
Malam ini, sejak kejadian didalam mobil ketika Dhia meminta penjelasan, Dirga dan Dhia tak lagi saling bicara. Entah hati keduanya sedang dikuasai oleh ego, atau sedang dalam tahap meraba hati masing-masing.
Saat ini, Dirga berada di ruang kerja, mengkaji ulang rancangan desain hotel untuk perusahaan perhotelan Wira Citrawisata. Sementara Dhia, gadis itu sedang berada di dapur membantu Wiwik membereskan piring-piring kotor setelah makan malam.
"Mbak Dhia sama Mas Dirga kenapa lagi, sih, Mbak? Diem-diem aja Wiwik perhatiin dari tadi."
"Wiwik sedih tau, Mbak."
"Biasalah, Wik ... kayak nggak tahu aja kamu Mas Dirga kayak mana orangnya."
Wiwik mendesah pelan.
Gimana ya, caranya biar Mbak Dhia sama Mas Dirga itu lengket, kayak lem nggak bisa lepas.? Rasanya pingin tak masukkan kamar aja dua-duanya, terus tak kunci biar nggak bisa kemana-mana sampai pagi. Gemes banget Wiwik lihatnya. cerocos Wiwik dalam hati.
"Wiwik!"teriak Dirga dari dalam ruang kerja. Suara itu begitu keras sampai-sampai membuat Wiwik terperanjat.
"Oalah ... kaget aku."Wiwik mengusap dada."I-iya, Mas Dirga."Ia buru-buru menghampiri.
"Ada apa, Mas?"
"Buatkan saya teh hangat."
"Oke, Mas. Ada lagi?"
"Enggak, itu aja."ujar Dirga sambil memandang layar laptop.
"Kirain ada apa teriak-teriak. Eh ... nggak taunya cuma minta dibuatin teh, doang."
"Mas Dirga, Mas Dirga. Kebiasaan banget ngagetin Wiwik.
"Nanti kalau Wiwik kenak serangan jantung mendadak gimana. Wiwik kan, belum nikah."cerocos Wiwik dari keluar ruang kerja sampai ke dapur.
"Kenapa, Wik?"tanya Dhia yang sudah selesai dengan pekerjaannya.
"Ini, Mbak. Mas Dirga minta dibuatin, teh."
"Ya udah biar aku aja yang buat."
"Enggak, Mbak. Biar aku aja."
"Udah, Wik ... enggak, apa-apa. Buatin minum untuk suami, itu pahala. Jadi, udah ... biar aku aja."
Wiwik senyum-senyum penuh arti."Gini, nih, kalau istri soleha. Tetep berbakti sama suami walaupun lagi ngambek-ngambekkan."
Dhia tersenyum tipis mendengar celotehan Wiwik seraya mengambil gelas. Kemudian mengisinya dengan satu sachet teh SerehWangi dan dua sendok makan gula. Tangan Dhia beralih mengambil termos berukuran sedang berisi air panas.
Sepertinya air yang terisi didalam termos tersebut terlalu penuh, hingga saat Dhia ingin menuangkannya, air itu lebih dulu tumpah dan menyiram sebelah punggung tangannya.
Aakh!!
Teriak Dhia karena terperanjat.
"Ya ampun, Mbak Dhia."Wiwik meniup tangan Dhia."Harusnya tadi Wiwik aja yang buatin teh, nya."
Dhia meringis."Pedih banget, Wik."
"Ada apa?"Dirga tiba-tiba saja datang ketika mendengar jerit Dhia.
"Tangan Mbak Dhia kesiram air panas, Mas."kata Wiwik.
"Astaga, Dhia."Dirga menarik tangan Dhia dan langsung meniupnya."Kok bisa, kamu ngapain?"Wajah pria itu terlihat cemas.
"Aku tadi mau buat teh untuk kamu, Mas."ujar Dhia.
