Istriku, Dhia

Istriku, Dhia
Dhia Pingsan


__ADS_3

Dhia mengerjap-ngerjap. Ia langsung merenggangkan otot-ototnya agar dirasa lebih rileks. Tapi, tunggu,! Dhia merasa tubuhnya terasa berat seperti ada yang menimpahi. Sontak ia langsung membuka mata. Dan terbelalak ketika mendapati Dirga tengah tertidur pulas sembari memeluknya.


Satu lagi, Dhia merasakan satu benda yang menempel di keningnya. Sebuah lipatan kain kompres yang sudah mengering.


Ternyata aku demam tadi malam.


Dan dia yang merawatku.? bathin Dhia bertanya seraya tersenyum tipis memandang wajah Dirga yang masih terlelap.


Kamu itu sebenarnya baik, Mas. Tapi kenapa selalu bersikap dingin kepadaku? Dhia masih bergumam dalam hati.


Cukup puas Dhia memandang wajah tegas suaminya itu. Tapi selang kemudian Dirga terbangun.


Pria itu berubah kikuk ketika mendapati Dhia sedang memandanginya. Dhia pun sama, gadis itu langsung menelan ludah karena gugup.


"Maaf,"Dirga mengalihkan tangannya dari tubuh Dhia dan buru-buru bangkit dari tempat tidur.


"Itu,"Dirga menunjuk wajah Dhia ketika sudah berdiri dengan sikap kikuk. Dan itu membuat Dhia bingung.


"Apa, Mas?"


"Demam kamu sudah turun?"


"Sudah, Mas. Terima kasih karena kamu sudah merawatku."Dhia tersenyum tipis.


"It's, oke."Dirga berbalik.


"Kamu mau kemana, Mas?"tanya Dhia ketika Dirga hendak membuka pintu kamar.


"Kamar mandi."


"Kamar mandinya itu."Dhia menunjuk kamar mandi disisi sudut kiri.


Seperti salah tingkah, Dirga langsung membuang nafas menyadari kekonyolannya. Ia pun langsung berbalik melangkah ke kamar mandi.


Sontak Dhia mengulum senyum melihatnya. Lalu bergegas keluar kamar. Dan betapa terperanjat nya Dhia ketika membuka pintu. Ia mendapati Wiwik terhuyung hampir menciumnya.


"Wiwik, kamu ngapain disini?"


"E-anu, Mbak, itu ..."Wiwik gugup. Karena sejujurnya dia tengah menguping untuk mencari tahu jejak kejadian dikamar itu tadi malam. Apakah rencananya berhasil atau tidak.


"Saya mau ngasih tahu kalau Bapak dan Ibu Rossa baru saja pulang. Tadi Buk Rossa mau pamit. Tapi takut ganggu, katanya."Kilah Wiwik.


"Ganggu?"


"Iya, Mbak."Wiwik senyum-senyum penuh arti.


"Kenapa senyum-senyum? Ini pasti rencana kamu, kan?"Dhia menunjuk lingerie pendek yang membalut tubuhnya.


Wiwik cekikikan."Maaf, Mbak. Wiwik tadi malam buru-buru. Yang langsung ketangkep sama tangan Wiwik langsung pakaian itu."


"Ya udah, langsung Wiwik ambil aja."


Dhia menyipitkan mata."Wiwik, jangan bohong."


"Enggak, Mbak. Serius!"Wiwik mengangkat dua jarinya, namun yang terangkat malah empat.


"Tuh, kan"Dhia membulatkan mata.


"Maaf, Mbak. Wiwik lagi manasin sayur. Takut gosong."ujarnya langsung berlari kelantai bawah.


Dhia menggeleng.


Beberapa saat kemudian Dirga turun. Dilantai bawah ternyata Dhia sudah menunggu. Gadis itu sudah menyiapkan sandwich yang kata Wiwik adalah salah satu menu sarapan kesukaan Dirga.


"Mas, kamu nggak sarapan dulu?"tanya Dhia ketika mendengar langkah sepatu Dirga berjalan ke arah luar.


"Aku buru-buru. Sudah pukul delapan."Kata Dirga seraya melihat jam dipergelangan tangannya.


"T-tunggu.!"cegah Dhia cepat seraya berlari ke meja makan.


"Aku buatin bekal."Dhia menyodorkan sandwich yang sudah dimasukkan kedalam Tupperware berukuran kecil.


Dirga memandang Dhia dan sandwich bergantian."Enggak perlu. Saya bisa makan makanan yang lain, nanti dikantor."ucapnya akhirnya.


