
"Dirga belum balik juga, nduk?." Mbok Siah menjalankan kursi rodanya, menghampiri Dhia yang sedang berdiri, sesekali berjalan mondar-mandir, seraya memegangi ponsel didepan dada.
"Belum, Mbok." ujar Dhia sambil mendudukkan diri disofa.
"Sudah ditelpon? siapa tau karena banyak kerjaan dia lupa. Maklum, kan ... soalnya kan, kemarin libur. Siapa tahu kerjaannya numpuk."
"Sudah ditelpon, Mbok. Tapi nomornya nggak aktif." jawab Dhia dengan perasaan gelisah yang sejak tadi muncul."Mungkin Mbok benar .... Mas Dirga pasti lagi sibuk. Makanya ponselnya di silent."
"Jadi gimana? kalau nunggu suami kamu pasti kesorean banget. Apa mau diantar Wiwik aja?."tanya Mbok Siah lagi.
"Ini juga sudah kesorean, Mbok."Dhia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah 5 sore."Jadwal periksa kandungan pasti sudah mau tutup. Mungkin besok saja ... siapa tahu besok Mas Dirga ada waktu."
Mbok Siah menghela nafas pelan."Iya, juga, sih." ia memperhatikan wajah Dhia yang kini sudah menunduk."Sudah .... jangan sedih. Orang lupa itu biasa. Maklumi saja .... suamimu pasti lagi banyak kerjaan."
Dhia mengangkat wajah, tersenyum samar."Aku nggak sedih, Mbok." ucapnya dengan ujung jemari yang saling meremas.
Selang kemudian telepon rumah berbunyi. Dhia ingin berdiri untuk segera mengangkat. Tapi disaat yang sama, ternyata Wiwik sudah lebih dulu meraih telepon tersebut.
"Hallo selamat sore ... ini dengan Wiwik, asisten Mas, Dirga Rayyan Megantara." jawab wanita itu dengan gaya ramahnya yang terkesan centil.
Entah apa yang diucapkan seseorang dari balik telepon itu. Tapi saat ini, Dhia dan Mbok Siah dapat melihat, ekspresi keramahan Wiwik yang berubah tegang.
"Siapa, Wik?." Dhia berdiri, menghampiri Wiwik."Ada apa?."
"Enggak mungkin." lirih Wiwik pelan seraya bergeleng, dengan bola mata berkabut."Enggak mungkin."
"Siapa yang nelpon, Wik? ada apa?!" Dhia mengguncang bahu Wiwik dengan ketakutan.
"Mas Dirga, Mbak ...." Wiwik menangis sambil memandang Dhia.
"Ada apa? kenapa dengan Mas Dirga?." tanya Dhia dengan suara sedikit tinggi dan perasaan takut yang semakin kuat. Namun Wiwik rupanya seperti tak kuasa untuk menjawab. Melihat itu, Dhia langsung menyambar telepon yang masih berada digenggaman Wiwik.
"Hallo, selamat sore .... saya istri dari Dirga Rayyan Megantara. Kalau boleh tahu, sebenarnya apa yang terjadi dengan suami saya?." tanya Dhia dengan nada suara yang dibuat setenang mungkin.
Iya, selamat sore, Buk ... kami dari Polres, Jakarta Selatan, ingin memberitahukan kepada ibu, bahwa satu jam yang lalu mobil sedan hitam metalik dengan plat nomor xxxx baru saja mengalami kecelakaan, dan terjun kedalam jurang.
Kami sudah menyelidiki, siapa pemilik mobil tersebut. Dan ternyata pemiliknya adalah Bapak Dirga Rayyan Megantara. Jelas polisi tersebut.
Untuk jasad korban sendiri, kami masih belum menemukannya. Dan saat ini masih dilakukan pencarian. Diduga ... beliau sempat terlempar keluar, dan terseret arus sungai yang berada disekitar lokasi kejadian. sambung polisi tersebut dengan hati-hati.
Dhia refleks membungkam mulutnya dengan tangan bergetar. Menahan jerit, yang meloloskan bulir bening tanpa permisi. Sementara telepon yang berada digenggaman tangannya seketika terjatuh kelantai.
"Tidak! suamiku tidak mungkin meninggal." Dhia bergeleng-geleng seperti orang linglung.
"Mas !!." jerit Dhia sambil menangis.
Tapi detik itu itu Dhia memekik, sambil memegangi bagian bawah perutnya, bersama dengan darah segar yang mengalir dikakinya. Tubuh berisi yang sedang berdiri itu, seketika lunglai. Dhia tak sadarkan diri. Beruntung Wiwik menyadari, dan dengan sigap menahan tubuh Dhia, hingga tak jatuh kelantai.
