
Kediaman, Malik Mahendra Hartawiawan
Sejak kepergian Dhia, Rossa selalu menangis. Ia mengkhawatirkan keadaan putri sulungnya itu. Tapi hari ini, kabar cukup melegakan sekaligus haru, baru saja ia dengar. Kabar tentang Dhia. Ya, Dirga baru saja menghubunginya.
Tapi saat ini, Rossa justru diliputi rasa cemas. Hal ini, terkait tentang keberadaan Dhia saat ini, yang ternyata tinggal bersama Mbok Siah.
Sekeras apapun usahanya untuk menutupi masa lalu, suatu saat akan terkuak juga. Entah itu cepat, ataupun, lambat. Ia yakin, masa itu akan tiba.
"Mama bersyukur kamu baik-baik saja, nak. Mama juga senang sekali mendengar kabar kamu sudah mengandung."lirih Rossa pelan dengan isak tangis kecil, diatas tempat tidur, sembari memeluk foto kecil Dhia."Tapi Mama justru semakin takut kehilangan kamu, nak."
"Mama takut kamu akan meninggalkan Mama, dan membenci Mama setelah kamu tahu semuanya."
Rossa terus terisak, matanya sudah memerah. Tapi sejurus kemudian ia buru-buru menyusut air mata, ketika mendengar handle pintu kamar dibuka oleh seseorang dari luar.
Didepan pintu, ia melihat Malik masuk. Pria itu melemparkan tatapan heran kepadanya.
"Kenapa kamu menangis?."
Bibir Rossa bergetar ketakutan.
"Apa ini karena anak kesayanganmu itu lagi?"
Tanya Malik lagi, kemudian tersenyum smirk."Aku kan, sudah bilang sama kamu. Tidak perlu memikirkannya lagi. Anggap saja dia sudah mati!"
"Tega kamu, Mas? Dhia itu anakku!" kata-kata Malik barusan membuat Rossa tak terima. Ia memandang suaminya itu dengan sorot tajam.
"Kamu memang bukan Papa kandungnya. Tapi bisa tidak kamu hargai anakku itu, sedikit saja?" suara Rossa bergetar kembali ingin menangis. Hatinya sakit. Mengingat dari kecil, suaminya itu tak pernah memperlakukan Dhia seperti Inka, penuh kasih sayang.
"Menghargainya?"Malik berjalan mendekati Rossa yang duduk diatas ranjang. Tatapannya mengintimidasi.
"Aku tidak akan pernah menghargainya. Melihat wajah anakmu itu, aku seperti melihat wajah mantan suamimu!."
"Menjijikkan!"
"Cukup, Mas!."
"Kenapa? kamu nggak terima?"Malik mengangkat dagu Rossa dengan kasar.
"Oh, atau jangan-jangan ... kamu masih memikirkan mantan suamimu itu?!."
"Benar, kan?."
Rossa bergeming sambil menelan ludah.
Malik berdecak-decak pelan."Sayang sekali, mungkin saat ini dia sudah mati. Apa kamu ingin ikut dengannya?" senyum menyeringai terlukis di sudut bibir pria paruh baya itu. Sorot matanya membuat wajah Rossa pias.
"Kalau kamu mau, aku juga bisa mengirim anak kesayanganmu itu ikut mati sekalian!"ucap Malik lagi. Dengan suara pelan, sarat akan ancaman, sambil mengeraskan tangannya di dagu Rossa.
Wanita paruh baya itu hanya bisa bergeleng sambil kembali berurai air mata.
Malik melepaskan tangannya dari dagu Rossa dengan kasar. Ia sempat menyeringai, lalu pergi dari kamar itu.
__ADS_1
Tangis Rossa kembali pecah setelah suaminya itu pergi. Dagunya yang putih, saat ini membekas memerah karena cengkeraman Malik. Jika waktu bisa diputar mundur. Ia tak ingin pernah disatukan dalam kisah kehidupan bersama Malik. Pria yang telah membuatnya terperangkap dalam penyesalan dan dosa.
_______________
Desa pinggir, Jawa Tengah.