"Kan, tadi saya nyuruh kamu. Kenapa bisa jadi Dhia yang buat?!"Dirga memandang Wiwik berang.
"M-maaf, Mas."Wiwik menunduk.
"Ini bukan salah Wiwik, Mas. Tapi ini aku yang minta. Aku yang menawarkan diri bikinin teh buat kamu."aku Dhia.
"Sekarang kamu pergi ambil obat salep luka bakar."ujar Dirga pada Wiwik.
"Cepetan!"
"S-siap, Mas Dirga."Wiwik bergegas memenuhi titah Dirga. Dan kembali menghampiri Dhia dan Dirga yang saat ini sudah berada disofa ruang tamu.
"Mana tangan kamu? sini."
Dhia menjulurkan tangannya pada Dirga. Pria itu pun langsung meraihnya.
"Auw."Dhia memekik.
"Tahan sedikit. Ini memang perih, tapi cuma sementara."ujar Dirga seraya terus mengolesi salap pada punggung tangan Dhia yang terlihat memerah dan bengkak.
Dhia memandangi Dirga.
"Kamu itu, lain kali hati-hati. Kalau sudah begini kan, aku juga yang repot."
Aku benar-benar dibuat bingung dengan sikap kamu, Mas. Kadang kamu baik. Tapi tidak jarang juga kamu membuat aku menangis. Kadang kamu terlihat mencemaskanku. Tapi tidak jarang juga kamu mengacuhkan ku. Kadang kamu hangat, terkadang kamu juga bisa berubah menjadi sangat dingin.
Berapa lama lagi aku harus bersabar sama kamu? Berapa lama lagi hatimu terbuka untukku? bathin Dhia bergumam.
__ADS_1
Dirga mengangkat wajah."Kamu dengarin aku ngomong, nggak, sih, dari tadi?"tanyanya dengan wajah ketus.
"Dengar, Mas."
"Terus kenapa diam aja? jawab, iya, kek. Apa, kek?!"
"Diam terus kayak orang bisu. Kamu masih marah sama aku, gara-gara soal tadi?"tanya Dirga, yang masih tetap tidak hilang nada ketusnya.
Dhia bergeming sesaat.
"Aku ke kamar dulu, Mas. Aku ngantuk."Dhia meninggalkannya.
"Dhia,"
Panggil Dirga.
"Dhia!"Dirga mengejarnya, namun Dhia sudah lebih dulu masuk kedalam kamar.
"Buka pintunya, Dhia."
"Dhia!"panggil Dirga didepan pintu berwarna hitam minimalis itu.
Dirga menghela nafas panjang.
Ayolah, Dirga ... Jangan terbawa perasaan. Untuk apa kamu mengejar perempuan itu. Ingat,tugasmu adalah menyakitinya. Buat Dia tertekan.
Ini, kan, mau kamu? Melihat Dia menangis, dan terus tersakiti?!
Jangan bodoh. Jangan bodoh dan jangan mau dibutakan oleh cinta! gumam Dirga dalam hati. Ia masih memandang pintu kamar yang tertutup itu, lalu berjalan menuju kamar utama.
_______________
Gedung, Megantara Group.
"Dia ... Chantika .... Ayu."lirih Dirga seraya memandang gedung-gedung tinggi yang setara dengan tinggi gedung tempat ia berdiri saat ini. Sambil kedua tangannya bertumpu pada railing kaca balkon.
Pria itu menghela nafas panjang.
"Kamu gadis yang baik."lirihnya lagi.
"Tapi aku benci denganmu."Matanya kini menyala tajam."Karena kamu terlahir sebagai anak, dari seorang pria yang sudah membunuh Papaku."
"Malik Mahendra Hartawiawan."Dirga tersenyum sinis.
"Aku akan membalas semua yang sudah kamu perbuat pada keluargaku dimasa lalu."gumam Dirga, tanpa sadar tangan kanannya mengepal hingga membuat buku-buku jarinya memerah.
