
Sudah seminggu sejak Dhia meninggalkannya. Dirga sudah mencari hampir setiap hari, dan selalu pulang hingga larut malam. Termasuk juga bertanya kepada Yuli, Dini, dan Amel. Tiga wanita yang ia ketahui adalah sahabat dekat istrinya itu. Namun tetap saja, tak ada yang tahu dimana Dhia.
Wiwik memperhatikan Dirga yang sedang berdiri diatas balkon.
Tatapan pria itu sendu, sambil menatap pada langit malam yang terlihat mendung tanpa bulan dan bintang. Membiarkan angin malam ini membawa semua kesedihan dan kerinduan dihatinya. Udara dingin pun mulai terasa menusuk ketulang, sesekali menyibakkan helaian rambut tipisnya, menjadi tak tak beraturan.
Kini, Dirga mengakui. Tanpa Dhia, hidupnya kosong. Wanita yang dulu sempat ia benci. Wanita yang dulu ia nikahi karena alasan dendam. Wanita yang sempat ia sia-sia kan. Sekarang, wanita itu juga lah, yang membuatnya hampir gila karena cinta.
Dirga menghela nafas berat sambil menengadah kan wajahnya pada langit malam. Dimana kamu? tolong kembalilah.
"Mas Dirga ...." Wiwik berjalan mendekat, membuat pria itu menoleh.
"Ada Mas Gio di bawah, Mas."
"Mas Dirga yang turun ke bawah, atau Mas Gio aja yang Wiwik suruh naik ke atas? soalnya katanya ada hal penting yang mau di omongin."
Jelas Wiwik dengan hati-hati.
Dirga tak menjawab. Ia langsung berjalan dan turun ke bawah menemui Gio.
"Kasihan banget Mas Dirga. Mukanya sediiiih .... banget gara-gara di tinggal Mbak Dhia."
"Wiwik jadi nggak tega, lihatnya."
Lirih Wiwik pelan, sambil memandang punggung Dirga yang berjalan sampai menghilang dibalik pintu.
"Ada apa?"
Tanya Dirga ketika sudah berada diruang tamu menemui Gio.
"Pak Bram sudah memutuskan." kata Gio membuka suara."Dia memilih Megantara Group. Besok dia ingin bertemu denganmu, untuk membahas proyek gedung rumah sakit ini lebih lanjut."
Dirga hening.
"Kalau kamu tidak bisa datang, biar aku sendiri saja yang akan menemuinya." ujar Gio lagi yang seolah mengerti keadaan Dirga saat ini.
"Tidak apa, aku akan datang." kata Dirga akhirnya.
Megantara Group.
"Waah ... saya, benar-benar kagum dengan kreatifitas mendesain anda, Pak Dirga."
Pak Bram berdecak-decak kagum sambil memperhatikan rancangan-rancangan desain milik Dirga. Saat ini, mereka sedang berada di ruangan khusus dilantai delapan, tempat dimana desain-desain milik Dirga berada.
Selang beberapa detik, asisiten Pak Bram masuk kedalam ruangan tersebut. Mendekati pria paruh baya berkacamata itu, sambil membisikkan sesuatu.
Raut wajah pria paruh baya yang semula ramah itu, seketika berubah. Dirga dapat menyadari itu, ia juga merasa heran. Saat ini Pak Bram melemparkan tatapan tak suka kepadanya.
"Maaf, Pak Dirga. Kerja sama kita batal."
__ADS_1
Pak Bram langsung berlalu dari ruangan itu.
Dirga masih heran. Ia langsung menoleh pada Gio yang saat ini sudah berdiri disampingnya.
"Cari tahu apa yang terjadi."
Dirga berjalan keluar. Disusul oleh Gio yang juga mengikutinya dibelakang.
Suara notifikasi menghentikan Gio, pria ini langsung membuka ponselnya. Ia membuka sebuah artikel, yang sengaja dikirim oleh seseorang.
Gio buru-buru mengejar Dirga, yang saat ini sudah melangkah masuk kedalam lift. Gegas ia menunjukkan artikel itu pada Dirga. Detik itu, rahang Dirga mengeras, jemarinya terkepal kuat, dengan wajah merah padam, menyimpan kemarahan.
"Sekarang, mungkin informasi ini sudah tersebar luas. Kita harus bagaimana? Namamu sudah tercoreng."
Kata Gio cemas.
"Aku akan mengurusnya." kata Dirga dingin. Jemarinya langsung menekan tombol lift, turun kebawah.
Di lantai bawah, seluruh mata karyawan yang lewat tertuju padanya. Berita pagi ini dengan cepat tersebar dan menggemparkan seluruh kantor. Ada yang saling berbisik, ada juga yang langsung hening. Terdengar juga suara-suara sumbang yang sempat mampir di telinganya.
