Istriku, Dhia

Istriku, Dhia
Di tinggal Pas Lagi Sayang Sayangnya


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini, Dhia merasa seperti ada yang diam-diam mengikutinya kemanapun ia pergi. Seperti sore ini, ia baru saja kembali dari kebun bunga milik Pak Joko, yang berada tidak jauh dari rumah Mbok Siah. Ditangannya sudah ada beberapa jenis bunga segar, yang rencana sore ini akan segera dikirim kepada pelanggan.


Dhia sesekali menoleh kebelakang, kemudian sedikit menambah kecepatan langkah. Ia baru bisa bernafas tenang, ketika sudah sampai didepan toko bunga miliknya.


Dhia mulai merangkai bunga yang baru saja diambilnya. Jantungnya tiba-tiba berdetak cepat saat mendengar langkah pelan dari arah belakang. Netranya sempat melirik melalui ekor mata. Gegas ia mengambil setumpuk tangkai bunga yang telah layu dari dalam vas, dan langsung berbalik badan, memukul berkali-kali seseorang, yang ia duga adalah orang yang sedari tadi mengikutinya.


"Pergi, kamu ... pergi." Dhia terus memukuli hingga dedaunan yang menempel pada tangkai-tangkai bunga itu berguguran.


"Aduh ... sakit, Dhia!" teriak seseorang dari dalam selimut berwarna mencolok, yang membungkus hampir keseluruhan tubuh orang itu.


Dhia langsung berhenti, mendengar suara yang menurutnya tidak asing. Netranya langsung terbelalak begitu mengetahui siapa orangnya.


"Mala?!"


Mala mengusap-usap kepalanya sambil mengerucutkan bibir.


"Sakit, tahu. Sembarangan aja main pukul-pukul."


"Ya maaf ... aku kira tadi orang jahat. " kata Dhia merasa tidak enak."Lagian kamu sih, ngapain coba sore-sore begini ke-rungkupan pakai selimut segala."


"Aneh banget."


Tubuh Mala bergetar, den terlihat pucat.


"Kamu sakit?"


Mala mengangguk dengan wajah lemas.


"Kayaknya aku nggak bisa nganter pesanan buket bunga itu, Dhia ... gimana kalau kamu aja, nggak apa-apa, kan?"


Dhia menghela nafas pelan."Ya udah nggak apa-apa."


"Memangnya kamu nggak takut capek?."


Tanya Mbok Siah yang tiba-tiba sudah berada didepan pintu rumah. Duduk diatas kursi roda, sambil memandang Dhia.


"Kamu lagi hamil, loh ... suruh orang lain aja."


Dhia tersenyum."Inshaallah enggak, Mbok. Aku juga sekalian mau periksa kandungan."


"Mbok tenang aja ... Dhia ke kota nggak naik angkot atau ojek, kok ..." sambung Mala."Aku udah pesan taksi. Bentar lagi juga dateng."


Dhia mengernyit."Kamu pesan taksi?"


Mala mengangguk cepat."Khusus buat kamu. Biar ndak capek."


"Ini alamatnya."


Mala memberikan selembar kartu nama pada Dhia.


Sehabis Ashar, Dhia bersiap-siap untuk pergi ke kota. Ia meraih satu buket bunga mawar merah, dan satu buket bunga lili yang tadi sebelumnya sempat ia rangkai.

__ADS_1


Di pinggir jalan, sebuah taksi berhenti.


Dapat ia lihat, seorang pria tinggi berseragam supir, memakai topi dan masker hitam, keluar dari dalam taksi tersebut.


"Taksi yang dipesan oleh Mbak Mala?"


Tanya Dhia.


Supir tersebut mengangguk, kemudian membukakan pintu untuk Dhia.


"Terima kasih." kata Dhia dan langsung duduk di kursi penumpang.


Jalan menuju kota biasanya hampir menempuh waktu satu jam. Didalam taksi, Dhia sesekali menyapukan pandangan pada rumah-rumah sederhana yang berjejer di pinggir jalan.


Kali ini, ia menatap ke depan. Tanpa sengaja netranya menangkap sorot mata supir taksi tersebut yang sedang memperhatikannya. Entah sejak kapan. Dhia baru menyadarinya.


"Mas-nya kenapa liatin saya?"


Tanya Dhia tiba-tiba, hingga membuat pria itu sedikit tergeragap.


Supir itu langsung berdeham sambil menunduk mengatur posisi topinya.