"Ya Allah, Mbak Dhia ...!"
"Cucuku!." Mbok Siah menangis.
______________
"Bagaimana dengan rencana yang aku perintahkan?."
Malik berbicara dengan seseorang dari balik ponselnya.
__ADS_1
Semua berjalan sesuai yang Bapak minta.
Suara dari balik ponsel tersebut terdengar datar.
Dia sudah mati.
"Kamu yakin?." tanya Malik memastikan.
Dia terjun kedalam jurang yang dalam, yang dibawahnya terdapat sungai. Mustahil jika dia masih hidup, Pak!.
Mendengar itu kemudian tawa Malik pecah memenuhi ruangan kantor pribadinya. Begitu puas, seolah ini adalah kemenangan yang paling ditunggu-tunggu olehnya."Bagus, Gio ... kerja bagus!."
"Ah ... akhirnya, aku bisa tenang juga!." Malik kembali tertawa. Tawa itu keras, sangat keras!. Baginya kehadiran Dirga selama ini seperti bola api yang mengikutinya, dan kapan saja bisa membakarnya. Tapi hari ini, ia berhasil menyingkirkannya. Tak perduli jika harus menghilangkan nyawa sekalipun. Ia pernah membunuh orang. Kembali membunuh, bukanlah hal tidak mungkin baginya. Semua demi ketenangannya.
Mendengar tawa itu, Gio hening. Tapi setelah itu kembali bersuara.
Aku telah melakukan tugas yang kau minta. Aku harap, setelah ini ... jangan pernah lagi mengusikku dan membawa-bawa nama Papaku dalam kasus itu.
"Tenang saja anak muda." sahut Malik yang kali ini sudah meredakan tawanya."Asal tak ada orang yang melihat perbuatanmu tadi ... aku jamin, kasus itu tidak akan pernah terkuak lagi."
"Aku aman ... Papamu juga aman ... begitu pun, dirimu!."pungkas Malik.
"Dirga Rayyan Megantara." sudut kanan bibir Malik tertarik tipis. Ia mengucapkan setiap kata nama itu dengan penekanan. Seraya memainkan bolpoin dengan ujung jarinya."Ini akibatnya jika ada yang berani mengusikku."
"Mungkin saat ini kau sudah bertemu dengan Papamu." Malik tersenyum puas."Aku harap kematian kalian berada dalam kedamaian."
Dhia membuka mata. Ia sempat bingung melihat latarnya saat ini adalah dinding putih dengan bau yang khas. Tapi perlahan rangkaian kejadian satu persatu muncul. Membuatnya bisa mengingat jelas apa yang sudah terjadi.
Disampingnya, Wiwik sedang berdiri seorang diri. Sementara Mbok Siah, berada di Penthouse. Mengingat kondisinya yang memang sudah sangat renta. Meski begitu, wanita tua itu, sempat meminta untuk ikut karena mengkhawatirkan kondisi Dhia. Tapi Wiwik tidak mengizinkannya.
Wiwik terkejut, ketika Dhia turun, sambil mencabut paksa jarum infus yang menempel ditangannya.
"Aku mau mencari suamiku!."
"Jangan, Mbak. Wiwik mohon ... Mbak harus tetap disini." Wiwik menangis sambil menahan tubuh Dhia."Kondisi Mbak Dhia sedang tidak sehat."
"Mbak Dhia harus sabar, nungguin polisi ngasih tahu perkembangan tentang pencarian Mas Dirga lagi."
"Enggak, Wik!." Dhia bergeleng berkali-kali."Aku harus mencari Mas Dirga sekarang. Dia butuh aku!."
"Jangan, Mbak!."
"Mbak!." Wiwik berusaha mencegah. Tapi Dhia dengan sekuat tenaga melepas tangan Wiwik yang menarik pergelangan tangannya.
"Mbak Dhia!." jerit Wiwik histeris. Ketika Dhia kembali pingsan, dengan darah segar yang kembali mengalir. Bahkan kali ini lebih banyak, dari sebelumnya.
"Suster!."
"Dokter!."
Wiwik berteriak meminta pertolongan.
Saat ini, Wiwik sedang duduk disebuah kursi. Tepat disamping sebuah ruangan operasi. Sambil sesekali menyusut air mata yang mengalir dipipinya. Ya Allah, aku mohon kuatkan lah, Mbak Dhia.
"Buk Dhia mengalami setres akibat kejadian yang baru saja dia alami, sehingga menyebabkan kandungannya mengalami kontraksi yang hebat." ujar dokter Airin, ketika beberapa saat lalu meminta Wiwik masuk kedalam ruangannya.
__ADS_1
"Kandungannya sudah sangat lemah." sambung Dokter Airin lagi."
