Istriku, Dhia

Istriku, Dhia
Seperti Pernah Melihatnya. Tapi Dimana?


__ADS_3

"Sebelum menikah, Mas Dirga memang selalu ke Singapura, ya Wik?"


Wiwik mengingat-ingat, dan berhenti dari kegiatannya membersihkan meja usai makan malam."Kira-kira dua bulan sekali sih, Mbak. Soalnya orang tua-nya Mas Dirga, kan ada di Singapura."


"Orang tua?"


"Iya, Mbak. Daddy-nya Mbak Tamara. Orang tua angkatnya Mas Dirga."


"Oh."Dhia menjawab ambigu. Ada banyak pertanyaan yang ingin sekali Dhia tahu. Menurutnya, Dirga terlalu tertutup. Bahkan tentang orang tua kandung suaminya itu, pun, Dhia tak tahu. Yang ia ketahui, adalah tentang kedua orang tua kandung pria itu yang sudah lama meninggal. Itupun karena Malik Mahendra Hartawiawan yang mempertanyakan keberadaan kedua orang Dirga, sebelum pernikahan antara dirinya dan Dirga terjadi.


"Orang tua Tamara pernah datang kemari, Wik?"


"Enggak pernah, Mbak. Wiwik juga heran. Wong pas nikahannya Mbak Dhia sama Mas Dirga aja nggak dateng. Padahal kan, Mas Dirga anak angkatnya."


"Ya, kan, Mbak?"


Dhia mendesah pelan.


"Mas Dirga terlalu tertutup. Dia seperti merahasiakan tentang kehidupannya."


Wiwik bergeming. Menurutnya, Dhia benar. Sepertinya Dirga memang sengaja menyimpan rapat tentang masa lalunya. Ini ia sadari ketika Dirga mengancam akan memecatnya, jika bercerita pada Dhia tentang masa lalunya. Apapun itu.


"Kamu juga, kalau ditanya nggak pernah mau jawab."Dhia melirik Wiwik kesal.


"Ya, maaf, Mbak. Wiwik juga nggak banyak tahu tentang Mas Dirga. Soalnya kan, Wiwik juga belum lama tinggal disini."


"Wiwik juga takut salah ngomong. Entar yang ada Mas Dirga malah marah. Tau sendiri kan, kalau Mas Dirga marah gimana?"


"Kamu mau saya pecat?"Wiwik memperagakan Dirga saat menatapnya tajam.


"Emoooh, ah, Wiwik nggak mau dipecat, Mbak."pungkasnya.


Dhia terkekeh pelan melihat ekspresi Wiwik."Apaan sih, kamu, Wik. Mas Dirga sih, tetap cool kalau begitu. Kalau kamu jatuhnya malah kayak preman mau malak."


"Seram dong, berarti Wiwik, Mbak?."


"Banget."


"Mbak Dhia kejam amat. Kejamnya udah nurun kayak Mas Dirga."ujar Wiwik dengan bibir monyong.


Dhia tertawa pelan.


"Udah malem. Mbak Dhia nggak nelpon Mas Dirga? memangnya nggak kangen?"goda Wiwik sambil senyum-senyum.


"Kangen lah, Wik. Tapi aku takut ganggu."


"Halaaah, malem-malem gini Mas Dirga nggak mungkin kerja lah, Mbak. Pasti sekarang lagi rebahan. Coba deh, Mbak Dhia telpon."


"Wiwik yakin Mas Dirga pasti seneng."


"Sok tahu, kamu."


"Emmm ... tuh, kan."Wiwik memandang Dhia seraya menyipitkan mata."Cara ngomongnya udah kayak Mas Dirga."


"Sok tahu, kamu."Wiwik mengulangi kalimat Dhia.


Dhia meringis."Udah, ah. Aku mau ke kamar."


Dhia beranjak.


"Halaaah, bilang aja mau nelpon ayang."


Dhia sempat mencebikkan bibir pada Wiwik, sambil berjalan menapaki tangga. Didalam kamar, ia langsung merebahkan diri. Netranya memandang langit-langit kamar. Kemudian berdecak seraya berguling kesana kemari, seperti gelisah.


Dhia membuang nafas panjang."Sepi banget."


Lirihnya pelan seraya mengusap bantal kosong disisi kepalanya."Baru tadi pagi kamu pergi. Udah kangen banget aku."


"Biasanya malam-malam gini kamu pasti udah nyuruh aku mijitin. Walaupun itu menurutku menyebalkan, tapi justru saat ini aku malah kangen."lirih Dhia lagi. Telunjuknya bergerak memutari layar ponsel. Rasanya ingin menelpon, tapi ragu.