"Sore, darling ..."Seorang wanita menyapa Dirga. Wanita dengan perawakan tinggi, dan kulit putih bersih. Serta rambut sebahu yang menjuntai lembut dibahu putihnya, membuat wanita itu terkesan seksi dan menggoda.
"I miss you, so much."Wanita cantik itu langsung memeluk, seraya mencium pipi kiri Dirga tanpa segan. Seperti itu adalah hal yang sudah biasa ia lakukan.
"Why? What happened? (Kenapa, apa yang terjadi?)"tanya wanita itu, yang menyadari raut wajah Dirga sebelumnya.
"Apa pernikahan kamu tidak membuat kamu bahagia?"
Dirga berdesis."Anak kecil tahu apa tentang pernikahan."
"What?!"Mata gadis itu membulat."Aku ini sudah dewasa. Enak saja mengataiku anak kecil."Gadis itu mencebikkan bibir didepan Dirga.
"Jauh, jauh terbang dari Singapura, ke Jakarta. Ada apa?"tanya Dirga seraya berjalan masuk menuju ruang kerja.
"Daddy yang minta. Aku disuruh bantu kamu, kak. Kata Daddy kamu ada proyek baru? benar, kan?"Tamara mengekorinya.
"Hemm."respon Dirga santai seraya duduk disofa mewah berwarna coklat didalam ruangan kerja itu."Bagaimana kabar Daddy?"
"He is fine. (Dia baik)."Tamara menyusul duduk disisi kiri Dirga.
"Sudah chek in hotel?"
Tamara mengangguk cepat.
"Kenapa kemari? Lebih baik kamu istirahat, disana."
Tamara bergeleng manja."Aku kangen sama kakakku. Kamu emang nggak kangen sama aku?"
"Sudah sebulan kita nggak ketemu. Mentang-mentang udah punya istri. Lupa deh, sama adik angkat sendiri."Tamara mencebikkan bibir.
Dirga berdecak. Mendengar kata istri membuatnya menjadi malas. Ia bergegas berdiri. Kemudian memasukkan laptop kedalam tas kerja.
"Kamu mau kemana, kak?"Tamara meraih tas bahunya bergegas mengikuti langkah Dirga yang berjalan keluar."Aku baru aja sampai, kamu udah main kabur-kaburan aja."
"Mau kemana, sih?"
"Pulang."
"Aku ikut, ya?"Tamara bergelayutan manja pada Dirga.
"Buat apa?"tanya Dirga malas.
"Pingin kenalan sama istri kamu. Boleh, kan?"
Dirga tak menjawab. Ia hanya membuang nafas kasar.
__ADS_1
______________
Sendrapati Penthouse,
"Istri kamu mana? Kok nggak ada?"
"Mungkin belum pulang. Dhia tadi kuliah."sahut Dirga datar seraya melonggarkan dasinya.
Tamara manggut-manggut."Namanya, Dhia?"
"Hemm."
"Katanya sudah menikah. Tapi foto-foto pernikahan kok, nggak ada?"tanya Tamara seraya melihat-lihat setiap sudut pada ruangan Penthouse elit tersebut.
"Bukan urusan kamu."sahut Dirga ketus. Keduanya kini memang sedang berada diruang tamu.
Tamara langsung berbalik. Bicara Dirga begitu ketus ditelinganya."Daddy sudah cerita semua ke aku."
Tamara mendudukkan diri didepan Dirga. Kaki jenjangnya terasa leleh karena berdiri sejak tadi.
"Maksud kamu?"Dirga menyipitkan mata.
"Tentang pernikahan kamu."Aku Tamara."Tapi aku tidak percaya kalau tidak langsung mendengarnya dari bibir kamu."
"Apa benar semuanya karena alasan dendam?"Tamara menelisik.
"Benar."
Detik itu, tak ada yang menyadari bahwa Dhia telah kembali. Gadis itu berdiri dedepan pintu penthous yang terbuka. Telinganya langsung menyambar sebuah pembicaraan yang tak terduga. Sebuah tanya dari semua tingkah laku Dirga selama ini.
