Istriku, Dhia

Istriku, Dhia
Terjawab Sudah, Bersamaan Dengan Bahagia Yang Baru Saja Hadir.


__ADS_3

"Bagaimana kalau Wira CitraWisata tau? mereka pasti akan menuduh perusahaan Megantara Group korupsi."Gio memandang Dirga dengan tatapan khawatir.


Dirga menghela nafas berat.


"Mereka jangan sampai tahu." sahut Dirga pelan.


"Kamu punya jalan keluarnya?


Dirga mengangguk."Aku akan menutupi semuanya dengan uang perusahaan Megantara Group."


Gio memandang Dirga tak percaya, kemudian berdesis."Ini konyol, Dirga. Itu artinya Megantara Group akan mengalami kerugian besar dalam membangun proyek ini."


"Itu lebih baik dari pada, nama perusahaan Megantara Group tercemar." kata Dirga datar.


"Tapi ..." Gio menyugar rambutnya, memutus kalimat, karena tak tahu lagi harus berkata apa.


"Kamu tenang saja. Uang Megantara Group masih bisa menutupi masalah ini."


"Iya, kamu benar ...." Gio menjawab cepat pernyataan Dirga."Mungkin uang Megantara Group bisa menutupi masalah proyek Wira CitraWisata. Tapi bagaimana dengan proyek gedung rumah sakit yang ada di Jawa?"


"Apa kita bisa melanjutkannya, dengan sisa uang yang ada?" tanya Gio lagi sambil dengan gerakan cepat menarik kursi, dan duduk didepan Dirga."Sementara kamu tahu sendiri. Biaya pembangunan rumah sakit itu mencapai puluhan milyar, Ga ..."


"Darimana kita bisa mencari kekurangannya?!"


Dirga bergeming.


"Enggak ada pilihan lain, Ga ... kita harus mundur dari proyek gedung rumah sakit itu." kata Gio memutuskan sepihak. Karena menurutnya, ini sudah tidak masuk akal.


"Kita nggak boleh mundur." Dirga menatap Gio tegas.


"What?"


Gio berdiri.


"Kamu yang benar aja, Ga?!"


"Kita harus memenangkan proyek rumah sakit milik, Pak Bram. Kamu tenang saja, aku akan berusaha mencari jalan keluarnya." ujar Dirga meyakinkan.


Gio hening sesaat. Tapi kemudian kembali bersuara.


"Terserah kamu lah, Ga. Aku permisi."


Dirga hening. Meski sejujurnya saat ini fikirannya sedang kacau, tapi ia berusaha tetap tenang untuk memikirkan jalan keluar permasalahan perusahaannya.


Drt, drt, drt.


Getaran ponsel diatas meja membuat Dirga menoleh. Ia langsung mengangkatnya, begitu melihat nama seseorang dilayar benda berwarna hitam tersebut.


Beberapa detik kemudian, senyum mengembang terbit diwajah tampan pria itu. Seolah menemukan bintang bersinar ditengah mendung kelam.


 --------


Dhia mengerjap-ngerjap. Semburat sinar matahari yang memantul dari balik kaca, menyilaukan pengelihatannya. Sejurus kemudian ia terperanjat, tangan kanannya segera meraih ponsel dari atas nakas untuk melihat jam.

__ADS_1


Ada yang menyitanya. Netra bulat itu tak langsung tertuju pada jam, tapi teralihkan dengan kertas kecil berwarna hijau muda, serta kata-kata yang tertulis rapi, menempel dilayar pipih ponsel berwarna gold itu.


Dhia pun, menarik kertas kecil berwarna hijau muda tersebut.


Istirahatlah! tidak perlu ke kantor hari ini.


Aku tidak mau kamu pingsan, dan menambah masalahku.


Begitu kata-kata yang terlampir disana.


Dhia tersenyum tipis.


"Maaf, Mas ... kali ini aku tak akan mendengarkanmu." Dhia kembali menempelkan kertas itu, diatas nakas. Ia buru-buru berjalan ke kamar mandi, setelah sempat melihat jam yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi.


