Istriku, Dhia

Istriku, Dhia
Foto Mantan Pacar


__ADS_3

Dirga duduk tepat menghadap laptop. Mata itu tertuju, namun kosong. Bayang-bayang wajah Dhia terus saja mengganggu ketika ia berusaha ingin fokus. Ia akhirnya membuang nafas kasar karena dirasa lelah mengatur fikiran agar tetap sinkron dengan pekerjaan.


"Morning, baby."


"Morning, Dhia."Sahut Dirga tanpa melihat pada orang yang datang.


"What? Dhia?!"ulang Tamara tak suka.


Dirga langsung menoleh dan detik itu juga tergeragap."Eh ... M-maksud aku, kamu. Iya, kamu .... Tamara."Dirga mengangguk-angguk.


"Lagi mikirin Dhia?"Tamara mendekati Dirga.


Dirga menghela nafas panjang."Jangan sok tahu."


Tamara menatap tak suka."Ingat misi balas dendam."


Dirga bergeming.


"Lagian heran, deh. Ngapain juga Daddy nyuruh kamu balas dendam, tapi harus menikahi anaknya. Apa nggak ada cara lain?"


"Kenapa nggak ke bapaknya aja langsung. Kan bapaknya yang jadi biang masalah."


"Kalau sudah begini, aku yang repot jadinya."


"Kenapa kamu yang repot?"Dirga mengernyit.


"E-enggak ... enggak apa-apa."Tamara nyengir.


Dirga meraih berkas-berkas yang terbungkus rapih didalam map berukuran besar berwarna biru."Bawa ini, kamu dan Gio pergi duluan menuju tempat pembangunan proyek."


"Kakak nggak bareng?"Tamara menatap kecewa.


"Aku masih ada urusan. Nanti kalau ada waktu aku sempatkan mampir kesana."


"Urusan apa?"


"Jangan semua-semua mau tahu. Ingat kan, Daddy ngirim kamu kemari buat apa?"Dirga mengangkat kedua alisnya."Buat bantuin aku ngurusin proyek hotel Wira CitraWisata. Jadi tugas kamu untuk bekerja. Bukan ditugaskan buat mantau aku."


Sudut kanan bibir Tamara tertarik.


"Jangan ngambek. Nanti cantiknya hilang."Dirga mencubit pipi kanan Tamara. Kemudian meraih jas yang melingkupi sandaran kursi. Lalu berjalan keluar untuk memenuhi janji pada mertuanya, Rossa.


Rossa dan Dirga sudah berada didalam sebuah restoran. Tempat itu, Rossa yang memilih. Tak ada Malik disana. Apalagi, Dhia. Mereka benar-benar hanya berdua.


"Maaf, Mama mengganggu jam kerja kamu."


"Tidak, Ma. Tidak sama sekali."sahut Dirga yakin."Tapi, sebenarnya Mama mau bicara soal apa?"


"Ini soal Dhia, dan kamu."Rossa menatap dalam-dalam mata elang menantunya itu.


Dirga hening.


"Dhia sudah cerita semuanya sama Mama. Dhia mendengar semua pembicaraan kamu dengan seorang wanita. Siapa wanita itu?"tanya Rossa tanpa basa-basi.


"Dia, Tamara. Adik angkatku, Ma."aku Dirga jujur.


Rossa menghela nafas lega.


"Tentang pembicaraan yang sempat didengar oleh Dhia, bahwa kamu mengatakan, kalau kamu tidak akan pernah mencintainya. Apa maksudnya?"Rossa bertanya dingin. Namun tetap mengisyaratkan ketenangan. Wajah wanita itu teduh. Tapi semburat rasa tertekan tergambar diwajah yang sudah tidak lagi muda itu.


"Itu, aku ..."Dirga menelan ludah karena bingung.


"Mama sudah tahu dari awal bahwa pernikahan kalian tidak pernah baik-baik saja. Mama juga tahu bahwa kamu berbohong pada Dhia kalau kamu mencintai sejak pertama kali bertemu."


"Kenapa, Dirga?"Rossa menatap kecewa.


"Karena dendam?"tanya Rossa dengan pertanyaan yang berbeda. Tapi Dirga bergeming.


"Dendam apa? Kenapa harus Dhia?"


