Istriku, Dhia

Istriku, Dhia
Kita Bisa Memulainya Sekarang


__ADS_3

"Lemari pakaian, meja, nggak sekalian dikeluarin?!"tanya Dirga dengan nada suara yang kesal ketika sofa dan karpet bulu yang tidak bersalah sudah disingkirkan dari dalam kamar itu.


Wiwik terkekeh."Mas Dirga bercandanya kelewatan. Kalau semuanya disingkirkan itu namanya ngusir, dong, Mas."


"Ya, kali aja kamu mikir saya nyuruh Dhia tidur didalam lemari. Kalau nggak, diatas meja."


"Enggak mungkin, dong, Mas Dirga ..."Wiwik melebarkan mata melempar tatapan konyol pada majikannya itu.


Dirga membuang nafas kasar, seraya nyelonong keluar dengan langkah panjang melewati Dhia dan Wiwik.


"Loh, loh, loh ... Mas Dirga mau kemana?"tanya Wiwik namun Dirga tak menggubrisnya.


"Udah, Wik ... biarin aja."ujar Dhia seraya menarik kopernya masuk kedalam kamar itu."Paling juga dia lagi kesal sama, kamu."


"Iya, mungkin, Mbak."Wiwik terkekeh pelan."Perlu dibantuin nyusunin bajunya, nggak, Mbak?"


"Enggak usah, Wik. Aku bisa sendiri, kok."


"Ya udah, Wiwik turun dulu. Mau masak untuk makan malam."ujarnya lalu melangkah."Oh, iya, Mbak."Wiwik berbalik.


"Apalagi, Wik?"tanya Dhia yang saat itu hendak menutup pintu kamar.


"Baju kebayanya udah Wiwik tarok didalam lemari. Wiwik juga mau terima kasih, loh, Mbak."Wiwik tersenyum malu-malu."Mbak Dhia udah baik banget beliin Wiwik baju kebaya. Itu artinya Wiwik diajak ke acara wisudanya Mbak Dhia dong, berarti?"


"Iya, dong. Kamu harus datang. Kamu itu kan, udah aku anggap sebagai keluarga sendiri."


"Ya ampun, Mbak Dhia baik banget, sih. Wiwik jadi terharu."


Dhia terkekeh."Udah, ah, Wik. Biasa aja mukanya nggak usah dijelek-jelekkin gitu."


"Mbak Dhia ... muka Wiwik memang begini, Mbak."Wiwik mencebikkan bibir.


Diruangan lain, masih didalam Penthouse. Dirga mengayuh kakinya pada alat fitness treadmill yang perlahan semakin cepat. Sementara peluh sudah membanjiri pelipis dan separuh badannya, dadanya bergerak naik turun mengatur nafas yang terengah.


Aaargh!!


Teriaknya seraya menekan tombol penurun kecepatan, lalu mematikannya.


"Kejebak, ini namanya.!"ujarnya seraya menyambar handuk kecil yang tersangkut pada alat fitness bench press lalu mengusap seluruh peluh diwajahnya.


Ia menghela nafas panjang.


"Apa bisa aku nahan diri tiap malam tidur satu kamar sama Dhia?"tanyanya pada diri sendiri.


Dirga berdecak."Mana cantik banget lagi itu anak."gumamnya pelan. Habis beberapa saat waktu berjalan. Memikirkan jalan keluar yang justru malah membuat kepalanya pusing. Dirga akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruang fitness. Berjalan menuju dapur. Langsung meneguk segelas air hingga kandas tak tersisa.


"Wik!"panggil Dirga cukup keras ketika ekor matanya melihat Wiwik keluar dari dalam kamar.


"Iya, Mas."


"Sini, kamu."Dirga meletakkan gelasnya yang sudah kosong diatas meja.


Wiwik berjalan mendekatinya.


"Bulan ini kamu naik gaji. Dua kali lipat."kata Dirga tiba-tiba. Wajah Wiwik langsung berbinar terang, bak pancaran sinar lampu obor yang menerpa wajahnya.


"Yang bener, Mas?"


"Kapan saya pernah bohong?"Dirga memasang wajah datar."Tapi dengan syarat."


"Syarat apa, Mas?"


"Kamu harus tutup mulut sama Mama Rossa tentang hubungan saya dengan ..."


"Wohooo ... tidak bisa, Mas."Wiwik langsung memutus kalimat Dirga seraya menggerak-gerakan telunjuknya didepan majikannya itu"Ini, namanya kasus persuapan."


"Wiwik paling anti yang kayak begini."


"Enggak bisa, enggak bisa."kata Wiwik seraya bergeleng-geleng.


