Istriku, Dhia

Istriku, Dhia
Aku Harus Bagaimana?


__ADS_3

Tiga bulan kemudian. Di desa Arenan, Jawa Tengah.


Didalam ruangan berwarna putih. Dhia sedang berbaring. Perutnya yang sudah tampak mulai membesar, terasa dingin ketika seorang wanita, yang merupakan dokter kandungan membalurkan gel diatas perutnya.


"Usia kandungannya sudah memasuki minggu ke 20, mommy ..." Dokter tersebut tersenyum lembut pada Dhia."Beratnya 315 gram dan panjangnya 25 cm. Ini ukuran yang normal."


Dhia tersenyum penuh haru.


"Apa jenis kelaminnya sudah bisa terlihat, Dok?"


"Tentu ... kita lihat, ya, mommy." Dokter tersebut kembali tersenyum. Sembari mengarahkan alat ultrasonografi (USG) kembali diatas perut Dhia.


"Waah ... ternyata ada belalainya." Dokter yang kerap disapa Dokter Ika itu terkikik pelan.


"Belalai, dok? kok bisa?" Dhia kebingungan."Anakku kan, manusia, dok?bukan gajah."


"Ya ampun, mommy ... lucu banget, sih." kali ini Dokter Ika tertawa, karena melihat kepolosan Dhia."Ada belalainya, berarti jenis kelaminnya, laki-laki, mommy ..."


"Bukan anak gajah."


Dokter Ika masih tertawa.


"Oh, gitu." Dhia jadi merasa lucu sendiri.


"Anak saya sehat, kan, dok?"


"Sehat, mommy ... tapi makanan harus tetap dijaga, ya ..." kata Dokter Ika dengan ramah."Tetap banyak minum air putih, dan makanan yang bergizi "


"Satu lagi." Dokter Ika menaikkan satu jarinya. Wajahnya terlihat serius."Harus banyak istirahat, dan tidak boleh setres."


"Karena itu tidak baik untuk perkembangan bayi kamu."


"Baik, dokter." Dhia mengangguk, sambil berusaha duduk.


"Oh, iya, Dhia ... ngomong-ngomong Dr. Reyhan perhatian banget sama kamu. Kayaknya dia suka, deh, sama kamu."


Ika tersenyum menggoda Dhia.


Dhia hanya hening melemparkan senyum tipis.


"Kamu nggak tertarik sama dia?"


"Dokter Reyhan sudah saya anggap seperti kakak kandung saya sendiri, Dok."


"Dia juga begitu." aku Dhia agar Dokter Ika tidak salah menduga tentang hubungannya dengan Reyhan.


"Oh." Dokter Ika mengangguk-angguk mengerti."Maaf, Dhia kalau saya salah ngomong."


"Enggak apa-apa, Dok." kata Dhia masih dengan wajah ramahnya yang tersenyum.


"Assalamualaikum." seseorang membuka pintu dari luar.


"Tuh, dia ... baru diceritain langsung datang." Ika terkekeh pelan, melihat Reyhan."Panjang umur."


Dhia turut terkekeh.

__ADS_1


"Ada apa? nyeritain aku, ya?" Reyhan melihat kearah Dhia dan Ika bergantian. Merasa dirinya sedang dibicarakan.


"G'r banget, sih." Dokter Ika mencebikkan bibir pada Reyhan.


"Gimana, kondisi bayinya? sehat?" Reyhan memandang Dhia.


"Alhamdulillah, sehat, Dokter."


"Syukurlah, kalau begitu." Reyhan tersenyum."Ayo, kita pulang ..."


"Aku pulang, sendiri aja Dokter."


Tolak Dhia cepat.


"Kebetulan jam kerja ku sudah habis Dhia ... jadi aku juga, mau langsung pulang."


"Oh gitu." Dhia berdiri sambil memakai flat shoes-nya.


Tapi saat itu tubuhnya limbung dan hampir terjatuh. Reyhan yang melihat itu, gegas menarik pinggang Dhia. Sementara Dokter Ika jadi senyum-senyum memperhatikan keduanya.


 


Usai menyantap makan malam, Buk Laila meminta semua orang berkumpul diruang tamu. Termasuk bulek Ajeng dan paklek Heru. Keduanya yang memang tinggal bersebelahan dengan rumah Buk Laila, tiba-tiba saja tadi dipanggil untuk makan malam bersama. Serupa ketika menyambut ke pulangan Reyhan dari Jakarta kala itu.


"Ada yang mau ibu katakan." ujar Buk Laila membuka suara. Ia memperhatikan anaknya, Reyhan dan Dhia bergantian.


"Tadi siang waktu kalian pergi ke puskesmas, ibu dengar dari orang-orang kampung ... mereka mempertanyakan hubungan kalian."Buk Laila menelan ludah karena gugup."Mereka mengira kamu hamil diluar nikah, nduk." ia menatap pada Dhia.


"Mereka juga mengira kalau ini itu anaknya Reyhan." jelas Buk Laila melihat kearah perut Dhia, dengan suara berat seperti hampir menangis."Ibu tadi siang sudah menjelaskan yang sebenarnya. Tapi mereka tetap nggak percaya."


"Aku rasa, aku nggak bisa lama-lama lagi tinggal disini. Aku harus segera pergi. Kondisiku juga sudah mulai membaik." ujar Dhia pelan.


"Kamu mau kemana, nduk? gimana kalau suami kamu itu melihat kamu, lagi hamil begini?" tanya Buk Laila yang memang sudah mengetahui alasan Dhia pergi meninggalkan suaminya. Begitupun Reyhan, buklek Ajeng dan paklek Heru.