"Jangan gitu, dong, Mas. Please ... terima."Dhia memasang wajah sedih."Anggap ini ucapan terimakasih aku sama kamu. Karena ...."


Dirga langsung meraih bekal sebelum Dhia melanjutkan kalimatnya."Makasih."ucapnya, langsung melangkah ke luar, namun sejurus kemudian berbalik lagi.


"Kamu beneran udah nggak sakit lagi?"tanya Dirga yang kebetulan saat itu Wiwik melintas dibelakangnya.


Sakit??


Rupanya kata 'sakit' langsung menarik perhatian Wiwik. Fikirannya yang kotor detik itu juga menjurus liar kemana-mana. Ia tertawa cekikikan seraya menutup mulut, membayang rencananya yang sudah berhasil tadi malam.


Ini, udah tak jamin ini, pasti tadi malam udah gol. Wiwik, Wiwik ... kamu itu memang pinter kalau urusan begini. bathin Wiwik masih cekikikan karena merasa geli sendiri.


Dhia mengangguk cepat.


"Kalau masih sakit lebih baik nggak usah ke kampus. Kamu bisa ujian Daring (Dalam Jaringan) disini.


"Enggak kok, Mas. Aku udah nggak apa-apa. Lagian kenapa, sih? Kamu khawatir sama aku?."todong Dhia dengan pertanyaan yang membuat Dirga mati kutu.


"Enggak usah G'r kamu."ucap Dirga akhirnya.


"Ya udah sana ke kampus. Terserah kamu mau sakit atau nggak. Bukan urusan saya.!"ujarnya ketus dan langsung keluar.


Mas, Mas ... kamu itu, ya. Kadang jutek, kadang lembut, tapi ng-gemes-in. bathin Dhia bergumam seraya memandang Dirga sampai menghilang dari balik pintu. Dan berbalik ketika saat itu juga Dhia melihat Wiwik tersenyum penuh arti.


"Kamu kenapa, Wik?"


Wiwik semakin tersenyum."Enggak apa-apa, Mbak."


"Hemm."Dhia menyipitkan mata."Pasti kamu lagi mikir yang enggak-enggak, kan?"tebaknya.


"Malam pertamanya gimana Mbak Dhia. Pasti lancar, kan?."Wiwik masih tersenyum malu-malu dengan wajah jenakanya.


"Enggak ada lancar-lancarnya, aku tuh, sakit, Wik."terang Dhia seraya mendudukkan diri disofa empuk ruang tamu.

__ADS_1


"Ya memang begitu, Mbak Dhia. Kata orang-orang, kalau pertama kali itu memang sakit, Mbak."


Dhia berdecak."Kamu itu ngomong apa, sih Wik?"


"Maksud aku itu, tadi malam, aku itu demam. Bukan sakit aneh-aneh, atau apalah yang seperti kamu bayangin."


"Hah?!"Wiwik melebarkan mata."Berarti zonk, dong Mbak, tadi malem?"


"Yah ..."Wiwik menghela nafas kecewa.


"Tapi nggak apa-apa, Mbak. Nanti Wiwik putar otak cari cara lain. Dijamin, lain kali Wiwik nggak akan gagal."


"Maksud kamu, kamu mau ngapain, Wik?"Dhia membulatkan mata.


__________


Di Gedung, Megantara Group


"Terima Kasih, Pak, atas kerjasamanya."Dirga menyalami Pak Wibido. Keduanya baru saja melaksanakan meeting bersama beberapa karyawan untuk membahas rencana pembangunan hotel yang rencananya akan mulai dibangun awal bulan depan.


"Sama-sama, Pak Dirga. Saya permisi dulu."Pak Wibido tersenyum lalu beranjak meninggalkan ruang rapat.


Dirga bergegas keluar. Dibelakangnya ada Gio yang juga hendak keluar.


"Udah tengah hari. Makan, yuk."ajak Gio seraya mengimbangi langkah panjang Dirga.


"Oke."


Dert, dert, dert ...


Dirga meraih ponsel dari dalam sakunya. Dilayar benda pipih itu tertera tulisan,


...Dhiaaaaa...


...📞...


...Memanggil ......


Dahi Dirga berkerut.


Tumben dia nelpon.


Egonya malas untuk menjawab. Tapi hati menuntun jari untuk segera mengangkatnya.


"Ada apa?"tanya Dirga akhirnya.


Hallo ...


Terdengar suara wanita dari balik benda pipih itu.


Ini benar suaminya Dhia?