Dirga berdecak dengan wajah yang sudah menahan geram."Kamu ini asisten saya, atau asistennya, Mama Rossa, sih?"


"Harusnya nurut sama saya, dong. Bukan malah sama Mama Rossa. Memangnya kamu nggak takut saya pecat?!"ancam Dirga.


"Hemmm ... ini, nih."Wiwik menaikkan kembali telunjuknya."Kebiasaan Mas Dirga main ancem-anceman. Silahkan Mas Dirga kalau mau pecat Wiwik."


"Wiwik nggak takut lagi, Mas. Soalnya itu, ya ... Buk Rossa bilang, kalau Mas Dirga berani pecat Wiwik .... maka Buk Rossa yang akan mengangkat Wiwik menjadi asistennya. Setelah itu, Wiwik dikirim kembali kemari untuk menjaga Mbak Dhia di penthouse ini."


"Ya, jadi percuma. Wong, Wiwik dipecat ya kembali lagi."


Dirga menghela nafas berat. Hening sesaat sambil memandang Wiwik kesal.

__ADS_1


"Pergi kamu!"ujarnya akhirnya. Kali ini Dirga tak bisa berbuat apa-apa. Asistennya itu kini sudah berpihak pada mertuanya, Rossa Nawang Ayu.


Dirga memutuskan masuk kedalam kamar utama setelah beberapa saat berada didapur untuk mengisi perutnya yang lapar akibat fikiran amburadul, dan olah raga yang sudah menguras tenaganya.


Pelan ia membuka handle pintu. Disana, disisi kanan tempat tidur, Dirga melihat Dhia tengah bersujud diatas sajadah. Netranya sesaat terpaku pada wajah teduh yang terbingkai mukena putih menjuntai. Mungkinkah seorang Malik Mahendra Hartawiawan, pemilik keturunan ini. Ah, entahlah.


Dirga memutuskan untuk masuk. Berjalan menuju kamar mandi. Beberapa saat berada disana, ia keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Seraya berjalan ia sempat melihat kearah ranjang, namun tak melihat keberadaan Dhia disana. Bak menganggap angin lalu, ia langsung nyelonong masuk ke ruang ganti.


Bugh!!


Tubuh tegapnya, menabrak tubuh mungil Dhia yang kebetulan hendak keluar ketika baru saja menaruh mukena dan sajadah dari dalam sana. Tabrakan tubuh yang tanpa disengaja itu berhasil meloloskan handuk putih Dirga hingga teronggok dilantai.


Netra dan bibir Dhia seketika membulat sempurna. Menyaksikan tanpa sensor sesuatu yang berdiri terapit didepannya. Dan yang pasti, itu bukan keadilan. Karena sampai saat ini Dhia belum pernah merasakannya.


Aaaaaaa ....!


Teriak Dhia dan Dirga bersamaan begitu tersadar. Dirga langsung memungut handuknya. Sementara Dhia langsung berlari keluar dari ruang ganti.


"Lupakan kejadian tadi. Anggap saja kamu tidak pernah melihatnya."ujar Dirga pada Dhia ketika sudah keluar dari ruangan tragedi handuk melorot.


"E-enggak apa-apa, Mas. Tadi aku cuma panik. Soalnya aku belum pernah kenalan. M-maksudku ... belum pernah lihat."ralat Dhia terbata.


Kenalan?


Kata itu membuat Dirga menyipitkan mata. Menurutnya ada-ada saja kata yang meluncur dari bibir polos Dhia.


"Tapi, Mas ... kalau mau nunjukin lagi juga boleh, kok, Mas."Dhia berdiri seraya berjalan pelan mendekati Dirga. Detik itu Dirga langsung menoleh tak percaya.


"Aku siap."Dhia tersenyum memasang wajah genit.


"Jangan ngaco, kamu, Dhia."Dirga memasang wajah ketus.


"Kok, ngaco, Mas? Aku kan istri kamu."Dhia berdiri berjalan pelan mendekati Dirga. Kedua tangan kurusnya dengan berani mencengkeram bahu pria ketus itu. Memutarnya, mendorong tubuh pria itu hingga terduduk diatas ranjang.


"D-Dhia ... jangan macam-macam, kamu."Dirga menelan ludah gugup. Semakin tak percaya ketika Dhia dengan berani duduk diatas pangkuannya. Dhia menaikkan sebelah kakinya, hingga terangkatlah kaki jenjang nan putih yang tak terbungkus piama dress maroon itu.


