
"Rasanya aku sudah tidak sabar, menunggu kelahiran anak kita. Menunggu dua bulan lagi, itu rasanya lama sekali."
Dirga mengusap-usap perut besar Dhia, yang saat ini sedang duduk bersandar pada dada bidangnya. Keduanya duduk pada kursi santai rotan sintetis. Sambil menghadap ke kolam renang, dan menatap bulan serta bintang-bintang diatas langit malam.
"Em." sahut Dhia. Dirga merasakan kepala istrinya itu bergerak didepan dadanya, seperti mengangguk.
"Aku juga, Mas."
"Pasti anak kita akan sangat lucu dan menggemaskan." sambung Dhia lagi."Seperti aku." Dhia mendongakkan kepalanya tersenyum pada Dirga."Iya, kan, Mas?."
"No!." protes Dirga cepat."Kamu cengeng! calon anak kita kan, laki-laki, sayang ... masa dia, cengeng seperti kamu."
"Dia harus seperti aku ... tampan, tinggi, berani, cerdas, dan .... ah, pokoknya semuanya!." ucap Dirga dengan percaya diri.
Dhia membeliakkan mata. Langsung menarik tubuhnya dan duduk dengan posisi benar."Enggak bisa!." protesnya tak terima."Masa semuanya mirip kamu sih, Mas?."
"Terus, mirip aku bagian apanya?!"
Dirga mengamati intens wajah dan tubuh Dhia keseluruhan. Kemudian satu tangannya terulur menyentuh bagian indera penciuman Dhia, dengan sedikit menaikkannya."Bagian lubang hidung kamu, saja."
Bibir Dhia ternganga sesaat.
"Iih, ngeselin banget, sih!."gerutu Dhia sambil memutar badan, dengan wajah hampir menangis karena kesal akibat ulah suaminya itu.
"Hahahaha." Dirga tergelak cukup keras. Merasa lucu dengan mimik wajah Dhia yang berubah cemberut.
"Iya ... iya, sayang .... dia pasti juga akan mirip denganmu." ujar Dirga sambil berusaha meredakan tawa.
"Kita kan, orang tuanya ... sedikit banyaknya, pasti akan mewarisi sifat-sifat dan wajah kita."
"Udah, ah ... masa gitu aja ngambek." Dirga mencubit gemas pipi Dhia yang sedikit chubby.
"Kamu, sih." Dhia masih cemberut.
Dirga terkekeh pelan."Sini, sini.... sini!." ucapnya, membawa tubuh Dhia kedalam pelukannya, dan membiarkan istrinya itu kembali bersandar di dadanya. Lalu memberikan sekilas kecupan di rambut Dhia."Aku rasa kita sudah bisa mencarikan nama untuk anak kita, sayang."
"Mas sudah punya pilihan nama?." tanya Dhia.
"Em." Dirga mengangguk pelan.
"Apa?."
"Chakra Yuan Megantara." sahut Dirga dengan mantap.
Dhia manggut-manggut.
"Apa artinya, Mas?." tanya Dhia masih dengan posisi bersandar manja pada dada suaminya itu.
Dirga menghela nafas pelan."Sebenarnya ini gabungan dari namaku, dengan namamu."
"Chantika dan Rayyan ... aku singkat menjadi Chakra. Sementara Yuan .... aku ambil dari akhiran namamu, dan namaku. Ayu dan Rayyan. Dan Megantara, adalah nama belakangku."
Dhia diam mendengarkan.
"Nama ini mempunyai arti yang bagus, sayang" sambung Dirga lagi.
"Apa, itu, Mas?." Dhia mendudukkan tubuhnya dengan benar, sambil memandang Dirga.
"Dalam bahasa Jawa, Chakra adalah pelindung. Dan Yuan ... pria yang berani, Megantara artinya pekerja keras." Dirga menjelaskan arti setiap kata dari nama itu.