Saat itu, dering ponsel membuatnya tersentak. Ia pun, menoleh. Dan betapa Dhia tak menyangka ketika melihat panggilan video dari seseorang yang baru saja difikirkan. Bak dikata rindu bersambut, sepasang anak manusia ini seperti memiliki hati yang sudah terikat menyatu.


Panggilan Video?


Dhia cepat-cepat merapikan rambut, lalu membenahi kimono tidurnya yang sedikit berantakan. Masih tidak cukup, Dhia kemudian menyambar kaca kecil miliknya yang berada diatas nakas. Memeriksa wajah, lalu melemparkan sembarang kaca kecil itu ditempat tidur.


Ia sempat berdeham keras menjernihkan serak suara di tenggorokannya, sebelum mengusap layar.


"Hallo, Mas."


Lama banget ngangkatnya?


Begitu suara ketus itu membuka suara.


Saat ini, Dhia bisa melihat Dirga seperti sedang berada didalam kamar. Karena pria itu sedang bersandar pada dinding tempat tidur.

__ADS_1


"Kamu nggak bisa lembutan dikit, Mas, suaranya? Baru juga telat sebentar."


"Kenapa, udah kangen banget, ya?"Dhia menaik-turunkan kedua alisnya.


Bisa, nggak, kamu nggak usah kepedean banget jadi orang?


"Aku tuh, bukannya kepedean, Mas. Tapi aku yakin, pasti kamu lagi kangen sama aku. Kalau nggak ..."


"Ngapain coba, kamu video call? Kan bisa lewat panggilan biasa kalau memang ada yang mau di omongin. Aku tuh yakin, pasti kamu kangen pingin lihat aku, kan?"


"iya, kan, Mas?"


"Iya, ngaku, hayo ..."goda Dhia lagi.


Diam kamu. Sok tahu banget jadi orang. Sebetulnya kamu itu kuliah jurusan apa, sih? Perdukunan?


Dhia terkikik pelan."Kamu lucu, deh, Mas? mana ada kuliah jurusan perdukunan. Kalau ada aku pasti pilih jurusan itu."


Dirga mengernyit.


"Iya ... biar aku bisa belajar ilmu pelet. Jadi aku nggak perlu susah-susah, deh, mikirin gimana caranya buat kamu bertekuk lutut sama aku."


Dirga berdesis. Udah, deh, kemu nggak usah banyak cerita. Mana tangan kamu?


"Buat apa, Mas?"


Enggak usah banyak tanya, Dhia. Cepat tunjukkin tangan kamu.


"Tangan kanan atau kiri?"


Terserah. sahut Dirga tanpa beban.


Dhia mengangkat tangan kanannya."Buat apa, sih, Mas?"


Kalau mijit gimana gerakannya?


Pertanyaan Dirga membuat Dhia semakin bingung.


"Gini."Dhia menggerak-gerakan jemarinya seperti memijit.


Oke, terus begitu. Jangan berhenti sebelum aku suruh. Walaupun aku nggak disana, bukan berarti kamu bisa libur.


Dhia melebarkan mata tak percaya."Kamu nggak lagi sakit, kan, Mas?"


"Terus, ngapain tanganku disuruh mijitin angin? Ini juga nggak bakalan terasa sampai kesana, Mas."


Nggak usah protes, Dhia. Siapa yang suruh berhenti?


Dirga mengomel saat melihat jari Dhia berhenti bergerak.


Sambil membuang nafas kasar serta wajah yang tertekuk menunduk, Dhia akhirnya menuruti permintaan konyol suaminya itu. Jari-jari putihnya bergerak dengan malas.


Entah apa sebenarnya niat pria ini. Yang jelas, saat ini ia sedang mengulum senyum melihat wajah Dhia yang tertunduk cemberut.


Yang benar tangannya, Dhia ...


"Pegal, Mas."Dhia merengek.


____________


Tak ada kegiatan membuat Dhia bosan. Penthouse terasa sepi baginya, hanya suara cempreng Wiwik yang sesekali menggema bernyanyi didalam sana. Siang hari, usai shalat zhuhur, Dhia akhirnya memutuskan untuk pergi ke suatu tempat.


Rumah Sakit Jiwa BinaWangsa


Dengan mengenakan pakaian santai, setelan rayon berwarna army lengan pendek, dan rambut terurai, ia berjalan menyusuri lorong berdinding putih tersebut. Sesekali tersenyum tipis menyapa perawat jiwa yang berlalu lalang.


Dhia terus berjalan, sampai akhirnya berhenti sesaat, melihat seorang wanita paruh baya yang sedang duduk dengan pandangan kosong dibawah pohon tabebuya berwarna merah jambu. Tak jauh dari ruangan tempat wanita itu berada ketika Dhia pertama kali melihatnya waktu itu.