Dirga tertegun. Sorot matanya menelisik kedalam manik hitam gadis itu. Dhia tidak berani. Dhia hanya berusaha untuk berani menggodanya. Ia bisa melihat itu. Semakin dekat, ia bisa merasakan kepolosan jiwa gadis itu yang sebenarnya terluka.


"Kamu ingin aku melakukannya?"tanya Dirga tiba-tiba sambil memandang mata bulat gadis itu lekat-lekat.


Dhia tergugu seraya menelan ludah yang tiba-tiba tercekat.


"Baiklah, kita bisa memulainya sekarang."Dirga tersenyum smirk.


"Aku pria normal Dhia."lirih Dirga pelan sambil memandang Dhia yang gugup dengan lekat.


"Kalau kamu memintanya saat ini juga, aku bisa melakukannya. Berapa kali pun, kamu meminta, aku juga bisa saja melakukannya."


"Tapi aku tanya sama kamu."Dirga terus memandang gadis itu."Apa kamu mau melakukannya dengan orang yang tidak mencintaimu?"


Dhia hening.


"Tidak, kan?"tanya Dirga mengulangi.


Lagi, Dhia masih hening.


"Apa kamu tidak takut, jika suatu saat nanti aku bisa saja pergi meninggalkanmu?"tanya Dirga lagi masih terus menyelami manik hitam Dhia yang sepertinya saat ini terluka mendengar akhir kalimatnya.


"Kamu mencintaiku, Mas. Mana mungkin kamu meninggalkanku"ujar Dhia tiba-tiba dengan mata yang memerah.


"Kamu salah, Dhia."


"Aku benar, Mas."sela Dhia cepat. Netranya balas menyelami mata elang yang berada sangat dekat didepannya. Meraba kejujuran dari setiap kata yang terlontar dari bibir suaminya itu.


Dirga memejamkan mata seraya menelan ludahnya kelu.


Netra Dhia semakin memerah. Bulir bening sudah mengaburi pandangannya."Dan kalau memang kamu tidak mencintaiku, kenapa tadi kamu sangat takut ketika Mama ingin membawaku, Mas?"


Pertanyaan Dhia berhasil membuat pria itu bungkam.


Dirga akhirnya menghela nafas berat. Dan ingin beranjak karena tak kuasa melihat Dhia menangis. Tapi disaat yang sama, tanpa ia duga, Dhia menarik tengkuknya dan melemparkan sebuah penyatuan yang sarat akan kerinduan dibibir tebalnya.


Bagaimana tidak? Sebagai seorang istri, Dhia sangat mengharapkan ini. Cinta, kasih sayang, kemesraan. Namun semua itu tak pernah ia dapatkan sejak pernikahan. Sementara dirinya yakin, Dirga juga mencintainya. Namun alasan dendam, yang Dhia tak pernah tahu dendam apa itu. Berhasil menjadi tembok besar yang mengaburi impiannya sampai saat ini.


Detik itu Dirga tertegun. Bibir lembut Dhia membuatnya tak berdaya. Namun masih bisa mengumpulkan kesadaran demi mengatur gerak dada yang semakin cepat agar tetap bisa segera diredakan. Jujur, perasaan ini membuatnya tak berdaya. Umpama dinding tebal yang menghimpitnya. Bertahan sesak, untuk pergi, apa lagi ... ia sudah terbelenggu disana.


Dhia melepas pagutannya seraya membuka mata."Kamu tidak menepisnya, Mas"lirihnya memandang Dirga yang masih terdiam."Itu artinya aku benar ..."


"Kamu mencintaiku."


"Cukup Dhia!"Dirga menegakkan tubuhnya dan segera berbalik.

__ADS_1


Dhia tersenyum tipis seraya menyusut sisa air mata yang membasahi pipinya."Tidak apa kalau kamu belum bisa mengakuinya, Mas"ucapnya seraya duduk.


"Aku akan menunggu." pungkas Dhia sambil berdiri, lalu berjalan keluar meninggalkan Dirga yang berdiri terpaku.


Maafkan aku, Dhia ... aku tahu, kamu pasti kecewa saat ini. Dirga memandang gadis itu yang perlahan menghilang dari balik pintu.


____


Disebuah rumah yang terbilang cukup megah. Berdiri seorang anak laki-laki bersama wanita muda yang sudah mulai memasuki usia kepala tiga. Didepan mereka, sebuah kue ulang tahun berbentuk karakter yang diatasnya tersusun 8 buah lilin kecil yang belum menyala. Hiruk pikuk suara dari sebagian orang tua dan anak-anak kecil yang hadir, turut memeriahkan acara itu.


