
Dirga dan Dhia masuk kedalam Penthouse. Keduanya dikejutkan dengan kehadiran sepasang wanita dan pria paruh baya yang terlihat sudah duduk di sofa ruang tamu.
"Mama, Papa disini?"Dirga memasang wajah yang dibuat setenang mungkin meski tak bisa disangkal bahwa dirinya sempat begitu tertegun.
Rossa langsung berdiri. Ia terlihat heran kenapa sepasang anak dan menantunya itu terlihat basah kuyup.
Sementara Malik, pria paruh baya itu terlihat duduk dengan santai."Iya, Ga. Tadi kami baru saja pulang menjenguk teman Papa, di Rumah Sakit. Sebenarnya tadi kami sudah ingin pulang ke rumah. Tapi, tiba-tiba saja dipertengahan jalan ada pohon tumbang tepat di badan jalan."
"Sama sekali tidak bisa melintas. Karena evakuasinya belum selesai."
"Terpaksa deh, Papa putar arah dan memutuskan untuk menginap satu malam di Penthouse kalian. Enggak apa-apa, kan?"Malik menaikkan alisnya.
"Menginap?"tanya Dirga sedikit terkejut.
"Iya. Boleh, kan?"
"O, b-boleh, dong, Pa."ujar Dirga terbata.
"Ini kalian habis dari mana? terus kenapa basah-basahan begini?"tanya Rossa kali ini.
"E-ini, kami ..."
"Kami dari toko, buku, Ma. Ditengah jalan mobilnya tiba-tiba mogok. Jadi berhenti meriksa sebentar. Kebetulan enggak bawa payung, jadinya basah kuyup, deh."Dhia memangkas kalimat Dirga.
"Walah ... pasti seru, kan, Mbak. Kayak di fiem-filem India, gitu. Main hujan-hujanan."
"Romantis, pasti."Wiwik tersenyum malu-malu.
Dhia tersenyum tipis. Sarat akan keterpaksaan.
Sementara Dirga, pria itu terlihat geram seperti ingin menoyor kepala asistennya itu, saat ini juga.
"Ya sudah, kalian cepat ganti pakaian. Nanti bisa masuk angin kalau kelamaan."Rossa memandang Dhia dan Dirga bergantian.
"Baik, Ma."ucap Dhia. Gadis itu ingin melangkah menuju kamar miliknya. Tapi tiba-tiba saja Dirga menarik lengannya dan membawa Dhia menuju kamar utama. Dhia mengerti. Ini adalah saatnya bersandiwara. Pikirnya.
"Buruan mandi. Gantian. Aku juga mau mandi."ujar Dirga ketika melihat Dhia hanya berdiri dengan wajah pucat.
"Pakaian, ku?"Dhia bertanya ragu.
"Astaga."gerutu Dirga dengan wajah geram. Ia langsung meraih ponsel dan langsung menelepon Wiwik.
"Ini kenapa, sih Mas Dirga nelpon, nelpon."Gumam Wiwik ketika sedang membuat teh hangat didapur."Wong tinggal manggil ya, bisa, kok."
...Mas Dirga Ganteng...
...📞...
...Memanggil ......
Wiwik langsung berhenti dan mengangkat panggilan dari Dirga."Iya, Mas Dirga. Ada apa?"
Tolong ambilkan pakaian Dhia, dan langsung bawa ke kamar saya.
Wiwik tersenyum penuh arti dengan wajah jenakanya ketika mendengar permintaan majikannya tersebut."Siap, Mas Dirga. Ada lagi?"
Sama ini ... tolong singkirkan semua barang barang Dhia. Jangan ada yang tersisa. Saya tidak mau Mama Rossa dan suaminya curiga kalau saya dan Dhia tidak tidur satu kamar.
Terserah kamu mau taruh dimana. Yang penting jangan sampai ketahuan.
"O-oke. Siap, Mas Dirga. Perintah dilaksanakan."
Cepetan!
Tut, tut, tut ...
"Ini majikannya dia atau saya, sih? Enak aja main mutus-mutusin panggilan duluan."ujar Dirga kesal.
Sesampainya dikamar milik Dhia, Wiwik langsung membuka lemari pakaian. Ia mulai memilah-milah pakaian yang tersusun rapi didalam sana. Otaknya yang jahil pun tiba-tiba saja bertindak.
"Ini Mbak Dhia apa nggak punya leger, leg ... legery ...."
Wiwik berdecak seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Apa sih, itu namanya baju tidur yang talinya halus kayak benang itu, loh." Ia masih terus mencari."Kok nggak ada, ya."