Sempat ragu, namun Dhia akhirnya memutuskan untuk tetap mendekati wanita berwajah pucat itu.


Aku seperti pernah melihatnya. Tapi dimana?


Suara langkah Dhia membuat wanita paruh baya itu memandanganya.


"S-siapa kamu? Pergi!"Wanita paruh baya itu melempar tatapan tajam dengan dada yang bergerak naik turun. Wajahnya seperti menyiratkan tekanan jiwa yang mendalam.


"Buk, ibu tenang ..."Dhia melebarkan telapak tangannya didepan dada. Seraya berjongkok didepan wanita paruh baya itu. Berusaha membuat wanita itu tidak takut dan tak berteriak kembali.


"Kamu pasti wartawan penebar berita bohong itu. Kamu pasti orangnya. Pergi! Suami saya tidak korupsi."


"Pergi!"


"Buk, ibu ... tolong tenang, ya? Saya bukan wartawan, kok. Saya orang biasa. Dan saya juga bukan orang jahat, kok, buk."


"Ibu tenang, ya ... jangan takut."

__ADS_1


Suara Dhia terdengar begitu lembut ditelinga wanita paruh baya itu. Hingga perlahan wajah tegang wanita berwajah pucat itu sedikit lebih tenang.


"Saya bawa makanan. Ibu mau?"Dhia membuka totebag lalu menunjukkan kotak berukuran sedang bergambar kue bolu didepan wanita itu.


Wanita berwajah pucat itu langsung bergeleng berulang-ulang.


Dhia memperhatikan sweater rajut berwarna abu muda yang dikenakan wanita paruh baya itu. Sama persis dengan sweater yang ia temukan didalam kamar Dirga kala itu. Inisial A tertulis di rapih dibagian dada.


"Kenapa tidak mau? Ibu takut?"


Wanita itu tak menjawab, tetapi terus memandang wajah Dhia dengan tatapan awas.


Dhia tersenyum lembut."Saya tidak akan menyakiti ibu. Karena saya bukan orang jahat. Ibu kenal pria tinggi yang sering menjenguk ibu?"


Wanita itu langsung mengangguk berulang kali.


"Rayyan?"wajah wanita itu kini berubah ceria.


Rayyan?


Dhia hening sesaat.


"Iya ... Rayyan."ulang Dhia sambil tersenyum."Aku istrinya."


Mendengar dua kata terakhir Dhia, seketika senyum wanita itu hilang berganti dengan ketegangan diseluruh wajahnya.


Braak!


Dia terperanjat ketika kue bolu yang berada ditangannya terlempar ke tanah.


"Kenapa dibuang?"


"Pergi kamu, anak pembunuh. Pergi!"


"Suamiku bukan korupsi. Suamiku dibunuh. Pergi!"teriak wanita itu histeris.


"Rayyaan ... tolong, Mama!"


"Tolong, Mama,!"


"Pergi kamu, anak pembunuh! Pergi!!"


Anak pembunuh?


Mama?


Tubuh Dhia terasa lemas. Kata-kata itu seperti batu besar yang menghantam kepalanya. Terus berputar hingga membuat kepalanya menjadi pusing. Ia langsung berpegangan pada dinding ketika tubuhnya limbung.


"Suamiku bukan korupsi. Suamiku dibunuh."


"Pergi!"


Seorang perawat jiwa berlari cepat menghampiri wanita yang saat ini terus berteriak histeris.


"Kenapa, ibu Arini? Kenapa?"


"Suster, tolong saya. Dia anak pembunuh. Papanya pembunuh suamiku!"


"Usir dia.!"


"Usir perempuan ini suster!"


Papa?


Papaku pembunuh?


Dhia menelan ludahnya yang seketika terasa kelu. Wanita itu terus melemparkan tuduhan yang tak disangka-sangka olehnya.


"Iya, buk Arini, ibu harus tenang. Saya akan mengusirnya."


"Ibu tenang, ya."


"Pingin sembuh, kan?"tanya perawat jiwa itu.


Wanita itu mengangguk seperti anak kecil.


"Mbak ... sekali lagi maaf, ya, Mbak. Mbak harus pergi. Jangan tersinggung dengan kata-kata buk Arini. Kondisi jiwanya sampai saat ini masih benar-benar parah."


"Ibu Arini memang selalu berteriak seperti ini ketika bertemu dengan orang yang baru dia kenal."


Dhia mengangguk pelan."Saya mengerti."


Kalau saya sembuh, suami saya bisa hidup lagi, kan, suster?


Dhia sempat mendengar wanita paruh baya itu bertanya, ketika perawat jiwa wanita itu membawanya masuk kedalam ruangan dinding putih tersebut.

__ADS_1


__ADS_2