
Dirga keluar dari kamar mandi dengan handuk yang membungkus separuh badan. Ia berjalan menuju ruang ganti. Di dalam sana, ia melihat Dhia sedang berdiri didepan lemari pakaian, seperti mencari-cari sesuatu.
Dirga berjalan pelan-pelan menghampiri Dhia. Memeluk dari belakang dengan tiba-tiba, sambil memberikan kecupan lembut dipipi kanan istrinya itu, sampai-sampai membuat bahu Dhia berjengit, merasakan dingin ketika tetesan air menitik dari rambutnya yang basah.
"Mas ... kebiasaan deh, kamu.'"kata Dhia pelan, dengan nada suara sedikit merengek karena suaminya itu selalu saja mengejutkannya. Ia memutar badan menghadap Dirga. Langsung meraih handuk yang menjuntai dibahu suaminya itu.
"Kalau habis keramas, rambutnya dikeringkan yang benar, dong, Mas ...." Dhia memandang jengah, sedikit berjinjit, menggosokkan-gosokkan handuk dirambut suaminya itu."Bisa masuk angin kalau dibiarin basah terus."
"Lagian, tuh ..." Dhia berhenti, menujukan dagunya kebawah."Lantainya jadi basah .... kalau aku jatuh gimana?."
"Maafin aku sayang ... lain kali, nggak lagi." suara Dirga terdengar menyesal."Sini, biar aku saja yang mengeringkan."pintanya, tak ingin Dhia terbebani.
"Tidak apa, Mas ... biar aku saja."Dhia kembali mengusap rambut Dirga dengan handuk. Tak lagi berjinjit, karena Dirga saat sini sedikit membungkuk, menundukkan kepalanya.
"Mas ..." Panggil Dhia disela-sela mengeringkan rambut suaminya itu.
"Hm?."
"Perusahaan kamu baik-baik aja, kan?."
Pertanyaan Dhia membuat Dirga hening. Ia kembali berdiri tegak, memandang wajah istrinya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu, sayang?."
Dhia menelan ludah."Enggak apa-apa, Mas ... aku hanya takut, kalau Malik berusaha menghancurkanmu."
"Dia tahu kalau kamu ingin membuka kembali kasus itu ... aku takut dia menyakitimu, Mas."sambung Dhia dengan tatapan cemas.
"Dia sudah nekat mengirim orang untuk mencelakaimu. Aku rasa semua kecelakaan yang selama ini menimpahmu, itu semua ada kaitannya dengan dia, Mas."
Dirga hening. Tapi kemudian sudut bibir Dirga tertarik tipis. Tangan kirinya meraih tangan Dhia. Sementara tangannya yang kosong mengusap pipi istrinya lembut."Jangan khawatir, sayang ..."
"Tapi aku takut, Mas ."
"Percaya padaku .... aku pasti bisa mengatasinya."
"Aku tidak akan membiarkan dia menghancurkan perusahaanku ... menyakitiku, apa lagi menyakitimu."Dirga memandang Dhia lekat-lekat.
Dhia hening sesaat. Tapi kemudian menghela nafas dalam-dalam."Ya sudah ... sekarang kamu harus siap-siap ke kantor, Mas."kata Dhia sambil meletakkan handuk yang barusan ia gunakan untuk mengeringkan rambut Dirga ke atas meja.
"Aku udah siapin pakaian kerja untuk kamu."
Dhia mengambil setelan jas berwarna abu muda dan kemeja berwarna hitam dari dalam lemari."Cocok nggak, warnanya?."
"Cocok."sahut Dirga mantap.
Ia kemudian mendekat pada Dhia"Aku suka ... apa lagi orang yang memilihnya."ucapnya setengah berbisik, seraya mengambil pakaian kerja dari tangan Dhia. Dapat ia lihat, istrinya itu tersenyum malu-malu. Ia merasa gemas, dan ingin mencium. Tapi Dhia buru-buru keluar dari ruangan itu, sempat menyipitkan sebelah mata, seraya menjulurkan sedikit lidah kepadanya, seperti mengejek.
Dirga hanya bisa bergeleng sambil tersenyum melihat kelakuan istrinya.
"Buruan, Mas .... aku tunggu dibawah!"seru Dhia dari luar.
Mereka sudah berkumpul di ruang makan. Suasana menjadi hangat. Ditambah kehadiran Mbok Siah yang menambah keramaian dirumah itu.