Dendam?
Netra Dhia kini sudah dihiasi bulir bening. Tubuhnya yang berdiri seakan ingin tumbang karena lututnya yang tiba-tiba menjadi lemas.
"Sampai kapan pernikahan ini?"Terdengar kembali suara wanita yang Dhia tidak kenali.
Dirga menghela nafas berat."Entah lah."
Tamara mengernyit."Kenapa?"
Dirga tak menjawab.
"Ada masalah dengan hati?"
Pertanyaan Tamara membuat Dirga tak mengerti."Apa maksudmu?"
Tamara tersenyum tipis."Dari tadi aku terus memperhatikanmu. Seperti ada masalah. Tapi dari yang aku lihat, sepertinya ini bukan masalah pekerjaan."
Dirga tersenyum kecut."Jangan sok tahu."
"Tapi masalah hati."Tamara sepertinya tak ingin berhenti mengulik.
Dirga bergeming.
"Jangan bilang kamu jatuh cinta dengannya. Dilema dengan perasaan. Antara dendam dan cinta."
"Seperti itu. Iya, kan?"Tamara menelisik. Namun saat itu Dirga langsung tertawa.
"Cinta kamu bilang?"Dirga masih berusaha meredakan tawa, yang menurut Tamara penuh teka-teki.
Tamara mengangguk.
"Itu tidak mungkin, Tamara. Aku membencinya. Dan sampai kapan pun, aku tidak akan pernah mencintainya."
Senyum kelegaan terpancar diwajah Tamara.
"Sampai kapan, pun!"ulang Dirga dengan penuh penegasan.
Saat itu, Dhia yang masih terus mendengarkan dari luar pintu yang terbuka, akhirnya tak kuasa untuk terus berdiri. Kalimat, demi kalimat yang terus menggaung dari dalam sana membuat hatinya ingin menjerit berteriak. Tak kuasa lagi ia menahan kecewa dan torehan luka yang selalu keluar dari bibir pria itu.
Dhia langsung berbalik ingin pergi. Tapi disaat yang sama ia melihat Wiwik tiba-tiba muncul entah dari mana, sembari membawa beberapa barang belanjaan seperti sayur-sayuran dikedua tangan wanita itu.
"loh, loh ... Mbak Dhia, mau kemana? Kok nangis?"tanya Wiwik cepat. Namun gadis yang menangis itu tak ingin menjawab dan buru-buru masuk kedalam lift.
"Ini, kenapa lagi, sih, ini?"Wiwik menghela nafas lelah.
"Ini, pasti gara-gara Mas Dirga lagi, ini, pasti!"Wiwik menggerutu masuk kedalam Penthouse."Assalamualai ..."teriak Wiwik namun terjeda.
"Kum."sambungnya seraya tersenyum tipis."Ada tamu, toh. Cewek cantik rupanya. Pantesan, Mbak Dhia kabur."lirih Wiwik.
"Apa? Dhia kabur?"Dirga langsung berdiri ketika mendengar suara lirih Wiwik.
"I-iya, Mas Dirga."Sahut Wiwik cepat. Entah mungkin itu karena latahnya yang kadang-kadang kumat ketika mendengar suara Dirga yang terkejut.
"Kok bisa?"
"E-enggak tau, Mas. Tapi tadi pas Wiwik mau masuk, Mbak Dhia udah nangis misek-misek. Pas Wiwik tanyain, eh ... Mbak Dhianya, malah pergi gitu aja."
"Astaga."Dirga mengusap wajahnya kasar. Dhia pasti dengar pembicaraan aku dengan Tamara. Dirga langsung menyambar kunci mobil yang sengaja ia letakkan diatas meja.
"Kamu mau, kemana, kak?"tanya Tamara ketika Dirga buru-buru keluar.
__ADS_1
"Cari, Dhia."