Dhia hening. Saat ini, jujur saja, ia tak tahu harus pergi kemana. Kembali ke Jakarta, menurutnya bukanlah pilihan yang tepat. Bagaimana jika Dirga melihatnya, dan suatu hari nanti memisahkan dirinya dengan bayinya? sungguh, dirinya tak bisa membayangkan itu.


Sementara Mbok Asih, wanita tua yang menjadi tujuan pencariannya ke desa ini, sampai sekarang belum ditemukan keberadaannya. Orang-orang dikampung ini pun, tak ada yang mengenalinya.


"Iya, benar, Dhia ... buklek nggak tega kalau suatu saat nanti kamu dipisahin sama anak kamu. Pasti sedih banget rasanya." timpal buklek Ajeng.


"Buk." Reyhan yang sedari tadi diam, membuka suara, memandang Buk Laila."Aku minta izin, kalau ibu merestui ... aku berniat untuk menikahi Dhia."


Dhia seketika menoleh pada Reyhan, dan menatap tak percaya. Menurutnya Reyhan sudah bertindak terlalu jauh. Memutuskan sepihak tanpa bertanya terlebih dulu kepadanya.


"Kamu serius, le?" tanya Buk Laila yang terkejut dengan pernyataan anaknya.


Reyhan mengangguk."Iya, buk ... aku serius."


"Masha Allah." Buklek Ajeng terharu."Kami sih, setuju-setuju aja. Iya, kan, Mas?" ia menyenggol lutut suaminya yang sedang duduk disampingnya.


"Oh, yo iyo .... paklek sama buklekmu, setuju, setuju aja." sambung Paklek Heru seraya terkekeh pelan.


"Ibu juga, setuju." kata Buk Laila, sambil menoleh pada Dhia yang sedang duduk tidak jauh dari Reyhan."Tapi sebelumnya ibu, mau nanya sama kamu, nduk. Apa kamu bersedia menikah dengan anak ibu?"


Dhia menelan ludah karena gugup. Pertanyaan itu membuat lidahnya keluh. Tak menduga semuanya akan jadi begini. Orang-orang bahkan sudah mengangguk setuju. Sementara hatinya bertolak bertentangan.

__ADS_1


Aku harus bagaimana? bathin Dhia seraya kedua tangannya terkepal meremas ujung dresnya.


"Nduk ..." Buk Laila kembali memanggil Dhia ketika wanita itu hanya diam.


"Udah, mau aja, Dhia ... Reyhan anaknya baik. Dia juga ganteng, kok."timpal buklek Ajeng, dan langsung meringis ketika suaminya mencubit pahanya.


"Opo, toh, Mas?"


"Mbak Laila tekon, Dhia ... udhuk kowe."ujar Paklek Heru sentengah berbisik pada buklek Ajeng.


Buklek Ajeng cengengesan."Aku gemes, Mas ... Dhia ditekonin, meneng wae."


"Yo, sabar ..." sahut Paklek Heru.


Buk Laila memperhatikan Dhia terdiam menunduk, ia pun, tersenyum tipis."Ibu ngerti, nduk ... kamu pasti perlu waktu. Yo, wes, ndak apa-apa."


"Soalnya Reyhan ngomongnya dadakan." Buk Laila terkekeh pelan.


"Tapi sebenarnya ibu berharap kamu mau, nduk. Ibu udah sayang banget sama kamu. Ibu udah nganggep kamu itu seperti anak ibu sendiri." sambung buk Laila lagi.


"Ini juga demi kamu, dan demi anak kamu."


Dhia mengangkat wajah.


Siang hari, Buk Laila disibukkan dengan kegiatannya berjualan di minimarket rumahannya. Yang letaknya, tepat bergabung dengan teras rumah. Sementara Reyhan, masih berada di Puskesmas, dan belum kembali.


Sebuah mobil mewah berawarna abu metalik, berhenti di halaman minimarketnya.


Buk Laila langsung melihat, dan memperhatikan seorang pria tinggi, barwajah tampan, memakai setelan jas berwarna abu-abu, turun dari mobil tersebut dan berjalan ke arahnya.


"Buk, air mineralnya satu." kata pria itu.


"Yang dingin, Mas?"


Pria itu mengangguk."Iya."


Buk Laila langsung membuka lemari pendingin. Dan memberikan sebotol air mineral pada pria itu.


"Terima kasih, buk." kata pria itu dengan sopan. Kemudian memberikan selembar uang lima puluh ribuan pada Buk Laila.


Buk Laila membuka lanci tempat penyimpanan uang, berniat ingin memberikan kembalian, tapi rupanya uang didalam laci tersebut masih kurang.


"Nduk ... tolong, ambilkan dompet ibu, diatas sofa." seru Buk Laila pada Dhia.


"Iya, buk ... sebentar."


Sahut Dhia yang entah sedang mengerjakan apa didalam.


Pria itu seketika tertegun, mendengar suara wanita yang menurutnya tidak asing.


Namun dering ponsel yang bernyanyi dibalik saku jasnya membuat pria itu teralihkan. Ia pun dengan cepat mengambil ponsel, mengangkat panggilan.


"Buk ... kembaliannya ambil saja." kata pria itu.


"Terima kasih, nak." seru Buk Laila ketika pria itu langsung pergi dan masuk kedalam mobil.

__ADS_1


"Ini, buk, dompetnya." Dhia datang masih menggunakan celemek yang menjuntai dilehernya. Ia sempat melihat pada mobil itu, yang sudah berjalan meninggalkan halaman.


__ADS_2