Tanya itu membuat Dirga yakin bahwa suara wanita yang sedang meneleponnya bukanlah, Dhia.


"Iya, benar. Ada apa?"tanyanya dengan ekspresi datar.


"Pingsan?"ulang Dirga.


"Siapa yang pingsan?"Gio menyikut lengan Dirga penasaran. Tapi Dirga sama sekali tak meresponnya.


Iya,


"Keadaannya bagaimana sekarang?"


Masih belum sadarkan diri.


"Oke, saya kesana sekarang juga."kata Dirga, lalu mematikan handphone.


"Mau kemana?"cegat Gio saat Dirga hendak pergi.


"Kampus BinaBangsa. Dhia pingsan. Aku pergi dulu. Kamu makan sendiri aja."Dirga langsung pergi meninggalkan Gio.


Gio berdesis."Gaya, balas dendam. Belum apa-apa udah bucin duluan, lu."ucapnya seraya memandang Dirga yang berjalan terburu-buru masuk kedalam lift.


Dirga, Dirga.


__________


Universitas Binabangsa Indonesia,


Mobil sedan mewah berwarna hitam metalik berhenti didepan halaman Universitas BinaBangsa Indonesia. Sang pemilik dengan setelan jas rompi berwarna coklat muda terlihat turun dari dalam mobil, dan berhenti didepan tiga orang mahasiswa yang tengah duduk dibawah pohon kenari.


"Permisi, saya mau tanya. Dimana ruang kesehatan?"


"Disebelah sana, Pak."seorang Mahasiswa menunjuk kearah sebuah lorong yang disana terlihat beberapa wanita tengah duduk dan menatap kearahnya.


"Ruangannya disebelah kanan, disamping jurusan kedokteran."ujar mahasiswa tersebut."


"Oke. Terima kasih."Dirga melanjutkan langkah.


Masha Allah, pengen yang kayak gini. Masih ada enggak, ya?


Itu kan, suami anak jurusan manajement itu,


Mau jemput istrinya yang pingsan mungkin.


Terdengar kasak-kusuk yang kebanyakan adalah dari bibir-bibir para mahasiswi.


Ada lagi para wanita yang dengan rasa percaya diri menggodanya. Meski Dirga sama sekali tak menoleh dan memperdulikan mereka.


Ssst, ssst, boleh kenalan?


Sayang, kapan main kerumah?


Begitu suara-suara sumbang itu menggodanya.


Tak sedikit juga para mahasiswa laki-laki yang merasa iri dengan penampilan pria berambut cepak, yang terkesan Cool dan berkharisma itu.

__ADS_1


Dirga membuka pintu ruangan UKK. Disana terlihat Dhia yang sepertinya baru saja siuman. Disebelah kanan terlihat Amel, Yuli, dan Dini yang tengah berjaga. Semetara disisi sebelah kiri ada Inka dan juga Dhanu.


Dhanu?


Ah, pria itu menjadi titik fokus kedua di netra tajam Dirga. Ini anak ingusan, ngapain lagi, disini?


"Mas, kamu disini?"tanya gadis yang saat ini tengah bersandar pada dinding tempat tidur berukuran kecil diruangan itu.


"Aku yang nelpon."Yuli cengengesan.


Dhia menghela nafas pelan.


"Ayo, ke Rumah Sakit."Dirga menghampiri Dhia, lalu mengambil tempat berdiri tepat didepan Dhanu, demi merenggangkan jarak pria itu dengan Dhia.


Dhanu menyadari itu. Ia menatap tidak suka pada Dirga.


"Enggak perlu, Mas. Aku tadi cuma pusing karena tadi diluar panas banget."


"Sekarang udah baik-baik aja, kok,Mas."


"Elah, cuma kena panas doang langsung pingsan. Gua jatuh dari motor nggak ada tuh, yang namanya pingsan-pingsan."Inka berceletuk.


"Kamu mah, beda, Inka. Otot kawat tulang besi."celetuk Dini kali ini.


"Eh, tapi ngomong-ngomong bener juga sih, kata, Inka. Masak kamu langsung pingsan gara-gara kena panas doang, Dhi?"Kata Amel kali ini.


"Biasanya kamu aman-aman aja. Atau jangan-jangan kamu lagi ...."Bibir Amel membulat seketika.


"Hamil!"Seru Yuli, Dini, dan Amel serempak.


"Yeee ... kita bakal jadi Aunty."Seru ketiganya lagi dengan begitu kompak.


"Yang bener, Mbak?"bolamata Inka terbuka lebar.


