M-maksud kamu aku boleh kerja di perusahaan kamu?"


"Emm."Dirga mengangguk tersenyum.


Kedua sudut bibir Dhia mengembang. Ia begitu senang, hingga refleks memeluk tubuh Dirga."Makasih, Mas ... aku senang banget."


Dirga sempat tertegun. Tapi kemudian tangan kanannya terangkat mengusap punggung Dhia.


"Iya."sahut Dirga pelan.


"Pasti kerja kantoran, kan, Mbak?."tebak Wiwik lagi."Kerja dikantor mana, Mbak?"

__ADS_1


Dhia memajukan bibirnya ke arah Dirga yang sedang menuruni tangga. Pria itu sudah rapi dengan setelan jas berwarna biru tua.


"Oalah ... Wiwik kok sampe lupa. Kan Mbak Dhia istrinya Direktur Utama, pengusaha terkenal di kota ini." Wiwik cekikikan."Enak banget sih, jadi Mbak Dhia."


"Punya suami ganteng, pengusaha kaya ... mau kerja apa, tinggal pilih."


Dhia tersenyum.


"Pakaian udah kompak aja."Wiwik tertawa dengan wajah jenakanya."Yang satu biru tua, yang satu biru muda."


"Ibarat air laut, Mbak Dhia tepinya, Mas Dirga samudranya ... dua warna yang selalu menyatu tak terpisahkan." Wiwik cengengesan."Bener-bener pasangan serasi."


"Kamu ngomong apa, sih?"


Dirga melempar tatapan tajam.


Sementara Dhia mengulum senyum, melihat bibir Wiwik tiba-tiba terkatup rapat.


Megantara Group.


Mobil sedan hitam metalik berhenti dihalaman gedung berlantai sepuluh itu. Dirga dan Dhia turun, setelah pintu dibuka oleh Doddy. Seperti biasa, tatapan mata dari beberapa karyawan yang baru saja sampai, akan tertuju pada sang Direktur Utama. Meski banyak yang tahu jika pria ini telah menikah, masih ada saja beberapa karyawan wanita yang berharap mukjizat untuk tetap bisa mendapatkan hati pria ini.


Kali ini, ada seseorang yang menyita mata beberapa karyawan.


Kehadiran Dhia, yang berjalan berdampingan dengan suaminya, sekaligus atasannya. Dirga Rayyan Megantara. Keduanya berjalan masuk kedalam lift, menuju lantai lima gedung itu.


Saat ini, terlihat para karyawan dilantai 5 semuanya hening, seolah fokus dengan tugas masing-masing. Tapi tetap saja Dhia bisa melihat sorot mata penuh tanya dari mereka yang tertuju padanya. Dhia dibuat tidak nyaman dengan semua itu. Ia hanya sesekali tersenyum, dan menunduk.


Dirga berdeham, menjernihkan suaranya, sambil melihat kearah para karyawan.


"Perkenalkan, ini Dhia ... karyawan baru yang bertugas sebagai staff accounting diperusahaan ini."kata Dirga dengan ekspresi wajah yang datar. Pernyataannya menjadi tanya dari beberapa karyawan.


Wenda dipecat, apa gimana?


Wenda turun jabatan?


Itu istrinya Pak Dirga, kan?


Sarah juga nggak kelihatan.


Nikah kali.


Ngundurin diri, mungkin.


Begitu kasak-kusuk saling lempar diantara beberapa karyawan wanita dan laki-laki didalam ruangan ini.


Gio yang juga berada disana, hanya hening dan mendengarkan.


"Untuk sementara, kamu bisa belajar dengan Gio. Dia manager proyek, sekaligus manager administrasi disini."kata Dirga melihat Dhia.


"B-baik, Pak."


Sudut bibir Dirga tertarik tipis. Hampir tak terlihat. Menurutnya, Dhia cukup pandai menyesuaikan tempat, dan kondisi.


"T-tapi saya harus ke proyek, Pak. Bagaimana kalau diwakilkan dengan Yudi. Dia juga mengerti dengan administrasi."


Dirga melirik ke arah Yudi. Pria manis dengan janggut tipis, berperawakan tinggi, yang duduk didepan komputer, tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Oke, kamu bisa minta tolong dengan Yudi."


"Saya permisi, dulu."ucap Dirga pada Dhia hampir seperti berbisik.


Dhia yang mendengar itu langsung mengangguk tersenyum.


"Yud, ajarin ... jangan macem-macem, lu. Istri Dirut ini."celetuk Gio pada Yudi.


"Aman."sahut Yudi sambil tergelak.


