
"Mala ... bisa titip Chakra sebentar?." tanya Dhia.
"Bisa, dong, Dhia ... memangnya kamu mau kemana?." tanya Mala, memperhatikan Dhia yang sudah rapih.
"Mau keluar sebentar. Ada yang mau dibeli."
"Oh, iya ... Chakra lagi tidur." kata Dhia lagi."Nanti kalau dia nangis ... stok ASI udah ada didalam kulkas. Tinggal dihangatkan aja."
Mala mengangguk mengerti.
"Aku pergi dulu, ya."
"Hati-hati, Dhia!."
Taksi yang membawa Dhia menyusuri jalanan kota yang sedikit lengang. Tadi, usai membeli sesuatu yang ia perlukan. Tiba-tiba ia teringat dengan Mama Arini. Tak lupa, ia membelikan beberapa macam makanan untuk wanita itu.
"RSJ BinaWangsa, ya, Pak." katanya.
"Iya, Mbak."
Dhia berjalan melewati koridor tempat tinggal orang-orang dalam gangguan jiwa tersebut. Ada rasa cemas sebenarnya dihati Dhia. Takut jika wanita itu kembali berteriak ketakutan dan mengusirnya.
Tapi Dhia terus berjalan. Sejauh matanya memandang, ia melihat seorang wanita, duduk di kursi roda, menghadap pada bunga-bunga Soka putih, dengan posisi membelakanginya.
Dhia tersenyum tipis, saat tahu itu adalah Mama Arini. Ia sempat menghentikan langkah sesaat, lalu melangkah kembali dengan pelan.
"Rayyan .... " mendengar suara langkah kaki, Arini langsung menoleh kebelakang. Mata dengan sedikit lingkar hitam itu, menatap wanita yang berdiri didepannya dengan sorot kecewa. Karena sempat mengira anaknya lah, yang datang.
"Ma ..." lirih Dhia pelan, hampir tak terdengar.
"Rayyan, mana? kok nggak dateng-dateng?." Arini sepertinya bertanya-tanya sendiri. Karena saat berbicara, suara wanita itu sangat pelan, dan tak melihat kearah Dhia. Tapi Dhia bisa melihat, wanita itu hampir menangis.
Detik itu, mata Dhia berkabut bening. Mama Arini merasakan hal yang sama dengannya. Rasa kehilangan, atas nama yang sama.
"Tante." panggil Dhia ragu.
"Kamu siapa?." Wanita itu memandang Dhia dengan awas.
Dhia menelan ludah gugup. Tapi ia sedikit laga, karena wanita itu sepertinya lupa, tentang kejadian saat pertama kali ia menemui wanita itu.
Aku menantu Mama.
Ingin rasanya Dhia mengatakan yang sebenarnya. Tapi itu tidak ia lakukan. Karena takut wanita itu kembali berteriak seperti dulu. Entah mengapa. Mungkin sepertinya Dirga pernah mengatakan kepada wanita itu, tentang alasannya dulu, menikah. Dan sampai sekarang, anak seorang pembunuh, seakan tersematkan pada sosok menantunya. Yang sampai sekarang, Arini sendiri tak tahu, bagaimana rupa menantunya itu.
"S-saya ... " Dhia kembali menelan ludah gugup. Lalu menyodorkan satu buah kantong plastik putih, pada Arini."Saya jualan .... ini untuk Tante. Saya kasih gratis." akunya sambil tersenyum.
Arini mengamati wajah Dhia. Melihat senyum tulus Dhia, wanita itu perlahan mengulurkan tangannya, meraih kantong plastik putih yang disodorkan oleh Dhia.
"Itu makanan, Tante ..."
__ADS_1
"Dimakan, ya." suara Dhia terdengar lembut.
Arini mengangguk pelan.
"Aku suapin, mau??." tanya Dhia, sedikit mengangkat kedua alisnya.
Arini mengangguk ragu.
Dhia tersenyum. Ada rasa bahagia tersendiri disudut hatinya. Ia berjongkok, menekuk kedua lututnya untuk menyetarakan posisinya dengan Mama Arini yang sedang duduk di kursi roda. Sebuah roti dengan isian daging, ia keluarkan sedikit dari bungkusnya. Lalu memasukkannya sedikit demi sedikit kedalam mulut wanita paruh baya itu.
"Enak, Tante?."
Arini mengangguk sambil terus memandangi wajah Dhia.
Dhia kembali menyobekkan sedikit roti itu, dan memasukkan kembali kedalam mulut Mama Arini dengan tangan sedikit bergetar. Tiba-tiba bola mata yang sedari tadi berkaca-kaca itu, menetes dipipinya. Dhia lalu menunduk, menyusut air matanya.
"Anak baik ... kenapa, nangis?."
Suara Mama Arini membuat Dhia mengangkat wajahnya kembali. Ada rasa haru dihatinya, mendengar Arini berbicara lembut dengannya. Seketika bulir bening itu kembali jatuh.
