Istriku, Dhia

Istriku, Dhia
Belum Siap Kehilangan


__ADS_3

Sudah sebulan sejak Dhia bekerja di perusahaan suaminya. Hari-hari ia habiskan bekerja dengan semangat. Meski terkadang suaminya ketusnya itu masih saja menyebalkan. Tapi entahlah, Dhia justru dibuat gemas. Termasuk dengan aturan-aturan yang Dirga berikan kepadanya.


Dilarang menutup dinding kaca pembatas ruangan, melarang karyawan pria masuk kedalam ruangan Dhia. Dan lebih parahnya lagi, Dhia dilarang tersenyum kepada lawan jenis, kecuali dirinya. Konyol bukan? tapi akhirnya Dhia mengerti. Itu semua pasti karena kecemburuan. Begitu menurutnya.


Namun ada satu yang Dhia tak mengerti. Sampai saat ini, Dirga masih membentang jarak. Nafkah bathin belum sepenuhnya sempurna. Tapi Dhia tetap bersabar. Menanti pernikahannya, sempurna seperti yang ia impikan. Selangkah demi selangkah, perubahan itu ada. Kini Dirga semakin menunjukkan perhatiannya.


Pukul sembilan malam Dirga baru saja kembali dari kantor. Sejak pagi, ia memang cukup sibuk. Menge-cek perkembangan proyek, bertemu klien, lalu kembali lagi ke kantor melanjutkan pekerjaan.


Sementara Dhia, ia pulang lebih dulu diantar oleh Doddy. Wanita itu juga cukup sibuk, mengurus pembukuan akhir bulan. Terlihat saat Dirga membuka pintu kamar. Seperti lelah, Dhia tengah pulas dalam tidurnya.


Selepas membersihkan diri, Dirga turut berbaring disebelah Dhia. Baru saja berada dalam mode tenang, Dirga harus di usik oleh ponselnya yang berdering.


Dengan suara malas ia menjawab. Namun sejurus kemudian matanya terbuka lebar, ketika mendengar suara seseorang diseberang telepon.


"Are you sure?" Dirga kembali duduk, sembari bersandar pada dinding tempat tidur.


Iya, Pak. Saat ini perkembangannya sudah lebih baik. Kami sedikit bisa menggali informasi tentang keberadaan wanita itu.


Dan kami sudah bisa memastikan, Rossa yang dia maksud adalah wanita yang anda duga.


Begitu kata seseorang yang berbicara dibalik ponsel.


Dirga tersenyum. Terpancar kelegaan diwajahnya.


"Oke, selanjutnya lakukan seperti yang aku katakan sebelumnya."


Baik, Pak.


Sahut orang itu sebelum Dirga memutus panggilan.


Syukurlah, selangkah lagi, aku akan mengetahui semuanya.


Bathin Dirga. Ia tersenyum melihat Dhia yang tertidur pulas. Perlahan tangan kanannya terangkat mengusap rambut gadis itu, sembari menunduk seperti ingin mencium. Tapi berhenti ketika merasakan tubuh Dhia bergerak.


"Kamu ngapain, Mas? mau nyium aku?" tanya Dhia dengan suara serak khas bangun tidur, sembari melihat Dirga dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka.


Dirga sedikit tergeragap.


Plak!


Au ...!


Pekik Dhia dengan mata terpejam ketika Dirga tiba-tiba saja melayangkan telapak tangan dikeningnya.


"Sakit, Mas."


"Ada nyamuk, tadi ... dikening kamu. Jadi nggak usah g'r."


Sahut Dirga berbohong.


Dhia mengerucutkan bibirnya kesal. Langsung menarik selimut seraya berbalik memunggungi Dirga dan kembali tidur.


______________


Megantara Group


Dirga memperhatikan Dhia melalui dinding kaca pembatas. Ia bisa melihat Dhia yang sedang serius didepan buku-buku, dan layar komputer seraya memijat pelipis.