"Jadi bisa diartikan, Chakra Yuan Megantara, adalah pria pelindung yang berani, dan pekerja keras." pungkasnya.
Dhia manggut-manggut."Nama yang bagus, Mas ... aku suka!."
"Kamu suka?."
Dhia mengangguk cepat.
"Oke, fix ... nanti kalau anak kita lahir, kita beri dia nama itu." kata Dirga sambil membungkuk, mendekatkan kepala pada perut Dhia."Nak, kamu suka, kan, nama itu?."
Dhia tertawa geli, merasakan perutnya bergerak dari dalam. Hal itu pun, dapat Dirga rasakan, dari telapak tangannya yang menyentuh perut Dhia.
"Sayang, dia bergerak." wajah Dirga begitu senang.
"Iya, Mas ."
Dirga mencium perut besar itu berkali-kali."Sehat-sehat didalam, sayang." bisiknya pelan.
Begitu asik bercerita, hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Dirga akhirnya memutuskan mengajak Dhia masuk, ketika angin malam mulai menyapu kulit.
__ADS_1
"Sayang, ayo, masuk! aku takut kamu masuk angin." ajak Dirga pada istrinya itu. Namun Dhia menolak.
"Sebentar, Mas ... aku masih suka disini. Lagipula aku sudah pakai sweater hangat"
"Mas jangan khawatir." Dhia tersenyum, tapi Dirga bergeleng.
"Masuk sekarang."
Dirga ingin beranjak, menarik pelan lengan Dhia, tapi suara Dhia berhasil menahannya.
"Mas ... ada yang ingin aku tanyakan."
Dirga mengernyit."Soal apa, sayang?."
"Soal perusahaan kamu."
Dirga hening sesaat. Tapi kemudian bersuara lagi."Sayang ... kita ini lagi liburan. Aku malas bahas perusahaan."
"Kamu menutupi sesuatu dari aku, kan, Mas?." tanya Dhia lagi. Seolah tak menggubris ucapan Dirga, yang berusaha mengelak dari pertanyaannya.
Dirga hening kembali.
"Aku tahu perusahaan kamu lagi dalam masalah, Mas."sambung Dhia."Tentang proyek rumah sakit yang ada di Jawa. Pak Bram memutuskan kerja sama, dengan perusahaan kamu, karena kamu dituduh menjiplak desain orang lain."
"Kamu tau dari mana?." suara Dirga terdengar berat.
"Aku nggak sengaja baca disalah satu media online." sahut Dhia pelan."Aku tau kamu tidak seperti itu, Mas. Apa Malik yang sudah memfitnahmu?."
Dirga diam.
Namun diamnya, membuat Dhia mengerti bahwa jawaban itu adalah, ya.
"Itu artinya ada seseorang yang ia suruh untuk mengambil salinan desainmu." ucap Dhia lagi, sambil memandang Dirga yang sudah berdiri menatap ke kolam renang."Siapa orangnya, Mas? apa kamu tahu?."
Dirga menoleh pada Dhia."Gio, orangnya."
"Gio?!" ulang Dhia tak percaya.
"Iya, sayang."
Dhia hening.
Dirga mengangguk pelan, lalu kembali memandang ke depan.
"Aku tidak menyangka Gio tega melakukan itu, Mas. Dia sahabatmu ... tapi dia sudah mengkhianatimu." lirih Dhia pelan.
Dirga tersenyum kecut."Terkadang orang terdekat, justru menjadi musuh yang paling kejam, sayang. Tapi sayangnya, aku baru menyadari itu sekarang."
hening sesaat.
"Apa kamu sudah memecatnya?."
Dirga bergeleng."Belum saatnya."
"Tapi kenapa, Mas? apa kamu tidak takut Malik menyuruh Gio melakukan hal yang lebih parah lagi dari itu?."
"Aku justru menunggu hal itu." sahut Dirga datar, masih tetap memandang kedepan.