"Gimana, Mbok? enak nggak masakan Wiwik?." tanya Wiwik dengan antusias menunggu Mbok Siah selesai mengunyah bubur ayam dengan gigi yang tinggal tersisa sedikit.
"Enak, Wik ... enak banget." sahut Mbok Siah dengan suara khas nenek, sambil mengacungkan dua jempolnya."Dirga memang ndak salah milih kamu jadi asistennya."
__ADS_1
"Nanti kalau kamu udah nikah .... suamimu pasti gendut. Wong istrinya pinter masak." Mbok Siah tertawa.
Wiwik tersenyum salah tingkah, sambil menutup mulut dengan tangannya."Si Mbok, bisa aja." ucapnya sambil mencolek pipi kempot Mbok Siah. Saat ini yang terlintas dibenaknya adalah membayangkan wajah Gio yang menjadi suaminya.
"Calonnya udah ada, Wik?."tanya Mbok Siah, seolah mengerti senyum malu-malu dari wajah wanita itu.
Kali ini Wiwik dibuat cekikikan."Calonnya masih OTW, Mbok."
"OTW, iku opo, Wik?." tanya Mbok Siah tak mengerti.
"OTW, itu ... Orang Tanpa Wujud, Mbok."celetuk Dirga tiba-tiba disela-sela Dhia mengambilkan sarapan untuknya."Alias tak kasat mata."ucapnya lagi, kemudian tergelak keras.
"Sembarangan banget, sih, Mas Dirga kalau ngomong!" protes Wiwik tak terima. Bisa dibayangkan, bibir wanita ini sudah maju ke depan karena kesal."Calon pacarnya Wiwik itu, kan, Mas Gio ... bukan hantu."
"Awas loh ... nanti kalau Mas Gio kemari, tak kasih tahu kalau Mas Dirga udah ngata-ngatain Mas Gio, sebagai makhluk tak kasat mata."
"Kasih tahu, aja ... sekalian kamu keluar dari rumah ini. Kerja sama dia! enggak perlu disini."ujar Dirga santai, sambil memotong sandwich.
Wiwik langsung terbelalak."Tuh, kan ... Mas Dirga ya kayak begini, Mbok ... dikit-dikit ngancem-ngancem ... maen pecat-pecat."ucapnya dengan bibir mengerucut kedepan.
Mbok Siah tertawa kecil, begitupun Dhia yang saat ini sedang menuangkan susu untuk suaminya.
"Kamu ngaku-ngakuin Gio jadi calon pacar kamu, memangnya kamu yakin, Gio mau sama kamu?."tanya Dirga dengan wajah datar.
"Mas Dirga kok nanyaknya gitu, sih?." Wiwik kembali mengerucutkan bibirnya."Ya harus yakin. Wiwik percaya, kalau Mas Gio itu, juga naksir sama Wiwik."
"Buktinya, waktu Mas Dirga lagi ada di Jawa, kemarin ... Mas Gio sering banget datang kemari."
"Ya ... walaupun alasannya karena ada urusan kerja, sih ... tapi Wiwik yakin, Mas Gio cuma modus."sambung Wiwik lagi."Paling Mas Gio cuma pingin cari-cari kesempatan untuk ketemu Wiwik. Hihihihi." ucapnya dengan kekehan malu-malu diakhir kalimat.
"Gio sering kemari?." suara Dirga terdengar dingin.
Dirga hening sesaat. Kemudian meraih segelas susu putih, dan meneguknya sedikit, lalu berdiri.
"Mau berangkat sekarang, Mas?." Dhia mengangkat wajah memandang suaminya.
"Iya, sayang."
Ah, rupanya panggilan sayang yang tercetus dari bibir Dirga, pada Dhia, berhasil membuat Wiwik tersenyum malu-malu mendengarnya. Wanita itu masih berdiri, tanpa sadar menggigit serbet yang sedari tadi ditangannya.
Dirga menyalami Mbok Siah, takzim. Setelah itu berjalan ke depan, ditemani oleh Dhia.
"Hai, jagoan ... Papa pergi kerja dulu, ya."kata Dirga, seraya membungkuk, mengusap perut Dhia, memberi selintas kecupan pada calon anaknya.
Dhia dibuat tersenyum melihatnya.
"Aku pergi dulu, sayang." kali ini Dirga sambil mencium kening Dhia.
Dhia pun, mengangguk.
Tapi baru hendak melangkah, Dirga berhenti karena tangannya langsung ditahan oleh Dhia.
"Kenapa, sayang?."
