Istriku, Dhia

Istriku, Dhia
Belum Siap Kehilangan


__ADS_3

Reyhan dan Dhia berada di sebuah cafe terkenal, di daerah, Arenan. Satu-satunya cafe, yang sering dipadati oleh kaum muda-mudi, apalagi dimalam minggu begini.


Keduanya memilih tempat di luar. Karena Dhia yang meminta. Udara malam diluar lebih membuatnya nyaman, dari pada didalam, yang mungkin akan membuat sesak, karena sudah dipenuhi dengan keramaian pengunjung.


"Kenapa ngajak aku kemari, Dok?"


Reyhan tiba-tiba terkekeh pelan."Kamu bisa nggak, sih, jangan panggil aku Dokter? panggil Mas, atau nama aja."


Kata Reyhan yang sudah berkali-kali mengingatkan Dhia agar tak memanggilnya dengan sebutan, Dokter. Namun wanita itu tetap mengulanginya.


"Udah kebiasaan." Dhia tersenyum sungkan.


"Kali ini harus dibiasakan jangan manggil, Dokter."


Dhia mengangguk pelan.


"Dhia ..."


"Iya, Dok ... e, m-maksud saya, Reyhan." Ralat Dhia terbata.


Reyhan kembali tersenyum.


"Soal pernyataanku malam itu ... apa kamu sudah bisa menjawabnya?" tanya Reyhan hati-hati.


Ia sengaja membawa Dhia kemari karena ingin memastikan jawaban langsung dari bibir wanita itu, yang memang sebelumnya sempat meminta waktu, ketika buk Laila mempertanyakan kesediaannya untuk menikah dengan putranya, Reyhan Aditya.


"Tapi sebenarnya ibu berharap kamu mau, nduk. Ibu udah sayang banget sama kamu. Ibu udah nganggep kamu itu seperti anak ibu sendiri." sambung buk Laila lagi, kala itu.


"Ini juga demi kamu, dan demi anak kamu."


Dhia mengangkat wajah.


"T-tapi aku masih sah sebagai istri dari suamiku, buk." ujar Dhia akhirnya."Aku tidak bisa menikah dengan Dokter Reyhan, karena aku belum bercerai."


Buk Laila tersenyum tipis."Ibu mengerti ... soal perceraian kalian, nanti Reyhan bisa urus."


Dhia menelan ludah gugup."Tapi saya masih hamil, buk."


"Ibu paham, nduk ..." Buk Laila kembali tersenyum." Kalian tidak harus menikah sekarang. Tapi nanti ... setelah kamu melahirkan."


Dhia kembali menelan ludah. Saat ini, ia benar-benar tidak tahu harus mencari alasan apa lagi. Berusaha menolak halus permintaan buk Laila. Takut wanita paruh baya itu, dan yang lainnya kecewa. Termasuk Reyhan.


Walau bagaimanapun, mereka lah, yang telah menjaga dirinya selama ini. Menerima kehadirannya, dan memperlakukannya seperti keluarga sendiri. Tanpa mereka, mungkin entah bagaimana nasib Dhia saat ini.


"Beri aku waktu untuk menjawabnya, buk." kata Dhia akhirnya.


"Aku sudah mencintaimu, Dhia." kata Reyhan lagi, seraya menatap Dhia lekat-lekat.


Dhia menelan ludah gugup. Kedua tangannya terus meremas ujung dress-nya, sembari mengangkat wajah, memberanikan diri memandang Reyhan."A-aku minta maaf, Reyhan ..."


"Aku nggak bisa nikah sama kamu?"aku Dhia akhirnya. Saat ini, ia bisa melihat wajah Reyhan yang berubah kecewa.


"Kamu bisa dapat perempuan yang lebih baik, Rey ... bukan perempuan yang sudah menikah, apalagi sedang hamil seperti aku." Kata Dhia lembut, agar penolakannya tak meninggalkan rasa sakit dihati pria itu.


Reyhan bergeming.


Hingga seorang pelayan datang, mengantarkan pesanan makanan, baru Reyhan kembali bersuara.


"Makanlah dulu."


"Kalau masih ada yang mau dibicarakan, nanti saja dirumah."


Kata Reyhan lagi. Makan malam itu berubah menjadi dingin. Semuanya diluar ekspektasi yang ia bayangkan. Bayangan Dhia akan menyatakan kesediaan untuk menikah dengannya, malah berbalik dengan penolakan yang membuatnya kecewa.


Sewindu sudah ...

__ADS_1


Ku tak mendengar suaramu


Ku tak lagi lihat senyumanmu


Yang slalu menghiasi hariku


Sewindu sudah ...


Kau tak berada di sisiku


Kau menghilang dari pandanganku


Tak tahu kini kau dimana


Suara lembut yang mengalun dari dalam cafe, membuat Dhia terkesiap dan terpaku sesaat. Jantungnya berdebar, mengingatkannya kembali pada seseorang.