Dhia memandang suaminya itu dengan tatapan tak mengerti. Tapi Dhia yakin, pasti Dirga telah memiliki rencananya sendiri. Bukankah suaminya itu begitu sangat ingin membalaskan dendamnya? Dhia pun, memilih untuk tak bertanya kembali.
Dirga menghela nafas dalam-dalam, dan beralih memandang Dhia. Sambil tersenyum tipis, seolah semua sedang baik-baik saja."Sudah ... jangan difikirkan." ia menyenggol ujung hidung Dhia."Aku bisa mengatasi masalah ini."
"Masalah proyek rumah sakit milik Pak Bram ... itu tidak terlalu penting bagiku."
Ucap Dirga yang sebenarnya berbohong. Karena sejujurnya, proyek itu adalah proyek besar yang ingin sekali ia dapatkan. Beberapa bulan lalu, sempat hampir kehilangan kesempatan karena ulah Malik yang menyebarkan berita bahwa dirinya anak seorang koruptor. Namun akhirnya ia berhasil mendapatkan proyek itu kembali, karena sang Daddy, yang sudah menolongnya. Tapi kali ini, ia tak punya bukti, terkait desain miliknya yang sudah berhasil dicuri oleh orang lain.
"Tapi nama baikmu, dan perusahaanmu?." tatapan Dhia begitu khawatir. Bagaimana tidak? saat ini pasti semua rekan-rekan bisnis, sedang membicarakan hal miring tentang suaminya, terkait masalah ini.
Dirga tertawa renyah. Tawa yang membuat Dhia sedikit kesal. Karena disaat seperti ini, suaminya itu masih terlihat seolah sedang tidak ada masalah apapun."Aku bisa mengatasi itu, sayang." ucapnya santai.
"Aku serius, Mas!." Dhia mencubit geram perut suaminya itu.
"Aku juga serius."
Dhia berdecak pelan.
"Tenanglah ... semua akan baik-baik, saja. Kamu nggak percaya sama suami kamu? hm?." tanya Dirga, seraya menaikkan kedua alisnya.
Dhia tak menjawab. Ia hanya menghela nafas pelan.
__ADS_1
"Udah, ah ... lagi liburan, kok malah bahas perusahaan. Mending kita masuk ke kamar." Dirga merangkul bahu Dhia, tersenyum penuh arti, sambil menaik-turunkan kedua alisnya sebagai kode.
"Ngapain?." tanya Dhia pura-pura tidak mengerti.
Dirga yang gemas dengan pertanyaan Dhia, langsung menggendong tubuh istrinya itu masuk kedalam kamar. Sesekali terdengar Dhia terkikik, karena ulah suaminya. Pendar cahaya lilin, dan hiasan kelopak bunga mawar yang bertaburan diatas tempat tidur, menemani malam indah sepasang suami istri yang selalu dimabuk cinta itu.
Sendrapati Penthouse.
"Hari ini jadwal periksa kandungan, kan, sayang?." tanya Dirga saat Dhia sedang memasangkan dasi dileher kemejanya.
"Iya, Mas ... tapi kalau kamu sibuk nggak apa-apa, kok. Aku nanti bisa pergi minta temani sama Wiwik."
"No! aku yang harus mengantar. Nanti sore, setelah pekerjaan kantor selesai ... aku langsung pulang jemput kamu."
Dhia tersenyum, sambil menyapukan telapak tangannya didepan dada Dirga, agar kemeja itu tetap rapih."Ya sudah, kalau gitu."
Dirga mengarahkan pipi kanannya pada Dhia. Dhia yang mengerti tingkah suaminya itu pun, langsung segera memajukan bibirnya hendak mencium. Tapi belum lagi menempel dipipi, Dirga justru menyambutnya dengan kecupan dibibir.
Dirga mengecap bibirnya yang basah bekas bibir Dhia."Manis sekali."
"Aku rasa ini sudah cukup untuk bekal sarapanku ke kantor, sayang."