Dirga masih bergeming.


"Dirga, Mama tanya. Tolong kamu jawab!"


"Masih ingat dengan almarhum, Handika Gumilang?"Dirga mengangkat wajah. Balas menatap Rossa yang saat ini terkejut.


Handika Gumilang? Jadi Dia anak almarhum Mas Handika dan Arini? bathin Rossa seraya menelan ludah karena gelisah.


"Pria yang dituduh bunuh diri karena kasus korupsi yang melibatkannya 20 tahun lalu."Dirga masih menatap Rossa."Dia ayahku."


"Kenapa? Mama terkejut?"Dirga tersenyum sinis.


Sementara Rossa, wanita itu masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Bayangan masa lalu itu sudah ia tutup rapat-rapat didalam lembaran buku cerita kelamnya. Siapa sangka akan kembali terkuak setelah sekian lama.


Dirga berdiri seraya memasukkan kedua tangan kedalam saku celananya. Ia menatap kedepan menuju kerah hilir-mudik kendaraan didepan restoran tempat mereka berada saat ini. Sorot mata elang itu begitu tajam. Jauh membawanya pada ingatan dimasa lalu.


"Aku tahu bahwa kematian Papaku dulu, bukan karena bunuh diri. Tapi karena ada seseorang yang sengaja melenyapkannya dan ingin memfitnahnya."


Dirga berbalik menatap Rossa."Dan orang yang sudah melakukan itu adalah suamimu. Malik Mahendra Hartawiawan."Rahang Dirga mengeras. Kedua tangannya terkepal kuat ketika menyebut nama pria itu.


"Tapi ini tidak ada hubungannya dengan Dhia, nak."Rossa akhirnya bersuara. Netra wanita paruh baya itu berkaca-kaca.


Dirga menyeringai."Tentu saja, ada, Ma. Dhia anak kalian. Membuat Dhia menderita pasti akan membuat hati kalian hancur, kan?"


Rossa bergeleng."Tidak, nak. Tidak. Langkah kamu menyakiti Dhia itu salah. Dhia tidak ada hubungannya dengan kematian ayahmu. Sama sekali tidak."


"Pria itu pun, tidak akan perduli jika kamu menyakiti Dhia. Dia tidak akan perduli."cetus Rossa dengan mata yang sudah memerah.


"Berhenti menyakiti Dhia, atau kamu akan menyesalinya nanti."


Dirga melayangkan tatapan tajam."Mama mengancamku?"

__ADS_1


"Tidak, Mama sama sekali tidak mengancam. Mama hanya mengingatkanmu. Dhia tidak ada hubungannya dengan Malik Hartawiawan, apa lagi kematian Papamu."


"Dan, kalau boleh Mama mengingatkan ..."Rossa menjeda kalimatnya seraya menelan ludah karena ragu."Jangan mengusik Malik Hartawiawan. Dia bukan orang sembarangan. Dia tidak akan segan-segan menghancurkan orang yang berusaha untuk menjatuhkannya."


"Mama ingin menakutiku?"


Rossa bergeleng lemah.


"Mama hanya mengingatkan. Tentang Dhia ..."Rossa kembali menelan ludah."Mama tidak akan membiarkan Dhia kembali sama kamu, kalau kamu masih memperlakukan Dhia dengan tidak baik."


Wajah Dirga berubah pias.


"Mama permisi dulu."Rossa berdiri.


"Ma, Dhia masih istriku saat ini."ujar Dirga yang sebenarnya sedang mencegah."Apa Mama lupa tentang perjanjian sebelum aku menikahi Dhia?"


"Kalian harus mengembalikan semua uang yang sudah aku pinjamkan, jika Dhia meninggalkanku."


Rossa tersenyum kecut."Saya tidak perduli. Hutang itu bisa kamu minta dengan Malik Hartawiawan. Dan saya pastikan saat ini, hutang itu tidak ada sangkut pautnya lagi dengan Dhia."


"Jujur, saya menyesal karena pernah menikahkan Dhia dengan kamu."Rossa beranjak.


"Ma, Mama ..."Dirga menarik lengan wanita paruh baya itu.


"Ada apa lagi, Dirga?"