"Hai, Buk, Dhia ... selamat bergabung dengan kami."


Kata Jenny dengan senyum ramah pada Dhia.

__ADS_1


"Jangan panggil, ibu ... panggil nama saja."


Jenny bergeleng."Tidak enak, kamu istrinya Dirut."


Dhia tertawa renyah."Itu dirumah. Kalau diperusahaan saya adalah karyawannya."


"Tetap saja, tidak enak. Gimana kalau Pak Dirga dengar ... takutnya langsung diturunin jabatan aku." Jenny cekikikan.


"Terserah kamu saja kalau begitu."kata Dhia sambil tersenyum.


Menjelang makan siang, Dirga memperhatikan ponselnya. Ia tiba-tiba teringat pada Dhia. Langsung saja ia meraih ponselnya yang teronggok diatas meja. Lalu mengetikkan sebuah pesan.


Menunggu hingga beberapa menit, namun tidak ada tanda-tanda pesan terbalas.


Dilantai lima, terlihat Dhia sedang duduk, bersisian dengan Yudi. Pria itu terlihat serius mengajari Dhia, Sebenarnya ini tidak terlalu sulit bagi Dhia. Mengingat dirinya adalah lulusan manajement. Tak lepas dari pelajaran tentang mengelola keuangan perusahaan. Hanya saja, masih ada hal-hal lain yang perlu ia pelajari. Berbeda dengan jurusan akuntansi yang mungkin tak diragukan lagi tentang pekerjaan ini. Dhia mencoba berusaha menjadi karyawan yang handal, agar tak menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikan oleh Dirga kepadanya.


"Setelah posting jurnal, jangan lupa dipindahin ke buku besar." kata Yudi dengan dengan sabar mengajari Dhia."Udah ngerti, kan?"


Dhia mengangguk."Makasih, Yud."


"Sama-sama, buk."Yudi tersenyum ramah.


Namun rupanya senyuman itu membuat seseorang yang sedari tadi berdiri memperhatikan keduanya, dibuat terusik. Orang itu adalah Dirga. Entah sudah berapa lama ia berdiri disana. Sampai akhirnya ia berdeham cukup keras, membuat Dhia dan Yudi menoleh.


"Sudah siap?"Dirga melihat Dhia dan Yudi bergantian.


"Sudah, Pak. Saya permisi."Yudi berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya.


Dhia memperhatikan wajah suaminya yang tiba-tiba terkesan jutek.


"Bapak kenapa kemari?"


"Suka-suka saya. Kenapa? kamu nggak suka?."


Dhia langsung mengatupkan bibirnya. Menyadari pertanyaannya yang konyol.


"Temani saya makan siang."


Dhia mengangguk."Baik, Pak."


Ia meraih tasnya dari atas meja. Mengekori Dirga yang berjalan dengan langkah panjang didepannya.


"Kamu emang nggak bawa handphone?"


Tanya Dirga ketika keduanya sudah berada disebuah restoran sederhana diseberang kantor. Restoran sederhana yang menyajikan makanan lezat, dan sudah menjadi langganan dan tempat favorit para karyawan. Begitu pun, Dirga.


"Bawa, Mas ... tapi aku silent. Kamu ada nelpon, atau kirim pesan, ya?" Dhia membuka tas, dan melihat ponselnya.


"Kebiasaan kamu. Lain kali diaktifkan suaranya. Gimana kalau ada panggilan penting?"


"Iya, Mas."


Beberapa saat kemudian, seorang pelayan datang mengantarkan pesanan yang dipesan oleh keduanya. Seporsi ayam bakar madu, dengan dua gelas jus jeruk, serta satu porsi salad ayam tanpa nasi.


Dirga mengambil sepasang sendok, menge-lapnya hingga bersih dan memberikannya pada Dhia.


"Pakai ini."


"Baik banget, sih."cicit Dhia sambil tersenyum dan mengambil sendok yang disodorkan oleh Dirga kepadanya.


"Biasakan kalau makan diluar sendoknya di lap dulu."


"Iya, Mas."


"Tau nggak, Mas ... ini hari pertama aku kerja, tapi teman-teman dikantor semuanya welcome banget ke aku. Semuanya ramah-ramah."ujar Dhia antusias.


"Yudi, juga ... dia itu baik orangnya. Sabar banget ngajarin ak ...."


Uhk, uhk, uhk ....


Tiba-tiba saja Dirga batuk hingga berhasil memutus kalimat Dhia.

__ADS_1


"Hati-hati dong, Mas, makannya." Dhia langsung mengambil tisu, memberikannya pada Dirga.


__ADS_2