
Singapura,
"You can't go back to, Indonesia."(Kamu tidak boleh kembali ke Indonesia.)"
Kata Arhan Syah Megantara, pria paruh baya berkaca mata, yang sedang duduk menyantap sarapan, ketika putrinya Tamara tiba-tiba saja berkata ingin kembali ke Indonesia. Ya, beberapa waktu lalu Dirga menyuruhnya kembali ke, Singapura. Dengan alasan, Tamara harus beristirahat, setelah sempat cedera ketika memantau proyek pembangunan hotel, Wira CitraWisata.
Tamara meletakkan sendok yang ia pegang keatas piring. Nafsu makannya itu seketika hilang.
"Why, Dad?"tanya Tamara tak mengerti."Wasn't Dad, the one who asked me to help, Dirga?(Bukankah Daddy yang pernah memintaku membantu kak Dirga?)"
Pria paruh baya itu melihat putri cantiknya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Tamara, have breakfast first, honey. Itu, nanti bisa dibicarakan." kata sang Mommy dengan lembut.
"No, mom ... selera makanku hilang."
Tamara beralih melihat Daddy.
"However, i will still return to, Indonesia. Don't care even if Daddy forbids me! (Bagaimanapun, aku akan tetap kembali ke, Indonesia. Tidak perduli walaupun Daddy melarangku.)"
"Tamara!" panggil Arhan. Namun putrinya itu langsung masuk kedalam kamar, dan membanting pintu dengan sangat kuat.
Sementara Aliya, wanita paruh baya itu hanya bisa menghela nafas berat. Melihat perdebatan didepan meja makan sudah terjadi sepagi ini. Ia melihat kearah suaminya dengan tatapan menyalahkan.
"This cannot be allowed to continue. (ini tidak boleh terus dibiarkan.)"
Kata pria paruh baya itu, saat mengerti arti tatapan istrinya.
"You mean? ( maksud kamu?)"
Tanya Aliya tak mengerti.
"All this time i was wrong. (Selama ini aku keliru.)"
Aliya semakin tak mengerti. Namun ia tetap menunggu sampai suaminya itu kembali melanjutkan kalimat.
"Kasih sayang Tamara dengan Dirga selama ini, ternyata bukanlah kasih sayang seorang adik kepada kakaknya."
Pria paruh baya itu hening sesaat.
"Tamara loves Dirga, Aliya."lanjut Arhan lagi.
Aliya tak terkejut. Sepertinya wanita itu sudah menyadari jauh-jauh hari perasaan putri semata wayangnya itu. Sebagai seorang ibu, ia bisa menilai tingkah laku putrinya. Namun ia hanya menilai, tak pernah bertanya secara langsung.
"So what? they are not siblings. (Memangnya kenapa? mereka bukan saudara kandung) Sah-sah saja, kan?"
Arhan bergeming, tak menyalahkan pernyataan istrinya.
"Yea, even though we know, Dirga is married. (Ya, walaupun kita tahu Dirga sudah menikah.) but, pernikahan itu hanya sementara." kata Aliya lagi.
"After Dirga managed to take revenge, and divorced the women ... (setelah Dirga berhasil membalaskan dendam, dan bercerai dengan wanita itu ...) kita bisa menikahkan Dirga dan Tamara."
"So, there's no need to worry about that. (Jadi, tidak perlu ada yang dikhawatirkan soal itu)"
Sambung Aliya lagi sambil mengunyah sarapannya.
"Masalahnya, itu tidak akan pernah terjadi."
Aliya menoleh."Why?"
"Dirga dan Dhia tidak boleh bercerai."
"Tapi kenapa?"
__ADS_1
"There are still many thing's you don't know. ( Masih ada beberapa hal yang belum kamu ketahui)" Arhan berdiri.
"Aku akan menceritakan semuanya jika waktunya sudah tepat." sambung Arhan lagi." Aku pergi dulu."
Pria paruh baya itu meraih tasnya dari atas bangku yang kosong, seraya mencium dahi Aliya. Kemudian berjalan keluar, meninggalkan Aliya yang terdiam penuh tanya.
______________
Megantara Group
Dhia keluar dari dalam lift yang mengantarkannya di lantai lima. Dirga sudah lebih dulu masuk. Dan mungkin saat ini pria itu sudah berada didalam ruangannya.
Dengan senyum ramah yang menghias dikedua sudut bibir, Dhia melangkah masuk menuju meja kerja miliknya. Tapi tiba-tiba ada yang aneh. Meja kerjanya hilang beserta kursi dan juga komputer miliknya. Ia mencari ke setiap sudut ruangan, namun tetap tidak ada.
Apa aku salah masuk ruangan?
Dhia mengingat-ingat sembari memperhatikan kesekelilingnya.
Tapi ini benar lantai lima. Orang-orangnya juga sama seperti kemarin.
"Selamat pagi, Buk Dhia ..."sapa Jenny yang baru menyadari kehadiran Dhia."Kok kemari? bukannya udah pindah ruangan?"
"Pindah ruangan?"
Jenny mengangguk cepat .
"Kan Pak Dirga yang nyuruh. Meja sama barang-barangnya baru diangkut Gio sama Yudi kelantai sepuluh."
"Tapi kenapa dipindahin?"
Jenny mengedikkan bahu."Enggak tahu, buk."
Dhia berdecak kesal."Lantai berapa?"
"Terimakasih ... saya kesana dulu, Jen."
