
Dhia duduk diatas kursi, seraya melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Jemarinya sedari tadi terus saling memilin karena gelisah yang semakin menjadi.
Maafin aku, Mas ... tolong kembalilah ... bathin Dhia dengan bulir bening yang sudah menggenang di pelupuk mata.
Malam semakin hening. Hanya suara jangkrik yang terdengar bernyanyi, dari balik dinding rumah sederhana itu. Rasa kantuk mulai menyerang Dhia. Ia hampir tertidur diatas kursi. Namun sedetik kemudian matanya kembali terbuka, ketika mendengar pintu rumah dibuka, dan melihat seseorang yang ia tunggu-tunggu, melangkah masuk kedalam rumah.
Gegas Dhia berdiri, seketika ia berlari memeluk pria berkemeja hitam itu sambil menangis."Kamu kemana aja, sih, Mas?! aku nungguin kamu dari tadi." bahu Dhia berguncang menahan tangis."Aku fikir kamu nggak akan balik lagi .... aku fikir kamu ninggalin aku, Mas."ucapnya lagi, menahan isak, menumpahkan kegelisahan dan ketakutan yang sedari tadi menyelimutinya.
Dirga yang kepulangannya disambut dengan pelukan dan air mata oleh Dhia, dibuat tertegun. Apa gerangan yang membuat istrinya itu melunak? Beberapa saat tubuhnya mematung. Tapi setelah itu, tanpa diminta, kedua tangannya perlahan membalas pelukan Dhia.
"Aku minta maaf, Mas ... aku udah jahat sama kamu." Dhia masih terisak, dan terus memeluk tubuh tegap suaminya itu."Kamu jangan pergi lagi ... jangan marah sama aku. Aku janji, aku bakalan ikut kamu pulang ke Jakarta."
Racau Dhia tak ingin melepas pelukannya.
"Sssssstt .... tenanglah."Dirga memperdalam pelukannya seraya mengusap lembut rambut istrinya."Siapa yang marah sama kamu? lagi pula, aku nggak mungkin ninggalin kamu" ia tersenyum, merasa konyol.
"Bisa gila aku, kalau nggak ada kamu."kata Dirga lagi. Ia kemudian mengurai pelukan, seraya mengusap pipi Dhia yang basah."Aku tadi hanya keluar menenangkan fikiran."
"Sudah, jangan menangis lagi, ya ..." Dirga tersenyum lembut.
Dhia mengangguk-angguk seperti anak kecil. Mata dan ujung hidungnya sudah memerah karena terus menangis. Ia membalas tatapan Dirga, dan betapa terkejutnya Dhia, ketika baru menyadari sudut bibir Dirga yang membiru, serta penampilan yang sedikit kusut.
"Bibir kamu memar, Mas ...."Dhia menyentuh wajah suaminya."Apa ini karena aku tadi menamparmu?."
"Ya ampun, Mas ... aku minta maaf. Jujur aku tadi nggak sengaja."
Sudut bibir Dirga tertarik tipis, nyaris tak terlihat, menyaksikan wajah Dhia yang kini kembali ingin menangis. Seketika ia meringis menyentuh sudut bibirnya, dengan wajah yang dibuat seolah menahan sakit, sesakit mungkin.
"Apa itu sakit, Mas?." Dhia refleks ikut-ikutan meringis.
"Em." Dirga mengangguk lemah."Kamu harus tanggung jawab."
"I-iya, Mas, aku akan obatin ... sekarang kita ke kamar dulu, ya."
Dhia ingin meraih tangan Dirga, tapi ternyata pria itu bergerak lebih dulu, meraih dan mengangkat tubuhnya. Sontak Dhia terkejut. Ia langsung berteriak tertahan meminta diturunkan.
"Mas turunin!."
"Jangan berisik, sayang ... nanti Mbok dengar."kata Dirga pelan.
Dhia akhirnya pasrah, menurut untuk diam ketika Dirga berjalan, menggendongnya masuk kedalam kamar, lalu mendudukkan dirinya diatas ranjang.
Entah mengapa Dhia menjadi gugup, ia merasa malu ketika saat ini Dirga sudah membungkukkan tubuh mengungkung dirinya, seraya memandanginya. Bak orang yang baru pertama kali jatuh cinta, Dhia bisa merasakan detak jantungnya kini berpacu cepat. Saat ini, sudah bisa dipastikan pipinya merona. Seperti salah tingkah, ia refleks mendorong tubuh Dirga, mencoba menghindar dari tatapan lembut suaminya itu.
