Istriku, Dhia

Istriku, Dhia
Dingin Menyelimuti


__ADS_3

"Tadi waktu dikota suamiku tiba-tiba mukul, Mas mu."


Kata Dhia sambil menerima koper milik Dirga dari tangan Mala.


"Kok bisa?" Mala terkejut."Terus Mas Rio gimana? mukanya bonyok, dong, kalau gitu?"


"Enggak sampai bonyok, sih." Dhia duduk di kursi plastik sembari mendirikan koper disampingnya."Cuma memar dibagian sudut bibir."


"Mas Dirga salah paham ... dia kira Mas Rio mau macem-macem sama aku." jelas Dhia sambil mengusap pelan perutnya."Padahal masalah sepele, karena gara-gara belalang nempel dirambutku."


"Sampaikan permintaan maafku sama mas Rio, ya .... aku merasa nggak enak."


"Soalnya, tadi dia kayak marah gitu."


"Iya, nanti aku sampeiin ... tenang aja." kata Mala ikut-ikutan duduk diatas kursi plastik kosong, yang ada disamping kiri Dhia.


Hening sesaat.


"Kamu, kok, bisa kenal suamiku?"


Dhia beralih pembicaraan. Sesuatu yang sebenarnya sedari tadi ingin ia tanyakan karena penasaran.


"Oh ..." Mala terkekeh pelan."Itu, loh .... waktu aku bawa strawberry." ia menyenggol lengan Dhia."Ingat, nggak?"


Dhia mengangguk pelan.


"Waktu kamu udah masuk ... kan aku yang jaga toko bunga." Mala mengingat, dan memulai menjelaskan pertemuan itu pada Dhia."Terus aku nggak sengaja lihat ada cowok guaaaanteng ... ngintip dibalik pohon mangga yang ada didepan kontrakan sebelah."


"Yo, aku penasaran ... ya tak samperin, dong." kata Mala, bercerita dengan antusias.


"Mas, cari siapa?" tanya Mala kala itu, sambil menepuk bahu Dirga dari belakang, hingga membuat tubuh pria itu berjengit karena terkejut.


Bukan hanya terkejut mendengar suara wanita itu, tetapi juga terkejut karena melihat penampilan Mala, yang menurut Dirga terkesan aneh dan norak.


"Dari tadi saya lihat Mas-nya tilik-tilik(memperhatikan) ke arah toko bunga itu." Mala menunjuk ke arah toko bunga milik Dhia."Mas Lihatin saya, ya?"


Mala menyipitkan mata, melempar tatapan menyelidik.


"B-bukan!" bantah Dirga cepat.


"Terus ngapain disini? mau nyuri mangga?" todong Mala lagi dengan pertanyaan, seraya melihat ke atas pohon mangga yang ternyata tidak berbuah.


Lah, cuma daun doang.


"Mas-nya, ngaku! mau ngapain? atau kalau nggak, saya teriakin maling, nih?!' ancam Mala tegas.

__ADS_1


Waduh, kacau, nih! ... ember banget nih, perempuan.


Kata Dirga dalam hati.


"Tol ....."


Dirga buru-buru membekap mulut Mala, ketika hendak berteriak meminta tolong. Tapi bukannya memberontak meminta dilepaskan, Mala justru terbuai harum parfum Dirga. Mata wanita itu terpejam seperti menikmati aroma yang menusuk hidungnya.


Dirga yang melihat itu, buru-buru melepas bekapan tangannya. Dan betapa terkejutnya dia, ketika melihat telapak tangannya, sudah berwarna merah karena terkena lipstik menor dari bibir Mala.


Bisa dipastikan saat ini separuh wajah Mala sudah memerah belepotan. Bagaimana tidak? lipstik itu kini sudah keluar dari jalurnya.


Dirga meringis geli. Ia pun, langsung mengusap-usap telapak tangannya pada batang pohon mangga.


"Saya bukan maling!" bantah Dirga tak terima."Saya kesini cuma pingin lihat istri, saya."


Kedua alis Mala yang tebal seperti ulat bulu, saling bertautan.


"Wanita hamil yang tadi sama kamu itu, istri, saya."aku Dirga.


"Jadi, Dhia istri, Mas-nya?"


"Iya."


"Kenapa nggak ditemui aja?."


Mala manggut-manggut, seolah mengerti.


Pasalnya, Dhia pernah bercerita tentang alasannya kabur ke desa ini. Namun tentu Dhia tak menceritakan kebenaran, tentang ayahnya yang merupakan seorang pembunuh.