Wanita dengan rambut kucir kuda, memakai blazer oranye, dipadu dengan rok hitam diatas lutut itu, sudah berdiri didepan cermin. Dhia memoles bibirnya dengan lipstik berwarna maple mocha. Kemudian menyemprotkan parfum favorit ke arah tubuhnya.


Seperti tadi malam, perut Dhia kembali bergejolak. Kepalanya kembali pusing. Namun kali ini karena harum parfum kesukaannya.


"Aneh banget ... kenapa belakangan ini aku sering mual dan ingin muntah?"


"Ini kan, parfum kesukaanku?! biasanya tidak pernah bergini."gumam Dhia bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Apa jangan-jangan ...


Bibir Dhia langsung ternganga, mengingat dirinya yang sampai saat ini belum kedatangan tamu bulanan. Sudah sebulan lebih, sejak kejadian tak terduga malam itu.


"Jangan-jangan aku hamil." Dhia menebak-nebak. Refleks bibirnya tersenyum mengembang sambil menyentuh perutnya yang rata.


Dhia meraih ponselnya, memasukkannya kedalam tas, dan langsung buru-buru keluar.


"Kerja, Wik." Dhia melanjutkan langkah.


"Loh, loh ... iki kepiye, toh? bukannya tadi Mas Dirga bilang, Mbak Dhia libur." Wiwik bertanya pada dirinya sendiri.


"Mbak Dhia nggak sarapan dulu?"


"Sarapan di kantor aja, Wik. Aku sudah terlambat." sahut Dhia sedikit berteriak. Dan langsung menutup pintu Penthouse.


Wiwik menghela nafas."Mbak Dhia, Mbak Dhia ... semangat banget kerjanya. Padahal tadi malam sakit, loh."


_____________


Didalam taksi, Dhia tak henti-hentinya tersenyum, tangan kanannya terus menyentuh perutnya yang rata, sementara tangan kirinya memegang selembar kertas berwarna putih. Surat keterangan kehamilan.


Beberapa saat lalu, sebelum taksi membawanya ke kantor, Dhia sempat mampir disebuah klinik kebidanan. Rasa penasaran membuatnya tak sabaran untuk mengetahui dugaan yang tercetus didalam hati.


Kini janin tertanam di rahimnya. Ia yakin, adanya calon bayi ini, itu akan membuat hubungannya dengan Dirga menjadi lebih baik. Saat ini, detik ini, ia membayangkan wajah Dirga yang tersenyum bahagia ketika mengetahui kabar kehamilannya.


Dhia sudah berada didepan pintu Direktur utama. Tersenyum sambil menggenggam amplop berwarna putih. Tangan kanannya terulur ingin membuka handle pintu. Tapi disaat yang sama, seseorang juga menarik pintu dari dalam.


Senyum Dhia seketika memudar, karena yang berdiri didepannya saat ini bukanlah Dirga, melainkan Tamara.


"Ngapain lagi kamu disini?"tatapan Tamara sengit.

__ADS_1


"Aku ingin bertemu, suamiku." Dhia membalas dingin. Ia ingin segera masuk, namun tiba-tiba saja Tamara menarik tangannya kasar, bersamaan dengan amplop putih yang terjatuh ke lantai.


Dhia ingin mengambilnya, namun rupanya Tamara yang sempat memperhatikan, gegas mengambil amplop putih itu lebih dulu.


"Kembalikan, Tamara.!" Dhia mencoba merebut amplop itu kembali, tapi tangan wanita itu dengan cepat menepisnya.


Tamara langsung membukanya. Wanita itu sempat berdiri mematung dengan wajah pias, begitu menyusuri tulisan yang ada disana. Sambil menelan ludah yang tercekat, ia memandang Dhia kembali.


"Tolong kembalik ..."


Kalimat Dhia terputus. Wanita ini langsung terbelalak ketika jari jari Tamara, dengan tanpa ragu merobek kertas putih itu didepan wajahnya. Lalu membuang serpihan kertas yang sudah tak berbentuk itu ke dalam tempat sampah.