"Tolong, Ma. Kembalikan Dhia padaku."Dirga memohon. Saat ini ia menurunkan ego, sejenak lupa dengan dendam yang ingin dibalaskan. Kembalinya Dhia adalah harapan yang ingin ia capai saat ini. Tak peduli jika saat ini puluhan pasang mata yang tengah berkunjung direstoran itu tengah tertuju menatapnya.


Rossa tertegun. Ia tak percaya Dirga akan begitu sangat memohon. Dendam? Rossa tak melihat pada netra menantunya itu. Yang ada hanya secebis harapan untuk mengisi jiwa yang kosong. Rossa pun bisa menyimpulkan. Bahwa dendam itu seperti terkikis oleh cinta yang mulai tumbuh.


"Baiklah ... Mama akan mengizinkan Dhia kembali kepadamu. Tapi dengan syarat, Mama tidak ingin dengar kamu masih memperlakukan Dhia dengan buruk."


Dirga menghela nafas lega.


"Dhia saat ini, masih kuliah. Kalau kamu ingin menjemput, temui dia langsung dikampusnya."


"Terima kasih, Ma."


"Mama setuju, belum tentu Dhia setuju."Sambung Rossa lagi."Biarkan Dhia menentukan sendiri. Apa dia ingin kembali atau, tidak. Kalau Dhia tidak mau, jangan dipaksa."


"Mama pergi dulu."Rossa langsung berbalik. Kedua sudut bibirnya tertarik. Sebuah senyum yang hampir tak Terlihat, namun penuh arti.


Kampus BinaBangsa Indonesia,


Hiruk pikuk menggema dari ruang kelas management. Satu persatu mahasiswi terlihat keluar. Termasuk Dhia, Amel, Yuli dan Dini. Empat serangkai itu memang selalu bersama.


"Mau kemana ini?"tanya Dini pada ketiga temannya. Masih pukul satu siang. Terlalu cepat menurutnya untuk pulang kerumah."Jalan, yuk. Nongkrong-nongkrong dimana, gitu."


"Kalian aja, ya. Aku mau langsung pulang."ujar Dhia menolak.


"Yah, Dhi ... nggak seru, dong."


Dhia langsung menoleh. Ia pun langsung menghela nafas berat ketika sorot matanya langsung ditangkap oleh Dirga. Detik itu juga Dhia memalingkan muka.


"Udah, buruan sana temui. Di kampus ini banyak cewek-cewek genit, loh. Emangnya enggak takut kalau sampai ada yang berani menggoda."ujar Amel kali ini.


"Ganteng banget soalnya."Amel terkikik pelan.


"Ih, elu ... suami orang jugak."Dini langsung menoyor kepala Amel.


Amel berdesis seraya mengusap-usap kepalanya."Sakit, Dini."


"Gua botakin, lu, kalau sampai jadi penerus pelakor di 'layangan nyungsep.'"


"Idih, Gilak kali. Gue juga punya pacar. Ya, walaupun nggak ganteng-ganteng amat, sih"Amel terkikik pelan.


"Ya udah, kalian kalau mau nongkrong, nongkrong aja ... aku kesana dulu, ya."ujar Dhia


"Oke, bestie ..."seru ketiga serangkai yang tersisa.


Mobil lu, dimana? terdengar suara Yuli bertanya pada Dini ketika Dhia baru saja melangkah menghampiri Dirga.


Diparkiran belakang.


Jauh amat,


"Ngapain kemari?"tanya Dhia ketus.


"Masuk kedalam mobil. Aku mau kamu ikut pulang, ke Penthouse."


"Maaf, aku nggak bisa, Mas."


"Dhia ... please. Jangan kayak anak anak kecil, deh, dikit-dikit main kabur-kaburan."


"Apa, Mas? Kamu bilang aku kayak anak kecil.?"tanya Dhia tak terima.


"Kamu sadar nggak, sih, Mas? Apa yang aku dengar dari bibir kamu semalam udah cukup buat aku sakit hati. Dan sekarang kamu minta aku untuk kembali?"


"Buat apa, Mas?"tanya Dhia dengan tatapan kecewa.


"Kamu juga nggak ada minta maaf sama sekali. Jelas banget kalau kamu nggak menghargai aku, Mas."


