
"Selamat pagi, Buk Dhia." sapa seorang perawat perempuan yang masuk kedalam ruangannya, sambil menggendong bayi mungil.
Sepertinya Dhia sedang menangis. Karena perawat tersebut sempat melihat Dhia mengusap pipi dengan mata dan ujung hidung yang memerah.
"Suster ... ini anak saya?." Dhia tersenyum haru melihat bayi mungil yang sedang menangis didalam gendongan perawat itu. Meski begitu, perawat wanita itu tahu, bahwa Dhia masih berselimut duka, terkait dengan kabar kematian suaminya.
"Iya, Ibu ... sepertinya bayi ini ingin dekat ibunya. Soalnya dari tadi nangis terus."
"Silahkan, buk ... di gendong." kata perawat tersebut.
Dhia sangat senang. Pasalnya, ini pertama kali ia menggendong dan melihat anaknya itu. Ketika tadi malam, bayi itu masih harus dimasukkan kedalam inkubator untuk mendapatkan perawatan khusus karena terlahir prematur.
Dengan sangat hati-hati Dhia menggendong bayi mungil itu. Langsung menciuminya lembut. Tanpa sadar air matanya kembali menangis."Sayang ... ini Mama, nak." ucapnya pelan.
Benar kata perawat tersebut. Anak itu ingin dekat dengan ibunya. Karena sejak berada dipelukan Dhia, bayi itu langsung diam. Sambil berdecap-decap seperti kehausan mencari sesuatu.
"Apa aku sudah boleh memberikan ASI secara langsung, suster?."
"Boleh, buk ... supaya baby-nya bisa cepat belajar menghisap ******." perawat tersebut tersenyum."Hanya saja ibunya harus lebih bersabar ... karena responnya mungkin masih sedikit lambat, tidak seperti bayi normal yang cukup umur pada umumnya."
"Oh, gitu."
"Iya, buk ... kalau begitu, saya tinggal sebentar ya, buk."
"Silahkan disusui baby-nya."kata perawat itu.
Dhia mengangguk pelan. Lalu membuka dua kancing piama bagian atas yang ia kenakan.
Tidak terlalu sulit bagi Dhia. Meski prematur, bayi-nya itu ternyata cepat merespon. Hanya beberapa saat, bayinya itu sudah bisa beberapa kali menghisap, meski tidak terlalu lincah.
"Chakra Yuan Megantara." lirih Dhia pelan dengan netra yang kembali basah.."Itu nama kamu, nak ... nama pemberian Papa."
"Jangan sedih ya, sayang."Dhia tersenyum getir, sambil mengusap wajahnya menyusut air mata."Sekarang Papa memang enggak ada disini. Tapi Mama yakin sebentar lagi Papa pasti datang ...."
"Jenguk kita." sambung Dhia masih dengan air mata yang tak bisa diajak kompromi agar tidak meluncur. Tapi selang kemudian Dhia terkekeh pelan memandang wajah anaknya itu.
"Kamu berpihak sama Papa, ya .... wajah kamu mirip banget sama Papa." Dhia menyentil pelan hidung mancung nan mungil, milik anaknya itu. Jika Dirga berada ditempat itu, sudah pasti suaminya itu memasang wajah sombong penuh kemenangan.
Aku kangen sama kamu, Mas. bathin Dhia menangis.
Sementara diluar, suara seorang pria terdengar, seperti akan masuk kedalam ruangannya. Dhia pun mengancingkan piamanya kembali. Benar, tak lama, pintu ruangan itu terbuka. Dhia bisa melihat Wiwik masuk bersama dengan seorang pria tinggi, dengan rambut yang sudah ditumbuhi uban. Memakai masker, dan kacamata.
"Selamat pagi, Dhia." ucap pria itu sambil membuka maskernya."Ini buah untuk kamu." pria yang masih terlihat tampan diusia menginjak kepala lima itu meletakkan buah tangannya diatas nakas, seraya tersenyum tipis pada Dhia.
"Terima kasih." Dhia tersenyum ragu.
Melihat ekspresi Dhia, pria paruh baya itu langsung mengulurkan tangannya."Oh ... kamu pasti bingung. Perkenalkan .... saya, Arhan Syah Megantara."
Mendengar nama Megantara, dibelakang nama pria itu, membuat Dhia tersenyum mengerti. Wajar, Dhia sempat terlihat bingung. Ini karena memang dirinya tidak pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya. Termasuk ketika saat pernikahannya dulu dengan Dirga.
__ADS_1
Dhia menyambut uluran tangan itu.
"Saya, Daddy, Dirga." kata Arhan, lalu mendudukkan diri pada sebuah kursi yang berada disamping ranjang Dhia.
"Saya dan istri saya langsung terbang dari Singapura ketika mendengar kabar tentang kecelakaan yang menimpah Dirga."
Wajah Dhia kembali pias mengingat kembali suaminya.
"Kamu harus tabah, nak." suara pria itu bergetar seperti menangis."Saya juga sangat kehilangan dia."
"Meski Dirga bukan darah dagingku ... tapi dia selama ini sudah ku anggap seperti anak kandungku sendiri."
"I love him so much!." kata Arhan dengan mata berkaca-kaca.