"Papa mana, Ma? kok belum dateng? Acaranya sudah mau dimulai."anak kecil itu menekuk wajah. Kue yang lucu, balon-balon warna-warni, serta kemeriahan, seakan tak berarti baginya sebelum melihat kehadiran seseorang yang ia tunggu saat ini. Papa.


"Sabar, sayang ... sebentar lagi Papa datang, kok. Kan tadi pagi Papa sudah janji. Papa hanya sebentar ke kantor. Kalau pekerjaannya sudah selesai, Papa langsung pulang."


"Sekarang pasti Papa lagi dijalan."Wanita itu menenangkan anaknya.


"Lama banget, Ma. Papa nggak lupa, kan, Ma, kalau hari ini aku ulang tahun?"


Mamanya tersenyum."Enggak, dong, sayang. Mana mungkin Papa lupa. Dari dulu Papa selalu ingat ulang tahun kamu."


"Jadi tenang, ya ... kamu sabar dulu."Wanita itu bersimpuh seraya mengusap lembut dada anaknya.


Selang kemudian, deru mobil berhenti didepan rumah besar tersebut. Anak itu segera berlari dengan riang. Namun sesampainya diluar, ia harus menelan rasa kecewa. Ketika yang dilihatnya justru kehadiran dua orang bertubuh tegap memakai seragam berwarna coklat. Yang tak lain adalah dua orang polisi.


"Permisi ... benar, ini ibu Arini? Istri dari Bapak Handika Gumilang?"tanya salah seorang polisi tersebut pada wanita yang berdiri didepannya.


"Benar, Pak. Ini ... ada apa, ya, Pak?"tanya Arini dengan hati yang tiba-tiba merasa tidak enak.


"Kami dari kepolisian, ingin menyampaikan informasi tentang suami, ibu. Bapak Handika Gumilang telah ditemukan tewas didalam kantornya. Diduga bunuh diri akibat kasus korupsi proyek Gedung Putih yang menyeretnya."


"Jenazahnya baru saja selesai di autopsi. Dan sekarang sedang dalam perjalan menuju kemari."


Bak disambar petir, tubuh Arini sekita limbung.


Jenazah, bunuh diri, korupsi. Kata-kata itu seperti menghantam kepalanya hingga tubuh wanita yang masih berdiri itu jatuh tersungkur dilantai.


"Tidak, tidak!! ..."teriak Arini histeris."Suamiku tidak mungkin meninggal. Suamiku tidak mungkin bunuh diri. Suamiku tidak korupsi. Tidaaak!"racaunya.


Sementara anak kecil yang berdiri disisinya berdiri ketakutan dengan mata yang memerah. Orang-orang yang berada didalam rumah seketika berhamburan keluar begitu mendengar teriakan Arini yang memenuhi ruangan rumah tersebut.


Suara ambulans, jerit tangis Arini. Seketika mewarnai duka didalam rumah tersebut. Pesta ulang tahun, kemeriahan tak ada lagi disana. Berganti dengan jeritan tangis dan racauan demi rancauan yang menggaung memenuhi ruangan.


"Papa ... Papa jangan tinggalin Rayyan."


"Mama ... Mama, Mama bangun."teriak anak kecil itu yang melihat ibunya pingsan tak berdaya.


"Papa ..."


"Mama ..."


"Jangan tinggalin Rayyan ... Huhuhuhu."


"Papa ... Mama ..."


"Papa ....!!"


"Mas, Mas ..."


"Mas Dirga."Dhia menepuk-nepuk pipi Dirga hingga pria itu tersentak dengan peluh yang sudah membasahi dahinya.


"Aku baru aja masuk, tadi aku sempat dengar kamu panggil, panggil, Mama, Papa."kata Dhia hati-hati.


Dirga hening seraya menelan ludah berkali-kali.


"Kamu rindu dengan mereka, ya?"tanya Dhia lagi.


Dirga memandangnya.


"Sudah berapa kali kamu mendengar aku mengigau?"tanya Dirga tiba-tiba.


"Baru kali ini, Mas."aku Dhia.


"Kamu yakin? Waktu kita pernah tidur berdua, kamu beneran nggak pernah dengar aku ngigau?"tanya Dirga lagi.


Dhia bergeleng."Memangnya kenapa, Mas?"


"Enggak apa-apa. Aku cuma nanya."ujar Dirga datar. Aneh. pikirnya.


"Oh."Dhia menjawab ambigu. Ia bergerak naik keatas tempat tidur. Menarik selimut, seraya berbaring memunggungi suaminya itu.


"Dhia."panggil Dirga tiba-tiba.

__ADS_1


Dhia menoleh."Ada apa, Mas?"


"Tolong jangan memunggungiku."pinta Dirga pelan.


__ADS_2