"Oke, oke. Aku minta maaf."ujar Dirga akhirnya."Udah dulu marah-marahnya, ya. Malu diliatin orang."Dirga melirik kesekelilingnya. Disana memang ada sebagian orang yang sedang memperhatikan mereka. Termasuk Dhanu.


Pria itu hanya melihat dari kejauhan. Namun tak ingin ikut campur atas masalah keduanya. Baginya Dhia adalah cinta masa lalu yang tidak terbalas. Karena saat ini, ia sedang menata hati. Berusaha menerima kenyataan bahwa Dhia ditakdirkan memang bukan untuknya.


Dhia membuang nafas kasar. Saat ini, tak ada pilihan lain selain masuk kedalam mobil. Menuntaskan semua masalah agar tak tersorot oleh semua mata.


"Aku mau pulang ke rumah Mama."ujar Dhia ketika Dirga sudah melajukan mobilnya.


"Enggak. Kamu harus ikut aku."

__ADS_1


Dhia menatap sengit. Dirga betul-betul sudah memaksanya. Dhia tidak suka itu."Aku nggak mau, Mas? Kamu ngertiin aku nggak, sih?"


"Kalau kamu nggak mau nganterin aku ke rumah, Mama, turunin aku sekarang juga. Jangan harap aku mau kembali sama kamu, Mas. Aku udah cukup sakit hati sama semua perlakuan kamu."


"Dhia, aku ngerti. Aku minta maaf."


"Turunin aku, Mas."Dhia mencoba membuka pintu mobil yang terkunci."Kalau kamu nggak mau, aku akan lompat sekarang juga."


"Dhia, please, jangan nekat, Dhia."Wajah Dirga berubah panik."Itu bahaya."


Biarkan Dhia menentukan sendiri. Apa dia ingin kembali atau, tidak. Kalau Dhia tidak mau, jangan dipaksa.


Detik itu, Dirga langsung menepikan mobilnya. Walau harus kecewa karena Dhia tetap memilih untuk pergi. Gadis itu, tetap pada pendiriannya. Hatinya sudah terluka.


Dhia turun dari sebuah taksi berwarna biru yang mengantarnya didepan pagar. Kala itu terlihat Inka yang juga sedang menepikan motor dihalaman rumah. Sepertinya gadis tomboy itu juga baru kembali dari kampus.


"Hei, Mbak. Enggak pulang ke Penthouse? Tadi aku liat Mas Dirga jemput. Bener kan?"


"Enggak, kamu salah liat kali."ujar Dhia yang langsung nyelonong masuk kedalam rumah mewah tersebut.


Inka mengernyit."Masak, sih, aku salah lihat. Wah ... kayaknya aku perlu periksa mata, nih."ujarnya pada diri sendiri.


Dhia hendak melangkah menuju kamar. Tapi suara tangis dari dalam kamar utama membuatnya menghentikan langkah. Tak salah lagi, itu adalah suara Mama. Suara yang cukup sering mampir ditelinganya selama dirinya masih tinggal di rumah mewah ini.


Ah, rupanya hari-hari buruk itu masih terus berlanjut. Entah sampai kapan Papa baru sadar. Dhia masih terus memimpikan kebahagiaan dan kehangatan didalam keluarganya. Tapi itu hanya mimpi yang bahkan tidak tau kapan datang. Papa masih sama, belum berubah.


"Mama."panggil Dhia lirih ketika tangan putihnya membuka pintu kamar. Disudut dekat jendela, Dhia melihat Rossa tengah duduk, menunduk, seraya menutup wajah dengan kedua lengannya.


Rossa tersentak."Dhia ..."


Wajah wanita paruh baya itu terlihat sembab. Lengkap dengan luka lebam yang menghias disudut bibirnya.


"Mama, astaga ... Mama kenapa?" teriak Dhia langsung bersimpuh memeluk Rossa dengan perasaan hancur. Kala itu, Inka juga masuk ketika mendengar suara bising dari kamar utama.


"Ini karena Papa lagi?"Dhia memasang wajah geram.


"Ini salah Mama, nak."aku Rossa sambil terisak."Salah Mama."


"Tapi kenapa, Ma?"Inka menimpali.