"Mau kemana?." suara Dirga terdengar berat.
__ADS_1
"M-mau ambil obat, Mas." ucapnya asal, namun tepat.
"Bibir kamu harus di obatin."
"Kamu benar."Dirga tersenyum smirk."Tapi obatnya sudah ada."
"Mana?."
Dirga sekilas memajukan bibirnya menunjuk ke arah bibir ranum Dhia."Obatnya cuma itu, sayang ... bukan yang lain."
Dhia langsung tersipu, sambil mengulum bibirnya.
Melihat tingkah istrinya yang malu-malu, Dirga tak tahan untuk tidak tersenyum. Ia merasa gemas, dan tak bisa lagi berlama-lama membiarkan bibir ranum istrinya itu menganggur. Perlahan ia memajukan wajahnya untuk memutus jarak.
"Enggak ada orang sakit, bisa sembuh kalau di cium." Dhia tiba-tiba mendorong bibir suaminya itu, yang hampir menempel di bibirnya."Kamu modus, Mas."
"Sayang ...." Dirga sedikit merengek. Padahal hampir sedikit lagi bibirnya itu menggapai kenikmatan.
"Bibir kamu harus segera di obatin obat beneran, Mas."
Dhia menyingkirkan tubuh tegap suaminya itu, hingga tertidur diatas ranjang. Ia kemudian membuka laci kayu, yang tersedia disamping tempat tidur. Mengambil obat memar, sisa obat dari kecelakaan Dirga kala itu.
Kini Dirga hanya bisa menghela nafas lemah, modusnya gagal karena diketahui sang istri. Ia mendudukkan diri, dan bersandar pada dinding ranjang dengan malas.
Dhia duduk didepan Dirga, seraya meneteskan obat pereda nyeri pada cotton Bud. Dengan hati-hati ia menyapukannya pada sudut bibir Dirga yang memar. Meski begitu, tetap saja ia bisa melihat Dirga meringis menahan sakit. Ah, sesakit itu kah, tamparanku? bathin Dhia heran. Sesaat ia memperhatikan intens bibir suaminya itu. Ada sedikit luka seperti pecah, Dhia yakin Dirga sedang menutupi sesuatu. Luka memar ini bukanlah akibat tamparannya.
Dirga hening sesaat, seraya tangannya meraih tangan kanan Dhia yang sedang memegangi wajahnya. Ia kemudian menghela nafas panjang.
"Tadi sore saat aku keluar, ada dua orang preman yang ingin menghajarku."
"Kok bisa?."Dhia tak habis fikir."Kamu punya musuh?."
Dirga mengangguk pelan.
"Siapa ...? Malik?." tanya Dhia lagi. Kali ini ia tak menyebut Malik dengan sebutan Papa. Dan itu membuat Dirga melemparkan tatapan aneh kepadanya.
"Aku sudah tahu semuanya, Mas." kata Dhia yang menyadari arti tatapan tanya suaminya."Mbok Siah udah cerita semuanya."
"Aku sudah tahu Malik bukan Papa kandungku. Aku sudah tahu semuanya, Mas ... semua cerita tentang kisah 20 puluh tahun lalu." bulir bening kembali menitik dipipi Dhia.
"Apa benar preman-preman itu ada hubungannya dengan dia, Mas?."tatapan Dhia begitu cemas.
"Iya." Dirga mengangguk."Itulah kenapa aku ingin mengajakmu pergi dari sini. Kamu tahu sendiri aku juga punya pekerjaan di Jakarta. Meski dia mencoba mencelakaimu, setidaknya aku masih bisa melindungimu."
Dirga menghela nafas pelan."Sebenarnya sasaran utamanya adalah aku. Tapi dia berusaha mengancam untuk menyakitimu, kalau aku tetap berniat membuka kasus 20 tahun lalu."
__ADS_1
"Apa belakangan ini kamu merasakan sesuatu yang aneh?"tatapan Dirga penuh kekhawatiran."Maksudku ... saat aku bekerja, apa kamu pernah melihat orang asing datang kerumah ini?."