Dhia menelan ludah.
"Wajah Tante mengingatkan aku dengan mertuaku." katanya.
Arini diam. Tetapi tatapan awas yang sejak awal ia lemparkan, pada Dhia, kini berubah menjadi sorot yang lebih tenang. Wanita paruh baya itu terlihat seperti wanita normal. Hanya penampilannya saja yang terkesan tak terawat. Dan sesekali menatap dengan kosong.
Entah apa yang ada dipikiran wanita itu. Tapi saat ini perlahan satu tangannya terangkat mengusap kepala Dhia. Lalu turun menyentuh wajah.
Arini hening seperti sedang berfikir.
"Boleh." Arini mengangguk berkali-kali dengan sebuah senyum menghias sudut bibirnya yang pucat."Berarti anakku ada dua sekarang?."
Dhia mengangguk.
"Tapi ...." tiba-tiba wajah Arini berubah murung."Tapi dimana Rayyan? kenapa nggak datang-datang?."
"Udah lama sekali." sambung Arini dengan tatapan yang kembali kosong.
Dhia menutup bibirnya. Menahan tangis yang ingin pecah. Gegas ia memeluk wanita paruh baya itu, menangis sambil tertahan."Mama sabar, ya ... sebentar lagi, Rayyan pasti datang."
"Jenguk, Mama." pungkas Dhia, mengurai pelukan sambil tersenyum pada Arini. Terpaksa Dhia berbohong. Karena sejujurnya, ia pun tak tahu kapan, untuk bisa bertemu dengan suaminya itu kembali.
Cukup lama Dhia menemui Mama Arini. Ia akhirnya memilih pulang, saat seorang perawat jiwa datang untuk membawa Arini masuk.
Tapi ketika melewati koridor kembali, tiba-tiba saja seorang pria paruh baya yang dulu sempat mengakuinya sebagai anak, menghentikan langkah Dhia, sampai-sampai membuatnya terkejut.
"Kamu anakku ... kamu anakku!."
Dhia berjalan cepat karena ketakutan. Tapi pria itu mengejarnya dan berhasil menghentikan langkahnya.
"Maaf, saya bukan anak Bapak!."
__ADS_1
"Kamu anakku ... bross ini." pria itu menunjuk bross yang menempel di dada kiri Dhia."Bross ini ... ini milikku." kata pria itu dengan yakin.
"Kamu pasti anakku!."
Dhia mematung. Sambil menelan ludah tak percaya.
"Pak!." panggil seorang perawat jiwa menghampiri pria itu.
Seakan tak mendengar, pria itu terus berbicara pada Dhia."Kamu anakku. Percaya denganku."
Dhia masih bergeming kebingungan bercampur takut.
"Pak Kusuma, ayo ikut saya." kata perawat jiwa itu lagi, membuat Dhia kali ini semakin mematung dengan netra terbuka lebar. Mendengar nama Kusuma.
"Seseorang sedang ingin bertemu dengan Bapak." perawat jiwa itu menarik pelan tangan Pak Kusuma.
"Suster!." cegah Dhia.
"Maaf, Mbak ... Pak Kusuma sedang tidak bisa diganggu. Dia harus bertemu dengan seseorang."
Kusuma.
Bross.
Dia Papaku?
Dhia tiba-tiba menjadi seperti orang linglung.
Sejak diperjalanan, bahkan sampai di Penthouse, Dhia masih terfikir dengan pria paruh baya, yang menganggap dirinya sebagai anak kandung.
Keesokan harinya, Dhia berniat untuk datang kembali menemui pria itu. Tapi akhirnya gagal karena Baby Chakra tiba-tiba saja mengalami demam. Hingga beberapa hari berlalu, Dhia baru bisa datang kembali.
Hari ini, Dhia sepertinya harus menerima jawaban kekecewaan. Saat seorang perawat jiwa mengatakan bahwa pria paruh baya itu, sudah tak lagi dirawat ditempat ini.
"Apa benar pria itu bernama Kusuma Hadinata?." tanya Dhia memastikan.
"Benar ... dia Pak Kusuma Hadinata." kata perawat jiwa itu.
Dhia berdiri mematung. Dugaannya beberapa hari ini ternyata tak salah. Tapi sayang, pria itu tak lagi ia temukan.
"Maaf, Mbak ... saya permisi."
"Suster ... bisa tolong kasih tahu saya, siapa orang yang telah membawa Pak Kusuma."
"Maaf, Mbak ... ini privasi. Kami tidak bisa memberitahukan-nya."
"Suster, saya mohon ... tolong kasih tahu, saya."
"Dia penting bagi saya, suster!."kata Dhia memohon dengan sangat.
Perawat jiwa itu memandang Dhia sesaat."Maaf, Mbak ... kami tetap tidak bisa memberitahukan siapa orang itu."
__ADS_1