"Bukan apa-apa. Papa cuma emosi."Rossa berkilah. Tidak mungkin rasanya ia mengatakan tentang pertemuannya pada Dirga. Saat itu, tak ada yang tahu bahwa Malik mengikutinya. Dan menghajarnya habis-habisan setelah sampai dirumah.


Plak!


Sebuah tamparan keras melayang diwajah Rossa. Sudut bibirnya pecah, menyisakan setitik darah dan tanda kemerahan yang perlahan membiru. Saat itu Rossa hanya tertunduk ketakutan.


"Berani sekali mengatur pertemuan dengan Dirga. Kamu ingin mencari pembelaan? Atau sengaja ingin menghancurkanku?"


Malik menarik rambut Rossa dengan sangat keras."Katakan padaku kamu sudah bicara apa sama dia?!"


Rossa berdesis."Sakit, Mas. Tolong lepaskan."ucapnya sambil menangis."Aku tidak mengatakan apapun tentang kamu. Aku hanya membahas tentang rumah tangga mereka."


Arrrgh! Malik menendang kaki Rossa."Bohong kamu!"


"Sumpah, Mas. Aku tidak bohong."


"Awas saja kalau sampai kamu berani macam-macam denganku. Aku tidak akan segan-segan melukai dan membuat wajahmu hancur mengerikan."ancam Malik seraya berjalan keluar dan membanting pintu.


"Kalian tahu sendiri kan, Papa kalian seperti apa? Salah sedikit Mama pasti langsung di marahi. Jadi udah, nggak usah dibahas. Mama nggak apa-apa."


"Apa ini gara-gara aku, Ma?"tanya Dhia menyesal.


"Tidak, nak. Ini bukan gara-gara kamu. Tapi ini salah Mama."


Dhia menghela nafas berat.


"Berdiri lah, Ma. Tidak bagus duduk disini. Nanti Mama bisa masuk angin."Dhia menarik tubuh paruh baya itu. Namun disaat yang sama Rossa meringis.


"Kenapa, Ma? ada yang sakit?"tanya Dhia cemas.


"Tidak, nak. Kaki Mama tadi keseleo. Sakit banget."


Netra Dhia dan Inka langsung tertuju kearah mata kaki Rossa yang membiru. Melihat itu, Dhia dan Inka mendunga bahwa ini bukan lah keseleo. Melainkan hantaman keras yang disengaja.


"Kaki Mama bengkak. Aku kompres, ya, Ma."ujar Dhia seraya menatap Rossa dengan hati teriris.


"Terima kasih, nak."


"Inka, tolong ambilin Mbak air hangat, ya. Kaki Mama harus segera diobatin."


"Iya, Mbak."Inka buru-buru keluar. Dan kembali lagi dengan membawa mangkuk kecil berisi air hangat didalamnya."Kain kecilnya nggak ada, Mbak."


"Tolong lihat didalam lemari itu, nak."Rossa menunjuk kearah lemari berwarna coklat tua disisi kiri."Paling bawah sekali. Disitu ada kain kecil untuk mengompres."


Inka langsung mencari, tepat dibagian paling bawah, diantara lipatan-lipatan kain yang tersusun. Netra Inka tertuju pada kain berukuran kecil berwarna merah muda. Tanpa ba-bi-bu ia langsung menariknya. Ketika itu, bersamaan dengan selembar foto yang terjatuh kelantai.


"Eh, foto apa ini?"


Inka membungkuk dan langsung meraih lembar foto tersebut. Dilembar kertas yang hampir gelap itu, terlihat seorang wanita tengah tersenyum. Terpancar raut bahagia yang tak bisa disembunyikan. Disisinya, berdiri seorang lelaki tampan yang mungkin saat itu kira-kira berusia tiga pulau tahun-an. Sangat tampan, turut tersenyum manis seperti wanita disisinya.


"Ini, Mama kan?"Inka menunjukkannya pada Dhia dan Rossa bergantian.


Wajah Rossa terkejut."Kembalikan, Inka."


"Coba lihat, dek."Dhia memintanya.


"Ini bukan Papa. Siapa pria ini, Ma?"ujar Dhia setelah mengamati wajah pria yang ada didalam gambar itu.


Rossa menelan ludah.


"Itu pasti mantan Mama, Mbak."Inka terkikik pelan."Mantan pacar maksudnya."

__ADS_1


__ADS_2