Ia langsung meraih ponsel dan mengetik dibenda pipih berwarna hitam itu, lalu mengirimkannya pada Dhia.


Kenapa? pening?


Begitu pesan yang ia kirim. Detik berikutnya, ponsel hitam itu berbunyi.


Dhiaaa


Aku butuh jalan-jalan.


Itu balasan dari Dhia.


Dirga pun, tersenyum membacanya.

__ADS_1


Pukul setengah empat lewat sepuluh menit, Dhia baru saja kembali usai menjalankan sholat ashar, di musholla kecil yang tersedia dilantai tujuh. Ia sempat terkejut saat masuk, melihat Dirga yang tengah duduk santai dikursinya.


"Kamu ngapain, Mas?"


"Nunggu kamu, lah."sahut Dirga datar.


"Ada apa?"


"Katanya tadi pingin jalan-jalan. Ayo ..."


"Sekarang?"


"Iya."sahut Dirga datar.


Dhia melihat jam yang melekat dipergelangan tangannya."Tapi sekarang masih jam empat kurang, Mas. Kan belum waktunya pulang."


"Memangnya kenapa? ini atasan kamu loh, yang ngajak."


Dhia langsung tertawa renyah."Iya, ya ... suamiku kan, atasanku. Tapi Beneran kamu ngajak aku jalan-jalan?."


"Tumben banget."


"Aku cuma kasihan sama kamu. Takutnya kepala kamu botak gara-gara pening mikirin pekerjaan terus."


Dhia mencebikkan bibir.


"Bukan karena sayang?" Dhia memasang wajah sedih.


"Enggak usah banyak tanya, Dhia."sahut Dirga sebal."Ayo, sebelum aku berubah fikiran, nih."


"Jangan dong, Mas" sahut Dhia cepat."Sebentar ...." ia merapikan mejanya, lalu meraih tasnya dengan buru-buru. Kemudian mengejar Dirga masuk kedalam lift, menuju lobby.


Mobil hitam itu meluncur menuju pusat kota. Dhia terlihat senang. Sebulan penuh menghabiskan waktu dengan pekerjaan dikantor, rasanya saat ini ia seperti burung yang baru lepas dari dalam sangkar, terbang bebas melihat keramaian disekitar kota.


"Mas .... hari ini aku pingin makan dicafe langgananku."kata Dhia seraya melihat Dirga yang sedang fokus menyetir mobil.


"Di cafe Nampol. Makanannya enak-enak."


"Waktu masih kuliah, aku sama teman-teman sering makan disana. Tempatnya juga bagus."sambung Dhia lagi.


"Terserah kamu aja."sahut Dirga datar."Tapi sebelumnya aku mau ngajak kamu ke mall, dulu. Belanja pakaian buat kamu."


"Supaya aku nggak bosan lihat baju kerja kamu itu-itu terus."Dirga melirik Dhia.


"Iya, sih, Mas ... baju kerjaku cuma ada beberapa pasang."Dhia meringis."Tapi ngomong-ngomong, makasih loh, udah mau belanjain aku "


"Kamu baik banget hari ini. Aku jadi makin cinta." Dhia mencolek-colek lengan Dirga, seraya mengedip-kedipkan mata dengan senyum jahil.


"Apa, sih, kamu?"


Dirga mencoba menghindar dari sentuhan jahil jari-jari Dhia.


Dhia masih tersenyum.


Beberapa saat berlalu, mobil sedan hitam metalik itu berhenti di halaman sebuah mall. Saat ini, Dhia dan Dirga menuju ke tempat pakaian wanita.


"Ini bagus." Dirga menyodorkan blus berwarna biru muda bermotif bunga-bunga pada Dhia.


Dhia menggeleng."Aku nggak suka."


"Bukannya kamu suka warna biru muda? Hampir semua baju kamu dirumah warnanya biru muda."