"Kami harus melakukan operasi saat ini juga. Jika tidak segera dilakukan, kami tidak bisa menjamin bayi yang ada didalam kandungannya akan bertahan lama."
"Bagaimana keadaan Mbak Dhia? operasinya sudah selesai?."
Suara Doddy yang datang dengan terburu-buru membuat Wiwik menoleh. Pria itu duduk disebelah Wiwik, sambil meletakkan satu tas pakaian yang baru saja dibawanya.
"Belum." kata Wiwik pelan.
"Kabarnya Mas Dirga gimana? apa sudah ditemukan?."tanya Wiwik. Tidak ada tatapan atau suara kejengkelan seperti biasanya saat berbicara dengan Doddy.
Doddy bergeleng lemah."Tapi polisi memastikan Pak Dirga sudah meninggal terseret arus sungai. Dan sekarang jasadnya masih terus dicari, neng."
Tangis Wiwik kembali pecah. Ia tak tega pada Dhia, yang saat ini sedang berjuang melahirkan, tanpa kehadiran seorang suami yang sangat di cintai, bahkan sudah pergi untuk selama-lamanya. Sanggupkah Dhia menerima kenyataan ini?
"Kasihan, Mbak Dhia." Wiwik terisak. Perlahan kepalanya miring, bersandar dibahu Doddy.
Doddy yang saat ini juga sedang bersedih, dibuat terkesiap saat bahunya dijadikan tumpuan kepala oleh Wiwik. Dengan hati berdebar, ia mengusap rambut wanita itu.
"Udah ... jangan nangis terus, neng. Sekarang kita harus berdoa. Semoga Mbak Dhia dan bayinya selamat. Dan jasad Pak Dirga bisa segera ditemukan."
"Udah ya, neng, jangan nangis terus ... kalau kamu nangis, aku juga jadi ikut nangis." kata Doddy sambil terus mengusap kepala Wiwik. Dan rupanya sentuhan halus tangannya itu, akhirnya membuat Wiwik tersadar, dan menarik kepalanya dari bahu pria itu.
"Kamu itu kebiasaan ya, suka cari-cari kesempatan." geram Wiwik tertahan.
"Ampun, neng Wiwik ... kan, tadi neng Wiwik sendiri yang nyender."
"Iya! tapi kan, tangan kamu nggak harus gini, gini!." ucap Wiwik sambil memperagakan tangan Doddy ketika mengusap kepalanya.
"Ah, elah ... cuma ngusap doang, neng. Aku cuma nggak tega liat neng Wiwik nangis."
"Alesan aja, kamu itu!." ucap Wiwik kesal."Sana, mundur ... mundur. Enggak usah dekat-dekat!."
Beberapa jam berlalu, Dhia sudah dipindahkan kedalam ruangan pemulihan. Pelan-pelan kesadarannya sudah terkumpul. Tatapannya begitu sayu, dengan wajah pucat tak berdaya. Pertama, orang yang dia lihat adalah Wiwik. Tapi disisi Wiwik, ia bisa melihat Rossa, dan Inka.
Sementara disisi kanannya, ada Malik. Pria yang paling ia benci. Berdiri dengan tatapan sendu, yang ia tau, pria itu sedang bersandiwara.
Bulir bening dari sudut mata Dhia kembali menetes. Bagaimana tidak? saat ini, orang yang paling ia lihat saat dirinya membuka mata, adalah suaminya. Menangis haru bersama, menyambut kelahiran buah hati mereka yang paling dinanti.
"Mas?." lirihnya pelan hampir tak terdengar.
"Sayang ...?." Rossa menangis mengusap kepala anaknya itu."Mama percaya kamu kuat. Kamu anak Mama yang kuat, nak!."
Dhia tak menjawab.
"Iya, Mbak ... Mbak harus kuat. Ponakanku sudah lahir, Mbak ... dia lucu." timpal Inka dengan suara bergetar menahan tangis. Membuat air mata Dhia tak lagi terbendung saat ini.
"Wik, kamu bisa pulang sekarang!." ucap Malik, memandang Wiwik."Urus persiapan untuk pengajian malam ini."
"Kita harus mengirimkan doa, agar jasad Dirga diberikan ketenangan."
Kalimat demi kalimat yang terlontar dari bibir pria itu membuat rahang Dhia mengeras. Matanya memerah menahan kemarahan.
"I-iya, Pak!." Wiwik mengangguk ragu dan melangkah keluar.
"Berhenti!." teriak Dhia tiba-tiba."Tidak ada pengajian!" ia memandang Wiwik dengan tegas.
__ADS_1
"Suamiku masih hidup!"
"Dia masih masih hidup!."