Dhia tergelak pelan."Ada gitu, sarapan ciuman?."
"Barusan."sahut Dirga singkat.
"Enggak usah ngaco, Mas!."
Dirga melihat jam dipergelangan tangannya."Tapi maaf, sayang ... sepertinya aku memang tidak sempat sarapan. Sudah pukul delapan soalnya."
"Aku bawakan bekal, ya, Mas."
"Kan udah, tadi." Dirga menunjuk kearah bibirnya sendiri.
Dhia berdecak pelan."Aku serius, Mas!."
Dirga terkekeh pelan, melihat wajah istrinya yang hampir kesal."Enggak usah, sayang ... nanti aku bisa sarapan di kantor."
"Ya udah, deh."
Dirga tersenyum. Menarik pinggang Dhia, dan memberikan kecupan lembut dikening istrinya itu."I love you." ucapnya setengah berbisik.
"Love you, more." Dhia tersenyum lembut. Kalimat cinta itu, membuat Dhia haru dan berbunga. Pasalnya, ini kali pertama Dirga mengatakannya, tanpa diminta.
Dirga membalas senyuman itu."I love you." seperti tak puas, Dirga mengatakannya lagi.
"Love you, more."
"I love you."
"Love you, more, Mas!." akhirnya Dhia dibuat geram.
Dirga tergelak.
Entah pergi kemana, tapi tepat sore hari, Dirga kembali ke kantor. Ditangannya terlihat sedang membawa sebuah amplop berukuran sedang. Ia masuk kedalam ruangannya, lalu memasukkan amplop tersebut kedalam tas kerjanya.
Selang beberapa menit, seorang wanita yang bertugas sebagai office girl mengantarkan sebuah minuman kepadanya.
"Terima kasih."
Karyawan wanita bernama Lana itu mengangguk, lalu kembali keluar.
Dirga membuka laptopnya. Beberapa saat memperhatikan rekaman cctv didalam ruangannya. Terlihat tak ada yang mencurigakan.
Satu tangannya terulur meraih segelas minuman yang ada diatas meja, lalu meneguknya. Seketika ia tersedak, saat melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 4 sore. Gegas ia berkemas, memasukkan laptopnya kedalam tas. Mengingat janjinya untuk menemani Dhia memeriksakan kandungan sore ini.
Dhia pasti sudah menungguku.
Bathinnya sambil berjalan keluar dan masuk ke dalam mobil.
Diperjalanan saat hendak pulang, Dirga tiba-tiba merasakan kepalanya pusing dan sedikit berat. Ia memijat pelipisnya, mencoba menahan rasa pusing agar tetap fokus melihat jalan. Tapi entahlah, rasa pusing itu begitu kuat, hingga ia tak bisa mengendalikan, dan pada akhirnya ia menabrak sebuah pembatas jalan. Dirga masih dapat melihat dengan jelas, sebuah jurang yang dalam, telah siap dengan posisi untuk menampungnya. Beruntung mobilnya masih tertahan. Ia pun, dengan segala usaha dan berusaha menahan rasa pusing, untuk bisa mundur.
Tapi siapa sangka, benturan keras membuat Dirga terkejut dan menoleh kebelakang. Saat dirinya berusaha sekuat tenaga untuk bisa mundur, sebuah mobil Triton berwarna hitam sengaja mendorongnya mobilnya dari arah belakang. Meski begitu, Dirga masih tetap menginjak pedal gas dengan sebisa yang ia mampu. Tapi percuma, usahanya sia-sia. Posisinya yang memang sudah hampir menukik, membuat mobil Triton tersebut berhasil menerjunkannya kedalam jurang.
Seorang pria yang ada didalam mobil hitam tersebut membuka maskernya. Sambil memandang ke arah jurang, dimana kepungan asap hampir menghilang.
Maafkan aku ... aku terpaksa melakukan ini.
__ADS_1