"Kayaknya sekarang aku bosan, Mas."


Dirga mengernyit.


"Aku udah pilih ini."Dhia tersenyum menunjukkan tiga pasang baju dengan warna yang berbeda-beda."Bagus, kan?"


Dirga menarik kedua sudut bibirnya kebawah."Bagus."


Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Dirga dan Dhia saat ini sudah berada disebuah cafe. Cafe yang bertuliskan Nampol dihalaman depan, terlihat ramai dipenuhi pengunjung yang kebanyakan adalah anak-anak muda. Kelap-kelip lampu, carpet hijau yang membentang hampir diseluruh sudut ruangan, serta iringan musik, membuat tempat itu terlihat keren.

__ADS_1


Andaikan ku dapat mengungkapkan perasaanku


Hingga membuat kau percaya


Akan kuberikan seutuhnya rasa cintaku


Rasa cinta yang tulus dari dasar lubuk hatiku, oh ....


Tuhan, jalinkanlah cinta bersama s'lamanya


Sebuah lagu yang berjudul selamanya cinta yang dibuat akustik itu, terdengar mengiringi para pengunjung yang sedang menikmati makan malam.


Dhia sudah menghabiskan makanannya. Tinggal tersisa separuh mocktail lemonade didalam gelas.


"Mas, aku mau nyanyi." kata Dhia tiba-tiba ketika musik sudah berhenti.


Dirga terbelalak."Emang kamu bisa nyanyi?"


"Bisa."Dhia tersenyum penuh percaya diri.


"Aku nggak yakin."


"Kamu nggak percaya? Oke, aku kesana." wanita itu langsung berjalan menuju panggung cafe, tanpa menunggu persetujuan dari Dirga yang kembali menikmati makanannya.


Sewindu sudah ...


Ku tak mendengar suaramu


Ku tak lihat senyumanmu


Yang slalu menghiasi hariku


Suara Dhia membuat Dirga yang sedang makan tiba-tiba terbatuk-batuk. Tak terkecuali para pengunjung lain yang langsung tertawa, dan tersenyum mengejek pada wanita yang sedang berdiri diatas panggung.


Lagu yang berjudul belum siap kehilangan itu, kini terdengar kacau, dan sumbang mengalun di udara. Benar-benar sudah kehilangan mellow-nya.


Sewindu sudah ...


Kau tak berada di sisiku


Kau menghilang dari pandanganku


Dirga kini meringis mendengar suara itu. Ia menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, lalu melirik ke arah para pengunjung, yang kebanyakan tertawa melihat Dhia.


Ya ampun, suaranya


Turun, Mbak!


Beberapa suara pengunjung cafe mampir ditelinga Dirga. Ia pun memutuskan berdiri, dan naik ke atas panggung. Dengan gerakan cepat ia menarik microphone yang ada didepan Dhia.


"Mas, kok, diambil sih?" kata Dhia pelan, namun pria itu tak menggubrisnya.


Ternyata belum siap aku ...


Kehilangan dirimu


Belum sanggup untuk jauh darimu


Yang masih slalu ada dalam hatiku


Dhia tercengang, dan akhirnya tersenyum melihat Dirga bernyanyi melanjutkan lagunya itu. Suara yang menurut Dhia sangat bagus. Ia bahkan tak berkedip meresapi lirik, dan memperhatikan wajah Dirga yang bernyanyi dengan penuh penghayatan.


Sewindu sudah


Kau tak berada di sisiku


Kau menghilang dari pandanganku, oh oh ...


Tak tahu kini kau dimana ho-ho ...


Hiruk pikuk tepuk tangan dari para pengunjung memenuhi ruangan cafe, ketika Dirga sudah selesai. Ada pula yang berteriak meminta Dirga kembali bernyanyi.

__ADS_1


Namun pria itu tak merespon. Segera turun dari atas panggung seraya menarik lengan Dhia.


__ADS_2