Pak Dirga anak koruptor?
Buruan baca!
Kasus koruptor yang terjadi 20 tahun lalu?
Dirga seakan tak perduli. Saat ini ia terus berjalan keluar. Masuk kedalam mobil, untuk menemui seseorang, yang membuat kemarahannya kali ini tak bisa ditahan lagi. Malik Mahendra Hartawiawan.
________________
Desa Arenan, Jawa Tengah
"Kemarin saya lihat ada perempuan cantik, di rumah Buk Laila. Kalau boleh tau, itu pacarnya Dr. Reyhan, ya, buk?"
Tanya Buk Juwita, wanita yang kerap di sebut ratu ghibah dikampung itu, ketika sedang membeli beras di toko minimarket rumahan, milik Buk Laila.
Buk Laila hanya tersenyum tipis. Hal ini, sudah ia duga. Pasti akan ada mulut-mulut rempong emak-emak yang yang tak pernah lepas dari ghibah. Apalagi mengetahui hal ini.
"Enggak nyangka, ya, Buk .... setelah gagal nikah dari si Rima, Dr. Reyhan akhirnya bisa move-on, juga." sambung Buk Juwita lagi."Malah cakep banget lagi pacarnya."
"Si Rima, kalah cantik."
"Maaf, buk Juwi ... tapi ...."
Buk Laila ingin menjelaskan, karena menurutnya Buk Juwita sudah berfikir terlalu jauh. Namun barusaja ia ingin meneruskan kalimat, Buk Juwita sudah langsung memutusnya.
"Kapan acara makan-makan enaknya, buk? Pasti nanti kalau Dr. Reyhan nikah, acaranya dibuat besar-besaran, ya, kan, buk? Secara kan, Buk Laila itu orang terpandang di kampung ini."
Buk Laila tersenyum meringis.
__ADS_1
"Hua .... huahuahua!"
Buk Laila melihat kearah anak kecil yang sedang berjalan menghampiri Buk Juwita sambil menangis.
"Maaf, buk Juwi ... itu anaknya buk Juwi, nangis."Kata Buk Laila.
"Aku balik, sek, ya, buk ..." Buk Juwita tersenyum."Anak saya nangis."
Setelah kepergian Buk Juwita, Buk Laila hanya bisa bergeleng-geleng, sambil menghela nafas pelan. Ia ingin segera berbalik. Tapi terkejut karena melihat kehadiran Dhia yang sudah berdiri didepannya.
"Eh, nduk ... kamu disini?"
Dhia tersenyum tipis sambil menelan ludah.
"Maaf, buk ... bukannya saya menguping. Tapi tadi saya nggak sengaja dengar percakapan Ibu dengan wanita tadi."
"Saya minta, maaf, buk. Kalau kehadiran saya malah jadi bahan gosip dikampung ini."kata Dhia pelan merasa tidak enak.
Buk Laila tersenyum."Enggak apa-apa, nduk. Namanya juga dikampung, biasa ... kalau ada orang baru pasti langsung heboh."
Dhia balas tersenyum sungkan.
"Sepertinya saya nggak bisa lama-lama disini lagi, buk. Takut nggak enak sama tetangga."
Wajah Buk Laila terlihat sedih. Tak dipungkiri, kehadiran Dhia sudah membawa warna baru tersendiri untuknya. Baginya, Dhia adalah wanita yang baik. Kerinduannya ingin memiliki anak perempuan, kini seolah terbayar dengan kehadiran Dhia dirumah ini.
"Saya ingin melanjutkan pencarian untuk mencari Mbok, Siah, buk."
Kata Dhia lagi.
"Lain kali saja, nduk ... kamu masih kurang sehat. Kasihan kandungan kamu kalau sampai kenapa-kenapa."
"Untuk sementara, disini aja, dulu." kata Buk Laila.
"Assalamualaikum."
Sapa seorang pria berkacamata dengan kemeja biru tua yang masuk kedalam toko minimarket tersebut. Dan langsung membuka lemari pendingin, mengambil sebotol minuman air mineral dari dalam sana. Duduk pada kursi plastik, lalu meneguk minumannya.
"Wa'alaikumussalam." sahut Dhia dan Buk Laila bersamaan.
Buk Laila tersenyum."Kamu itu ngopo, toh, le ....? balik tekan puskesmas, kok, koyok uwong baru balik tekan sawah."
"Ngelak, buk .... diluar panas."
Sahut Reyhan. Membuka kancing kemeja atasnya, kemudian melihat pada Dhia.
"Sore ini nggak pingin jalan-jalan? kalau kamu mau aku bisa menemani. Hitung-hitung cari angin segar."
Kata Reyhan menawarkan diri.
__ADS_1