"Orang asing sih, banyak, Mas. Aku kan, jual bunga." sahut Dhia sekenanya."Tapi ... pernah sih, beberapa kali saat aku keluar, aku merasa seperti ada seseorang yang mengikutiku, Mas."
Dirga menghela nafas berat. Ternyata Malik benar-benar tidak main-main dengan ucapannya. Saat ini, tiba-tiba saja ia merasa ragu dengan segala rencana yang sudah dipersiapkan sekian lama. Dendamnya sudah menggunung, namun disisi lain, ia tak ingin terjadi sesuatu dengan istri, dan calon anaknya.
Dirga memandang Dhia, kemudian perlahan membawa istrinya itu kedalam pelukannya.
"Aku akan ikut pulang denganmu, Mas." Dhia mengangkat wajahnya.
Dirga tersenyum, lalu mencium puncak kepala Dhia.
"Tapi apa aku boleh meminta satu permintaan?." Dhia mengurai pelukan.
"Sayang, aku bukan Dora Emon!"
Dhia berdecak, seraya mencubit dada Dirga kesal."Aku serius, Mas."
Dirga tergelak melihat wajah Dhia yang tertekuk."Oke, oke ... kamu mau minta apa, sayang?."
"Aku mau pulang sama kamu, tapi dengan syarat ... aku mau Mbok juga ikut kita ke Jakarta." Dhia mengutarakan permintaannya.
"Bolehkan?."
"Tentu boleh, sayang."Dirga tersenyum.
"Makasih, Mas." mendengar persetujuan Dirga, Dhia begitu bahagia. Refleks ia memeluk, dan melemparkan selintas kecupan dibibir suaminya itu.
Dirga tercengang sejenak. Tapi segera tersadar, dan langsung menarik tubuh Dhia, ketika istrinya itu ingin segera beranjak. Hasrat yang sejak lama terabaikan, seolah disambar oleh setitik api. Membakarnya tiba-tiba, hingga tak ingin melewatkan kesempatan yang ada. Detik itu, ia langsung menarik tengkuk Dhia, dan mendaratkan penyatuan dibibir ranum istrinya itu.
Sedetik, dua detik, tiba-tiba saja Dhia mendorong tubuh suaminya itu. Sontak Dirga pun, keheranan. Rupanya, wanita ini kembali merasakan kegugupan. Ah, entahlah. Ia pun merasa konyol, padahal diperutnya sudah ada buah cinta mereka. Namun apa ini? ia merasa seperti anak perawan yang baru saja akan melakukannya.
"Kenapa, sayang?."
"B-bibir kamu masih sakit, Mas."
Dirga terkekeh pelan."Yang terluka bibirku, sayang ... kenapa kamu yang cemas? tenang, lah ... luka dibibirku ini sudah tidak sakit."
Dhia tak berniat kembali menjawab. Saat ini ia sedang ingin berusaha membuang rasa gugup yang mengungkungnya. Tapi anehnya, rasa gugup itu justru kian bertambah, ketika Dirga kembali menyentuhnya, dan membubuhkan kecupan diceruk lehernya yang putih.
"Mas ... a-apa kamu tidak lelah?." tanya Dhia dengan suara terbata karena nafasnya yang mulai tak beraturan, saat Dirga terus bermain dileher jenjangnya.
"Tidak, sayang." Dirga menjawab singkat, dengan suara yang terdengar serak, seraya hidung mancungnya terus menjelajahi, wajah dan leher Dhia. Sementara jari jemarinya mulai menyusup masuk kedalam piama tidur Dhia. Ia bisa merasakan kemulusan tubuh istrinya itu yang bergerak menggeliat.
Dirga masih bermain dileher jenjang putih milik Dhia, berlama-lama mencium aroma bunga mawar yang menyeruak dari rambut hitam, dan kulit wanita itu. Sesekali ia menyesap, memberikan tanda kemerahan dileher putih istrinya.
__ADS_1
Detik itu Dhia meleunguh, tak kuasa untuk tidak bersuara merasakan sesuatu yang membuat dadanya berdesir."Mas, a_apa ... t-tidak ..."
"Apa lagi, Dhia?!" Dirga menggeram. Istrinya itu benar-benar sudah membuyarkan konsentrasinya, ditengah gairahnya yang memanas.