
Dhia menelan ludah gugup. Detak jantungnya tiba-tiba berpacu cepat.
"Mas Dirga."
Lirih Dhia pelan.
Dirga hening. Menyadari saat ini penyamarannya sudah terbongkar.
"Kamu kenapa bisa ada disini, Mas?."
Tanya Dhia dingin, seraya melemparkan tatapan curiga.
"Dhia ... dengarin aku."
Dirga menelan ludah kelu.
"Kamu ngikutin aku selama, ini, Mas?" mata Dhia sudah memerah, seperti akan menangis karena ketakutan.
"Aku mau kamu pulang."
Dirga ingin melangkah mendekati Dhia. Tapi dengan cepat Dhia melarangnya.
"Kamu pergi, Mas! aku nggak mau pulang sama kamu." bulir bening sudah menetes dipipi Dhia."Aku nggak mau kalau anakku lahir, kamu mengambilnya dariku, Mas."
"Aku nggak mau!" Dhia semakin menangis."Tolong jangan pisahin aku sama anakku, Mas."
"Aku nggak mungkin melakukan itu, Dhia." ujar Dirga lembut.
Dhia bergeleng. Kakinya perlahan melangkah mundur, berniat ingin pergi.
Tapi Dirga dengan gerakan cepat menarik tangannya, dan langsung memeluknya. Menghujani puncak kepalanya dengan ciuman berkali-kali. Menyalurkan kerinduan yang selama ini membelenggu. Dhia dapat merasakan itu
"Tolong jangan pergi lagi."
Suara Dirga terdengar seperti menangis. Dhia merasakan pelukan itu semakin erat memeluk tubuhnya. Sejenak Dhia terhanyut. Hatinya merasakan ketenangan.
"Anak yang kamu kandung saat ini, bukan hanya anakmu ... atau anakku." Dirga masih terus memeluk Dhia."Tapi anak kita."
"Kita akan membesarkan bersama-sama, setelah dia lahir." Dirga mengusap lembut rambut Dhia seraya mengurai pelukan.
"Aku tidak akan mengambilnya darimu." Dirga menatap bola-mata istrinya itu lekat-lekat."Percaya padaku."
Apa kamu fikir kak Dirga akan mencintai darah daging, pembunuh Papanya sendiri?
Apa kamu fikir kak Dirga akan mencintai darah daging Malik Mahendra Hartawiawan, pria yang telah membuat Mamanya gila?
Setelah dendamnya terbalaskan, dia akan mencampakkanmu dan membuangmu kejalanan seperti sampah.
Setelah anak itu lahir, dia akan mengambil anak itu darimu. Dalam artian .... dia hanya akan menerima anakmu, tapi tidak dengan dirimu!
Tiba-tiba suara Tamara kala itu, kembali menggelegar dikepalanya. Dhia langsung mendorong tubuh Dirga seketika.
"Enggak!!"
__ADS_1
Teriak Dhia tertahan, dan langsung pergi meninggalkan Dirga.
"Dhia ...!"
Teriak Dirga, dan dengan cepat berlari mengejar Dhia. Seperti begitu mengkhawatirkan keadaan Dhia, dan tak ingin lagi wanita itu meninggalkannya, Dirga sampai-sampai lengah ketika sebuah motor melintas dengan sangat kencang ke arahnya.
Braak!!
Kecelakaan pun, tak terelakkan.
Dhia yang mendengar suara keras dari arah belakang, sontak menoleh. Netranya terbelalak, ketika melihat Dirga sudah tergeletak di jalanan.
Woii! jangan kabur!
Kejar!!
Begitu teriakan orang-orang yang melihat pengendara motor itu melarikan diri.
"Mas!"
Teriak Dhia sambil berlari menghampiri Dirga.
_______________
"Jadi kamu suaminya, Dhia?"
Tanya Mbok Siah, pada Dirga yang kini sedang duduk bersandar diatas tempat tidur. Dengan kening, tangan, dan kaki kanan yang sudah dibalut perban.
Dirga mengangguk lemah.
"Kamu minum obat dulu. Nanti kalau sudah enakan, bisa langsung pulang." kata Dhia tanpa melihat Dirga, sambil mengambil obat yang sempat diberikan oleh dokter.
Mbok Siah menghela nafas panjang."Enggak boleh gitu, nduk ... Dirga itu suami kamu ... biarin dia disini."
Dhia hanya diam, sambil tangannya memberikan obat pada Dirga, kemudian meraih segelas air hangat, dan membantu meminumkan pada suaminya itu.