Dhia menelan ludah."Mas ... aku bisa minta tolong sesuatu?."
Dirga menatapnya dengan tanya, tanpa suara.
__ADS_1
"Tolong jangan beri tahu Mama, kalau aku sudah kembali."
Dirga hening.
"Aku belum siap untuk ketemu Mama, Mas." kata Dhia pelan.
Dirga akhirnya tersenyum, lalu mengangguk, seraya mengusap pipi Dhia. Ia mengerti perasaan Dhia saat ini.
Kisah masa lalu itu, membuat Dhia sedih dan hancur. Hatinya kecewa pada sang Mama. Entah sampai kapan. Tapi saat ini, Dhia tak ingin melihat wajah wanita itu.
Megantara Group.
Dirga masuk kedalam ruangannya. Meletakkan laptop, dan duduk diatas kursi kebesarannya. Netranya tertuju pada kertas tipis, berwarna biru muda yang sepertinya sengaja ditaruh oleh seseorang di meja. Dengan tanpa ragu, ia membukanya. Itu adalah sebuah undangan peresmian hotel Wira CitraWisata yang sudah rampung beberapa bulan lalu.
Ia meletakkan kertas tipis itu kembali diatas meja, ketika suara pintu ruangannya dibuka.
Gio masuk sambil membawa map berwarna hitam, dan memberikannya pada Dirga."Ini laporan keuangan bulan ini."
Dirga meraih, dan membukanya. Meneliti hingga beberapa saat. Tidak ada masalah. Semua pengeluaran terlihat normal, sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan untuk memenuhi proyek gedung rumah sakit, milik Pak Bram Prasetyo. Ia menutup kembali map hitam tersebut. Kemudian memandang Gio.
"Pukul berapa bertemu dengan Pak Bram?."
"Sebentar lagi, mungkin saat ini beliau sedang dalam perjalanan."sahut Gio sekenanya.
Suasana sesaat hening.
"Bagaimana kalau dia tidak percaya, dan ingin membatalkan proyek kerja sama yang sedang berjalan ini?." tanya Gio dengan raut kecemasan.
Dirga hening.
"Perusahaan kita akan tercoreng, Ga."
Gio menghela nafas berat."Aku tidak habis fikir, bagaimana mungkin PT. A.J, tiba-tiba saja meng-klaim, bahwa rancanganmu adalah miliknya."
"Dia menuduhmu mencuri rancangan desain, miliknya, Ga!."Gio mengusap wajahnya kasar."Aku sudah melihatnya ... rancangan milikmu, persis sama seperti miliknya."
"Kalau sudah begini, Pak Bram pasti tidak akan percaya kepadamu."Gio menghela nafas berat."Aku heran, bagaimana bisa PT. A.J memiliki desain yang sama sepertimu?"
"Tepat sekali! bagaimana bisa?." Dirga mengulangi tanya Gio, tanpa melihat ke arah pria itu."Itulah yang harus aku cari tahu."
Sesaat hening.
"Aku sudah cek cctv disetiap sudut ruangan perusahaan ini, Ga. Tapi aku tidak bisa mendapatkan bukti apapun." kata Gio menjelaskan.
Sudut bibir kanan Dirga tertarik tipis.
"Hanya maling bodoh yang meninggalkan jejaknya."ucapnya dingin.
"Kamu benar." sahut Gio seraya manggut-manggut. Ia menghela nafas pelan, kemudian berdiri.
"Nanti kita bicarakan lagi. Aku harus ke depan, menunggu Pak Bram."
Dirga tak menjawab.
Sementara Gio sudah berlalu keluar.
Netra Dirga tertuju pada vas kecil, berisi bunga plastik yang berdiri rapih didepan sebuah sofa, yang menghadap tepat didepan meja kerjanya. Sebuah cctv berukuran kecil, sengaja ia pasang disana. Sadar bahwa posisinya sedang tidak aman, ini terbukti dari banyaknya cara orang yang ingin menjatuhkannya. Tak ada yang tahu, dia memasang cctv itu disana. Sekalipun Gio, orang yang selama ini menjadi tangan kanannya.
__ADS_1
Dirga membuka laptopnya. Mulai membuka rekaman cctv yang terhubung langsung melalui laptop yang ada didepannya. Benar saja, tepat pada rekaman tiga hari lalu, ia bisa melihat ada seseorang yang menyusup masuk kedalam ruangannya.
Namun tiba-tiba ia menggeram seraya memukul meja dengan keras.