Mendengar kata-kata pria paruh baya itu, Dhia menelan ludah. Hatinya teriris perih."Suamiku, masih hidup, Pak."
"Dia masih hidup!." tatapan Dhia marah."Kenapa semua orang tidak percaya?." tanyanya dengan sedikit penekenan, sambil tangannya tetap mengusap bayi kecil yang tertidur didalam pelukannya, agar tidak terusik.
Sementara Wiwik yang sejak tadi berdiri, dibuat cemas. Takut, takut jika Dhia akan kembali marah seperti kemarin malam, saat Malik menyuruhnya untuk menyiapkan acara pengajian. Kala itu, Dhia sempat berteriak. Beruntung Rossa berhasil menenangkan anaknya itu, dan meminta Malik untuk tak membahas tentang pengajian kembali.
Arhan bergeming memandang Dhia. Tapi kemudian kembali bersuara."Kenapa kamu berkata seperti itu, nak? apa yang membuatmu yakin kalau Dirga masih hidup?."
Dhia hening sesaat.
"Sebelum aku melihat sendiri, jasad suamiku ... aku tidak akan pernah percaya kalau dia sudah meninggal." kata Dhia dengan tatapan sendu.
Arhan menghela nafas pelan."Berdo'alah, nak ... semoga keyakinanmu benar. Dan jika benar dia masih hidup, semoga Allah selalu melindunginya dimana pun, dia berada."
"Aku ingin menggendong cucuku. Apakah boleh?." tanya Arhan penuh harap.
Dhia mengangguk pelan. Lalu dengan hati-hati memberikannya pada pria paruh baya itu.
"Dia mirip Papanya." Arhan tersenyum haru mengamati wajah bayi kecil itu.
Dhia pun turut tersenyum.
"Siapa namanya?."
"Chakra Yuan Megantara."
"Nama yang sangat bagus."
"Tadi Bapak bilang, datang bersama istri ... dimana istri, Bapak?."
Dhia melihat kearah pintu, tapi tak ada tanda-tanda orang lain yang datang.
Arhan tersenyum."Dari tadi kamu terus memanggil saya, Bapak ... panggil saya, Daddy."
"Kamu menantuku."
__ADS_1
Dhia mengangguk sungkan.
"Mereka sedikit terlambat. Katanya ada yang mau di beli dulu." sambung Arhan menjawab pertanyaan Dhia, tadi.
Mereka?
Dhia memandang Wiwik. Sementara Wiwik berdiri gelisah.
Tak lama, suara pintu ruangan itu kembali terbuka.
Dhia melihat dua orang wanita cantik, berkulit putih, masuk kedalam. Mereka adalah Aliya, istri Arhan. Dan, Tamara, anaknya.
Dhia sempat tergugu. Namun Sepertinya Tamara lebih terlihat gugup. Terlihat dari wajah wanita itu yang menunduk saat Dhia memandangnya.
"Selamat pagi, Dhia." sapa Aliya dengan senyum ramah."Selamat atas kelahiran anakmu, sayang." ucapnya sambil memeluk Dhia. Dhia menyambut pelukan wanita paruh baya itu dengan kikuk.
---------
Saat ini, tinggallah Dhia dengan Tamara didalam ruangan. Sementara Arhan dan Aliya, sudah keluar lebih dulu, diantar oleh Wiwik. Begitupun, bayi Chakra. Bayi itu sudah kembali dimasukkan kedalam inkubator.
"Selamat atas kelahiran anakmu." kata Tamara akhirnya. Setelah tadi hanya diam, ketika semuanya masih didalam.
"Terimakasih." suara Dhia terdengar dingin.
"Aku membelikan ini untuknya. Tolong diterima, ya." Tamara memberikan dua buah paper bag pada Dhia.
"Kamu tidak perlu repot-repot." kata Dhia memandang Tamara.
Tamara yang melihat tatapan dingin Dhia, langsung meraih tangan wanita pucat itu, lalu menggenggamnya."Dhia ... tolong maafkan, aku."
Dhia yang sempat menunduk, akhirnya mengangkat wajah kembali. Memandang Tamara yang sudah berlinang air mata.
"Aku tahu ... apa yang sudah aku lakukan padamu dulu benar-benar sudah kelewatan. Mungkin kata maaf saja tidak cukup untuk mengobati sakit hatimu dulu."
"But ..." Tamara menelan ludah getir."Aku benar-benar tulus ingin meminta maaf padamu, Dhia."
"Tolong maafkan aku." Tamara menangis terisak.
Dhia masih bergeming.
"Please, Dhia ... tolong maafkan aku!."
Dhia membalas genggaman tangan Tamara."Aku memaafkanmu."
Mendengar pernyataan Dhia, Tamara seketika memeluk tubuh Dhia."Terimakasih, Dhia. Kamu benar-benar wanita yang baik."
"Aku menyesal ... sangat-sangat menyesal." Tangis Tamara kembali pecah di pelukan Dhia."Aku bahkan belum sempat meminta maaf dengan kak Dirga."
"Aku masih merasa bersalah dengannya." Tamara sesenggukan.
__ADS_1
Dhia mengurai pelukan."Sudahlah ... jangan menangis. Nanti jika kakakmu itu kembali, minta maaf lah, dengannya."
Tamara hening. Terenyuh menatap wajah pucat didepannya.