"Ya ampun Mas ganteng .... mas ganteng kenapa bisa begini?" Mala tiba-tiba datang, memegang wajah Dirga hingga membuat pria itu meringis, langsung duduk ditepi ranjang sampai-sampai langsung membuat Dhia mundur.
Dhia yang melihat itu refleks membeliakkan mata. Aku istrinya, kenapa dia yang heboh?
"Ya ampun ... ini pipinya sampai bonyok begini. Pasti sakit banget." Mala terus mengoceh sambil terus menyentuh wajah Dirga."Mau tak kasih salep, nggak?"
"Aku tuh, punya salep ajaib ... past ...."
"Ehmmm!!"
Dhia berdiri sambil berdeham keras, memutus ocehan Mala. Detik itu bibir Mala langsung terkatup rapat.
"Tadi sore katanya sakit." Dhia memperhatikan Mala lekat-lekat dari atas hingga kebawah. Penampilan wanita itu terlihat cetar. Lengkap dengan bulu mata tebal seperti ijuk, dan make up menor ala-ala penyanyi dangdut dadakan.
"Udah sembuh?" tanya Dhia lagi.
Mala langsung cengengesan.
__ADS_1
Dhia menghela nafas berat. Memandang Dirga, dan beralih pada Mala yang sudah berdiri kikuk.
"Jadi selama seminggu ini kalian sekongkol?" sambung Dhia lagi.
Sekarang Dhia baru mengerti. Makanan-makanan, buah-buahan, bunga mawar putih yang akhir-akhir ini ia terima dari Mala, sebenarnya adalah pemberian dari Dirga.
"Maafin aku, Dhia ..." Mala memasang wajah sedih."Aku melakukan ini semua karena peduli sama kamu."
"Suami kamu ini baik, loh ... dia itu melakukan ini semua demi kamu."Sambung Mala lagi."Karena sayang sama kamu."
"Kamu itu salah ..." ujar Dhia ketus."Dia melakukan semua itu bukan demi aku. Tadi cuma demi calon anaknya."
Mala terlong-long keheranan.
Sementara Dirga saat ini hanya diam. Tak tahu harus berkata apa. Ia mencoba mengerti perasaan Dhia saat ini.
"Udah, udah ... jangan ribut-ribut." sela Mbok Siah, kemudian melihat ke arah Dhia.
"Suami kamu itu lagi sakit ... biarin dia istirahat."
Dhia diam.
"Jadi, barang-barangnya Mas ganteng gimana? mau di bawa kesini ... atau dibiarin dirumahku, dulu, aja?" tanya Mala dengan khas centilnya memandang Dirga.
"Dirumah kamu?" Dhia terbelalak tak percaya.
Dirga berdecak pelan, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Aduh!
Mala tergeragap, hingga bibirnya yang menor bergerak tak menentu."B-bukan ...! m-maksudku, dirumah kontrakan ku."
Mala meralat ucapannya.
"Yang di sebelah." pungkasnya pelan.
"Udah ... dibawa kesini aja, semua barang-barangnya." kata Mbok Siah menyetujui.
"Enggak usah, Mbok! biar Mas Dirga tinggal disana aja." Dhia menolak cepat.
"Loh, loh ... kamu ndak boleh gitu, nduk. Suami kamu itu lagi sakit. Tangannya terkilir .... kalau butuh apa-apa gimana?"
"Biarin, Mbok ... kan ada Mala. Biar diurus sama Mala aja."
Dhia melirik sekilas kearah suaminya itu.
Mendengar itu netra Dirga langsung terbelalak. Bukannya sembuh, yang ada sakitnya malah akan semakin parah karena setiap hari di unyel-unyel dengan wanita yang selalu membuatnya merasa geli itu. Menurutnya, Mala memang baik, tapi kekonyolannya nggak ada obat.
Selama ini, ia sudah cukup sabar dengan tingkah Mala yang centil. Dandanan nyeleneh, yang membuat Dirga melihatnya selalu ingin mual. Jika bukan karena Dhia. Ia tak akan memiliki kesabaran yang tebal untuk bertahan.
Mbok Siah menghela nafas pelan.
"Mala, kamu bereskan barang-barangnya, Dirga, dan langsung bawa kemari."
"Oke, Mbok!"
__ADS_1
Mala tersenyum, membuat jarinya membentuk huruf o, langsung berjalan keluar dengan langkah centil, membuat bokongnya yang lebar, bergerak naik turun.
Saat ini, Dirga memasang senyum kemenangan. Ia mengerling pada Dhia, yang kebetulan juga melihat kearahnya. Tapi hanya sesaat, karena Dhia langsung membuang muka.