Dari sekian banyak pakaian sopan dan tertutup yang ia lewatkan, netranya akhirnya tertuju pada bahan satin seperti lingerie berwarna dusty terletak dibagian paling sudut dalam lemari. Seperti belum pernah dikenakan. Karena tampak jelas bandrol harga yang masih menggantung disana.
"Nah, ini dia."Mata Wiwik berbinar."Walaupun enggak tipis-tipis banget, tapi Wiwik yakin Mas Dirga pasti panas dingin kalau liat Mbak Dhia pakai ini."Wiwik tertawa cekikikan.
Wiwik kemudian beralih pada meja hias yang disana terlihat ada beberapa alat-alat kecantikan milik, Dhia.
Dert, dert, dert ....
"Aduh, geli."cicit Wiwik sambil cepat-cepat mengambil ponsel dari dalam saku piamanya."Iya, Mas Dirga."
Mana bajunya? Lama banget, sih? suara Dirga terdengar emosi.
"I-iya, Mas Dirga sebentar."Wiwik buru-buru memindai semua benda yang berada atas dimeja rias tersebut kedalam sebuah kotak kecil, tanpa terkecuali. Menyusunnya menjadi satu. Kemudian memasukkannya kedalam lemari pakaian, lalu menguncinya.
__ADS_1
Suara pintu kamar utama diketuk.
"Lama banget, kamu."tanya Dirga ketika membuka pintu.
"Maaf, mas Dirga. Katanya harus diberesin semua. Ya kalau Wiwik cepet, tapi kalau ada yang ketinggalan bagaimana? Kan bisa gawat nanti."
"Kebanyakan cerita kamu."
Wiwik manyun.
"Ini kamu yakin mereka nggak lihat?"
"Yakin, Mas ... Orang tak masukin kedalam bajuku, ini loh, Mas."ujar Wiwik seraya menunjuk kearah piama tidurnya yang kedodoran."Mana ada yang lihat."
"Tadi kenapa nggak ngasih tahu ke saya, kalau mereka datang? Harusnya kan, nggak panik begini jadinya. Kamu tahu sendiri kan, kamar di Penthouse ini cuma ada tiga."
"Jadi enggak mungkin kamar kamu saya suruh mereka yang nempati."omel Dirga panjang lebar.
"Ya maaf, Mas ... soalnya kan Wiwik nggak tau kalau mereka bakal nginep. Kalau nginep kan, Wiwik pasti beresin semuanya."
"Kamu itu, ya, jawab terus kalau saya ngomong."
"Kan Mas Dirga nanyak. Gimana, sih?"Wiwik kembali memajukan bibirnya.
"Kasih sama Dhia bajunya. Dia ada didalam kamar mandi."
"Habis ini kamu antar mereka ke kamar Dhia."
"Siap, Mas Dirga. Perintah dilaksanakan."Wiwik memasang sikap hormat.
Wanita dengan hidung mancung kedalam itu langsung memberikan pakaian yang ia bawa pada Dhia. Kemudian kembali keluar dan menutup pintu.
"Hihihi."Wiwik cekikikan. Bayangan malam pertama didalam kamar utama itu membuat otaknya traveling kemana-mana."Wik, wik, wik ..."
"Wi, wik, wik." ia bersenandung kecil seraya berjalan ke ruang tamu menemui Rossa dan Malik.
Didalam kamar mandi Dhia terbelalak melihat lingerie dengan panjang diatas lutut, yang baru saja diberikan Wiwik.
"Ya ampun, Wik."lirih Dhia tak percaya."Ini anak pasti sengaja pingin ngerjain aku, deh, kayaknya."
"Mana mungkin aku pakai pakaian begini di depan Mas Dirga. Yang ada dia mikir kalau aku sengaja mau goda dia."
"Kamu ngapain sih, didalam?! Lama banget cuma mandi doang."Dirga berteriak didalam ruang kamar yang kedap suara itu.
Dhia menghela nafas panjang seraya berdecak. Sama sekali tak ingin menyahut.
Ceklek!
Dirga yang sedang berdiri didepan kacar besar yang menghadap pada pemandangan kota, langsung berbalik saat mendengar suara pintu kamar mandi terbuka.
"Lama, banget ...."
Pria berambut cepak itu sepertinya ingin protes, tapi yang ada malah tertegun, bibirnya terkatup, tak bisa berkata-kata. Pandangannya terkunci pada Dhia yang sedang berdiri seperti tidak nyaman. Ia sempat menelan ludah. Tubuhnya yang saat ini dibalut kain lembab akibat hujan yang sempat menyiraminya, seperti mengalirkan sengatan hangat yang membuat tubuhnya terasa panas.