Usai sholat ashar, Dhia membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur. Pinggangnya terasa pegal, karena beberapa saat duduk merangkai buket bunga. Tak sengaja, ia melihat sebuah headphone diatas meja, yang ada disamping tempat tidur. Karena penasaran, ia langsung mengambilnya.
"Kok bisa ada alat beginian?" Dhia mengernyit. Namun tak berapa lama tersenyum.
Menempelkan benda itu diatas perutnya, seraya memutar musik dengan pelan. Sesekali perutnya terasa ditendang. Ia pun tersenyum.
Entah sudah berapa lama Dhia bermain dengan alat musik itu, hingga tak menyadari kehadiran Dirga yang sudah masuk kedalam kamar. Sedang berdiri sambil tersenyum memperhatikannya.
"Loh, loh, nak .... kamu kok nggak gerak lagi? kamu tidur?." tanya Dhia, sambil mengusap lembut perutnya, ketika perlahan bayi itu tak lagi bergerak.
"Anak kita nggak suka musiknya kali, sayang."
Dhia tersentak, dan menoleh kearah Dirga yang sedang membuka kancing kerah kemeja, melonggarkan dasi, sembari berjalan kearahnya.
Anak kita? dan apa tadi? sayang?
Dhia tiba-tiba merasa gugup. Pasalnya itu adalah panggilan mesra yang baru pertama kali ia dengar dari bibir Dirga. Tak dipungkiri, itu sempat membuat hatinya terbang. Namun kembali ditarik, karena mengira Dirga sedang menjalankan taktik untuk kembali mengambil hatinya.
"Dia suka musik ini."Dirga duduk didepan Dhia, seraya memutar lagu klasik, yang tadi malam ia putar. Kemudian kedua tangannya terulur, meraih headphone dari atas perut Dhia.
"Letaknya salah, sayang ... bukan disini."suara Dirga terdengar lembut, sambil meletakkan headphone ditengah tengah perut Dhia. Sejajar dengan pusat."Tapi disini."
"Gimana? gerak, kan.?"
Dhia hanya tersenyum tipis. Tapi kemudian terkesiap ketika Dirga mengusap perutnya. Ia ingin menepis, tapi entahlah, tangannya tiba-tiba saja terasa tak sejalan dengan fikiran untuk digerakkan.
"Maafin, Mama, ya, nak. Mama tadi nggak tau musik kesukaan kamu."ucap Dirga dengan suara khas anak kecil sambil terus mengusap perut Dhia."Memangnya tadi dipasangin musik apa? musiknya berisik, ya?"
"Kamu nggak suka?"tanya Dirga lagi, pada calon bayinya.
"Iya?!" Dirga menjawab sendiri ketika merasakan perut Dhia kembali bergerak. Kemudian ia tertawa renyah.
Dhia yang melihat itu turut tersenyum. Hatinya merasa damai. Sedetik, dua detik. Rupanya senyum itu tertangkap oleh sorot mata Dirga. Keduanya saling berpandangan.
Dhia tiba-tiba gugup. Ia melepas headphone dari atas perutnya, dan meletakkannya kembali diatas meja."A-aku buatkan minuman, dulu, Mas."
Dhia gegas ingin turun dari tempat tidur. Namun Dirga memegang tangannya, menghentikan.
"Aku nggak haus." ujar Dirga dengan pelan. Namun terdengar lembut."Duduk dulu, aku pingin ngomong sesuatu sama kamu."
Dhia hening, tapi tetap menurut untuk kembali duduk. Raut wajahnya berubah dingin seolah tahu apa yang ingin dikatakan oleh pria itu.
"Kita pulang, ke Jakarta, ya." ajak Dirga lembut, penuh hati-hati."Tempat ini nggak aman buat kamu."
"Aku takut kamu kenapa-kenapa." Dirga menatap Dhia dalam-dalam.
__ADS_1
Dhia tersenyum kecut."Kamu bukan takut aku yang kenapa-kenapa, Mas .... tapi kamu cuma takut bayi kamu yang kenapa-kenapa."
"Iya, kan, Mas?."
Mendengar itu, Dirga hanya bisa menghela nafas berat.