"Aku bisa minta tolong?"


Dirga memandang Mala penuh harap.


"Suami kamu itu romantis banget tau, nggak? diem-diem buatin makanan .... bawain bunga."


"Keliatan sayang banget sama kamu." kata Mala sambil memegang lengan Dhia."Udah, lah .. di maafin, aja."


Dhia hening sesaat.


"Kamu nggak tahu, masalahnya, Mala." Dhia menunduk sambil mengusap kembali perutnya.


Mala menghela nafas pelan.


"Aku memang nggak tahu masalah kalian apa." kata Mala pelan sambil memandang Dhia. Kali ini ia terlihat serius. Sama sekali tak ada kekonyolan diwajahnya.

__ADS_1


"Tapi aku tahu, dan bisa merasakan kalau suami kamu itu tulus, cinta sama kamu." sambung Mala lagi.


"Sampai-sampai dia ketabrak begitu ... ya, karena ngejar kamu. Kalau bukan karena cinta, dia nggak akan biarin dirinya terluka parah kayak begini." Mala masih terus menatap Dhia.


Dhia kembali hening.


"Sekarang kamu lihat suami kamu, sana. Siapa tau dia butuh sesuatu." Mala beranjak dari duduknya."Aku mau pulang dulu. Soalnya udah malem."


Dhia mengangguk pelan.


Selepas kepergian Mala, Dhia beranjak. Menarik koper milik Dirga, dan melangkah menuju kamar dimana Dirga berada. Setelah sebelumnya menutup pintu kamar Mbok Siah yang terbuka. Ia sempat melirik kedalam, melihat wanita renta itu yang ternyata sudah terlelap.


Dhia membuka pintu kamar. Disana, ia bisa melihat Dirga sedang kesulitan hendak berdiri, karena kaki yang teluka.


Dhia menghela nafas pelan. Menaruh koper disamping lemari kayu berwarna coklat tua yang ada disudut kamar, lalu berjalan menghampiri Dirga, berniat membantunya.


"Mau kemana?"


Suara Dhia terdengar dingin.


Dirga menoleh."Ke kamar mandi."


Tanpa bertanya, atau embel-embel menawarkan diri, Dhia langsung melingkarkan tangannya diperut pria yang terbungkus kaos hitam itu. Berniat membantu, namun Dirga melarangnya. Karena khawatir dengan kondisi Dhia yang sedang mengandung.


"Aku bisa sendiri."kata Dirga pelan."Lebih baik kamu istirahat ... aku tahu, kamu juga lelah."


Namun Dhia seolah tak menggubris, ia tetap membantu Dirga untuk berjalan. Mau tak mau, Dirga pun, akhirnya menurut.


Saat ini, keduanya sudah kembali kedalam kamar.


Dhia sedang duduk ditepi ranjang. Jemarinya yang lentik dengan telaten mengganti perban tangan Dirga yang basah, akibat tak sengaja terkena percikan air.


Tak bersuara, wajah wanita itu terlihat dingin dan sedikit menunduk. Meski tanpa diminta, jemarinya terus bergerak melakukan tugasnya.


Seperti tak ingin membuang kesempatan, Dirga memandang Dhia tak berkedip, menyusuri setiap lekuk wajah wanita itu yang kini sedikit, terlihat lebih chubby. Semakin menggemaskan menurutnya. Apalagi melihat perut buncit yang dibalut piyama tidur berwarna maroon itu, ah,, rasanya ia ingin sekali menyentuh, dan menyapa calon anaknya didalam sana.


Tapi itu tentu tak Dirga lakukan. Jika itu terjadi, mungkin saat ini ia sudah menjerit, berteriak kesakitan karena Dhia pasti akan langsung mengikat perban ditangannya dengan sangat kuat.


Tanpa sengaja, pandangan keduanya bertemu. Namun itu tak lama, karena Dhia kembali menunduk.


Malam sudah semakin larut. Tapi sepasang suami istri yang sedang berbaring, masih terjaga dalam diam, tenggelam dalam fikiran masing-masing.


Tak pelak suasana dingin menyelimuti kamar kecil itu. Bukan karena udara, melainkan bibir keduanya yang membisu.


"Dhia ..."

__ADS_1


Suara berat Dirga memecah kesunyian. Meski Dhia memunggunginya, ia tahu kalau saat ini istrinya itu belum tertidur.


"Kalau ada yang ingin dibicarakan, besok saja, Mas" sahut Dhia tanpa menoleh."Kamu lagi sakit ... lebih baik istirahat."


__ADS_2