"Emangnya enggak ada pakaian lain?"tanya Dirga setelah kesadarannya terkumpul.
"Wiwik cuma ngasih ini, Mas."ujar Dhia dengan wajah yang memerah karena malu.
Dirga hening.
Awas kamu, Wiwik ...! umpat Dirga dalam hati. Kemudian langsung berjalan melewati Dhia dan masuk ke kamar mandi.
Didalam, Dirga berdiri tepat dibawah cucuran air shower. Membiarkan air tersebut mengikis rasa panas yang masih menjalar diseluruh tubuhnya. Dirga adalah pria sejati. Tak dipungkiri, berada didalam kamar hanya berdua dengan seorang gadis, apalagi gadis seperti Dhia. Tubuh mungil dan kulit putih gadis itu berhasil menjalarkan gairah aneh yang mengusik kelelakiannya.
Entah berapa lama ia berdiri dibawah guyuran shower yang terus mengalir. Sampai akhirnya ia memutuskan keluar saat dirasa semuanya sudah kembali normal pada suhunya.
Dirga keluar dari ruang ganti. Saat ini, ia sudah mengenakan piama tidur berwarna gelap. Ketika hendak melangkah menuju tempat tidur, netranya menangkap Dhia yang sudah tertidur diatas sofa dengan tubuh meringkuk seperti kedinginan. Ada yang mampir pada indera pendengarannya, sebuah suara seperti mengigau.
Suara itu berasal dari arah sofa. Tak salah lagi, itu adalah igauan yang keluar dari bibir mungil gadis itu. Dirga pun langsung mendekat.
Ma,
Ma,
Mama,
Igau Dhia dengan mata terpejam, wajah pucat, dan keringat dingin yang membasahi dahi.
Dirga berdesis."Dasar anak manja."
Dirga Ingin memperbaiki posisi bantal Dhia. Karena melihat kepala gadis itu terlalu rendah dan membuat lehernya tertekuk. Namun saat tangannya yang sigap menyentuh kulit gadis itu, Dirga terkesiap karena merasa suhu tubuh Dhia terasa panas.
"Ya ampun, kamu, demam?"punggung tangan Dirga menyentuh dahi Dhia. Ia pun bergegas meraih tubuh Dhia, membawanya ke tempat tidur agar gadis itu merasa lebih nyaman.
Sesaat Dirga terlihat bingung. Tapi setelah itu ia langsung berjalan keluar seperti ingin mengambil sesuatu.
Dikamar lain, tepatnya dikamar milik Dhia. Rossa tengah berdiri mengamati setiap sudut kamar berdesain interior mewah tersebut. Disudut kanan sana, tersedia kamar mandi dangan ukuran yang cukup luas. Didepannya berdiri lemari pakaian berwarna putih, berukuran cukup besar yang bersebelahan dengan tempat tidur ukuran king size. Ada juga sofa yang menghadap pada televisi berukuran 40 inc.
Tapi selain itu, ada yang lebih menarik perhatiannya, tepat dibelakangnya sebelum berbalik. Satu vas cantik berisi rangkaian mawar putih, tersusun rapi diatas meja yang senada dengan warna bunga itu.
__ADS_1
"Ini, kan, bunga kesukaan Dhia?"Rossa menyentuh mawar putih yang menguarkan bau wangi khas itu." Kenapa berada didalam kamar ini?"
Roossa tak ingin berfikir jauh, ia pun melangkah ingin segera tidur. Tapi sebelah kaki putihnya yang sudah tidak lagi kencang itu, tak sengaja menginjak satu benda yang bersisian antara meja rias dan tempat tidur. Ia pun membungkuk, mencoba meraih benda itu. Sebuah lipstik dengan merek terkenal yang cukup ia kenali.
"Dhia selalu pakai ini. Dan warnanya ..."Rossa membuka tutup kecil itu."Ini juga warna lembut kesukaan Dhia."
Kenapa bisa ada dikamar ini?
Apa mereka tidur terpisah selama ini? Rossa menelan ludah.
Apa ...
Rossa menghela nafas berat.
Ia akhirnya memutuskan untuk tidur. Tak ingin otaknya didera dengan fikiran-fikiran yang tak sanggup ia bayangkan.