"Kamu cuma mau bayi ini, bukan aku!" Dhia berdiri seraya menunjuk perutnya, dengan netra yang sudah memerah ingin menangis.
"Kamu cuma mau mengambil anak ini, setelah itu kamu akan campakkan aku. Iya, kan, Mas?"
"Kamu salah, Dhia. Tolong jangan terus menodongku dengan tuduhan seperti itu." bantah Dirga cepat."Aku nggak mungkin melakukan itu!"
"Percaya sama aku." kata Dirga dengan sungguh-sungguh.
"Percaya, kamu bilang?." Dhia memandang Dirga dengan tatapan kecewa. Bulir bening sudah menggenangi netranya, dan hampir luruh."Udah cukup sekali aku percaya sama mulut manis kamu, Mas. Menjebakku dalam sebuah pernikahan yang berkedok dendam."
"Sekarang aku nggak mau tertipu lagi. Tolong, Mas ... biarkan aku sendiri." Dhia menangis. Kemudian menangkup kedua tangannya didepan Dirga. Memohon.
"Untuk Papaku ... aku minta maaf atas kesalahan yang sudah dia lakukan, Mas."
"Aku tahu Papaku kejam ... dia sudah menghancurkan kebahagiaanmu. Aku minta maaf atas nama Papaku, Mas ... tolong, maafkan, Papaku." sambil terus menangis, Dhia masih menangkupkan kedua tangannya didepan Dirga.
"Aku siap kalau kamu mau meninggalkanku ... tapi aku mohon, Mas ... tolong biarkan aku yang merawat anakku setelah dia lahir."
"Jangan ambil anakku, Mas." Dhia mengiba sambil terisak.
Melihat itu hati Dirga sakit. Sebegitu takut kah, Dhia kepadanya selama ini? apa ini juga salah satu racun Tamara?
Mengingat nama wanita itu, rahang Dirga mengeras. Tapi hanya sesaat, karena Dirga dengan cepat menetralkan emosi, dan kembali fokus pada Dhia yang masih menangis. Tangannya terulur, membawa Dhia kedalam pelukannya.
"Jangan pernah lagi berfikir seperti itu." ucap Dirga lembut."Aku mau kamu kembali ke Jakarta ... kita akan jaga anak kita nanti, sama-sama." Dirga mengusap lembut punggung Dhia.
Mendengar itu, Dhia langsung mengurai pelukan. Ia mengangkat wajah. Seperti tak percaya, ia menyelami manik hitam Dirga dalam-dalam. Bukan hanya sekali Dirga mengatakan itu, tapi sudah berulang-ulang.
"Aku anak dari seseorang yang telah membunuh Papa kamu, Mas ... aku rasa tidak mungkin semudah itu kamu menerimaku."
"Dan kalau, aku ada di posisi kamu ... aku tidak akan pernah bisa menerimamu, Mas."
"Boleh aku tahu, apa alasan kamu tetap bisa menerimaku?."tanya Dhia pelan. Menatap Dirga penuh selidik.
Dirga hening. Benar kata Dhia, jika orang yang ada dihadapannya ini adalah anak seorang pembunuh, yang yang telah membunuh Papanya, ia pun mungkin tak akan pernah menerima orang itu. Ah, rasanya ia ingin sekali ia mengatakan kebenarannya. Mengatakan bahwa Dhia bukanlah anak kandung Malik Mahendra Hartawiawan. Namun bayang wajah Rossa yang menangis memohon kepadanya, membuatnya ragu.
Disatu sisi, ia tak ingin kehilangan istrinya. Namun disisi lain, ia tak ingin Dhia membenci Rossa.
"Kamu nggak bisa jelasin, kan, Mas?" Dhia yakin itu.
Suara Dhia membuat Dirga tersadar.
"Kalau begitu aku juga nggak punya alasan untuk percaya sama kamu." kata Dhia dingin.
"Karena Malik Mahendra Hartawiawan bukan Papa kandungmu."kata Dirga akhirnya. Ia tak punya jawaban lain yang masuk akal. Jika ia berkelit, mungkin Dhia tak akan pernah mempercayainya lagi.
__ADS_1