Seorang yang begitu ia rindukan, namun terpaksa harus ditinggalkan.


Suara itu,


Mas Dirga ....


Dhia celingukan, mencari sumber suara dari dalam cafe. Namun orang itu tak terlihat.


Ternyata belum siap aku


Kehilangan dirimu


Belum sanggup untuk jauh darimu


Yang masih slalu ada dalam hatiku


Sewindu sudah ...


Kau tak berada di sisiku


Tak tahu kini kau dimana, ho-ho


"Kamu kenapa?" Reyhan kebingungan melihat Dhia seperti gelisah dengan netra yang sudah basah.


"Kamu nangis kenapa? apa ini gara-gara aku?" Reyhan mengusap air mata Dhia."Aku minta maaf ... aku tidak akan memaksamu lagi untuk menikah denganku."


Dhia menggeleng."K-kita pulang sekarang, Rey."


Reyhan mengernyit."Tapi kamu belum makan sama sekali."


"Nanti saja dirumah." Dhia buru-buru berdiri, dan menarik lengan Reyhan.


Reyhan merasa aneh. Ia pun akhirnya, menurut untuk pergi, setelah sempat mengambil dua lembar uang dari dalam saku, meletakkannya di atas meja, lalu memanggil pelayan.


Ho-oh


Ternyata belum siap aku


Kehilangan dirimu


Belum sanggup 'tuk jauh darimu


Yang masih slalu ada dalam hatiku


Tuhan tolong mampukan aku


Tuk lupakan dirinya


Semua cerita tentang dirinya yang membuatku

__ADS_1


Selalu teringat akan cinta yang dulu


S'lalu teringat akan cinta yang dulu


Hidupkan ku


Hm-hm


Suara pengunjung yang bersorak bertepuk tangan, membuat pria yang sedari tadi bernyanyi sambil memejamkan mata karena begitu menjiwai, akhirnya membuka mata. Bahkan sempat mengusap air mata yang menitik disudut matanya.


"Wiiih ... keren, Bro!" ujar pria yang bernama Galang, sambil menepuk bahu pria itu, ketika sudah turun dari atas panggung.


"Dalam banget ... masih ingat istri?" tanya Galang.


Pria itu terkekeh pelan.


"Sabar, bro ... kalau jodoh, pasti bakalan ketemu lagi." kata Galang lagi.


"Pak Dirga! Pak Dirga."


Seru seorang Pria yang masuk kedalam dengan tergesa-gesa.


"Ada apa, Dod?"


"T-tadi saya lihat perempuan. Mirip banget sama Mbak Dhia, Pak."


Dirga yang mendengar itu buru-buru berlari keluar. Namun sesampainya diluar, ia tak melihat sama sekali keberadaan Dhia.


"Maaf, Pak ... perempuan itu tadi buru-buru pulang, dia sama laki-laki." kata Doddy saat sudah menyusul Dirga keluar.


"Kamu yakin itu, Dhia?"


"Mukanya sih, mirip, Pak."kata Doddy ragu.


Dahi Dirga berkerut.


"Tapi body-nya kayak ibu-ibu hamil, Pak."


Dirga membuang nafas kasar."Salah orang kamu!"


"Iya, ya ... aku salah orang, kali." Doddy menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Lang, gua pulang luan!" seru Dirga pada Galang, kemudian berjalan menuju ke arah mobilnya yang terparkir dihalaman.


____________


"Cepat banget pulangnya. Perasaan baru berangkat." kata Buk Laila ketika melihat Dhia dan Reyhan kembali.


"Iya, buk."


Dhia tersenyum tipis. Sementara Reyhan langsung masuk kedalam kamar.


Buk Laila yang melihat itu, hatinya langsung bertanya-tanya. Tak biasanya putranya itu bersikap dingin.


"Kamu sudah makan, nduk?"


"Belum, buk."


"Ya udah, makan dulu. Habis itu kamu tidur ... istirahat, ya." buk Laila mengusap bahu Dhia pelan."Ibu ke kamar Reyhan dulu."


Detik itu, ada yang tercubit disudut hati Dhia. Melihat perhatian dan kasih sayang Buk Laila kepadanya. Ia merasa bersalah, dan akan semakin merasa berdosa, jika saja wanita paruh baya itu mengetahui yang sebenarnya. Kebenaran bahwa dirinya telah menolak Rayhan.


Setelah beberapa saat hening, Dhia tiba-tiba meringis. Menyentuh perutnya yang tiba-tiba terasa mengeras. Ia kemudian pelan-pelan berjalan masuk kedalam kamar. Mendudukkan diri, sembari mengusap-usap lembut perutnya yang mulai membesar.


"Kamu kenapa sayang? dari tadi gerak-gerak, aktif banget."

__ADS_1


Dhia mengajak bicara bayinya yang masih berada didalam kandungan, sambil terus mengusap-usap perutnya pelan.


__ADS_2