"Emmm ... itu, Mbak ... s-saya teringat dengan istri saya. Soalnya wajah Mbak mirip sekali dengan istri saya."


"Oh." respon Dhia datar.


"Memangnya kalau boleh tahu istri Mas-nya kemana?"


Pria itu kembali berdeham."Istri saya pergi, Mbak ... ninggalin saya."


Dhia hening. Merasa kasihan pada supir tersebut.


"Rasanya sedih banget, Mbak ... ditinggal pas lagi sayang sayangnya."


Sambung supir taksi itu lagi.


"Yang sabar, ya, Mas."


Kata Dhia.


Supir itu mengangguk.


"Berhenti didepan toko itu, ya, Mas."


Dhia menunjuk ke arah toko sepatu. Dan keluar dari dalam taksi tersebut. Menemui seorang pria yang sudah menunggunya disana.


Didalam taksi, supir yang sengaja diminta Dhia untuk menunggunya, terlihat memperhatikan Dhia dari jarak yang tidak terlalu jauh. Saat ini, supir itu bisa melihat Dhia tersenyum sambil memberikan dua buket bunga pada pria itu.


Entah apa yang mereka bicarakan. Tapi supir itu bisa melihat pria itu tersenyum, dengan tangan kiri yang terangkat seperti menyentuh pipi Dhia.


Dhia terlihat menepis tangan pria itu. Namun pria itu kembali mencoba ingin menyentuhnya.

__ADS_1


Bugh!


Dhia terbelalak ketika tiba-tiba saja supir taksi yang ia minta untuk menunggunya melemparkan bogem mentah diwajah pria yang ada dihadapannya.


"Mas-nya kenapa mukul dia." tanya Dhia sengit kepada supir taksi tersebut.


"Maaf, Mbak ... saya nggak sengaja." kata supir taksi itu tanpa dosa.


Dhia menghela nafas tak percaya.


"Mas Rio ... Mas Rio, nggak apa-apa, kan?"


Dhia melihat pria itu yang sedang meringis sembari mengusap bibir.


"Enggak apa-apa gimana? bibir ku ini pecah, loh Dhia."


"Ya ampun ... minta maaf, ya." Dhia merasa bersalah.


Buru-buru tangannya membuka tas, dan mengambil tisu dari dalam sana. Dhia berniat ingin mengusap darah yang keluar di sudut bibir, Rio. Tapi tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh supir taksi yang menurutnya sudah keterlaluan itu.


Rio berdengus kasar.


"Sebenarnya dia ini siapanya kamu, sih, Dhia?" tanya Rio kesal.


"Saya suaminya!." kata supir taksi itu tiba-tiba.


Rio langsung bungkam, dan sesaat kemudian pergi dari tempat itu.


Sementara Dhia langsung membeliakkan mata. Tak habis pikir dengan supir taksi tersebut, yang sudah mengaku-ngaku sebagai suaminya. Dhia benar-benar geram.


"Mas-nya kalau ngomong jangan sembarangan, ya! Sejak kapan saya nikah sama situ?!" tanya Dhia kesal.


"Lancang banget ngaku-ngaku jadi suami saya. Asal mas_nya tahu, ya ... saya itu sudah punya suami. Suami saya ganteng ... nggak jelek, kayak situ!"


Ujar Dhia saking kesalnya.


"Mbak menghina saya?"


Tanya supir taksi tersebut tak terima.


"Iya ... kenapa? memang kenyataannya jelek, kan? makanya dari tadi nggak berani lepas masker."


"Heh, Mbak ... ingat, ya .... Mbak itu lagi hamil. Mbak udah menghina saya, ngata-ngatain muka saya jelek."


"Saya nggak terima, Mbak.!" kata supir taksi itu lagi sambil memandang Dhia kesal."Saya sumpahin, nanti kalau anaknya Mbak lahir ... mukanya bakalan mirip sama saya.!"


Dhia langsung tergugu. Tapi tunggu, ini bukan karena soal perkataan pria itu. Melainkan tatapan pria itu. Tatapan mata elang yang baru ia sadari. Tatapan yang selalu membuatnya kesal, sekaligus ia rindukan.


Dan suara pria itu, ah, betapa Dhia merasa bodoh. Mengapa baru menyadari?


Dhia menelan ludah gugup. Detak jantungnya tiba-tiba berpacu cepat.

__ADS_1


"Mas Dirga."


Lirih Dhia pelan.


__ADS_2