Dhia masuk kembali ke dalam lift. Selang beberapa menit, pintu lift terbuka mengantarkannya dilantai sepuluh. Didepan pintu yang bertuliskan Ruangan Direktur, Dhia bisa melihat Dirga, Gio, dan juga Yudi sedang berdiri disana.
"Terimakasih."kata Dirga pada Gio dan Yudi.
"Iya, Pak. Saya permisi dulu."kata Yudi, kemudian melangkah masuk kedalam lift. Ia sempat tersenyum ketika berpapasan dengan Dhia.
"Mas ... kenapa meja saya dipindahin? M-maaf, maksud saya, Pak."ralat Dhia.
"Oh, ini supaya ... kalau saya ada perlu sama kamu, saya nggak perlu repot-repot turun kebawah."
"Tapi bukannya staf-staf itu adanya dilantai bawah, Pak? dan kalau ada urusan, biasanya kan, bisa lewat telepon."
"Kamu mau membantah atasan?"suara Dirga datar, namun terdengar seperti tak ingin dibantah.
Dhia yang mendengar itu, langsung menggeleng cepat."E-enggak, Pak."
"Ya sudah ... sana masuk, ke ruangan kamu!"
"Baik, Pak." Dhia berjalan, didampingi Gio, mengantarkannya masuk kedalam ruangan miliknya yang baru.
Ruangan luas, yang didominasi abu-abu dengan sentuhan warna coklat muda, terlihat rapi dan nyaman. Namun ada sesuatu yang menarik perhatian Dhia, sebuah dinding kaca besar sebagai pembatas, tembus pandang, dan mengarah langsung ke dalam ruang Direktur utama. Disana, ia bisa melihat Dirga sedang duduk memperhatikannya.
"Saya permisi. Kalau ada yang ingin ditanyakan, bisa langsung panggil saya."
Suara Gio membuat Dhia menoleh.
"Kebetulan hari ini saya tidak ditugaskan ke proyek."kata Gio lagi.
__ADS_1
"Iya, Gio. Terimakasih." Dhia tersenyum.
Dhia menghela nafas pelan. Meletakkan tasnya, seraya mendudukkan diri atas kursi kerja. Detik itu, ia mendengar suara notifikasi pesan dari dalam tas miliknya.
Si ketus
Tirainya jangan pernah ditutup.
Biarkan saja begitu.
Dhia mengulum senyum. Ia melirik Dirga dari dinding kaca pembatas. Ia bisa melihat pria itu yang sedang fokus menatap layar laptop.
Memangnya kenapa? kamu pingin liat aku terus, ya?
Dhia membalas pesan itu, sambil menyelipkan emoticon jatuh cinta.
Dhia melihat Dirga membaca balasan pesan darinya, kemudian jari pria itu bergerak seperti membalas. Sedetik kemudian, ponsel Dhia kembali berbunyi.
Si ketus
Enggak usah G'r. Saya cuma mau memastikan, kamu beneran kerja atau nggak.
Siketus
Siapa tau kamu dikantor kerjanya tidur mulu. Jadi aku punya alasan, langsung cari orang untuk menggantikan kamu.
Dhia menghela nafas kesal."Punya suami kok nggak ada romantis-romantisnya sama sekali."
Gerutunya dengan wajah tertekuk, seraya melirik Dirga yang saat ini sedang tersenyum smirk ke arahnya. Menambah kekesalan Dhia semakin memuncak.
Beberapa saat berlalu. Keduanya disibukkan pada pekerjaan masing-masing.
Sementara Dirga, sedang fokus didepan layar laptop, ekor matanya mendapati Gio masuk kedalam ruang kerja milik Dhia. Awalnya ia biasa saja. Karena mengira Dhia sedang memerlukan bantuan pada Gio. Namun rupanya beberapa saat kemudian, ia terusik dengan raut wajah tertawa Dhia dan Gio yang bersamaan. Entah membahas soal apa, yang pasti itu bukan pekerjaan. Karena sepertinya mereka sedang membahas sesuatu yang lucu.
Ngapain mereka?
Ini si lalat ijo, kayaknya nggak bisa dibiarin, ini. Berani-beraninya dia ketawa-ketawa didepan binik gue.
Dirga langsung beranjak, dan berjalan keluar.
"Kalian ngapain?"
Dirga yang tiba-tiba nongol didepan pintu membuat Dhia dan Gio terkejut.
"Ini masih jam kerja. Bukan saatnya untuk cerita-cerita."
"Oke, boss ... sorry."kata Gio sambil berjalan keluar."Tadi Dhia perlu bantuan."
Dirga menatap Gio penuh selidik.
"Selow, bos ... binik lu, aman .... gua nggak akan ganggu." kata Gio setengah berbisik, saat mengerti arti tatapan bos-nya itu.
"By the way, udah bucin sekarang?" Gio menaik-turunkan alisnya, seraya memasang wajah jahil pada Dirga, sebelum melangkah pergi.
Dirga berdesis geram. Rasanya ia ingin sekali menyipratkan karet gelang dibibir Gio, agar pria itu tak berani lagi mengejeknya.
Ia beralih melihat Dhia. Gadis itu bertingkah seperti sedang serius dengan pekerjaannya.
"Dan kamu," Dirga menajamkan mata pada Dhia."Mulai saat ini,, di kantor ini dilarang tersenyum dengan lawan jenis."
"Apa lagi tertawa."pungkas Dirga tegas.
Dahi Dhia berkerut seketika. What? aturan apa ini?
__ADS_1