Sementara didapur, Dirga mengambil air panas lalu mencampurnya sedikit dengan air bersuhu normal, yang memang sudah ia sediakan sebelumnya didalam mangkuk berukuran sedang. Lalu beralih mengambil kain kecil berbahan beludru dari dalam rak stainless yang berada tepat disisinya. Kemudian berbalik, berjalan menuju kamar utama.
Diruang tamu, pencahayaan terbatas. Karena seperti biasa, saat hendak tidur Wiwik mematikan lampu hampir disetiap ruangan. Ada yang aneh, ketika hendak menaiki tangga, ekor mata Dirga menangkap sosok bayangan seperti baru saja keluar dari ruang kerja pribadinya.
Ia pun langsung menyalakan lampu yang memang berjarak sangat dekat dari tempatnya berdiri saat ini.
"Papa."
Pria paruh baya itu terperanjat karena nyala lampu, namun sejurus kemudian berubah tenang.
"Papa ngapain disini?"Dirga menelisik.
"E-masksudku, kenapa Papa belum tidur."ralatnya.
"Oh, Papa hanya melihat-lihat. Ruang kerja kamu, bagus. Sangat nyaman berada didalam sana."Malik tersenyum seraya mengarahkan tangan pada pintu ruang kerja berwarna hitam minimalis tersebut.
"Apa ini?"tanya Malik pada benda yang berada ditangan Dirga.
"Kompres untuk Dhia. Sepertinya dia demam karena kehujanan tadi, Pa."
"O, bagus itu ..."
"Pergilah ... Dhia harus segera di kompres. Biar panasnya segera turun."kata Malik.
"Papa juga mau kekamar. Sudah ngantuk."Malik tersenyum tipis seraya menepuk bahu Dirga sebelum beranjak.
Dirga masih berdiri. Ia memandang punggung pria paruh baya sampai menghilang ditelan pintu kamar.
Suara perasan air bercucuran jatuh kedalam wadah. Dirga meletakkan kain hangat lembab itu tepat di kening Dhia. Gadis itu masih tetap tertidur, namun terlihat gelisah.
Mas,
Dhia kembali mengigau. Namun kali ini bukan 'Mama' yang ia sebut.
Kamu ... jahat ....
Jahat ....
Ujarnya lagi tanpa sadar seraya bergerak gelisah.
Kamu, jahat ... Mas ....
Nafas Dhia tak beraturan diiringi bulir bening yang menitik disudut matanya yang tertutup.
Mas,
Dirga hening. Detik itu, hati Dirga trenyuh. Ia memandang Dhia lekat-lekat. Terlihat jelas gadis yang terpejam itu memendam luka atas perlakuannya selama ini. Ia langsung menghapus bulir bening yang menitik diwajah putih itu, tapi disaat yang sama, Dhia yang tidak sadar meraih tangan kanan Dirga lalu memeluknya. Saat itu juga Dhia tenang.
Tubuh Dhia masih panas. Posisi saat ini tidak memungkinkan Dirga untuk terus mengompres. Tangannya yang kosong tanpa diminta mengusap-usap bahu Dhia dengan lembut seperti sedang ingin membuat gadis itu tetap tenang saat ia hendak menarik lengannya.
Sssss ... ssss ....
Begitu suaranya berbisik menenangkan.
Dirga kembali mengulangi mengompres kening Dhia. Lalu menyentuh kening putih itu. Ini sudah yang kesekian kali, selalu begitu dan terus mengulangi. Dan akhirnya berhenti ketika dirasa panas ditubuh Dhia sudah berkurang.
Dhia meringkuk. Tubuhnya saat ini hanya dibungkus oleh lingerie dengan panjang diatas lutut yang menurut Dirga menantang. Bagaimana tidak, kulit putih itu terekspos cukup tinggi sampai-sampai Dirga harus membuang muka setiap kali tak sengaja melihatnya.
Dirga ingin menarik selimut dan berniat menutupi tubuh Dhia. Namun posisi selimut yang tertimpah oleh tubuh Dhia membuat dirinya serba salah. Ia akhirnya memutuskan mengambil selimut itu sambil memejamkan mata.
Mas,
Lagi, Dhia mengigau. Dirga pun kembali duduk. Mengambil tempat tepat disisi Dhia. Bersandar pada dinding tempat tidur seraya menepuk-nepuk pelan bahu gadis itu.
"Tidurlah ... aku disini."ujar Dirga menenangkan. Ia menatap wajah gadis itu, mengamati dengan lekat. Tanpa diminta, jemarinya bergerak, mengusap pipi mulus itu dengan lembut.
Dirga menghela nafas berat.
Dhia ...
lirinya.
__ADS_1