"Aku tau kamu mempergunakan kabar kehamilan ini untuk merebut hatinya." Tamara tersenyum mengejek."Jangan mimpi kamu, Dhia!"


"Aku tegaskan sekali lagi sama kamu. Kak Dirga tidak pernah mencintaimu!" kata Tamara penuh penekanan.


Dhia tersenyum miris."Kamu itu kasihan banget, sih."


"Kalau Mas Dirga nggak pernah mencintaiku ... aku nggak mungkin hamil." sambung Dhia dengan santai."Jadi, udah, deh ... terima nasib aja, ya, sekarang."


"Belajar jadi Tante yang baik. Karena sebentar lagi kamu akan punya keponakan." Dhia tersenyum manis."Aku permisi."


Tamara menelan ludah seraya mengepalkan kedua tangannya. Tubuhnya menegang mematung. Menahan amarah, kesedihan, kebencian, dan ketakutan yang saat ini sudah melebur menjadi satu memenuhi dadanya.


"Kamu anak seorang pembunuh."


Langkah kaki Dhia yang hendak masuk kedalam ruangan seketika berhenti. Ia menoleh pada Tamara.


"Apa kamu fikir kak Dirga akan mencintai darah daging, pembunuh Papanya sendiri?"


Tubuh Dhia mematung. Tiba-tiba ia teringat tuduhan-tuduhan Mama Arini, yang mengatakannya anak seorang pembunuh, kala itu.


"Apa kamu fikir kak Dirga akan mencintai darah daging Malik Mahendra Hartawiawan, pria yang telah membuat Mamanya gila?"lanjut Tamara lagi. Sepertinya wanita ini, tak tahan lagi untuk mengungkapkan segalanya.


"Apa kamu fikir kak Dirga akan mencintai anak dari Malik Mahendra Hartawiawan, yang telah merenggut kebahagiaan masa kecilnya?"


Tamara bergeleng-geleng pelan.


"Kak Dirga tidak pernah mencintaimu, Dhia ..." kali ini Tamara seperti berasa diatas awan. Ia bisa melihat wajah Dhia yang terkejut dan hampir menangis saat ini.


"Kak Dirga menikahimu, hanya untuk membalaskan dendam kepada Papamu ... dia ingin membuat hidupmu, dan keluargamu menderita."kata Tamara pelan. Namun berhasil menusuk hati Dhia dengan tajamnya kata-kata yang terlontar dari bibir wanita itu.


"Setelah dendamnya terbalaskan, dia akan mencampakkanmu dan membuangmu kejalanan seperti sampah."


Dhia masih mematung. Netra bulat itu sudah memerah. Mendengar kata demi kata, yang keluar dari bibir Tamara, seperti petir yang menghancurkan seketika dunianya.


"Dan kehamilanmu ini ... aku yakin ini karena kecelakaan. Atau ... bisa saja karena kamu menggodanya."Tamara masih terus berbicara."Yah .... mungkin setelah anak itu lahir, kak Dirga akan mengambil anak itu darimu. Karena aku fikir dia masih punya hati."


"Dalam artian ... dia hanya akan menerima anakmu. Tapi bukan dirimu."kata Tamara lagi dengan senyum penuh kemenangan.


"Aku sudah tidak sabar untuk menyaksikan masa-masa itu, Dhia." bisik Tamara ditelinga Dhia. Kemudian pergi, meninggalkan Dhia yang masih berdiri terbungkam.


Dhia langsung memegangi kepalanya yang kembali pusing. Sendi-sendinya terasa lemas. Tubuhnya seketika limbung, dan hampir terjatuh, jika saja ia tak langsung berpegangan pada dinding.

__ADS_1


Satu persatu tanya dan curiga yang selama ini mengusiknya, terjawab sudah bersamaan dengan bahagia yang baru saja hadir.


Dhia menyentuh perutnya, sambil berderai air mata.


__ADS_2