Mendengar teman-teman Dhia dan adik iparnya itu, Dirga hanya bisa menghela nafas seraya menggaruk-garuk keningnya yang tidak gatal.


"Ngomong apa sih, kalian? Enggak mungkin, lah."ujar Dhia kesal.


"Kok enggak mungkin?"tanya Yuli kali ini."Kan udah, ekhem ... ekhem ...."Yuli menyikut lengan Dhia seraya melirik Dirga yang sedari tadi hanya diam seperti tidak nyaman.


Boro-boro, hamil. Dicium juga enggak pernah. Gumam Dhia dalam hati.


"Dhi, aku keluar, dulu."ujar Dhanu membuka suara sedari tadi hanya diam karena merasa risih dengan kehadiran Dirga dan suara-suara rombeng empat perempuan ini.


"Iya, Nu. Makasih, ya tadi udah bawa aku kemari."ujar Dhia seraya tersenyum tipis.


"Apa kamu bilang? Dia yang bawa, kamu?"tanya Dirga tiba-tiba ketika Dhanu sudah beranjak.


"I-iya, Mas. Tadi kan, aku pingsan. Kebetulan ada Dhanu, jadi dia yang bawa aku kemari."ujar Dhia ragu.


Pria itu bergeming.


"Ayo, pulang."ujar Dirga kali ini.


"Kamu itu ngeyel banget kalau dibilangin. Aku kan udah bilang, jangan ke kampus. Ujian, kan, bisa dikerjakan dari rumah."omel Dirga ketika keduanya sudah berada didalam mobil yang bergerak menuju Sendrapati Penthouse.


"Kayak gini, ni, kalau nggak nurut sama suami. Pingsan, kan jadinya."


Suami?


Ah, kata itu membuat Dhia langsung menoleh.


"Apa, Mas, kamu bilang, apa? Suami?"goda Dhia mengulangi.


Dirga berdecak.


"Kalau kamu suami aku, berarti bisa tidur bareng, dong?"kali ini Dhia mengedip-kedipkan matanya.


Dirga tergeragap hampir tak bisa berkata-kata.


"Enggak usah mimpi kamu."itu yang ia ucapkan akhirnya.


"Kok, mimpi? Aku kan, istri kamu, dan kamu suami aku. Wajar dong."


"Apa yang salah?"tanya Dhia dengan berani.


"Kamu bisa diam enggak? Berisik banget dari tadi."Dirga membentak.


Dhia akhirnya diam hingga beberapa saat. Tapi kemudian kembali bersuara.


"Sebenarnya kamu kenapa sih, Mas? Buat apa nikahin aku, kalau selama kita nikah kamu nggak pernah menganggap aku sebagai istri. Aku bingung sama kamu."


"Sebenarnya tujuan kamu itu, apa?"tanya Dhia serius.


Dirga menghela nafas kasar seraya menelan ludah mendengar pertanyaan Dhia yang membuatnya tak berkutik. Ia langsung menepikan mobil tepat didepan halaman, Sendrapati Penthouse.


"Turun sekarang!."ujar Dirga tanpa melihat Dhia.


"Aku nggak, mau. Jelasin dulu sama aku, Mas."ujar Dhia seraya memutar badan memandang Dirga.


Dirga balas memandang Dhia, namun dengan sorot yang sulit diartikan.


"Kasih tahu, aku, Mas."Dhia memegang tangan pria yang dianggapnya suaminya itu, dengan penuh harap dan mata yang berkaca-kaca.


Dirga menelan ludah karena gugup ketika kedua tangan halus Dhia beralih menangkup wajahnya.


"Kamu lihat aku, Mas. Lihat mataku."


Permintaan Dhia semakin membuat Dirga tak berkutik. Tapi itu juga tak membuatnya untuk menolak, atau pergi. Saat Dhia memintanya, detik itu juga ia membalas sorot mata Dhia dengan hati bergetar.


"Katakan padaku kalau kamu tidak pernah mencintaiku."


Dirga bergeming.


"Katakan, Mas ... Katakan."pinta Dhia lagi.


Dirga masih memandang Dhia. Lidahnya sudah kelu. Cukup, ini sudah tidak bisa dibiarkan. Semakin lama ia memandang Dhia, semakin dalam pula ia terhanyut dalam pusaran netra yang membuatnya tak berdaya.

__ADS_1


Dirga bergegas membuka pintu kemudi. Langsung keluar membiarkan Dhia terpaku disana, didalam mobil. Sendiri. Dan mungkin saat ini gadis itu sedang menangis.


__ADS_2